Iklan

Menelusuri Jejak Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro, Benteng Santri di Front Timur Semarang

Inti berita

Menelusuri Jejak Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro, Benteng Santri di Front Timur SemarangSejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Semarang tidak hanya…

Menelusuri Jejak Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro, Benteng Santri di Front Timur Semarang
Dr M Kholidul Adib, Ketua Lembaga Ta'lif wan Nashr (LTN) PCNU Kota Semarang

Menelusuri Jejak Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro, Benteng Santri di Front Timur Semarang

Sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Semarang tidak hanya mencatat peran tentara resmi Republik. Di balik pertempuran yang berkobar setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, terdapat kiprah para ulama, pemuda, dan laskar santri yang turut mengangkat senjata menghadapi pasukan Sekutu dan NICA-Belanda.

Salah satu kekuatan yang memiliki peran penting di wilayah Semarang bagian timur adalah Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro, satuan Hizbullah yang berkembang dari wilayah Demak dan kemudian menjadi salah satu kekuatan pertahanan di sektor Mranggen-Demak.

Kisah tersebut dituturkan Dr M Kholidul Adib, Ketua Lembaga Ta'lif wan Nashr (LTN) PCNU Kota Semarang, dalam tulisannya berjudul 'Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro dalam Perang Kemerdekaan'.

Dari Pertempuran Lima Hari hingga Perlawanan di Pinggiran Semarang

Menurut Adib, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, situasi belum sepenuhnya aman. Jepang yang telah menyerah kepada Sekutu masih mempertahankan persenjataan dan posisinya di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut mencapai puncaknya dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 15-19 Oktober 1945. Rakyat bersama laskar santri Hizbullah dan Sabilillah serta Badan Keamanan Rakyat (BKR) terlibat dalam perlawanan terhadap tentara Jepang.

Pasukan Sekutu di bawah Brigadir Jenderal Bethel kemudian mendarat di Semarang menjelang akhir pertempuran. Konflik berakhir setelah dilakukan perundingan yang melibatkan pihak Indonesia, Jepang, dan Sekutu.

Namun, berakhirnya pertempuran melawan Jepang tidak berarti ancaman terhadap kemerdekaan telah selesai. Kedatangan Sekutu yang diboncengi NICA-Belanda memunculkan babak baru perjuangan bersenjata.

Perlawanan kemudian meluas dari pusat Kota Semarang hingga kawasan pinggiran dan daerah penyangga. Bentrokan melibatkan pasukan Republik, laskar Hizbullah, Sabilillah dan berbagai kelompok perjuangan lainnya.

Sejumlah perkampungan menjadi medan pertempuran. Rumah dan kampung warga mengalami kerusakan akibat pembakaran maupun pemboman. Kondisi tersebut juga memicu gelombang pengungsian dari berbagai daerah, antara lain Genuk, Penggaron, Bugen, Sayung, Mranggen, Kaliwungu, Srondol hingga Ambarawa.

Sebagian warga kemudian mencari perlindungan ke daerah pedalaman seperti Demak, Kendal, Grobogan dan Salatiga.

Hizbullah Berkembang di Mranggen

Dalam situasi tersebut, Laskar Hizbullah berkembang menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Laskar Hizbullah sendiri telah dibentuk pada 1944 dengan tujuan memberikan pendidikan kemiliteran kepada pemuda Islam sekaligus mempersiapkan kekuatan untuk mempertahankan agama dan negara.

Di Mranggen, perkembangan Hizbullah tidak terlepas dari peran KH Muslih, pengasuh Pesantren Futuhiyyah. Ia merupakan salah satu ulama yang pernah mengikuti pendidikan Laskar Hizbullah di Cibarusa, Bekasi.

Pada Februari 1945, KH Muslih bersama KH Abdullah Dainuri dari Sendangguwo, Semarang, mengikuti pelatihan militer Hizbullah di Cibarusa bersama sekitar 500 peserta lainnya.

Sepulang dari pendidikan tersebut, keduanya mulai merekrut dan melatih pemuda di wilayah masing-masing. Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan strategi perang, tetapi juga pencak silat serta pembekalan spiritual.

Dari perkembangan organisasi Hizbullah di wilayah Demak tersebut kemudian lahir satuan setingkat batalyon yang dikenal sebagai Batalyon Bintoro.

Batalyon tersebut selanjutnya menjadi salah satu cikal bakal Barisan Hizbullah Divisi Semarang. KH Muslih dipercaya memimpin Hizbullah tingkat Karesidenan Semarang, bersama KH Abdullah Dainuri yang memimpin Hizbullah Semarang.

