Arsip Tag: Semarang

13 Bilah Demung Hilang di Unnes, Alarm Keamanan dan Ancaman bagi Pembelajaran Budaya

Lingkar.co — Kehilangan 13 bilah demung di lingkungan kampus bukan sekadar kasus pencurian biasa. Di Universitas Negeri Semarang, peristiwa ini justru membuka persoalan yang lebih luas, keamanan aset budaya sekaligus keberlangsungan pembelajaran seni tradisional.

Instrumen gamelan yang hilang merupakan bagian dari perangkat praktik mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni. Kehilangan ini baru disadari saat aktivitas perkuliahan kembali berjalan normal.

Wakil Dekan II Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, M. Burhanuddin, menjelaskan dugaan waktu kejadian mengacu pada rekaman kamera pengawas.

Ia menyebut pelaku diduga masuk pada Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 12.20 WIB dan keluar sekitar 20 menit kemudian.

“Pelaku masuk seperti mahasiswa biasa, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ditemukan tanda pembobolan, yang mengindikasikan akses dilakukan secara wajar di tengah aktivitas kampus.

Bilah demung yang diambil merupakan bagian dari alat musik gamelan yang digunakan dalam mata kuliah karawitan Jawa. Sebanyak 13 bilah hilang dari satu set yang aktif digunakan mahasiswa dalam praktik sehari-hari.

“Yang diambil adalah bagian yang dipakai untuk kegiatan kuliah,” jelas Burhanuddin.

Ia menegaskan, dampak utama bukan pada nilai materi, tetapi pada terganggunya proses belajar mahasiswa.

Secara nominal, kerugian diperkirakan berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta. Namun bagi kampus, kehilangan ini berdampak langsung pada mahasiswa yang sedang mempelajari dan melestarikan budaya Jawa. Tanpa instrumen yang lengkap, proses praktik menjadi terhambat.

“Mahasiswa jadi terkendala karena alatnya tidak utuh,” katanya.

Menariknya, kasus ini disebut memiliki kemiripan dengan sejumlah kehilangan gamelan di tempat lain.

Beberapa di antaranya terjadi di kelompok kesenian Ngesti Pandawa, serta kampus seni seperti ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Meski begitu, keterkaitan antar kejadian tersebut masih dalam tahap penelusuran dan belum dapat dipastikan.

Kepala Humas Unnes, Surahmat, membenarkan kejadian tersebut dan menyebut pihak kampus tengah mengumpulkan bukti.

“Rekaman CCTV sedang dikumpulkan untuk dilaporkan kepada pihak berwajib,” ujarnya.

Koordinasi juga telah dilakukan dengan aparat kepolisian setempat untuk menindaklanjuti kasus ini. Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang-ruang pendidikan budaya tidak luput dari risiko keamanan.

Ketika alat musik tradisional hilang, yang terdampak bukan hanya institusi, tetapi juga proses pewarisan budaya itu sendiri. Dan jika pola ini terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar kehilangan, melainkan hilangnya ruang belajar bagi generasi berikutnya. ***

Truk Kembali Gagal Nanjak di Silayur, Dishub Soroti Muatan dan Kelas Jalan

Lingkar.co — Kecelakaan di tanjakan Silayur, Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, kembali terjadi. Namun kali ini, sorotan tidak hanya pada insiden, melainkan pada persoalan yang lebih mendasar muatan kendaraan dan kesesuaian kelas jalan.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (22/4/2026) dini hari itu langsung ditindaklanjuti oleh Dinas Perhubungan Kota Semarang dengan pengecekan lapangan.

Kepala Dishub Kota Semarang, Danang Kurniawan, menjelaskan kecelakaan terjadi sekitar pukul 01.50 WIB, saat kendaraan angkutan barang memang diperbolehkan melintas.

Dari hasil pemeriksaan awal, truk berpelat B 9262 BYY yang mengangkut kayu triplek diduga mengalami kelebihan muatan.

