Arsip Tag: Longsor

Alih Fungsi Lahan Perkotaan Akibatkan Banjir, Kota Bandung Perbanyak Area Resapan

Lingkar.co – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung, Didi Ruswandi mengatakan, alih fungsi lahan yang masif untuk permukiman dan perkantoran membuat banyak kawasan kehilangan fungsi resapannya.

Kondisi ini memperbesar limpasan air hujan dan meningkatkan risiko banjir, terutama saat intensitas hujan tinggi.

“Selama ini banjir sering dikaitkan dengan kapasitas aliran sungai. Padahal yang paling mendasar adalah kapasitas resapan. Ketika resapan berkurang, potensi banjir otomatis meningkat,” kata Didi dalam siaran pers, Selasa (3/2/2026).

Oleh karena itu, BPBD Kota Bandung menggeser fokus strategi mitigasi bencana banjir dan longsor. BPBD mendorong penguatan mitigasi berbasis lingkungan melalui pembangunan sumur resapan, kolam retensi serta program penghijauan di sejumlah titik rawan. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan karena menyasar akar persoalan banjir bukan hanya gejalanya.

“Upaya mengurangi banjir harus dimulai dari memperbesar daya serap tanah. Sumur resapan, kolam retensi dan penghijauan menjadi solusi yang paling realistis. Kawasan yang hijau memiliki kemampuan resapan jauh lebih baik dibandingkan kawasan yang gundul,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mengajak masyarakat dan pengembang untuk ikut berperan menjaga fungsi resapan air, baik melalui penanaman pohon di lingkungan permukiman maupun penerapan konsep bangunan ramah air.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan warga menjadi kunci dalam membangun ketahanan kota terhadap bencana hidrometeorologi.

“Mitigasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran kolektif untuk menjaga ruang hijau dan tidak menutup seluruh permukaan tanah dengan beton akan sangat menentukan masa depan Bandung dalam menghadapi ancaman banjir dan longsor,” tutur Didi. (*)

Gubernur Jateng Minta Pemkab Purbalingga Percepat Relokasi Pengungsi Bencana

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta Pemerintah Kabupaten Pemalang agar mempercepat proses relokasi korban banjir dan tanah longsor. Gubernur meminta Pemerintah Kabupaten Purbalingga segera menetapkan lokasi hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak.

Bencana banjir dan longsor di Purbalingga terjadi pada 23 Januari 2026 sekitar pukul 22.00. Air bah disertai material longsoran merendam dan merusak empat desa di dua kecamatan, yakni Desa Sangkanayu dan Desa Lambur di Kecamatan Mrebet, serta Desa Kutabawa dan Desa Serang di Kecamatan Karangreja. Kondisi terparah dilaporkan terjadi di Desa Serang.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan, perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah diberikan sejak hari pertama bencana terjadi. Gubernur Ahmad Luthfi, kata dia, langsung menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Jateng untuk terlibat dalam penanganan darurat bersama berbagai pemangku kepentingan.

“Dukungan dari Pemerintah Provinsi sudah ada sejak hari pertama. Gubernur juga terus memantau kondisi di lapangan dan memberikan bantuan kepada para pengungsi. Banyak bantuan untuk perbaikan infrastruktur,” ujar Fahmi saat mendampingi Gubernur di Desa Serang, Jum’at (30/1/2026).

Menurut Fahmi, terdapat tiga kebutuhan mendesak yang saat ini menjadi prioritas, yakni penyediaan huntara dan huntap, perbaikan sejumlah jembatan yang putus akibat banjir dan longsor, serta pemulihan saluran air bersih.

“Lokasi huntara dan huntap sedang kami koordinasikan dengan kepala desa. Saat ini masih dalam proses pencarian lokasi dan penghitungan kebutuhan,” katanya.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Ahmad Luthfi meninjau Posko Balai Desa Serang dan memimpin rapat percepatan penanganan bencana bersama seluruh pemangku kepentingan. Ia juga mengunjungi Villa Serang yang digunakan sebagai lokasi pengungsian, berdialog dengan warga, serta menyapa dan menghibur anak-anak pengungsi.

