Arsip Tag: program Pemkab Blora

Ratusan Warga Geruduk Pemkab Blora, Sampaikan 5 Poin Ini

Lingkar.co – Ratusan warga kawasan Wonorejo, kecamatan Cepu, menggeruduk kantor Pemerintah Kabupaten Blora. Kedatangan mereka tak lain untuk melakukan audiensi terkait beberapa masalah yang belum terselesaikan pasca terbitnya Sertifikat HGB warga Kawasan Wonorejo.

Salah satu koordinator warga kawasan Wonorejo, Lucky mengatakan, kedatangan bersama ratusan warga tersebut tak lain untuk menuntut hak-hak warga yang belum terpenuhi.

“kekuatan terkuat pada ada rakyat, dan hak-hak masyarakat harus terpenuhi,” ucapnya, Senin (25/09/2023) pagi.

Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa dari pernyataan tersebut kemudian perwakilan warga serta pengurus RT RW di kawasan Wonorejo mengajukan Audiensi kepada Bupati Blora konflik pertanahan.

Sedikitnya, mereka ingin menyampaikan 5 (lima) poin yang belum terselesaikan pasca terbitnya sertifikat HGB Warga Kawasan Wonorejo. Diantaranya yakni :

  1. Warga tidak menerima slip pembayaran ke Bank BPD Blora, ketika sedang mengurus SHGB pada waktu di Pendopo Kecamatan Cepu.
  2. Surat Perjanjian yang harusnya dipegang oleh kedua belah pihak yaitu pihak Warga dan Pihak Pemkab, namun sampai saat ini warga tidak menerima Surat Perjanjian tersebut.
  3. Terbitnya SPPT yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Blora.
  4. Permasalahan Fasilitas Umum seperti (Mushola, Masjid, Sekolah, TPQ, Diniyah, Pondok Pesantren, dan Makam) yang belum terselesaikan sampai sekarang. Padahal, Mentri ATR/BPN pada saat kunjungan di Pondok Pesantren Al Muhammad Cepu memprioritaskan fasilitas umum untuk dihibahkan dan Bupati juga setuju pada saat itu.
  5. Sebagian masyarakat Kawasan Wonorejo tepatnya di Jatirejo belum mendapatkan haknya, dimana masyarakat sudah menempati tanah tersebut. Namun kemudian muncul Sertifikat HGB atas nama PT. Griya Cemerlang Putra

“Atau PTnya Pak Singgih. Dan tidak pernah ada sosialisasi atau pemberitahuan dari pihak terkait maupun dari pemerintah Kelurahan sampai Kabupaten. Dan telah muncul 2x somasi dari kuasa Hukum PT. Griya Cemerlang yang ditujukan kepada warga karena dianggap membangun diatas tanah Singgih,” ungkapnya.

Maka dari itu, lanjut lucky, kawasan Wonorejo menuntut 5 poin tersebut. Menurutnya, hal tersebut pasti bukan tanpa alasan.

Sebab pihaknya menilai ada kejanggalan-kejanggalan lain terkait kinerja Pemerintah Kabupaten Blora selama proses pengurusan dan penyelesaian tanah kawasan Wonorejo.

Menurut rencana, warga Wonorejo yang akan melakukan audensi dialihkan ke inspektorat Blora.

Perlu diketahui, Bupati Blora, Arief Rohman pernah mengatakan, adanya status tanah yang jelas secara hukum diharapkan agar warga bisa lebih tenang dalam menempati. Selain itu sertifikat tersebut juga bisa digunakan untuk agunan.

Ditambahkan, sertifikat HGB tersebut memiliki jangka waktu kepemilikan 30 tahun, bisa diperpanjang dan dapat diperbaharui lagi. Termasuk bisa diwariskan.

Pernyataan itu, ia sampaikan menyerahkan 80 sertifikat tanah HGB tahap kedua kepada warga Kawasan Wonorejo, Cepu, pada Senin, 21 Agustus 2023 lalu (*)

Penulis: Lilik Yuliantoro
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Pro dan Kontra Wacana Utang Pemkab Blora Masih Berlanjut

BLORA, Lingkar.co – Pro dan Kontra Wacana Utang Pemkab Blora Masih Berlanjut, Wacana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora untuk pembangunan infrastruktur jalan yang rusak.

Dua lembaga keuangan telah memaparkan skema utangnya kepada Pemkab Blora dan Pimpinan Dewan.

Tawaran yang pertama dari PT Bank Jateng, yang menawarkan utang sebesar Rp. 300 Milyar, dengan tenor 3 tahun, bunganya 8%.

Tawaran yang pertama tersebut agaknya langsung mendapat penolakan dari Pimpinan DPRD Blora.

Baca juga:
Refocusing Anggaran Covid-19 Masih Menjadi Fokus Pemkab Grobogan

“Karena bunganya terlalu tinggi maka kami tolak dan meminta untuk mencari perbandingan dari lembaga keuangan lain, seperti PT. Sarana Multi Infrastruktur (Persero),” ujar Siswanto, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blora.

Melakukan Kunjungan ke BUMN

Setelah melakukan penolakan dari PT Bank Jateng, pihaknya melakukan kunjungan ke PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) yang merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Singkat kata, jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten Blora telah mendapatkan paparan terkait skema utang tersebut.

Dengan rincian, nantinya PT. SMI (Persero) akan memberikan hutang sebesar Rp. 400 Milyar, dengan tenor 3-8 tahun, dengan beban bunga 5,3% per tiga tahun.

Baca juga:
Mantan Pemain Timnas Sepak Bola Terjerat Kasus Penipuan

Beberapa kalangan menilai bahwa utang itu untuk membangun lebih dari 600 kilometer jalan yang rusak parah.

Sedangkan postur APBD yang sebesar Rp. 2,1 Trilyun, lebih dari 45% untuk belanja pegawai dan belanja rutin, sisanya adalah untuk belanja modal, yang terbagi ke seluruh OPD.

Dimana jumlah anggaran tersebut jelas tidak mampu membiayainya, apalagi ada refocusing dan rasionalisasi anggaran untuk penanganan Covid 19 yang totalnya mencapai Rp100 Milyar, opsi utang layak dipertimbangkan.

Blusukan Tinjau Jalan, Bupati Blora Arief Rohman Tetap Prioritaskan Infrastruktur di Tengah Keterbatasan Anggaran

BLORA, Lingkar.coBupati Blora Arief Rohman blusukan meninjau ruas jalan antara Cabak hingga Bleboh, Kecamatan Jiken, Blora, Jawa Tengah Minggu (7/3/20201).

Di tengah keterbatasan anggaran karena refocusing penanganan covid-19, pihaknya konsisten untuk tetap memprioritaskan perbaikan infrastruktur.

Dalam video yang terunggah oleh akun @AriefRohman_838 sekitar pukul 20.04 pada Minggu (7/3/2021), Bupati Blora Arief Rohman melihat langsung kondisi jalan yang kondisinya rusak parah tersebut. Padahal, jalan tersebut salah satu akses utama truk yang memuat hasil kayu Perhutani.

“Siang ini saya berada di ruas jalan antara Cabak sampai Bleboh. Kita meninjau kondisi jalan yang ada memang parah dan ini menjadi satu prioritas kita kedepan untuk kita perbaiki,” katanya dalam video tersebut.

Menurutnya, Kabupaten Blora merupakan penghasil kayu jati dan migas. Dalam kesempatan itu, pihaknya pun melihat bagaimana truk pengangkut kayu perhutani melintasi jalan rusak. Dirinya pun menegaskan bahwa program prioritasnya yakni perbaikan infrastruktur.

“Program kita kedepan infrastruktur. Kami mohon dukungan dan doa kepada masyarakat. Kita akui kondisi infrastruktur hampir 65 persen rusak,” ujarnya.  

Ia menjelaskan, saat ini masih pandemi covid. Anggaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora banyak yang dialihkan untuk penanganan pandemi. Meski begitu, pihaknya tetap berupaya bagaimana kedepan akan bahu membahu fokus untuk pembangunan infrastruktur.

“Kami mohon doanya dan mohon maaf. Pemerintah Kabupaten Blora dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki. Kami tetap berupaya dan memprioritaskan perbaikan infrastruktur di Blora,” tegasnya.

“Kita minta bantuan ke Menteri PUPR, dan gubernur. Selain itu, kami mengharapkan sinergi anggota DPRD Jateng dan RI yang ada di dapil Blora. Mohon sinergi dan bantuannya untuk pembangunan infrastruktur,” lanjut Arief.

Arief Rohman percaya bahwa apabila infrastrutur baik, sektor lain mulai kesehatan ekonomi, pendidkan juga akan bergrak menuju ke arah yang lebih baik.(lut)

Simak Juga Video Tayangan “Blusukan Tinjau Jalan, Bupati Blora Tetap Prioritaskan Infrastruktur di Tengah Keterbatasan Anggaran”

https://www.youtube.com/watch?v=YVN5hsDz26c