Arsip Tag: Sinovac

Izin Umrah, Konsul Haji KJRI: Saudi Masih Kaji Vaksin Sinovac dan Sinopharm

JEDDAH, Lingkar.co – Konsul Haji KJRI Jeddah, Endang Jumali, mengatakan, Pemerintah Arab Saudi masih melakukan kajian terkait penggunaan vaksin Covid-19 jenis Sinovac dan Sinopharm.

Kajian itu, karena sebagian masyarakat Indonesia menggunakan vaksin Sinovac dan Sinopharm.

“Kementerian Kesehatan Arab Saudi masih melakukan kajian. Hasilnya akan segera diumumkan,” kata Endang, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/8/2021).

Menurut Endang, informasi itu ia dapat usia bertemu dengan Deputi Urusan Umrah Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi Dr. Abdulaziz Wazzan, di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Jeddah.

Pertemuan yang berlangsung pada 11 Agustus 2021 itu, turut hadir Konjen RI, Eko Hartono, bersama Koordinator Perlindungan Warga dan Pelaksana Staf Teknis Haji 1 (P-STH 1).

“Selain Indonesia, sejumlah negara lain juga menggunakan vaksin Sinovac dan Sinopharm,” ujarnya.

Baca juga:
Lapas Kelas I Semarang Punya Blok Risiko Tinggi

Endang memastikan, Kementerian Haji dan Umrah terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

Koordinasi tersebut, untuk memastikan apakah calon jemaah umrah dari negara lain, termasuk Indonesia, yang telah memperoleh vaksin penuh tersebut, masih perlu menerima satu dosis lagi (booster) dari 4 vaksin yang digunakan Saudi.

“Sementara WHO telah mengakui Sinovac dan Sinopharm,” kata Endang.

Sehingga, Kemenag terus berkoordinasi dengan Kemenkes RI dan Kemenlu RI untuk membahas bersama masalah penggunaan kedua vaksin tersebut.

Prioritas Kesehatan dan Keselamatan Jemaah

Endang menegaskan, Pemerintah Saudi lebih memprioritaskan keselamatan dan kesehatan Jemaah, dalam pengaturan penyelenggaraan ibadah umrah pada masa pandemi.

Keselamatan dan kesehatan menjadi hal utama, bukan kepentingan ekonomi dan bisnis semata.

“Pelaksanaan ibadah umrah dengan protokol kesehatan yang ketat,” kata Endang.

Ia mencontohkan, transportasi dalam kota hanya boleh terisi 50 persen dari total kapasitas normal. Kemudian, pembatasan hotel hanya dua orang per kamar.

Alasan keselamatan juga, kata Endang, Pemerintah Arab Saudi masih menangguhkan Jemaah umrah bagi negara dengan penyebaran Covid-19 masih tinggi.

Bagaimana Jemaah Indonesia?

Terkait calon Jemaah umrah asal Indonesia, Endang belum dapat memastikan jadwal keberangkatan.

Sebab menurut dia, Indonesia masih terganjal beberapa kendala, antara lain status suspend atau larangan terbang.

“Indonesia masih suspend dengan 9 negara yang lain,” ucap dia.

Baca juga:
Lapas Kelas I Semarang Siapkan Tim Tanggap Darurat untuk BRT

Sebelumnya, Minggu (8/8/2021), Pemerintah Arab Saudi mengumumkan akan menerima jemaah umrah luar negeri sebanyak 2 juta setiap bulan.

Jemaah luar negeri harus menyertakan sertifikat vaksinasi Covid-19 resmi saat mengajukan permohonan permintaan ibadah umrah.

Pemerintah Arab Saudi juga melarang sembilan negara melakukan penerbangan langsung.

Kesembilan negara tersbeut, yakni India, Indonesia, Pakistan, Turki, Mesir, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, dan Lebanon.

Jemaah umrah dari sembilan negara itu harus transit pada negara ketiga untuk melakukan karantina selama 14 hari, sebelum terbang menuju Arab Saudi.