Gubernur kemudian meninjau langsung lokasi bencana di Dusun Gunungmalang dan Dusun Kaliurip, sebelum menutup rangkaian kunjungan dengan mengecek dapur umum yang dikelola Brimob.

Pada kesempatan itu, Ahmad Luthfi juga menyerahkan bantuan secara simbolis dengan total nilai hampir Rp 700 juta. Bantuan tersebut meliputi kebutuhan permakanan, pakaian, mainan anak-anak, bantuan perumahan, serta kebutuhan dasar lainnya.

“Sejak status tanggap darurat ditetapkan, seluruh dinas sudah berada di lapangan. Bantuan juga sudah kita geser, termasuk alat berat seperti ekskavator. Hari ini kami ingin memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terpenuhi secara paripurna,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia menyampaikan, ratusan rumah warga akan direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Penyiapan lahan huntara dan huntap saat ini dilakukan oleh Pemkab Purbalingga, dengan pembangunan yang akan dilaksanakan bersama Pemprov Jawa Tengah dan kementerian terkait.

“Ini tidak mudah. Perlu sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat. Penanganan bencana bukan hanya soal bantuan darurat, tetapi bagaimana masyarakat bisa bangkit dan memiliki masa depan yang lebih aman,” tegasnya.

Terkait sejumlah jembatan yang terputus dan menghambat akses antarwilayah, Ahmad Luthfi memastikan telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri, baik untuk pemasangan jembatan sementara maupun perencanaan perbaikan dan pembangunan jembatan permanen.

“Kami prioritaskan jembatan yang menghubungkan pusat ekonomi dan menyangkut hajat hidup orang banyak,” ungkapnya. (*)

Longsor Lereng Gunung Slamet Tewaskan Dua Petani di Pemalang, Operasi SAR Ditutup

Lingkar.co – Longsor dari lereng Gunung Slamet menerjang kawasan Perhutani di Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Minggu (25/1/2025) sekitar pukul 06.00 WIB. Peristiwa tersebut menyebabkan dua petani setempat, Aksinudin (40) dan Hamim (60), tertimbun material longsoran.

Mendapat laporan kejadian, Basarnas Kantor SAR Semarang melalui Unit Siaga SAR Pemalang segera mengerahkan satu tim ke lokasi untuk bergabung dengan unsur SAR gabungan melakukan upaya pencarian dan pertolongan.

Pada hari pertama pencarian, tim belum berhasil menemukan korban. Memasuki hari kedua operasi, Senin (26/1/2026), satu korban atas nama Aksinudin akhirnya ditemukan.

“Korban pertama atas nama Aksinudin ditemukan tim pada pukul 08.30 WIB dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dibawa ke rumah duka. Masih ada satu korban atas nama Pak Hamim yang masih dalam pencarian,” ujar Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono.

Pencarian terhadap korban kedua dilanjutkan dengan berbagai kendala di lapangan. Cuaca yang tidak menentu, hujan, medan licin, kabut tebal, serta suhu dingin menyulitkan proses evakuasi. Selain itu, tim SAR juga harus bekerja ekstra dengan kewaspadaan tinggi terhadap potensi longsor susulan.

Setelah enam hari operasi pencarian, korban terakhir atas nama Hamim akhirnya ditemukan pada Jumat (30/1/2026) siang. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, tertimbun material longsoran di lereng bukit lokasi kejadian.

“Korban terakhir atas nama Hamim ditemukan pada Jumat siang pukul 12.50 WIB dalam kondisi meninggal dunia. Selanjutnya korban dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka,” imbuh Budiono.

Dengan ditemukannya seluruh korban, operasi pencarian dan pertolongan resmi dihentikan. “Dengan ditemukannya seluruh korban, maka operasi SAR dinyatakan selesai dan ditutup pada pukul 14.00 WIB. Terima kasih kepada seluruh unsur SAR gabungan atas kerja kerasnya sehingga seluruh korban berhasil ditemukan,” tutup Budiono. ***

Korban Longsor di Lereng Gunung Burangrang Bertambah, 10 Tewas dan 71 Orang Masih Hilang

Lingkar.co – Bencana tanah longsor melanda kawasan lereng Gunung Burangrang, tepatnya di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026). Jumlah korban jiwa dalam peristiwa ini bertambah menjadi 10 orang meninggal dunia, sementara 71 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian.