Ia menyebut beban kendaraan diperkirakan mencapai sekitar 27 ton setelah dikonversikan. Selain itu, material triplek yang dibawa diduga menyerap air selama perjalanan, sehingga menambah berat kendaraan.

“Pengemudi mengaku sudah menggunakan gigi satu sejak dari bawah, namun tetap gagal menanjak,” ujarnya.

Secara teknis, kendaraan disebut masih dalam kondisi laik jalan hingga September 2026 dan tidak ditemukan kerusakan signifikan.

Namun, Dishub menyoroti persoalan lain yang tak kalah penting jenis kendaraan tersebut seharusnya tidak melintas di jalan kelas II seperti di kawasan Silayur.

Artinya, persoalan bukan hanya pada kondisi kendaraan, tetapi juga pada ketidaksesuaian antara beban, jenis kendaraan, dan karakter jalan.

Danang menjelaskan, kendaraan angkutan barang memang diperbolehkan melintas mulai pukul 23.00 WIB hingga pagi hari, terutama untuk mendukung aktivitas kawasan industri. Sebelumnya, petugas Dishub juga telah melakukan pengawasan di titik penyekatan hingga pukul 23.00 WIB.

Namun, kejadian ini menunjukkan bahwa pengaturan waktu saja belum cukup tanpa pengawasan muatan dan jenis kendaraan.

Sebagai tindak lanjut, Dishub Kota Semarang berencana memperketat pengawasan kendaraan barang. Beberapa langkah yang akan dilakukan antara lain penggunaan timbangan portable di lapangan, optimalisasi sistem portal buka-tutup, pengawasan lebih ketat terhadap kendaraan berat dan langkah ini diharapkan mampu menekan potensi kecelakaan serupa.

“Harapannya bisa memberikan rasa aman bagi pengguna jalan,” kata Danang.

Kecelakaan berulang di tanjakan Silayur kembali membuka persoalan klasik, antara kebutuhan logistik dan keterbatasan infrastruktur jalan.

Selama pengawasan muatan dan kepatuhan terhadap kelas jalan belum berjalan optimal, jalur ini berpotensi terus menjadi titik rawan bukan hanya karena tanjakannya, tetapi karena sistem yang belum sepenuhnya terkendali. ***

Tekan Emisi dari Dalam, Bandara Ahmad Yani Raih ASEAN Energy Awards 2025

Lingkar.co — Di tengah tuntutan efisiensi energi dan pengurangan emisi, Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani menunjukkan bahwa bandara tak hanya menjadi simpul transportasi, tetapi juga bagian dari solusi lingkungan.

Upaya tersebut berbuah pengakuan. Bandara Ahmad Yani meraih ASEAN Energy Awards 2025 untuk kategori Green Building (Large Category), penghargaan yang diberikan oleh ASEAN Centre for Energy atas praktik terbaik efisiensi dan konservasi energi di kawasan Asia Tenggara.

General Manager bandara, Sulistyo Yulianto, menjelaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari penerapan konsep eco-airport yang konsisten.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari komitmen dalam mengedepankan efisiensi energi dan konservasi lingkungan dalam operasional bandara,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai inovasi dilakukan bukan hanya untuk penghematan, tetapi juga untuk menciptakan sistem operasional yang lebih berkelanjutan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 kWp di area gedung administrasi dan Main Power House.

Sulistyo menyebut, sepanjang 2025, PLTS tersebut mampu menghasilkan energi sebesar 132.930 kWh untuk mendukung kebutuhan listrik operasional.

Menurutnya, pemanfaatan energi surya ini menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.

Selain PLTS, bandara juga menerapkan berbagai langkah efisiensi lain, seperti penggunaan lampu LED, material ramah lingkungan, serta fitur sleep mode pada lift, eskalator, dan travelator.