Persyaratan untuk Jemaah umrah usia 18 tahun ke atas, wajib telah vaksinasi Covid-19 dengan dosis lengkap, dari salah satu empat vaksin, yakni Pfizer, Mordena, Astrazeneca atau Johnson & Johnson (J&J).

Bagi jemaah umrah yang telah vaksin buatan China, seperti Sinovac atau Sinopharm, Pemerintah Arab Saudi memperbolehkan berangkat dengan syarat, yakni:

“Jemaah wajib menambah suntikan booster dari vaksin Pfizer, Moderna, AstraZeneca dan Johnson & Johnson”. ***

Penulis : M. Rain Daling

Editor : M. Rain Daling

Pekan Ini, Jateng Dapat 700 Ribu Vial Vaksin Covid-19

SEMARANG, JAWA TENGAH, Lingkar.co – Pekan ini, Jawa Tengah (Jateng) mendapat 700 ribu vial vaksin Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkas).

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menyebut ia sering berkomunikasi dengan Menkes, Budi Gunadi Sadikin, untuk percepatan vaksinasi di wilayah ini.

Dari hasil komunikasinya dengan Menkes, Ganjar mengatakan, Jateng akan mendapatkan tambahan alokasi vaksin Covid-19.

“Kemarin aja kita mendapatkan kiriman vaksin Astra zeneca 27.000 vial dan 50.000 vial vaksin sinovac. Kan berarti sekitar 700.000 dosis lebih. Ini cara kita mempercepat,” kata Ganjar, Rabu (28/7/2021).

Baca juga:
Mahasiswa ‘Geruduk’ Rumah Dinas Ganjar Malam Hari, Ada Apa?

Sebenarnya, kata Ganjar, pihaknya meminta tambahan jatah 2,4 juta vial. Namun hanya mendapat 700 ribu vial vaksin Covid-19 dari Kemenkes.

“Saya sih permintaannya 2,4 juta (dosis vaksin) setiap Minggu, dan kita siap,” katanya.

Dari setiap kunjungannya ke daerah, Jawa Tengah mampu mengejar dan meningkatkan percepatan vaksinasi. Hanya kendalanya adalah ketersediaan vaksin.

“Kita siap sebenarnya, infrastruktur kita tidak kurang. Tinggal nunggu vaksinnya saja, dan Alhamdulillah perhatian dari Menkes sudah ada kita ditambah bahkan presiden aja telpon saya langsung untuk percepatan ini,” tegasnya.

Selain penyediaan vaksin, antusias masyarakat Jawa Tengah untuk vaksin sangat tinggi.

Baca juga:
Kapolres Sragen Gelar Baksos bantu Pedagang Terdampak PPKM

“Kalau saya ngelihat antusiasme masyarakat untuk divaksin itu bagus di Jawa tengah, jadi ini saya temukan di hampir semua tempat yang saya kunjungi selama kami berkunjung di 35 kabupaten kota,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan Jateng menyebut bahwa progres vaksinasi masih rendah, dan baru sekira 2,5 juta warga sudah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 . Padahal, target program vaksinasi di Jateng menyasar 28,7 juta orang. *

Penulis: Rezanda Akbar D

Editor: M. Rain Daling

WHO Berikan Izin Sinovac, Bukti Vaksin di Indonesia Aman

JAKARTA, Lingkar.co – World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia resmi berikan izin Sinovac, validasi ini sebagai pertanda bahwa vaksin tersebut memenuhi standar keamanan dunia.

Hal tersebut didampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/6).

“Kami selaku pemerintah Indonesia menyambut baik validasi emergency use vaksin Sinovac,” ujarnya.

Baca juga:
Maksimalkan Jogo Tonggo dan PPKM, Hartopo Optimis Kasus Covid-19 Melandai

Menkes Budi mengatakan WHO telah memvalidasi penggunaan darurat izin Sinovac tersebut melalui siaran pers pada Selasa (1/6) lalu.

Hal ini menegaskan bahwa pemerintah Republik Indonesia hanya mengadakan vaksin yang aman, teruji mutunya, dan khasiatnya.

Menkes Budi himbau masyarakat untuk tidak perlu lagi khawatir dengan berbagai jenis vaksin yang saat ini tersedia.