Polda Jawa Barat mencatat sebanyak sepuluh kantong jenazah korban longsor telah berada di pos Disaster Victim Identification (DVI). Dari jumlah tersebut, enam korban telah berhasil teridentifikasi.

“Dari jumlah tersebut, terdapat 10 kantong jenazah di pos DVI yang sedang diproses. Enam sudah teridentifikasi, satu berupa bagian tubuh dan masih ada tiga lainnya yang masih dalam proses identifikasi,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan, Sabtu (24/1/2026).

Hendra menjelaskan, proses identifikasi terhadap korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim DVI Polda Jabar bersama tim SAR gabungan. Namun, upaya tersebut terkendala kondisi cuaca ekstrem yang masih melanda lokasi bencana.

“Bagian tubuh berupa tangan sudah dapat diidentifikasi karena memiliki pembanding sidik jari. Sementara bagian tubuh berupa kaki dan lainnya masih dalam proses identifikasi melalui ante-mortem dan post-mortem,” jelas Hendra.

Selain proses identifikasi, pencarian korban hilang juga masih berlangsung. Hendra menyebut jumlah warga yang belum ditemukan masih cukup signifikan.

“Masih terdapat sekitar 71 orang yang dilaporkan hilang,” ucapnya.

Penulis: Putri Septina
Editor: Miftah

Longsor Timpa Empat Rumah Warga Dukuh Tampingan Batang

Lingkar.co – Hujan deras dengan intensitas tinggi terjadi di beberapa daerah, termasuk di kabupaten Batang. Hal ini berdampak pada terjadinya tanah longsor di Dukuh Tampingan, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026). Longsoran tebing tersebut dilaporkan mengenai empat rumah warga di RT 02/RW 01.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang Muhammad Fajri mengatakan, laporan awal diterima dari Kasi Trantib Kecamatan Bandar.

“Di Dukuh Tampingan, Desa Tombo, ada longsoran tebing yang mengenai empat rumah warga. Pembersihan sempat dilakukan secara mandiri oleh warga sekitar. Empat rumah yang terdampak longsor masing-masing milik Atmari pada bagian dapur, Marjiun, Lukman, serta Wahudi yang mengalami kerusakan pada bagian tembok rumah. Seluruh rumah berada di lingkungan RT 02/RW 01 Dukuh Tampingan,” jelasnya.

Namun, karena kondisi sudah menjelang malam dan mempertimbangkan faktor keselamatan, warga bersama pemerintah desa setempat memutuskan menunda proses pembersihan lanjutan hingga Sabtu pagi.

“Karena sudah mendekati waktu Maghrib dan kondisi semakin gelap, pembersihan ditunda dan akan dilanjutkan besok pagi. BPBD juga akan mengerahkan personel ke lokasi,” ungkapnya.

Selain di Desa Tombo, BPBD Batang juga menerima laporan longsor serupa di Desa Reban, Kecamatan Reban. Longsoran tebing di lokasi tersebut dilaporkan mengenai dua rumah warga, meski tidak menimbulkan kerusakan berat.

Fajri menjelaskan, peristiwa longsor terjadi tanpa tanda-tanda khusus sebelumnya. Faktor utama pemicu longsor adalah kondisi tanah yang menjadi lembek akibat hujan deras yang berlangsung cukup lama.

“Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Hujan deras membuat sisi tebing menjadi labil dan akhirnya gugur. Namun, longsoran tidak menimpa bagian utama rumah. Berdasarkan hasil pengamatan sementara, BPBD memastikan tingkat kerusakan di kedua lokasi masih tergolong ringan dan belum memerlukan langkah evakuasi warga,” terangnya.

Meski demikian, BPBD telah mengimbau pemerintah desa dan aparat setempat untuk meningkatkan kewaspadaan serta terus memantau kondisi tebing yang rawan longsor.