Bangunan bandara pun dirancang dengan kaca khusus yang membantu mengoptimalkan penggunaan pendingin ruangan. Langkah-langkah ini mungkin tidak selalu terlihat oleh pengguna jasa, tetapi berdampak signifikan terhadap konsumsi energi secara keseluruhan.

Tak hanya energi, pengelolaan air juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan. Bandara memanfaatkan teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk mengolah air hujan dan air payau menjadi air bersih. Sepanjang 2025 Bandara A Yahini berhasil mengolah 1.920 m³ air hujan, 243 m³ air payau dimanfaatkan dan 17.000 m³ air hasil daur ulang digunakan kembali.

“Air tersebut dimanfaatkan untuk flushing toilet dan penyiraman taman,” jelas Sulistyo.

Sulistyo menegaskan, penghargaan ini bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses panjang menuju operasional bandara yang berkelanjutan.

“Penghargaan ini menjadi bukti komitmen kami. Ke depan, kami akan terus berinovasi tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pengguna jasa,” katanya.

Apa yang dilakukan Bandara Ahmad Yani mencerminkan perubahan yang lebih luas di sektor transportasi udara: efisiensi energi dan keberlanjutan kini menjadi kebutuhan, bukan pilihan.

Penghargaan ASEAN Energy Awards mungkin hanya simbol, tetapi praktik di lapangan menunjukkan bahwa transformasi itu sudah berjalan—bahkan dimulai dari hal sederhana seperti atap parkir hingga pengolahan air hujan. ***

IPG 78,71, Perempuan Semarang Makin Kuat di Berbagai Sektor

Lingkar.co — Angka Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) Kota Semarang mencapai 78,71 pada 2025. Di balik angka itu, ada perubahan yang semakin terasa: perempuan tak lagi berada di pinggir, tetapi mulai menjadi penggerak di berbagai sektor.

Capaian tersebut disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dalam peringatan Hari Kartini ke-147 yang digelar Pemerintah Kota Semarang di Balai Kota, Selasa (21/4/2026).

Agustina menjelaskan, peningkatan IPG ini mencerminkan keterlibatan perempuan yang semakin luas, mulai dari sektor kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi berbasis masyarakat.

Menurut Agustina, salah satu kekuatan utama terletak pada kerja-kerja komunitas yang selama ini berjalan konsisten di tingkat bawah.

Ia menyoroti peran sekitar 16.000 kader Posyandu yang secara sukarela menjaga kesehatan masyarakat. Peran ini bahkan mendapat perhatian dari kalangan akademisi internasional.

“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Ia menilai, praktik tersebut menjadi contoh bagaimana tanggung jawab sosial dapat tumbuh dari masyarakat, khususnya perempuan, dan relevan secara global.

Selain kesehatan, Agustina menyebut kontribusi perempuan juga terlihat dalam gerakan lingkungan. Melalui program Semarang Wegah Nyampah, perempuan yang tergabung dalam kader PKK dan komunitas aktif mengelola bank sampah. Dari aktivitas ini, perputaran ekonomi masyarakat tercatat mencapai Rp2,2 miliar.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam isu lingkungan tidak hanya berdampak pada kebersihan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Pemerintah Kota Semarang, lanjut dia, juga memperkuat peran perempuan melalui kebijakan berbasis wilayah. Sebanyak 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak dibentuk sebagai ruang perlindungan sekaligus pemberdayaan. Ia menilai, kelurahan menjadi garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak memiliki akses untuk berkembang.

Agustina menegaskan bahwa capaian IPG ini menjadi indikator perubahan posisi perempuan dalam pembangunan.

“Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh, dan Kota Semarang akan semakin hebat,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah akan terus mendorong perempuan untuk meningkatkan kapasitas serta berani mengambil peran lebih luas di berbagai bidang.

IPG sering dipahami sebagai data statistik. Namun di Semarang, angka 78,71 itu mencerminkan realitas yang lebih konkret: perempuan semakin hadir sebagai aktor utama perubahan.

Tantangan berikutnya adalah menjaga tren ini tetap tumbuh tidak hanya di level kebijakan, tetapi juga hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat. ***

Muncul di Banyak Sungai, Populasi Ikan Sapu-sapu di Semarang Dipantau

Lingkar.co — Kemunculan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai Kota Semarang belum masuk kategori wabah seperti yang terjadi di Jakarta. Namun, tanda-tanda awal gangguan ekosistem mulai terlihat dan tak bisa diabaikan.

Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Perikanan menyebut populasi ikan tersebut masih dalam batas terkendali, meski pemantauan terus dilakukan di sejumlah titik.

Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim ke lapangan setelah adanya laporan dari masyarakat.

“Tim penyuluh dan teknis sudah kami terjunkan untuk mengecek titik persebaran serta sejauh mana ikan sapu-sapu ini berpotensi mengganggu ekosistem,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Dari hasil pemantauan sementara, Soenarto menjelaskan bahwa populasi ikan sapu-sapu belum menunjukkan lonjakan signifikan seperti di Jakarta. Ia menyebut kesimpulan itu didapat dari observasi lapangan, termasuk wawancara dengan para pemancing di sejumlah lokasi.

“Dari hasil pengamatan dan juga beberapa interview dengan pemancing, tingkat populasinya belum menjadi wabah seperti di Jakarta,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengakui ada titik-titik tertentu yang mulai menunjukkan intensitas kemunculan lebih tinggi, salah satunya di kawasan Polder Tawang.

Fenomena ikan sapu-sapu yang sering muncul ke permukaan dinilai bukan sekadar kebetulan.
Di beberapa lokasi seperti aliran Jalan Ronggowarsito, Jalan Perak, hingga kawasan Polder Tawang, kemunculan ikan ini terpantau cukup sering.

Kondisi tersebut menjadi indikator awal adanya perubahan keseimbangan di perairan, meski belum masuk kategori darurat.

Soenarto menegaskan, jika populasi meningkat signifikan, penanganan tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menilai perlu pendekatan bersama dengan metode yang disesuaikan dengan kondisi perairan di Semarang.

“Kalau di Jakarta ditangkap langsung, di sini mungkin harus pakai jaring dan metode lain. Ini harus keroyokan,” jelasnya.

Menurutnya, koordinasi lintas pihak akan menjadi kunci jika situasi berkembang menjadi lebih serius, terutama di wilayah Semarang Utara.

Meski bukan ikan predator, ikan sapu-sapu tetap berpotensi merusak ekosistem. Ikan yang berasal dari Sungai Amazon ini diketahui memakan telur ikan lain, seperti nila dan gabus, yang hidup di perairan umum.

Soenarto juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan tersebut. Ia menilai risiko kesehatan cukup tinggi karena habitat ikan sapu-sapu cenderung berada di perairan tercemar.

“Memang ada yang mencoba mengolah, tapi kami tidak rekomendasikan karena berisiko bagi kesehatan,” tegasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan ekosistem sungai perkotaan bisa berubah tanpa disadari. Meski belum menjadi wabah, kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah tertentu bisa menjadi sinyal awal yang perlu ditangani sejak dini, sebelum benar-benar tak terkendali seperti yang terjadi di kota lain. ***

Dari Posyandu ke Dunia, Perempuan Semarang Jadi Sorotan Internasional

Lingkar.co — Peran perempuan di Kota Semarang tak lagi berhenti pada lingkup domestik atau lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi mereka justru mulai dilirik hingga ke tingkat global.

Hal itu mengemuka dalam peringatan Hari Kartini ke-147 yang digelar Pemerintah Kota Semarang melalui upacara di Balai Kota, Selasa (21/4/2026).

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyampaikan bahwa praktik pemberdayaan perempuan di kota ini telah menarik perhatian internasional, terutama yang berbasis komunitas.

Agustina menjelaskan, salah satu contoh nyata terlihat dari peran sekitar 16.000 kader Posyandu yang selama ini bekerja secara sukarela menjaga kesehatan masyarakat. Ia mengungkapkan, praktik tersebut bahkan mendapat apresiasi saat dirinya berkunjung ke California State University, Amerika Serikat.

“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Menurutnya, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat, khususnya perempuan, dapat menjadi contoh global dalam penguatan sistem kesehatan berbasis komunitas.

Tak hanya di sektor kesehatan, kontribusi perempuan juga terlihat dalam gerakan lingkungan. Melalui program Semarang Wegah Nyampah, perempuan yang tergabung dalam kader PKK dan komunitas aktif mengelola bank sampah. Dari gerakan ini, tercatat perputaran ekonomi masyarakat mencapai Rp2,2 miliar.

Agustina menilai, keterlibatan perempuan dalam isu lingkungan bukan sekadar partisipasi, tetapi telah menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat akar rumput.

Pemerintah Kota Semarang, lanjut dia, juga memperkuat peran perempuan melalui kebijakan berbasis wilayah. Sebanyak 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak telah dibentuk sebagai ruang perlindungan sekaligus pemberdayaan.

Agustina menegaskan, perempuan kini tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan. Ia menyebut perempuan justru menjadi aktor utama dalam mendorong perubahan sosial.

“Perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek utama perubahan. Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh,” tegasnya.

Momentum Hari Kartini, menurut Agustina, tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga refleksi atas peran perempuan yang terus berkembang
.
Ia berharap perempuan di Kota Semarang terus berani mengambil peran, memperluas kontribusi, dan meningkatkan kapasitas diri di berbagai bidang.

Dalam konteks yang lebih luas, apa yang terjadi di Semarang memperlihatkan satu hal: kerja-kerja komunitas yang selama ini dianggap sederhana, justru bisa menjadi inspirasi hingga tingkat global. ***

Sertijab Danlanumad Ahmad Yani, Letkol I Gede Winarsa Resmi Jabat Komandan

Lingkar.co – Suasana khidmat dan penuh kehangatan mewarnai prosesi serah terima jabatan (sertijab) Komandan Pangkalan Udara Utama (Danlanumad) Ahmad Yani yang digelar di Semarang, Jumat (17/4/2026). Pergantian kepemimpinan ini menjadi bagian dari dinamika organisasi TNI Angkatan Darat dalam upaya penyegaran serta peningkatan kinerja satuan.

Upacara sertijab dipimpin langsung oleh Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat, Mochammad Masrukin, yang bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam prosesi tersebut, jabatan Danlanumad Ahmad Yani secara resmi diserahterimakan dari Yusuf Adi Puruhita kepada I Gede Winarsa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara militer yang berlangsung di Apron Alpha Lanumad Ahmad Yani. Prosesi berjalan dengan penyerahan tongkat komando, penyematan tanda jabatan, serta penandatanganan berita acara sebagai simbol sahnya alih kepemimpinan.

“Pergantian jabatan di lingkungan TNI AD merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari pembinaan organisasi dan peningkatan kinerja satuan,” ujar Mochammad Masrukin dalam sambutannya.

Dihadiri Unsur Forkopimda dan Mitra Strategis

Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari pejabat utama Puspenerbad, jajaran Forkopimda Kota Semarang, hingga perwakilan instansi strategis seperti Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani dan AirNav Indonesia Cabang Semarang.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan kuatnya sinergi antarinstansi dalam mendukung peran Lanumad Ahmad Yani sebagai pangkalan udara strategis TNI AD di wilayah Jawa Tengah.

Momentum Penguatan Kinerja dan Soliditas

Setelah prosesi resmi, kegiatan dilanjutkan dengan acara pisah sambut yang berlangsung hangat dan penuh keakraban. Momen ini menjadi bentuk penghormatan kepada pejabat lama sekaligus penyambutan bagi pejabat baru, serta mempererat hubungan antarinstansi.

Kolonel Cpn Yusuf Adi Puruhita dinilai telah memberikan kontribusi positif selama menjabat, khususnya dalam mendukung operasional penerbangan TNI AD.

“Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh jajaran selama saya bertugas. Semoga Lanumad Ahmad Yani semakin maju ke depannya,” ujar Yusuf Adi Puruhita.

Sementara itu, Letkol Cpn I Gede Winarsa menyatakan kesiapan untuk melanjutkan tugas dan tanggung jawab yang telah diamanahkan.

“Amanah ini akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya, serta melanjutkan program yang sudah berjalan demi meningkatkan kinerja satuan,” ungkapnya.

Pergantian jabatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat profesionalisme, soliditas, serta kesiapan satuan menghadapi tantangan tugas ke depan.

Dengan kepemimpinan baru, Lanumad Ahmad Yani diharapkan semakin optimal dalam mendukung operasional penerbangan militer sekaligus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak demi kelancaran tugas dan peningkatan pelayanan. ***

Keselamatan Meningkat, KAI Daop 4 Semarang Catat Penurunan Kecelakaan di Perlintasan Sebidang

Lingkar.co – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang mencatat tren positif dalam peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang sepanjang Triwulan I 2026.

Jumlah kejadian di perlintasan tercatat sebanyak 6 kasus, menurun dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 8 kejadian dan 2024 sebanyak 10 kejadian di wilayah Daop 4 Semarang.

Penurunan ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran serta kedisiplinan masyarakat saat melintas di perlintasan sebidang, sekaligus menjadi indikator efektivitas berbagai upaya sosialisasi keselamatan yang dilakukan secara konsisten.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menyampaikan bahwa pihaknya tetap prihatin karena kecelakaan masih terjadi, meskipun jumlahnya menurun.

“Penurunan jumlah kejadian ini menjadi indikator positif bahwa upaya edukasi dan sosialisasi keselamatan yang dilakukan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Dari total 6 kejadian pada Triwulan I 2026, tercatat 5 orang meninggal dunia dan 2 orang mengalami luka berat. Sebagai perbandingan, pada Triwulan I 2025 dengan 8 kejadian terdapat 5 korban meninggal, 1 luka berat, 1 luka ringan, dan 1 selamat. Sementara pada 2024 dengan 10 kejadian, tercatat 5 korban meninggal, 4 luka berat, dan 5 luka ringan.

KAI menegaskan bahwa perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan yang membutuhkan kedisiplinan tinggi dari pengguna jalan. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 124 yang mewajibkan pengguna jalan mendahulukan perjalanan kereta api, serta diperkuat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 296 terkait sanksi pelanggaran.

Sebagai langkah preventif, selama Januari hingga Maret 2026, KAI Daop 4 Semarang telah melaksanakan 113 kegiatan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang serta 13 kegiatan edukasi di sekolah.

Kegiatan tersebut dilakukan secara kolaboratif bersama pemerintah daerah, instansi terkait, serta komunitas pecinta kereta api melalui pemasangan spanduk, banner imbauan, hingga pembagian materi edukasi kepada masyarakat.

KAI juga mengimbau pengguna jalan untuk selalu disiplin dengan berhenti sejenak, melihat kanan dan kiri, serta memastikan kondisi aman sebelum melintasi perlintasan, baik berpalang maupun tidak.

“Langkah sederhana ini perlu menjadi kebiasaan bersama. Kewaspadaan dan kedisiplinan adalah kunci utama dalam menjaga keselamatan di perlintasan sebidang,” tambah Luqman.

Ke depan, KAI Daop 4 Semarang akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak guna menciptakan lingkungan perlintasan yang lebih aman dan tertib. ***

Sertifikasi Juri dan Pelatih Jadi Sorotan Rakernas Forbasi 2026

Lingkar.co – Forum Baris Indonesia menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana di Kota Semarang pada Sabtu (12/4/2026) di Hotel Dafam Semarang, yang dirangkaikan dengan uji lisensi calon juri dan pelatih tingkat nasional.