Baca juga:

Pendaftaran BPUM Tahap Dua Kembali Dibuka, Simak Syarat dan Kriterianya

Karena semua jenis vaksin baik untuk mencegah penularan Covid-19 dan telah melalui uji kualitas, keamanan, dan efikasi.

“Jadi masyarakat jangan pilih-pilih vaksin. Vaksin yang pemerintah berikan adalah vaksin terbaik dan sudah teruji keamanannya,” terang Menkes.

Menkes Budi menyakini bahwa WHO telah memastikan vaksin Sinovac telah memenuhi standar internasional untuk keamanan, efikasi, dan pembuatan.

Baca juga:
Banyaknya Program Prioritas, PUPR Ajukan Anggaran Bina Marga Sebesar Rp39,70 Triliun

“Selain itu, mutunya telah teruji karena sudah lewat uji klinis tahap ketiga, penggunaannya sudah lebih dari 20 negara di dunia,” jelasnya.

Budi mengatakan bahwa hasil riset juga menunjukan bahwa vaksin Covid-19 mampu mencegah kematian dan mencegah sakit parah yang berujung perawatan gawat darurat.

Vaksin Sinovac akan juga didapatkan melalui Covax Facility, kerja sama antarnegara yang memastikan kesetaraan akses terhadap vaksin.

Baca juga:
Dorong Industri Perhotelan Kembangkan Produk UKM

“Selain Sinovac, WHO juga telah menerbitkan Daftar Penggunaan Darurat (EUL) untuk vaksin AstraZeneca, Pfizer, Moderna dan Sinopharm,” pungkasnya. (ara/luh)

Vaksin Sinovac Belum Masuk Rekomendasi Arab Saudi, Jadi Kendala Pemberangkatan Haji

PATI, JAWA TENGAH, Lingkar.co – Vaksin Sinovac yang berasal dari perusahaan Sinovac Biotech China, yang digunakan oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia, ternyata belum masuk vaksin rekomendasi oleh WHO Arab Saudi.

Abdul hamid, selaku Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kantor Kementrian Agama  (Kemenag) Kabupaten Pati saat ditemui di kantornya.

Oleh karena itu, menurut Hamid hal tersebut dapat menjadi hambatan jamaah untuk berangkat haji. Meskipun Arab Saudi sudah ada sinyal untuk membuka kuota.

Baca juga:
Kemenag Pesimis, Waktu Pelaksanaan Haji Belum Jelas

“Sampai hari ini pemerintah Arab Saudi belum menyebut Vaksin Sinovac sebagai vaksin  rekomendasi pihak Arab Saudi,” ujarnya.

Pihaknya menjelaskan, bahwa vaksin yang pemerintah Arab Saudi tetapkan tersebut tergantung dari rekomendasi WHO Perwakilan Arab Saudi.

Hingga sampai saat ini WHO Arab Saudi belum mengizinkan penggunaan vaksin asal China tersebut.

Baca juga:

Pemberangkatan 1021 Calon Jamaah Haji Kudus Tunggu Keputusan Resmi

“Meskipun sebenarnya WHO perwakilan di Indonesia sudah merekomendasikan Vaksin Sinovac untuk di gunakan di Indonesia,” terang Hamid.

China Kirimkan 8 Juta Dosis Bahan Baku Vaksin Sinovac Ke Indonesia

JAKARTA, Lingkar.co – Pemerintah Indonesia pada Selasa (25/5) menerima sebanyak 8 juta bahan baku vaksin Covid-19 dari sinovac, perusahaan biofarmasi yang berbasis di China.

Vaksin tersebut pemerintah terima melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Komite Penanganan Covid-19  dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Baca juga:
Temukan Jual Pangan Lebih Mahal di Solo, Mensos bakal Hentikan Program E-Warong

Airlangga mengatakan bahwa pemerintah berupaya menjaga ketersediaan stok vaksin untuk memastikan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 berjalan sesuai rencana.