“Apabila terjadi longsor susulan yang membahayakan, warga diminta segera mengungsi ke rumah kerabat atau tetangga yang lebih aman. Untuk sementara ini, belum diperlukan pengungsian,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Gus Yasin: Penanganan Banjir Kudus, Pati, dan Jepara Perlu Rekayasa Cuaca

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen mengatakan perlunya dilakukan rekayasa cuaca dalam penanganan bencana banjir dan longsor di wilayah Kudus, Pati, dan Jepara. Mengingat, intensitas hujan sangat tinggi di tiga wilayah ini selama empat hari berturut-turut.

“Jadi selama empat hari tidak ada matahari, jadi hasil koordinasi dengan BBWS memang perlu ada rekayasa cuaca,” kata Gus Yasin, sapaan akrabnya, saat mengunjungi Posko Bencana Banjir Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Selasa (13/1/2026).

Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, untuk meminta spot-spot yang perlu dibantu dengan pompa. Namun demikian, sungai yang ada saat ini juga masih terkendala adanya air yang melimpah.

Sementara itu, posko banjir yang didirikan di komplek sekolah Hidayatus Shibyan itu, ditempati sebanyak 105 jiwa. Posko tersebut sudah dilengkapi dengan layanan kesehatan dan dapur umum, serta fasilitas MCK.

Gus Yasin juga menemukan ada warga yang anggota keluarganya masih berada di rumah yang terkena banjir, dikarenakan stroke. Menanggapi hal itu, Gus Yasin meminta kepada tenaga kesehatan untuk segera dievakuasi ke Puskesmas dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Pada kesempatan tersebut, mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Gus Yasin menyalurkan bantuan dari Pemprov Jateng senilai Rp 188 juta berupa makanan siap saji, lauk pauk siap saji, tenda keluarga, tenda gulung, kasur, dan selimut.

Kepala Dusun Karangmalang Sumijan, mengatakan, warga yang berada di posko sudah memperoleh fasilitas memadai dengan dapur umum dan layanan kesehatan.

Kebutuhan yang mendesak bagi warga adalah sembako, selimut, popok bayi dan lansia.

“Kalau untuk fasilitas kesehatan alhamdulillah terpenuhi, dan semoga semua sehat sampai banjir berakhir,” ujarnya.

Diketahui, hujan intensitas tinggi terjadi di wilayah Kudus terjadi sejak tanggal 9 Januari 2026. Banjir terjadi akibat luapan Sungai Dawe, Sungai Piji, dan Sungai Mrisen.

Sedangkan banjir di Desa Golantepus akibat luapan Sungai Dawe dan Sungai Mrisen, diperparah dengan adanya tanggul yang jebol. Adapun banjir Desa Kesambi diakibatkan meluapnya Sungai Piji yang tidak mampu menampung debit air dari hulu Gunung Muria.

Selama kejadian banjir, tercatat ada 2.082 rumah terendam, dan 2.487 KK/8.043 jiwa terdampak. Ketinggian air 5-55 cm, dan 106,4 Ha sawah terendam banjir.

Sementara itu, penanganan yang dilakukan Pemkab Kudus antara lain menetapkan status tanggap darurat bencana. Berlaku dari 12 hingga 19 Januari 2026. Selain itu, dengan mengaktifkan Posko Induk Penanggulangan Bencana di Kantor BPBD Kudus sebagai pusat komando koordinasi antara TNI, Polri, relawan, dan OPD terkait.

Pemerintah setempat juga melakukan penambalan tanggul jebol di Desa Golantepus, dinas terkait (Pusdataru dan BBWS) bersama warga dan relawan melakukan penutupan darurat tanggul yang jebol menggunakan sandbag (karung pasir) dan cerucuk bambu untuk menahan air.

Selain itu, dilakukan pembersihan sumbatan sampah dan eceng gondok di bawah sejumlah jembatan desa (terutama di Sungai Piji, Desa Kesambi) yang menjadi penyebab air meluap ke jalan. (*)

BPBD Pati: 19 Kecamatan Terdampak Bencana Hidrometeorologi, Pati Kota Paling Parah

Lingkar.co – Banjir dan tanah longsor menerjang hampir seluruh wilayah Kabupaten Pati. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mencatat, 19 dari 21 kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi sejak hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan hujan berintensitas tinggi yang terjadi sejak Jumat (9/1/2026) memicu banjir dan longsor di 19 kecamatan di Pati.

“Adapun jumlah desa (yang terdampak) mencapai 91 desa dari 19 kecamatan,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (14/1/2026).

Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Pati, Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Dukuhseti, Tlogowungu, Margorejo, Tambakromo, Gabus, Winong, Batangan, Juwana, Pucakwangi, Jakenan, Sukolilo, Gunungwukal, Gembong, Trangkil, dan Cluwak.

Martinus menyebut Kecamatan Pati Kota menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 14 desa terendam. Disusul Kecamatan Juwana dan Dukuhseti yang masing-masing mencatat 10 desa terdampak.

Sementara itu, Bupati Pati Sudewo menjelaskan banjir dipicu hujan lebat yang berlangsung lama dan diperparah oleh kondisi sungai yang mengalami pendangkalan.

“Banjir dipicu oleh hujan lebat yang berlangsung lama, diperparah oleh pendangkalan sungai, tumpukan lumpur, serta akar bambu yang menghambat aliran air,” ujarnya saat meninjau banjir pada Senin (12/1/2026).

Ia menambahkan, sejumlah jembatan dengan posisi rendah turut memperlambat arus air sehingga memicu luapan dan jebolnya tanggul.

Untuk penanganan awal, Pemkab Pati telah mengerahkan seluruh alat berat guna membersihkan lumpur dan memperkuat tanggul. Ke depan, upaya akan difokuskan pada normalisasi aliran sungai guna mengurangi risiko banjir susulan.

Sudewo juga mengimbau masyarakat berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan.

“Masyarakat kami imbau tidak membuang sampah sembarangan yang dapat menyumbat aliran air,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama rombongan meninjau lokasi banjir di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Selasa (13/1/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan, termasuk aktivitas pendidikan.

“Kita memastikan masyarakat kita ini openi, kebutuhan pokok kita salurkan termasuk jangan sampai masyarakat kita nanti tidak bisa melakukan aktivitas terutama anak-anak sekolah, kebutuhan bahan pokok,” ujar Luthfi.

Banjir Terjang Jepara Kudus dan Pati

Lingkar.co – Banjir dan longsor menerjang Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan penanganan berjalan optimal.

Kunjungan lapangan dilakukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Selasa (13/1/2026), wilayah yang terdampak paling parah akibat longsor. Sementara bantuan logistik untuk warga terdampak di tiga kabupaten tersebut telah dikirim sejak Senin (12/1/2026).

“Saya bersama Wakil Gubernur melakukan cek dan ricek penanganan bencana di beberapa daerah, yakni Kudus, Jepara, dan Pati. Kondisi yang paling parah terjadi di Desa Tempur, Jepara,” kata Ahmad Luthfi di lokasi.

Longsor di Desa Tempur dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama beberapa hari. Secara geografis, wilayah tersebut berada di lereng Gunung Muria yang dikenal rawan bencana. Tercatat sedikitnya 23 titik longsor terjadi di sepanjang ruas jalan desa.

Akibat peristiwa tersebut, hampir 3.600 kepala keluarga terdampak dan sempat terisolasi karena akses jalan utama terputus. Selain itu, enam rumah mengalami rusak ringan, satu rumah rusak berat, serta dua unit usaha milik warga turut terdampak.

“Berkat respons cepat Basarnas, BPBD, relawan, serta dukungan TNI dan Polri, akses darurat kini dapat dilalui kendaraan roda dua,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia menegaskan, kecepatan respons menjadi kunci utama dalam penanganan bencana. Untuk itu, Pemprov Jawa Tengah segera mengerahkan alat berat guna membuka akses darurat dan mempercepat distribusi logistik.

Menurut Luthfi, penanganan bencana di Desa Tempur tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga memerlukan solusi jangka menengah dan panjang, termasuk penataan alur sungai serta penguatan infrastruktur jalan.

“Fokus utama penanganan adalah sungai dan akses jalan. Sementara ini kebutuhan dasar warga dipenuhi melalui dapur umum,” katanya.

Distribusi logistik dilakukan dengan kendaraan roda dua untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi. Pemerintah juga memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan, terutama anak-anak dan warga usia lanjut. Pasokan bahan pokok tetap disalurkan masuk desa meski akses masih terbatas.

Dalam penanganan awal, Pemprov Jawa Tengah telah menyalurkan bantuan berupa bahan pokok, dukungan kelompok usaha bersama (KUBE), serta Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 260 juta untuk Desa Tempur.

“Bantuan sudah kami salurkan dan akan ditambah jika masih dibutuhkan,” ujar Ahmad Luthfi.

Salah seorang warga Desa Tempur, Adil, mengatakan, longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah lereng Gunung Muria selama empat hari berturut-turut. Akibatnya, akses keluar-masuk desa terputus total.

“Untuk mencari pasokan seperti bensin sangat sulit. Jalan ini satu-satunya akses untuk bekerja. Harapannya segera diperbaiki agar aktivitas warga kembali normal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Imam Maskur, menyampaikan, pihaknya telah menyalurkan bantuan logistik ke tiga kabupaten terdampak bencana.

“Kami telah mengirimkan logistik sesuai kebutuhan di lapangan, bersumber dari APBD Provinsi dan APBN,” kata Imam.

Ia menjelaskan, bantuan tersebut meliputi makanan siap saji, makanan anak, lauk pauk, tenda keluarga, kasur, selimut, family kit, perlengkapan anak, serta pakaian bagi warga terdampak.

Berdasarkan data Dinas Sosial Jawa Tengah, nilai bantuan logistik yang disalurkan mencapai Rp 140.755.720 untuk Kabupaten Jepara, Rp 133.306.218 untuk Kabupaten Pati, dan Rp 188.014.483 untuk Kabupaten Kudus.

Selain penyaluran logistik, BPBD Provinsi Jawa Tengah bersama BPBD kabupaten dan instansi terkait telah menerjunkan personel ke lokasi bencana. Fokus utama penanganan adalah memastikan keselamatan warga serta percepatan pemulihan akses dan aktivitas masyarakat. (*)

BPBD Rembang Siaga Penuh, Banjir, Pohon Tumbang dan Longsor Terjadi di Sejumlah Wilayah

Lingkar.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan dataran tinggi agar meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim penghujan terjadi pada Januari, termasuk di wilayah Rembang.

Kepala BPBD Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, mengatakan dalam beberapa hari terakhir telah terjadi sejumlah bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di berbagai titik. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan.

“BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah Pantura, khususnya Kabupaten Rembang, pada tanggal 10 hingga 13. Dalam periode tersebut diprediksi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat,” kata Jarwati, Senin (12/1/2026).

BPBD mencatat bencana hidrometeorologi terjadi sejak 8 hingga 11 Januari 2026. Dampaknya meliputi banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga rumah roboh di sejumlah kecamatan.

Banjir pertama terjadi pada 8 Januari di Kecamatan Pamotan. Saluran air yang tersumbat sampah dan timbunan tanah menyebabkan luapan air setinggi sekitar 40 sentimeter dan sempat menggenangi SDN 1 Pamotan.

“Selanjutnya hujan dari Jumat malam hingga Sabtu mengakibatkan banjir kiriman dari hulu di Desa Menoro, Kecamatan Sedan. Aliran air tersumbat dapuran bambu yang menutup jembatan di sebelah Balai Desa Menoro,” ujar Sri Jarwati.

BPBD bersama Dinas PUPR, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, serta warga langsung melakukan kerja bakti dengan bantuan alat berat untuk membersihkan sumbatan. Penanganan selesai pada hari Sabtu.

Selain banjir, tanah longsor terjadi di Desa Johogunung, Kecamatan Pancur. Longsor tebing rumah berdampak pada lima kepala keluarga dengan estimasi kerugian Rp122 juta. BPBD telah menyalurkan bantuan logistik sandang, pangan, dan papan bagi warga terdampak.

Longsor serupa juga terjadi di Desa Sendangcoyo, Kecamatan Lasem, yang merusak dua rumah dan dua ruas jalan poros desa, dengan kerugian diperkirakan Rp116 juta. Bantuan logistik sandang dan pangan telah disalurkan kepada korban.

Di Kecamatan Sluke, longsor tebing rumah di Desa Sanetan sepanjang 15 meter dan lebar 4 meter menyebabkan kerugian sekitar Rp30 juta. Sementara di Desa Labuhankidul, satu rumah warga roboh akibat hujan deras dan kondisi bangunan yang sudah lapuk. Korban kini mengungsi ke rumah kerabat.