Ketua Umum Forum Baris Indonesia, Fajar Arif Budiman, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi di seluruh Indonesia.

“Hari ini di Kota Semarang, Forbasi menyelenggarakan dua agenda besar tingkat nasional, yakni Rakernas dan uji lisensi bagi calon juri serta pelatih,” ujarnya.

Menurutnya, dalam dua tahun terakhir, perkembangan organisasi cukup pesat. Saat ini, Forbasi telah memiliki 22 pengurus provinsi, ratusan pengurus cabang, serta lebih dari 1.100 klub dengan total sekitar 12.500 pegiat terdaftar secara nasional.

Rakernas ini difokuskan untuk menyatukan langkah organisasi dari tingkat pusat hingga daerah agar lebih terstruktur dan masif di seluruh Indonesia.

“Sebagai organisasi yang relatif baru, kami berupaya mengonsolidasikan langkah-langkah organisasi di seluruh provinsi dan kabupaten/kota,” jelasnya.

Dorong Baris-Berbaris Jadi Olahraga Prestasi
Selain konsolidasi, Forbasi juga menargetkan baris-berbaris dapat diakui sebagai cabang olahraga prestasi. Namun, terdapat tantangan dalam penyamaan aturan di tingkat internasional.

“Persoalannya, peraturan baris-berbaris antarnegara tidak sama. Kami sedang mencoba merumuskan pembentukan asosiasi internasional,” ungkap Fajar.

Dalam waktu dekat, Forbasi akan fokus pada penguatan internal organisasi serta koordinasi dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) sebagai wadah berhimpun.

Sertifikasi Juri dan Pelatih Diperkuat
Forbasi juga menegaskan pentingnya sertifikasi untuk menjamin kompetensi juri dan pelatih. Sistem yang diterapkan menggunakan stratifikasi Muda, Madya, dan Utama.

“Sertifikasi ini menentukan kompetensi serta hak dan kewajiban. Untuk level nasional, idealnya dipimpin oleh juri tingkat utama,” tegasnya.

KORMI Jateng Apresiasi Perkembangan Forbasi
Perwakilan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia Jawa Tengah, Edi Purwanto, menyambut baik pelaksanaan Rakernas di Semarang.

“Kami merasa terhormat Jawa Tengah menjadi tuan rumah Rakernas Forbasi. Perkembangannya luar biasa, dalam satu tahun sudah terbentuk di 23 kabupaten/kota,” ujarnya.

Ia menargetkan pada 2026, kepengurusan Forbasi dapat terbentuk di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah guna memperkuat pembudayaan olahraga masyarakat.

Semarang Bangga Jadi Tuan Rumah
Ketua Forbasi Kota Semarang, Abdul Majid, menyatakan kebanggaannya atas kepercayaan menjadi tuan rumah Rakernas.

“Kami merasa bangga dan terhormat dipercaya sebagai tuan rumah Rakernas tahun ini. Ini momentum strategis untuk mempererat solidaritas,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah melakukan berbagai persiapan agar kegiatan berjalan optimal dan menghasilkan keputusan yang berdampak nyata bagi kemajuan organisasi.

“Harapannya, Rakernas ini mampu menghasilkan keputusan yang berdampak nyata bagi kemajuan Forbasi dan pelatih baris berbaris nasional,” pungkasnya. ***

BRT Gratis hingga Tiket Wisata, Ini 17 Kado HUT ke-479 Kota Semarang

Lingkar.co – 2 Mei 2026 bakal menjadi hari bersejarah bagi Kota Semarang. Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng) ini akan memasuki usia ke-479, sebuah usia yang menandai kematangan dalam perjalanan panjang pembangunan sekaligus refleksi atas sejarah yang telah ditempuh.