“Alhamdulillah, puji syukur, hari ini kita bisa menyaksikan kedatangan vaksin Covid-19 Sinovac delapan juta dosis dalam bentuk bulk (bahan baku),” ujarnya.

Setelah kedatangan pasokan bahan baku delapan juta dosis vaksin itu, ia mengatakan, secara keseluruhan pemerintah sudah mendatangkan pasokan 83,9 juta dosis vaksin Covid-19.

Baca juga:

Ditanya Soal Tak Diundang Acara HUT PDI P di Semarang, Ganjar: Seperti Itu Kok Ditanyakan

Dalam hal ini pemerintah berupaya memastikan keamanan, mutu, dan khasiat vaksin Covid-19 yang digunakan dalam program vaksinasi nasional.

“Vaksin kami terima melalui proses evaluasi BPOM,” terang Airlangga.

Ia menjelaskan pula bahwa vaksinasi merupakan salah satu penentu keberhasilan upaya untuk mengendalikan penularan Covid-19.

Baca juga:
Ridwan Kamil Dorong Pengelolaan Sampah di Jawa Barat Berbasis Digital

Saat ini, menurut Airlangga, pemerintah sudah melakukan vaksinasi COVID-19 pada sekitar 24,9 juta warga.

“Pemerintah berencana memvaksinasi sedikitnya 70 persen dari populasi atau sekitar 181,5 juta orang untuk mewujudkan kekebalan komunal terhadap penyakit tersebut,” pungkas Airlangga. (ara/luh)

Jokowi Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Kedua Hari Ini

JAKARTA, Lingkar.co – Presiden Joko Widodo mendapatkan vaksinasi Covid-19 dosis kedua vaksin Sinovac, yang dilaksanakan di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (27/1).

Seperti pelaksanaan vaksinasi pertama pada 13 Januari 2021, Presiden Jokowi harus melewati tahapan pemeriksaan lebih dulu sebelum diputuskan apakah dapat memperoleh vaksinasi kedua.

“Jadi setelah suntikan vaksin yang pertama di 13 Januari lalu, 2 minggu lalu, hari ini saya mendapat suntikan vaksin yang kedua dan sama seperti yang dilakukan dua minggu lalu tidak terasa dan setelah 2 jam hanya pegal-pegal dan sekarang sama sama aktivitas ke mana-mana,” kata Presiden Jokowi setelah mendapat suntikan kedua.

Presiden Jokowi mengakui jumlah orang yang divaksinasi memang masih rendah.

“Ini kan baru awal-awal, dimulai dari dokter dan perawat dan per hari ini kurang lebih kita baru mendapat 250 ribu tenaga kesehatan (yang divaksin), tapi 2 hari ini melonjak tajam,” tambah Presiden.

Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan, hingga 25 Januari 2021 terdapat 161.959 sumber daya manusia kesehatan (SDMK) yang sudah divaksin.

Padahal Kemenkes menyasar 1,48 juta SDMK dan dari jumlah tersebut sudah ada 1,45 juta yang melakukan registrasi ulang untuk vaksinasi COVID-19.

“Kita harapkan karena kita punya 30 ribu vaksinator di 10 ribu puskesmas dan 3000 rumah sakit, kita harapkan 900 ribu- 1 juta orang dapat divaksin, tapi ini yang perlu waktu dan manajemen yang baik yang selalu saya sampaikan ke Menkes,” tambah Presiden.

Presiden berharap pada pertengahan Februari 2021, masyarakat juga sudah mulai menjalani vaksinasi.

“Pertama diprioritaskan ke tenaga kesehatan kemudian berikutnya TNI Polri, pelayan publik dan masyarakat saya rasa bulan Februari, pada pertengahan Februari untuk masyarakat,” ungkap Presiden. (ara/aji)

Sumber: Koran Lingkar Jateng

Perhatikan, Orang dengan Gejala Ini Tidak Boleh Menerima Vaksin Covid-19

SEMARANG, Lingkar.co– Pemerintah telah mencanangkan vaksinasi dalam rangka penanganan dan pengendalian covid-19. Bahkan, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi orang pertama yang menerima suntik vaksin covid-19 Sinovac pada Rabu (13/1/2021).