Sri Jarwati juga menyoroti longsor di Dukuh Kanung, Desa Tlogotunggal, yang melibatkan bangunan permanen berupa gudang tembakau di bantaran sungai.

“Karena itu di bantaran sungai yang menjadi tanggul sungai, secara aturan tidak diperbolehkan,” terangnya.

Selain itu, pohon tumbang terjadi di Desa Kepohagung, Kecamatan Pamotan, serta Desa Balongmulyo, Kecamatan Kragan. BPBD bersama relawan dan warga segera melakukan evakuasi agar akses jalan kembali normal.

Tanah longsor juga terjadi di lingkungan Madrasah Nuraniah, Desa Glebeg, dan akan ditangani pemerintah desa melalui anggaran APBDes.

“Sejak tanggal 8 sampai 11 Januari, seluruh kejadian sudah kami laporkan kepada Bupati dan Wakil Bupati melalui nota dinas. Kami siap siaga 24 jam, baik personel maupun peralatan, dan mohon dukungan dari rekan-rekan media,” tutur Sri Jarwati.

Pada Senin (12/1/2026), BPBD juga mencatat gangguan di jalur Pantura wilayah Purworejo akibat saluran air tersumbat sehingga limpasan air meluber ke badan jalan dan mengganggu arus lalu lintas.

Tak hanya itu, laporan terbaru menyebutkan jembatan longsor di Dukuh Dukoh, Desa Wiroto, Kecamatan Kaliori. Tim BPBD langsung bergerak ke lokasi setelah menerima laporan pagi hari.

“Pagi ini sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 kami menerima laporan jembatan longsor di wilayah Kaliori, tepatnya di Dukoh Wiroto. Tim kami baru saja meluncur ke lokasi untuk melakukan penanganan,” pungkasnya. (*)

Banjir dan Longsor Kepung Pati, Sembilan Kecamatan Terdampak

Lingkar.co – Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Pati sejak Jumat (9/1/2026) sore hingga Sabtu (10/1/2026) memicu bencana banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah. Kawasan lereng Gunung Muria hingga daerah pesisir menjadi area paling terdampak.

Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan sedikitnya sembilan kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi kali ini. Banjir terjadi di Kecamatan Dukuhseti, Gembong, Margorejo, Margoyoso, Pati, Tayu, dan Wedarijaksa. Sementara tanah longsor terjadi di Kecamatan Gembong, Gunungwungkal, dan Tlogowungu.

“Banjir melanda sejumlah desa mulai dari Kecamatan Dukuhseti, Pati Kota, Tayu, Margoyoso, Wedarijaksa, Margorejo, Gembong. Sedangkan, tanah longsor ada di Gunungwungkal, Tlogowungu, dan Gembong (tepatnya Desa Klakahkasihan),” paparnya.

Hingga kini, BPBD masih melakukan pendataan di lapangan. Martinus memperkirakan jumlah desa yang terdampak mencapai puluhan.

”Kalau jumlah desanya puluhan desa. Di Pati Kota saja itu mulai Sidokerto, Kalidoro, Pati Wetan, Sidoharjo, Dengkek, Widorokandang, itu yang Pati Kota. Margorejo juga ada. Pati dan Margorejo saja sudah 10 desa lebih, belum yang lain,” ungkapnya.

Dari seluruh wilayah terdampak, banjir paling parah terjadi di Desa Bulumanis Kidul dan Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso. Ratusan rumah terendam dan sejumlah tanggul dilaporkan jebol.

”Yang parah Bulumanis Kidul, Tunjungrejo. Ada sejumlah tanggul yang rusak,” imbuhnya.

Sementara itu, tanah longsor terparah terjadi di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu. Di desa yang berada di lereng Gunung Muria tersebut, terdapat 13 titik longsor.

Ia menjelaskan banjir dan longsor ini dipicu hujan deras yang turun terus-menerus sejak Jumat sore. Air mulai meluap pada Jumat malam, membawa lumpur, sampah, hingga material bangunan. Sejumlah rumah rusak, dan akses jalan di beberapa titik sempat terganggu. (*)