Keduanya kemudian menunjuk Ustadz Soekaimi untuk memimpin pasukan Hizbullah di Markas Medan Tenggara (MMTG) yang berpusat di Mranggen.

Pesantren Menjadi Basis Pertahanan

Peran KH Muslih dalam perjuangan tidak berhenti pada pengorganisasian pasukan. Pesantren Futuhiyyah Mranggen juga menjadi salah satu basis pertahanan bagi pasukan yang berjuang di sektor Semarang Timur.

Pasukan yang berada di kawasan tersebut terdiri atas Hizbullah, Sabilillah dan Barisan Kiai.

Dalam menjalankan perjuangan, KH Abdullah Dainuri dan KH Muslih mengajarkan strategi perang serta pencak silat. Mereka juga memberikan pembekalan spiritual kepada para pejuang.

Menurut Adib, di antara ilmu hikmah yang diajarkan adalah Hizbur Rifai, Hizbun Nashar, Hizbus Sakron dan Lembu Sekilan. Sanad keilmuan tersebut disebut diperoleh dari KH Wahab Hasbullah dan tercatat dalam karya KH Bisri Musthofa, al-Asma’ wal Aurad.

Dengan posisi Mranggen yang berbatasan langsung dengan Semarang bagian timur, kawasan tersebut memiliki arti strategis. Batalyon Bintoro bersama jaringan Hizbullah Divisi Semarang menjadi kekuatan di Front Timur atau sektor Mranggen-Demak.

Mereka menjalankan strategi gerilya dan penghadangan untuk membatasi pergerakan pasukan Sekutu maupun NICA yang berupaya masuk lebih jauh ke wilayah pedalaman Jawa Tengah.

Selain mempertahankan wilayah timur Semarang, pasukan tersebut juga berupaya memberikan dukungan kepada perjuangan di pusat kota.

Serangan NICA 11 Oktober 1946

Salah satu pertempuran besar terjadi pada 11 Oktober 1946. Sekitar pukul 16.00, pasukan NICA Belanda melancarkan serangan ke Front Timur Semarang.

Serangan tersebut dihadapi pasukan Hizbullah Kompi Khudhori dari Yogyakarta bersama Batalyon Bintoro di bawah komando lapangan Ustadz Soekaimi.

Pertempuran berlangsung secara frontal. Kekuatan Belanda yang lebih besar membuat pasukan Hizbullah Yogyakarta akhirnya harus mundur.

Pertempuran tersebut menimbulkan korban besar di pihak Hizbullah. Sebanyak 17 anggota Hizbullah dilaporkan gugur. Komandan Kompi Khudhori mengalami luka parah setelah tertembak dan terkena tusukan bayonet.

Para anggota Hizbullah yang gugur kemudian dimakamkan di Makam Syuhada Kauman, di lingkungan Masjid Gedhe Yogyakarta.

Dalam pertempuran yang sama, Ustadz Soekaimi, komandan lapangan Laskar Hizbullah Mranggen, juga gugur. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Kauman Mranggen.

Perjuangan para anggota Hizbullah Yogyakarta yang datang membantu Front Timur juga menyisakan kisah lain. Sejumlah pasukan mengalami sakit setelah menjalani pertempuran, termasuk Muhammad Adnan yang terserang malaria tropika.

Setelah kembali ke Yogyakarta, Muhammad Adnan meninggal dunia dan dimakamkan di kawasan yang sama dengan para anggota Hizbullah yang gugur dalam pertempuran.

Dari Laskar ke Tentara Nasional

Perjalanan Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro kemudian memasuki babak baru ketika pemerintah melakukan reorganisasi kekuatan bersenjata.

Pada 1947, pemerintah mulai menyatukan berbagai laskar rakyat ke dalam wadah militer resmi. Kebijakan tersebut membuat kesatuan-kesatuan Hizbullah secara bertahap melebur ke dalam struktur tentara reguler.

Sisa kekuatan Hizbullah dan Sabilillah dari sejumlah wilayah, termasuk Semarang, Demak, Kudus dan Surakarta, kemudian mengalami proses peleburan menjadi satuan militer resmi.

Salah satu hasil dari proses tersebut adalah terbentuknya satuan yang dipimpin Mayor Munawar, yang dalam perkembangan selanjutnya dikenal sebagai Batalyon 426 di Jawa Tengah.

Jejak Batalyon Bintoro menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di kawasan Semarang tidak hanya berlangsung di pusat kota. Di wilayah Mranggen-Demak, para ulama, santri dan pemuda membangun pertahanan, mengorganisasi pasukan, melakukan gerilya hingga gugur di medan pertempuran.

Bagi Adib, sejarah tersebut menjadi bagian penting untuk memahami besarnya kontribusi laskar santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa revolusi.

 

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu