Arsip Tag: Jalan Rusak

Warga Resah, Jalan Guyangan-Jetak Pati Rusak Parah

Lingkar.co – Ruas jalan Guyangan–Jetak di Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, dikeluhkan warga akibat kondisinya yang rusak parah dan dinilai membahayakan pengguna jalan. Jalan yang menjadi penghubung antarwilayah itu disebut sudah lama tidak tersentuh perbaikan.

Berdasarkan pantauan lokasi pada Rabu (15/4/2026), terlihat sejumlah titik jalan mengalami kerusakan cukup serius. Aspal tampak mengelupas dan banyak lubang menganga di sepanjang ruas tersebut.

Kondisi itu memaksa pengendara yang melintas untuk memperlambat laju kendaraan. Selain mengganggu kenyamanan, kerusakan jalan juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat malam hari karena minimnya penerangan.

Salah satu warga, Majid Lutfhi Setiawan, mengaku khawatir dengan kondisi jalan tersebut. Ia menyebut kerusakan sudah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa ada perbaikan.

“Sering rusak, berlubang parah. Khawatir lewat pas malam bisa terperosok karena minim penerangan,” jelas.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut, mengingat ruas itu kerap dilalui masyarakat setiap hari.

“Kalau bisa segera diperbaiki lah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pati, Hasto Utomo, memastikan bahwa ruas jalan Guyangan–Jetak telah masuk dalam rencana perbaikan tahun 2026 dengan anggaran sebesar Rp1 miliar.

“Untuk jalan Guyangan – Jetak Kecamatan Wedarijaksa sudah termasuk direncana perbaikan jalan 2026 ini dengan alokasi anggaran Rp 1 miliar,” jelasnya.

Namun demikian, pelaksanaan perbaikan masih menunggu arahan dari Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra.

“Masih menunggu arahan dari bapak plt Bupati mas, mudah mudahan April 2026 sudah bisa mulai pelaksanaan,” tambahnya.

Hasto juga menyebut masih ada sejumlah ruas jalan lain di Kabupaten Pati yang mengalami kerusakan dan belum tertangani. Untuk tahun 2026, pihaknya telah menyiapkan anggaran sekitar Rp200 miliar guna rehabilitasi jalan dan jembatan di berbagai titik.

“Untuk jalan di Pati yang rusak diantaranya di Guyangan-Runting, Juwana-Guyangan, Tlogowungu-Bapoh, Boloagung-Trimulyo, Prawoto batas Kudus, Tayu-Dukuhseti, Jenggolo-Pegandan, anggaran untuk rehabilitasi jalan dan jembatan tahun 2026 ini kurang lebih Rp200 miliar,” jelasnya. (*)

Protes Jalan Rusak, Warga Kayen Pati Tanam Pohon Pisang

Lingkar.co – Sejumlah warga Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati melakukan aksi protes terhadap kondisi jalan rusak di wilayah mereka dengan menanam pohon pisang di tengah ruas jalan. Aksi tersebut dilakukan pada Minggu (29/3/2026).

Penanaman pohon pisang itu dimaksudkan sebagai tanda peringatan bagi pengguna jalan agar lebih berhati-hati saat melintas, sekaligus sebagai bentuk sindiran kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati agar segera memperbaiki jalan tersebut.

Salah satu warga, Herland, mengatakan aksi tersebut berangkat dari kekhawatiran warga terhadap keselamatan pengguna jalan karena banyaknya lubang di beberapa titik.

“Alasan sederhana cuma memberikan rambu-rambu bagi pengguna jalan sama tentunya pemangku kebijakan,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Ia menjelaskan, ruas jalan di Desa Kayen memiliki peran penting bagi aktivitas masyarakat. Jalan tersebut menjadi jalur penghubung menuju sejumlah fasilitas umum, seperti RSUD Kayen, Kantor Urusan Agama (KUA), masjid, hingga berbagai sekolah mulai dari tingkat TK hingga SMA.