Sebagai wujud syukur atas perjalanan panjang Kota Semarang, Pemkot menghadirkan 17 kado bagi warga masyarakat sebagai simbol perayaan HUT ke-479 yang tak sekadar seremonial, tetapi juga berorientasi pada manfaat langsung bagi masyarakat.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengutarakan bahwa tema peringatan HUT ke-479 kali ini ialah ‘Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat’. Tema tersebut mencerminkan semangat kolektif untuk mempercepat pembangunan di berbagai sektor, sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat bergerak bersama menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi Semarang.

“Tema Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat merupakan refleksi gerak kolektif antara pemerintah dan masyarakat. Semangat ini mengintegrasikan akar tradisi dengan transformasi modern untuk menciptakan energi kolektif, inklusif, sekaligus mendorong Kota Semarang tumbuh menjadi kota yang bersih, sehat, cerdas, makmur, dan tangguh di usianya ke-479,” ucap Agustina, Sabtu (11/4/2026).

Ia menegaskan bahwa peringatan HUT ke-479 Kota Semarang sepenuhnya milik masyarakat. Oleh karenanya, Pemkot bahkan telah menyiapkan 17 kado unik sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

“Hari Jadi ke-479 milik seluruh warga. Berbagai Kado Hebat hadir sebagai optimalisasi layanan publik yang didekatkan ke masyarakat. Sebuah persembahan kolektif untuk memastikan momentum ini menjadi penguatan ekonomi dan sosial untuk warga,” ungkap Agustina.

Adapun 17 kado yang disiapkan menyasar berbagai kebutuhan warga, mulai dari layanan fasilitas publik, kesehatan, hingga penguatan ekonomi dan lingkungan. Berikut rinciannya:

Di sektor fasilitas publik, masyarakat mendapat akses gratis ke sarana olah raga seperti Gedung Tri Lomba Juang, Lapangan Tambora, GOR Manunggal Jati, hingga Padepokan Pencak Silat Gunung Talang. Diskon 50 persen juga diberikan untuk Lapangan Sepak Bola Sidodadi pada 2 Mei 2026. Pada hari yang sama, penumpang awal di Halte Simpang Lima dan Terminal Cangkiran memperoleh susu dan roti.

Untuk mobilitas, layanan BRT Trans Semarang digratiskan di seluruh koridor pada 1-5 Mei 2026. Tarif parkir juga didiskon menjadi Rp. 479,- bagi pengguna QRIS.

Di sektor layanan dasar, Pemkot Semarang memberi diskon sambungan air bersih Rp550 ribu per KK dengan syarat minimal 10 KK. Layanan air tangki gratis juga disediakan untuk bencana, kekeringan, dan kegiatan keagamaan sepanjang 2026. Diskon 10 persen berlaku untuk layanan sedot tinja dengan kuota terbatas.

Pada sektor pariwisata, seluruh objek wisata di Kota Semarang digratiskan pada 2 Mei 2026. Program ‘LAMPION’ juga dihadirkan untuk mempermudah perizinan pada 5 Mei 2026, disertai diskon layanan laboratorium dan PBB.

Di bidang kesehatan, bantuan diberikan untuk ibu hamil risiko tinggi dan bayi BBLR di tiga kecamatan prioritas pada 5-7 Mei 2026. Selain itu, tersedia skrining kesehatan gratis di 40 puskesmas.

Pemkot juga menjalankan program Jempol Pak Kuat berupa layanan jemput bola perizinan PSAT, fasilitas kemasan gratis, serta uji bahan berbahaya di sejumlah lokasi hingga akhir Mei 2026.

Kado lainnya meliputi penukaran botol bekas dengan bibit tanaman atau produk ramah lingkungan, Job Fair pada 6-7 Mei 2026, serta layanan administrasi kependudukan seperti perekaman e-KTP pelajar, KIA, dan e-KTP bagi penyandang disabilitas.

Agustina berharap berbagai kado tersebut bisa membuat masyarakat turut merasakan kebahagiaan dalam momentum HUT ke-479 Kota Semarang, sekaligus menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi warga. ***