Di Jawa Tengah (Jateng) vaksinasi juga sudah mulai pemberlakuan pada Kamis (14/1/2021). Dengan orang petama yang menerima suntikan vaksin adalah Gubernur Ganjar Pranowo. Di hari yang sama, sejumlah daerah di Jateng juga mulai melakukan vaksinasi, seperti di Surakarta.

Kendati begitu, ada sejumlah orang yang tidak boleh mendapat suntikan vaksin tersebut. Hal itu Berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/ 1 /2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Sebelum penyuntikan vaksin Covid-19, petugas akan melakukan skrining calon penerima vaksin.

Apabila Apabila berdasarkan pengukuran suhu tubuh calon penerima vaksin sedang demam (≥ 37,5 0C), vaksinasi ditunda sampai pasien sembuh dan terbukti bukan menderita COVID-19 dan dilakukan skrining ulang pada saat kunjungan berikutnya.

Kemudian, apabila berdasarkan pengukuran tekanan darah lebih dari 140/90, maka vaksinasi tidak dapat menerima vaksin.

Selain itu, orang-orang dengan kriteria berikut di bawah ini juga tidak boleh mendapat vaksi :

  1. Pernah terkonfirmasi menderita Covid-19.
  2. Sedang hamil atau menyusui.
  3. Ada anggota keluarga serumah yang kontak erat/suspek/konfirmasi/sedang dalam perawatan karena penyakit COVID-19.
  4. Memiliki riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak dan kemerahan setelah divaksinasi COVID-19 sebelumnya.
  5. Sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah.
  6. Menderita penyakit jantung (gagal jantung/penyakit jantung coroner).
  7. Memiliki penyakit Autoimun Sistemik (SLE/Lupus, Sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya).
  8. Menderita penyakit ginjal? (penyakit ginjal kronis/sedang menjalani hemodialysis/dialysis peritoneal/transplantasi ginjal/sindroma nefrotik dengan kortikosteroid).
  9. Menderita penyakit Reumatik Autoimun/Rhematoid Arthritis.
  10. Mempunyai penyakit saluran pencernaan kronis.
  11. Menderita penyakit Hipertiroid/hipotiroid karena autoimun.
  12. Menderita penyakit kanker, kelainan darah, imunokompromais/defisiensi imun, dan penerima produk darah/transfuse.

Sementera itu, juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 (virus Corona ) Wiku Adisasmito memastikan, kelompok masyarakat yang akan mendapatkan vaksin adalah yang belum pernah terpapar Corona.

Wiku mengatakan, penyitas Covid-19 atau orang yang pernah terpapar Corona tidak akan menerima vaksin dulu. Sehingga menteri-menteri maupun kepala daerah yang pernah terpapar Covid-19 tidak akan menerima vaksinasi.

“Untuk orang yang sudah terpapar Covid-19 sementara tidak menerima vaksin dulu. Prioritas vaksin untuk sementara ini untuk orang-orang yang belum pernah terpapar,” kata Wiku dalam konferensi persnya, Selasa (12/1).(ara/lut)

Penny: Vaksi Sinovac Naikkan Kekebalan Tubuh hingga 23 Kali Lipat

JAKARTA, Lingkar.co – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengklaim, vaksin Covid-19 buatan Sinovac menimbulkan imunogenisitas atau kekebalan terhadap virus corona sampai 23 kali lipat.

 Menurutnya, standar minimal vaksin akan meningkatkan kekebalan terhadap virus 4 kali lipat.

“Berdasarkan rata-rata hasil uji klinik di Bandung, itu naik sampai 23 kali. Sehingga bisa melindungi kita,” kata Penny dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (14/1).

Penny mengatakan, BPOM akan mengecek secara berkala tingkat kekebalan orang yang di vaksinasi. Menurutnya, ada kemungkinan tingkat kekebalan itu turun selama waktu berjalan.

Untuk sementara, kata Penny, penurunan tingkat kekebalan dari relawan uji klinis fase 3 vaksin Sinovac di Bandung tak signifikan. Selama 3 bulan uji klinis, jumlah orang yang tak lagi punya imunogenisitas 4 kali lipat hanya berkurang 0,4 persen.