“Seharusnya jalan ini bagus makanya bisa terintegrasi sama yang dituju ada Rumah Sakit, KUA, SMA banyak, SD ada, TK pun ada,” jelasnya.

Menurut Herland, perbaikan jalan sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan. Namun, perbaikan yang dilakukan selama ini hanya berupa tambal sulam sehingga kerusakan kembali muncul dalam waktu singkat.

“Sering diperbaiki tetapi cuma ditambal sulam saja, kemungkinan ini kan mau dicor kok tidak segera,” katanya.

Hal serupa disampaikan warga lainnya, Sujarwanto. Ia menilai penanaman pohon pisang di jalan rusak tersebut juga bertujuan agar pengendara yang melintas mengurangi kecepatan.

“Alasannya biar pada tahu terus yang lewat biar agak pelan-pelan, kalau terlalu kencang bahaya,” kata Sujarwanto.

Selain berisiko bagi keselamatan pengguna jalan, katanya, kerusakan jalan juga dinilai berdampak pada perekonomian warga setempat. Ia menyebut banyak orang enggan melintasi jalan tersebut sehingga aktivitas pedagang di sekitar lokasi menjadi sepi.

“Permintaan dari masyarakat umumnya itu ya kepinginnya diperbaiki lagi, karena sudah parah. Jadi maunya bagus, karena orang malas lewat sini, jadi ekonomi ya menurun pedagang-pedagang juga sepi terus motor baru dicuci kotor lagi,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati, Hasto Utomo, mengatakan proyek perbaikan jalan tersebut telah dialokasikan dalam anggaran tahun 2026 sebesar Rp1,25 miliar.

“Ruas jalan kantor kawedanan – kota kayen sudah dialokasikan 2026 ini Rp1,25 M dengan konstruksi beton,” jelasnya.

Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan jalan beton sepanjang 330 meter dengan lebar 6 meter.

“Panjang 330 meter lebar 6 meter dengan konstruksi beton,” imbuhnya.

Hasto menambahkan, dokumen perencanaan perbaikan jalan tersebut telah selesai disusun. Saat ini, pihaknya tinggal menunggu arahan dari Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, untuk memulai proses lelang proyek.

“Perencanaan sudah jadi, tinggal menunggu perintah Pak Plt bupati untuk di-tender-kan. Semoga April ini bisa segera dimulai,” terangnya. (*)

Hampir 10 Tahun Terbengkalai, Jalan Teluk Leok Rumbai Timur Akhirnya Diaspal Pemkot Pekanbaru

Lingkar.co – Setelah hampir 10 tahun terbengkalai tanpa perbaikan, Jalan Teluk Leok di Kecamatan Rumbai Timur kini akhirnya mulai diaspal oleh Pemerintah Kota Pekanbaru di bawah kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho. Perbaikan dilakukan sepanjang 2,5 kilometer, Kamis (19/3/2026)

Perbaikan ini menjadi jawaban atas keluhan masyarakat yang selama bertahun-tahun mengharapkan jalan tersebut diperbaiki.

Selama ini kondisi Jalan Teluk Leok diketahui mengalami kerusakan cukup parah dan sering dikeluhkan warga karena mengganggu aktivitas sehari-hari, serta membahayakan pengendara yang melintas.

Dimulainya pengaspalan jalan tersebut disambut gembira oleh masyarakat yang merasa aspirasi mereka akhirnya benar-benar diwujudkan.

Perbaikan infrastruktur ini tidak hanya dilakukan di Jalan Teluk Leok. Pemerintah Kota Pekanbaru juga melakukan pengaspalan jalan di Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Bina Widya, dengan panjang mencapai 2,9 kilometer.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah kota dalam memperbaiki ruas-ruas jalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.

Warga menilai dimulainya perbaikan jalan tersebut menjadi bukti bahwa kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho benar-benar menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Apresiasi atas langkah tersebut juga datang dari tokoh masyarakat Riau yang juga mantan Gubernur Riau, Saleh Djasit. Dirinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho atas perhatian dan komitmennya dalam memperbaiki infrastruktur yang selama ini menjadi kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan jalan yang sebelumnya rusak dan kini mulai diperbaiki akan memberikan dampak besar bagi masyarakat, terutama dalam mendukung mobilitas warga serta aktivitas ekonomi.

“Terima kasih kepada Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho yang telah memperhatikan kondisi jalan masyarakat. Perbaikan ini tentu sangat membantu mobilitas warga dan manfaatnya akan langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur jalan merupakan salah satu prioritas pemerintah kota. Ia menyampaikan bahwa pemerintah akan terus berupaya memperbaiki ruas-ruas jalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat secara bertahap.

Menurutnya, setiap aspirasi masyarakat merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui kerja nyata. Perbaikan Jalan Teluk Leok yang selama hampir satu dekade tidak tersentuh perbaikan dan kini kembali mulus menjadi salah satu bukti komitmen tersebut.

Pemerintah Kota Pekanbaru pun terus berupaya menghadirkan pembangunan yang merata di seluruh wilayah kota, sehingga masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dari berbagai program pembangunan yang dijalankan. (*)

Jalur Mudik Masih Rusak, Markarius Anwar Sebut Sudah Komunikasi dengan Pemprov Riau

Lingkar.co – Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengaku sudah berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau terkait sejumlah jalan lintas yang rusak di sekitar Kota Pekanbaru.

Komunikasi tersebut dimaksudkan untuk memastikan ada perbaikan di sejumlah ruas jalan lintas yang menjadi jalur mudik Lebaran 2026.

“Kami sudah berkomunikasi, jalan provinsi yang rusak segera diperbaiki oleh Pemerintah Provinsi Riau,” terangnya, Sabtu (14/6/2026).

Menurutnya, sejumlah ruas jalan provinsi di Kota Pekanbaru segera menjalani perawatan. Adanya perawatan juga untuk memastikan kenyamanan pemudik yang hendak melintas.

Dirinya menyebut bahwa berkomunikasi secara langsung untuk mencari solusi cepat. Mereka sedang berupaya membenahi ruas jalan lintas daerah sebelum memasuki Idul Fitri 1447 H.

“Untuk jalan provinsi yang di Pekanbaru memang sekarang sedang perawatan jalan,” ulasnya.

Markarius Anwar juga menegaskan, pihaknya siap menerima pengaduan masyarakat soal ruas jalan lintas yang rusak. Ia mengaku bakal berkomunikasi langsung dengan Pemerintah Provinsi Riau.

“Kalau ada titik tertentu masih rusak, langsung kita follow up pengaduan masyarakat, kita komunikasikan dengan dinas PU Provinsi Riau,” ujarnya.

Kondisi ruas jalan provinsi di Kota Pekanbaru mengalami kerusakan. Kondisinya menanti proses perbaikan jelang momen mudik Idul Fitri 1447 H. (*)

Respons Cepat Laporan Warga, Wali Kota Semarang Siapkan Betonisasi Masif dan Perbaikan Rutin di Jalan Citarum

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, memberikan perhatian serius terhadap kondisi Jalan Citarum yang menjadi salah satu urat nadi transportasi menuju pusat kota dan area perdagangan. Merespons laporan masyarakat, Agustina memastikan langkah penanganan ganda berupa perbaikan rutin jangka pendek dan peningkatan jalan melalui betonisasi permanen pada pertengahan tahun ini.

“Berdasarkan evaluasi teknis, kerusakan di Jalan Citarum dipicu oleh elevasi jalan yang rendah sehingga sering terjadi genangan air saat hujan tinggi. Selain itu, beban kendaraan berat yang melebihi kapasitas atau ODOL (Over Dimension Over Loading) mempercepat kerusakan aspal di beberapa titik kritis,” ujarnya, Minggu (15/3).

Sebagai langkah nyata agar jalan tetap aman dilalui, Wali Kota memastikan bahwa perbaikan parsial tidak akan menunggu hingga proses lelang selesai. Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terus melakukan pemeliharaan harian di lapangan.

“Sambil menunggu peningkatan jalan secara menyeluruh, perbaikan paving dan tambal sulam rutin tetap kami lakukan. Kami tidak ingin aktivitas ekonomi warga terganggu sehingga pemeliharaan terus berjalan agar fungsi jalan tetap terjaga,” jelasnya.

Terkait solusi permanen, Pemkot Semarang telah menganggarkan proyek betonisasi Jalan Citarum yang direncanakan masuk tahap lelang pada Mei 2026. Pengerjaan fisik jalan sepanjang 510 meter dengan lebar 14 meter ini akan dimulai pada Agustus 2026, mencakup ruas dari simpang Jalan Dr. Cipto hingga simpang Jalan Indragiri Utara.

“Peningkatan jalan menjadi tipe rigid (beton) ini adalah solusi jangka panjang. Sampai saat ini, Pemkot Semarang terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga preservasi jalan ini. Kami akan menempatkan rambu batas beban melalui Dishub untuk mengatur lalu lintas kendaraan berat, yang dibarengi dengan dukungan penindakan dari jajaran Satlantas. Hal ini menjadi kunci utama agar kualitas infrastruktur tidak cepat rusak kembali akibat beban berlebih, sehingga umur jalan bisa bertahan lebih lama,” tegasnya.

Selain perbaikan fisik jalan, Pemkot Semarang juga akan melakukan pembersihan sedimen pada saluran drainase di sisi kanan dan kiri jalan secara berkala untuk memastikan aliran air menuju pompa berjalan lancar dan meminimalisir genangan di badan jalan. Wali Kota pun mengimbau masyarakat untuk senantiasa waspada saat melintasi area yang sedang dalam masa pemeliharaan.

“Warga kami imbau tetap berhati-hati saat melintasi Jalan Citarum. Kami berkomitmen untuk terus mengawal perbaikan ini agar kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan dapat kembali optimal,” pungkasnya. (Adv)

Ratusan Warga Mangir Demo Tolak Jalan Desa Dilintasi Dump Truk Galian C

Lingkar.co – Ratusan warga Dusun Mangir, Desa Nolokerto, Kecamatan Kaliwungu, menggelar unjuk rasa menolak rencana jalan desa mereka dilintasi dump truk pengangkut material galian C.

Warga menilai rencana tersebut lebih banyak mendatangkan dampak negatif dibandingkan manfaatnya, terutama bagi lingkungan dan keselamatan warga.

Salah satu warga Mangir, Fahrudin, mengatakan jalan desa tidak dirancang untuk kendaraan bertonase besar.

“Kalau dilewati dump truk, jalannya pasti rusak seperti di Magangan, Brangsong, aspalnya hancur,” kata Fahrudin.

Ia menambahkan material tanah dari truk akan mengotori jalan dan membuat permukaan licin saat musim hujan.

“Kalau hujan, tanah berceceran bikin jalan licin dan rawan kecelakaan,” ujarnya.

Selain itu, warga juga mengkhawatirkan dampak debu terhadap kesehatan masyarakat.

“Debu pasti berterbangan dan bisa menyebabkan ISPA, apalagi ini kawasan padat penduduk,” tegasnya.

Koordinator aksi, Khalim, mengatakan penolakan muncul setelah adanya rencana CV Irawan Permata Asia (IPA) melintasi Jalan Mangir.

Menurutnya, dalam rapat sosialisasi awal di Balai Desa Nolokerto, jalur dump truk disepakati melalui Desa Suking.

“Dalam rapat lanjutan yang tidak melibatkan warga Mangir, justru diputuskan jalan Mangir sebagai jalur lintasan,” kata Khalim.

Ia menegaskan sejak awal warga Mangir menolak rencana tersebut karena merasa menjadi pihak yang paling dirugikan.

“Kami tidak menolak galian C karena sudah berizin, tapi kami menolak jika jalan Mangir dilintasi dump truk,” tandasnya.

Khalim juga membantah isu bahwa aksi warga ditunggangi kepentingan tertentu.

“Ini murni suara warga Mangir, bukan untuk membenturkan dengan pihak mana pun,” pungkasnya. (*)

Parkir Liar Dump Truk Rusak Jalan Sumberejo Kaliwungu

Lingkar.co – Marak parkir liar dump truk galian C di jalan perbatasan Kendal–Semarang, tepatnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kenda, Jawa Tengah. Parkir liar tersebut tidak hanya merusak kondisi jalan, tetapi juga telah menyebabkan dua orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Wakil Bupati Kendal, Benny Karnadi mengaku geram dengan hal itu. Ia pun menegaskan akan menutup seluruh aktivitas parkir liar dump truk galian C di lokasi tersebut. Pasalnya, lumpur tanah yang terbawa dari kendaraan berat membuat jalan menjadi licin saat hujan dan berdebu ketika musim panas, sehingga sangat membahayakan pengguna jalan.

Wakil Bupati Kendal pada hari Senin (12/01/2026) melakukan inspeksi mendadak (sidak) usai memimpin rapat koordinasi terkait penanganan jalan perbatasan Kendal–Semarang.

Jalan yang baru dibangun dengan kondisi baik justru dimanfaatkan para pemilik dump truk galian C sebagai lokasi parkir tanpa izin.

Menurut Benny, para pemilik truk tidak mengindahkan asas keselamatan dan ketertiban umum. Parkir sembarangan serta lumpur yang menutup badan jalan menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan fatal.

“Di bulan Januari ini sudah ada dua korban meninggal dunia akibat jalan licin yang tertutup lumpur. Saya tidak ingin warga Kendal terus menjadi korban akibat parkir liar yang memanfaatkan fasilitas umum,” tegas Benny.

Sebagai langkah tegas, Pemerintah Kabupaten Kendal akan melarang seluruh truk parkir di lokasi tersebut mulai besok pagi. Area yang selama ini digunakan sebagai tempat parkir liar akan ditata menjadi taman dan dilengkapi drainase saluran air guna mencegah genangan lumpur di badan jalan.

Benny juga menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang aktivitas usaha di Kabupaten Kendal, namun seluruh pelaku usaha wajib menaati aturan dan memiliki izin resmi.

Selain persoalan parkir liar, Wakil Bupati Kendal juga menyoroti keberadaan puluhan warga yang menempati lahan sengketa di sekitar tugu perbatasan Kendal–Semarang. Di lokasi tersebut terdapat bangunan tempat tinggal, bengkel, hingga warung makan yang diketahui belum mengantongi izin resmi.

Pemerintah daerah akan melakukan pendataan dan penertiban secara bertahap demi menjaga ketertiban, keselamatan, dan kenyamanan masyarakat pengguna jalan. (*)

Penulis: Yoedhi W

Bupati Tegaskan Target Pemkab Tahun 2026; Jalan di Kendal 80 Persen Kategori Mantap

Lingkar.co – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menegaskan, pembangunan infrastruktur jalan masih menjadi prioritas utama Pemerintah Kabupaten Kendal. Ia menyebut, pada tahun 2026 ini, Pemkab Kendal menargetkan 80 persen jalan kabupaten dalam kondisi mantap, sementara 15 persen lainnya berada pada kategori rusak sedang.

“Pembangunan infrastruktur jalan ini kita prioritaskan karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Target kami di tahun 2026, 80 persen jalan kabupaten sudah mantap dan akses ke wilayah terpencil bisa terbuka,” ujar Bupati.

Mbak Tika, sapaan akrab Dyah Kartika Permanasari menyampaikan hal itu saat melakukan monitoring pembangunan jalan kabupaten di Desa Sekucing, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Selasa (6/1/2026).