BPOM juga berkaca pada hasil uji klinis fase 1 dan 2 Sinovac di China. Hingga 6 bulan pascavaksinasi, masih ada 80 persen relawan yang punya kekebalan minimal 4 kali lipat.

“Kita tunggu sampai nanti Maret 6 bulan (pascavaksinasi di Bandung), berapa persen. Kalau berdasarkan fase 1-2 di China masih 80 persen, jadi masih bagus, masih tinggi,” ujarnya.

Baca Juga:
Vaksinasi Merdeka Candi Dimulakan, Polres Temanggung Target 4.000 Warga per Hari

Menghentikan Vaksinasi Jika Ada Efek Samping

Di sisi lain, Penny menyatakan pihaknya memiliki kewenangan menghentikan vaksinasi Covid-19 jika ada efek samping yang membahayakan masyarakat. Penghentian vaksinasi ini di lakukan setelah BPOM menggelar investigasi.

“Dalam proses investigasi tersebut, bisa juga vaksinasi terhentikan dulu apabila memang ada indikasi. Selama investigasi, berhentikan dulu vaksinasinya,” kata Penny.

Menurut Penny, keputusan menghentikan vaksinasi tak dilakukan sembarangan. BPOM harus menerima laporan terlebih dahulu dari Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Korda KIPI) soal efek samping membahayakan.

Kemudian laporan itu akan diteliti secara mendalam oleh para ahli. Jika ada indikasi efek samping membahayakan berasal dari produk vaksin, investigasi baru bisa tergelar. Penny menambahkan BPOM bisa menjatuhkan sanksi paling berat jika investigasi membuktikan ada kesalahan dalam produk vaksin.

“Apabila ditemukan, ya bisa ada penarikan, sampai paling beratnya sekali ya penarikan emergency use of authorization (izin penggunaan darurat),” ujarnya.

Meski begitu, Penny optimistis vaksin produksi Sinovac tidak akan menimbulkan efek berbahaya. Menurutnya, hasil uji klinis fase 3 di Bandung mengungkap tak ada KIPI tingkat berat yang di alami para relawan vaksin.

“Berdasarkan data-data keamanan yang ada, fase 1, 2, dan 3, dengan tiga bulan ini, seharusnya tidak ada terjadi yang worst case situation,” ujarnya.

Pemerintah sudah mulai vaksinasi Covid-19 sejak Rabu (13/1). Presiden Joko Widodo menjadi orang Indonesia pertama yang di suntik vaksin Covid-19 buatan Sinovac, perusahaan asal China. Mulai kemarin, sejumlah kepala daerah dan tenaga kesehatan juga di suntik vaksin Covid-19. Pemerintah sendiri sudah memiliki sekitar 3 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac dan sudah terdistribusi ke sejumlah daerah. (ant/one/aji)

Dosen Undip Sebut Vaksin Sinovac Berisi Virus Penyebab Covid-19 yang Diinaktifkan

SEMARANG, Lingkar.co – Salah satu dosen Universitas Diponegoro (Undip), Fakultas Kedokteran dr. Helmia Farida menyebutkan bahwa, Vaksin Sinovac yang saat ini di Indonesia, merupakan sebuah vaksin berisi virus penyebab COVID-19 yang sudah diinaktifkan.

“Ini akan membuat sistem kekebalan tubuh mampu mendeteksi masuknya virus yang masuk, dan membuat antibodi yang bisa menetralkan virus tersebut dalam kondisi aman, tidak ada risiko menjadi sakit COVID-19 (sebab virus di dalam vaksin Sinovac sudah inaktif),”ungkapnya Dosen Undip kepada Lingkar.co, Rabu (13/1).

Lanjutnya, dalam vaksin juga ada zat-zat tambahan yang berfungsi mempertahankan stabilitas vaksin dan untuk lebih memacu kekebalan. Pada umumnya, kandungan vaksin yang telah lolos uji klinik fase 1-3 aman, dalam arti, efek samping mungkin ada, tetapi minimal dan dapat di toleransi.

“Sebagian kecil anggota  masyarakat, mungkin kurang dapat mentoleransi efek samping vaksin, misalnya orang-orang dengan riwayat alergi yang berat dan orang dengan kelainan sistem kekebalan tubuh.  Sehingga tidak direkomendasikan untuk divaksin sampai ada uji keamanan khusus orang-orang seperti ini,”jelasnya.

Ia menambahkan, vaksin bukanlah satu-satunya cara untuk menghentikan penularan Covid 19. Penerapan protokol kesehatan juga perlu menjadi cara lain, untuk menekan laju penyebaran Covid 19.

Virus Covid-19 Jika Di Luar Tubuh

“Virus Covid-19 kalau di luar tubuh, sebenarnya mudah di hancurkan dengan antiseptik, desinfektan, dan deterjen. Masalahnya, virus hanya sebentar berada di luar tubuh manusia, selalu berusaha untuk bisa segera masuk lagi ke tubuh manusia. Jadi kesempatan untuk menghancurkan virus dengan antiseptik dan deterjen sangat terbatas,” ungkapnya.

Ia menerangkan, itu sebabnya, sangat penting mengkombinasikan beberapa cara untuk mencegah virus berpindah. Dari satu tubuh ke tubuh lain, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Sementara itu, ketika virus sudah masuk pada tubuh seseorang, maka upaya untuk mengatasi  virus tersebut adalah dengan meningkatkan kekebalan tubuh atau dengan minum obat antivirus yang tepat.

“Upaya meningkatkan kekebalan tubuh ini misalnya nutrisi yang bergizi, istirahat dan olah raga cukup, menghindari stress, dan tentunya vaksinasi,” pungkasnya. (ris/aji)

Baca Juga:
Wagub Jateng: Animo Masyarakat untuk Vaksin Semakin Tinggi

10.609 Vaksin Sinovac Tiba di Solo, Tunjuk 33 Faskes Rujukan Vaksinasi

SURAKARTA, Lingkar.co Dengan kawalan ketat dari aparat kepolisian, dua unit mobil pengantar 10.609 Vaksin Sinovac tiba di  Kantor Dinas Kesehatan UPT Instalasi Farmasi Jl. Reksonggadan Rt. 02/IV Bumi Laweyan Surakarta, Selasa (12/1) malam.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta Sri Wahyu Ningsih memaparkan, 33 Fasilitas Kesehatan (Faskes) juga telah di tunjuk Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta, guna kesiapan proses vaksinasi.  

“Setiap Nakes di hampir semua rumah sakit kecuali rumah sakit seperti Rumah Sakit Mata, Gigi dan Juwa akan mendapatkan 2 kali dosis, masing-masing 0.5 CC dengan jarak dosis 1 dan 2 selama 14 hari”, terang Ning.

Ning menjelaskan, setelah terima vaksin, pihaknya akan menindaklanjuti sesuai dengan tahapan yang sudah menentukan.

“Jika 70% dari jumlah penduduk nasional telah tervaksinasi Insyaallah seluruh penduduk sudah terlindungi”, ungkap Ning. 

Walikota Solo, FX hadi Rudyyatmo, merasa bersyukur atas kedatangan vaksin tahap pertama untuk tenaga medis.

“Vaksin ini akan menambah imunitas dan semangat para tenaga medis dalam menangani pasien yang terpapar maupun pasien umum.  Vaksin ini bukan satu-satunya untuk mencegah terpaparnya Covid-19,  akan tetapi yang paling ampuh adalah 3M (Memakai masker,  Mencuci tangan,  dan Menjaga Jarak),” pungkasnya.

Sesuai rencana vaksin tahap pertama ini akan diberikan kepada seluruh Tenaga Kesahatan (Nakes). 11 tokoh dan pejabat yang sudah terdata,  termasuk Sekda akan menerima pemberian Vaksinasi Sinovac tahap pertama.(luh/aji)

Baca Juga:
Vaksinasi Merdeka Hari Kedua Sasar Petani, Milenial dan Pegawai SPBU