Sebagai informasi, jalan sepanjang 950 meter dengan lebar enam meter tersebut menjadi akses vital bagi warga dua dusun terpencil yang selama puluhan tahun belum tersentuh pembangunan infrastruktur.

Bupati mengamati jalan di kawasan pesisir ini sudah lama dalam kondisi rusak dan becek, sehingga menjadi kendala aktivitas warga setiap hari.

Padahal, terdapat sekitar 300 kepala keluarga. Setiap berangkat kerja, mereka harus melintasi jalan rusak untuk menuju pusat pemerintahan desa maupun ibu kota kecamatan. Kondisi ini kerap menghambat aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga akses layanan publik.

Pembangunan jalan dilakukan secara bertahap dengan konstruksi cor beton hingga tembus ke Dusun Larangan dan Dusun Sigentong. Selain membuka keterisolasian wilayah, keberadaan jalan ini juga menghubungkan dua destinasi wisata pantai, yakni Pantai Manis dan Pantai Sendang Asih.

Atas perhatian Bupati Tika, Sekretaris Desa Sekucing, Mashudi, menyampaikan apresiasi karena pembangunan jalan tersebut. Menurutnya, selama puluhan tahun dua dusun di wilayahnya terisolasi dan belum pernah mendapatkan pembangunan jalan baru.

Ia berharap sisa jalan yang belum dicor sepanjang sekitar 500 meter dapat diselesaikan tahun ini agar warga lebih mudah mengakses layanan pemerintahan serta mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kendal. Selama puluhan tahun dua dusun ini terisolasi. Semoga sisa jalan yang belum dicor bisa segera selesai sehingga warga lebih mudah beraktivitas,” kata Mashudi.

Hal senada disampaikan pengelola Pantai Sendang Asih, Heni Endang Setyowati. Dengan kondisi jalan yang semakin baik, ia optimistis jumlah kunjungan wisatawan akan meningkat dan berdampak langsung pada perekonomian warga sekitar.

“Kalau jalannya bagus, wisatawan lebih mudah datang. Ini sangat membantu perekonomian warga dan pelaku wisata di sekitar pantai,” ujarnya.

Dengan pembangunan jalan kabupaten di wilayah pesisir Desa Sekucing ini, diharapkan akses transportasi warga semakin lancar, sektor pariwisata berkembang, serta perekonomian masyarakat pesisir Kabupaten Kendal terus meningkat. (*)

Penulis: Yoedhi W
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Pemkab Rembang Genjot Peningkatan Jalan, Empat Paket Rampung, 22 Lainnya Terus Dikebut

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU Taru)terus meningkatkan kualitas infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilitas warga serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Bina Marga DPU Taru Kabupaten Rembang, Nugroho Tri Hutomo, Senin (24/11/2025)

Ia menyebutkan, hingga akhir November ini, empat paket pekerjaan peningkatan jalan yang dibiayai melalui APBD Induk telah tuntas dikerjakan.

“Sementara, 22 paket pekerjaan jalan melalui skema Pengadaan Langsung (PL) masih berlangsung di berbagai titik,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa empat paket APBD Induk tersebut memiliki total nilai Rp6,83 miliar dan seluruhnya selesai sesuai perencanaan.

Adapun rincian empat paket yang telah rampung, yakni:

• Ruas Landoh–Kerep–Kepohagung, senilai Rp1,89 miliar, penanganan sepanjang 802,5 meter dengan lebar 4 meter menggunakan konstruksi pelebaran hotmix.

• Ruas Sendangagung–Segoromulyo, senilai Rp1,87 miliar, panjang 1.686 meter, lebar 3 meter, dengan metode overlay hotmix.

• Ruas Punggurharjo–Wuwur–Johogunung, senilai Rp1,2 miliar, panjang 1.850 meter dan lebar 3 meter (overlay hotmix).

• Ruas Mrayun–Ngajaran–Tahunan, senilai Rp1,87 miliar, sepanjang 1.842,5 meter dan lebar 3 meter (overlay hotmix).

Selain empat paket tersebut, pihaknya juga tengah menuntaskan 22 paket pekerjaan PL yang mencakup peningkatan dan pemeliharaan jalan. Sejumlah lokasi yang menunjukkan progres antara lain ruas di depan RSUD Rembang menuju MAN 1 Rembang, TPI Sarang, Kaliombo–Sudo, Gedangan–Sridadi, Kabongan Kidul–Ngotet, serta beberapa titik di Kecamatan Sale dan Sluke seperti Bitingan, Ngajaran, Sumbermulyo, dan Pangkalan.

“Total anggaran untuk pekerjaan PL tahun ini sekitar Rp 4,2 miliar,” jelas Nugroho.

Sementara itu, katanya, pekerjaan pemeliharaan rutin juga terus berjalan di tiga titik, yakni ruas Tireman–Japerejo, Gunungsari–Kuangsan, dan Sambiyan–Sidomulyo. Untuk peningkatan ruas Japerejo–Tireman dengan konstruksi beton, Pemkab Rembang telah mengusulkan dukungan melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD).

“Kami telah mengusulkan anggaran Rp40 miliar ke pusat untuk peningkatan ruas Japerejo–Tireman sepanjang 6,7 kilometer dengan konstruksi beton,” terangnya.

Melalui rangkaian peningkatan dan pemeliharaan ini, pihaknya berharap kualitas infrastruktur jalan semakin merata di seluruh wilayah sehingga konektivitas antarwilayah kian lancar dan mampu mendorong aktivitas ekonomi serta pelayanan publik. (*)

Tak Tahan Nunggu Pemerintah, Warga Dua Desa di Pati Swadaya Perbaiki Jalan Rusak

Lingkar.co – Warga Desa Bageng dan Desa Klakahkasihan di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, akhirnya turun tangan sendiri memperbaiki jalan rusak penghubung utama keduanya, Jalan Bageng-Jollong. Jalan tersebut sudah rusak parah selama lebih dari tiga tahun.

Berbekal semangat gotong royong, puluhan warga dari kedua desa bahu-membahu mengumpulkan dana swadaya. Dengan iuran per orang mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung kemampuan ekonomi masing-masing. Dana yang terkumpul mencapai Rp 60 juta. Dana tersebut digunakan untuk mengecor jalan rusak sepanjang 180 meter di dua titik paling parah kondisinya.

Nur Rohman, salah satu warga yang aktif dalam aksi ini, mengungkapkan bahwa kerusakan jalan sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu.

“Kita swadaya masyarakat dua desa. Desa Bageng perbatasan Desa Klakahkasihan. Kalau nunggu dari Kabupaten ya terlalu parah,” kata Nur Rohman, Senin (30/6/3025).

Ia menambahkan, warga sudah berkali-kali melaporkan kondisi jalan kepada pemerintah kabupaten, namun belum ada respons berarti.

“Sudah dilaporkan. Tapi belum ada respon,” ujarnya.

Padahal, secara administratif, Jalan Bageng-Jollong merupakan jalan milik Pemerintah Kabupaten Pati. Namun, karena kelambanan pemerintah, warga memilih untuk tidak tinggal diam.

“Sepanjang 180 meter rencananya diperbaiki dengan anggaran 60 juta. Ada dua titik yang diperbaiki. Atas sama sini. Luasnya 6 meter,” jelas Nur Rohman3.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Pati memang telah mengalokasikan anggaran besar untuk perbaikan jalan di wilayahnya. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan perbaikan minimal 81 ruas jalan dengan anggaran mencapai Rp 362 miliar. Namun, perbaikan jalan di beberapa desa seperti Bageng baru diusulkan untuk tahun depan, karena pembangunan dilakukan secara bertahap. (*)