Arsip Tag: Hari Kartini

Dorong Peran Perempuan Lanjutkan Perjuangan Kartini, Berani dan Kerja Nyata

Lingkar.co – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, menegaskan, Presiden Prabowo Subianto menempatkan perempuan sebagai bagian penting pembangunan Indonesia.

“Dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia, perempuan ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan,” kata Retno dalam upacara peringatan Hari Kartini pada Selasa (21/04/2026) yang dilakukan di halaman Kantor Wali Kota Salatiga Jawa Tengah.

Ia juga menyerukan agar pemikiran dan semangat Raden Ajeng Kartini terus dilanjutkan. Perempuan Indonesia harus memahami dan mewujudkan gagasan besar Kartini dalam kehidupan sehari-hari.

“Oleh karena itu, upaya pemberdayaan perempuan perlu dilakukan secara sinergis oleh seluruh elemen bangsa. Perempuan memiliki peran penting dalam melanjutkan perjuangan Kartini serta mengambil bagian dalam pembangunan bangsa,” sambungnya.

Konkritnya, ia mengajak seluruh peserta upacara untuk terus berdaya dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

“Habis gelap terbitlah terang. Terang itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus kita hadirkan melalui keberpihakan, keberanian, dan kerja nyata yang kita lakukan bersama. Jadilah terang di mana pun berada,” tambahnya.

Peringatan Hari Kartini ini diharapkan menjadi momentum untuk terus menumbuhkan semangat kesetaraan dan pemberdayaan perempuan di Kota Salatiga. (*)

Tanam Pohon Libatkan Perempuan, Jaga Kelestarian Lingkungan Hidup Tanggung Jawab Semua

Lingkar.co – Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua pihak tanpa memandang gender.

Hal itu diucapkan oleh Kepala Kelurahan Langenharjo, Jupriyono dalam gerakan menanam pohon pada peringatan Hari Bumi Tahun 2026, Rabu (22/4/2026).

“Menjaga bumi ini tanggung jawab bersama, seperti menjaga kebersihan lingkungan sungai dari sampah,” ujarnya.

Ia menyebut, kegiatan peringatan Hari Bumi diikuti 120 orang dari berbagai elemen masyarakat.

Lurah Jupriyono mengatakan, keberadaan Taman Langen Nirwana direncanakan menjadi tempat wisata air yang ramah lingkungan. Selain itu, juga sebagai wisata edukasi bagi anak-anak dalam menjaga lingkungan.

“Tempat ini menjadi wisata edukasi anak-anak, para pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Sebagai informasi, Hari Bumi biasa diperingati tiap tanggal 22 April dengan kegiatan tanam pohon, bersih pantai dan sebagainya. Penanaman pohon yang melibatkan perempuan karena perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam UMKM maupun membiasakan anak untuk menjaga lingkungan.

Pelibatan kaum perempuan ini sekaligus memperingati Hari Kartini yang diperingati tiap tanggal 21 April.

Kaum perempuan yang ikut di antaranya dari PKK, Bhayangkari Polres Kendal dan Persit Kodim 0715 Kendal. Ada juga dari pelajar, Bank Sampah Induk Kendal dan relawan dari berbagai komunitas pecinta lingkungan.

Tanam pohon dilakukan di bantaran sungai yang dijadikan ruang terbuka hijau Taman Langen Nirwana, Kelurahan Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Kolaborasi dengan Dunia Usaha

Pemimpin PT Pegadaian Kantor Wilayah XI Jateng dan DIY, M. Aries Aviani mengatakan, butuh kolaborasi yang baik antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Untuk itu pihaknya bersama Kelurahan Langenharjo bergerak bersama menjaga bumi agar bisa dinikmati generasi penerus.

“Alam ini merupakan titipan yang harus dipelihara dengan baik, agar bisa dinikmati generasi penerus,” ujarnya. 
Ia menyebut bibit tanaman yang diberikan berupa 300 bibit tanaman sayuran dan 100 bibit tanaman buah. Dengan begitu, masyarakat bisa ikut merasakan saat tiba waktu dipanen.

Kegiatan peringatan Hari Bumi dibuka oleh Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari yang secara simbolis melakukan penanaman pohon buah. Kemudian diikuti oleh sejumlah ASN, anak-anak sekolah dan masyarakat setempat. (*)

Penulis: Yoedhi W
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan, Perkuat Pembangunan Kota

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai agen perubahan dalam pembangunan kota. Hal tersebut disampaikan saat membuka talkshow peringatan Hari Kartini di lingkungan Balaikota Semarang, Selasa (21/4), usai memimpin upacara.

Mengusung tema “Semangat Kartini, Inspirasi Lintas Generasi. Perempuan Berdaya, Semarang Semakin Hebat”, kegiatan ini dihadiri organisasi perempuan seperti GOW, PKK, serta jajaran kepala perangkat daerah. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas perempuan dalam mendukung pembangunan Kota Semarang.

Dalam sambutannya, Agustina Wilujeng menekankan bahwa keberanian perempuan dalam menyampaikan gagasan dan mengambil keputusan merupakan kunci utama terciptanya perubahan.

“Pertanyaannya sekarang, wahai perempuan Kota Semarang, bisa tidak kita menjadi agen perubahan? Kalau bisa, maka kita harus selesai dengan diri kita sendiri dulu,” tegasnya.

Agustina juga berbagi pengalaman pribadinya saat memutuskan maju sebagai Wali Kota Semarang. Ia mengakui sempat muncul keraguan menghadapi tantangan besar, namun keputusan yang diambil dengan keyakinan penuh justru menjadi titik balik yang memperkuat dukungan.

“Ketika saya memutuskan menerima, karena itu tugas dan saya harus menang, maka seluruh daya upaya dan lingkungan akan mendukung. Tapi kalau kita ragu, dukungan itu akan terbelah,” ujarnya.

Menurutnya, perempuan memiliki karakter kuat seperti teliti, tangguh, dan mampu menyelesaikan pekerjaan secara optimal. Potensi tersebut, lanjutnya, harus diiringi keberanian untuk bertindak secara totalitas.

Selain itu, Wali Kota Semarang juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam menciptakan ruang yang aman dan setara bagi perempuan. Hal ini termasuk dalam interaksi sosial sehari-hari, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap isu komunikasi dan pelecehan di era keterbukaan informasi.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemerintah Kota Semarang terus menghadirkan berbagai program pemberdayaan perempuan, salah satunya melalui program “Waras Ekonomi”. Program ini difokuskan untuk mendorong pelaku UMKM, yang mayoritas dijalankan perempuan, agar dapat naik kelas dan memiliki keberlanjutan usaha.

“Selama ini banyak bantuan sifatnya insidental. Ke depan, kita dorong agar produk UMKM bisa masuk ke sistem bisnis yang berkelanjutan, sehingga benar-benar mandiri,” jelasnya.

Tak hanya di sektor ekonomi, kontribusi perempuan juga terlihat dalam sektor kesehatan melalui peran kader posyandu yang menjadi penggerak di tingkat komunitas.

Agustina menambahkan, peringatan Hari Kartini tahun ini dikemas lebih sederhana sebagai bagian dari efisiensi anggaran. Namun demikian, komitmen terhadap penguatan peran perempuan tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Semarang.

“Kesederhanaan ini tidak mengurangi peran perempuan sebagai penggerak pembangunan. Justru kita fokus pada dampak nyata yang bisa dirasakan masyarakat,” imbuhnya.

Melalui momentum Hari Kartini, Wali Kota Semarang berharap perempuan Kota Semarang semakin percaya diri, berani menyampaikan gagasan, serta mengambil peran strategis dalam berbagai lini kehidupan.

“Semua perempuan bisa menjadi Kartini masa kini. Dimulai dari berani berbicara, menyampaikan apa yang dirasakan, dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing,” pungkasnya. ***

Peringatan Hari Kartini Tak Boleh Hanya Seremonial, Dorong Perempuan Berani Berpikir Maju dan Atasi Masalah Sosial

Lingkar.co – Ketua TP PKK Kabupaten Jepara Laila Saidah Witiarso Utomo, menegaskan, peringatan Hari Kartini tak boleh hanya jadi seremonial tahunan.

Menurutnya, perempuan harus didorong turun tangan mengatasi dalam penanganan persoalan sosial di lingkungan masing-masing, seperti; kemiskinan, stunting, hingga kekerasan terhadap anak di Jepara.

Perempuan Jepara harus hadir menyelesaikan persoalan nyata, seperti kemiskinan, kekerasan, stunting, dan perkawinan anak, serta memastikan tidak ada anak yang putus sekolah,” kata dia saat peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026).

Laila juga mendorong penguatan peran perempuan di ruang public, tidak lagi terbatas pada peran domestik

“Perkuat pula keterwakilan perempuan di ruang publik dan legislatif, untuk pengambilan kebijakan dan menyuarakan aspirasi demi masa depan bangsa,” tuturnya.

Selain itu, dia juga mengajak masyarakat menjadikan Jepara sebagai pusat literasi Kartini.

“Jadikan Jepara pusat literasi Kartini. Ajarkan generasi muda keberanian berpikir dan semangat perubahan,” tuturnya.

Laila menambahkan, perempuan perlu meningkatkan kapasitas diri dalam keluarga.

“Tingkatkan kapasitas diri sebagai ibu sekaligus pendidik utama dalam keluarga melalui penguasaan ilmu pengetahuan,” kata dia.

Pada kesempatan itu, juga diserahkan piagam penghargaan dan trofi kepada pemenang lomba pelayanan KB. Juara pertama diraih Klinik Wahana Sejahtera PKBI Jepara, disusul Klinik Fatma Medika di posisi kedua, serta Puskesmas Donorojo di peringkat ketiga.

Berani Berpikir Maju

Terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Fahrudin menegaskan, semangat Kartini tidak hanya sebatas emansipasi perempuan, tetapi juga tentang keberanian berpikir maju, mandiri, dan menjunjung tinggi integritas.

“Tema ini sangat relevan sebagai pengingat bagi kita semua akan pentingnya membangun karakter perempuan yang mandiri, kuat, dan berlandaskan nilai-nilai kejujuran,” ujarnya.

Sekda menyatakan hal itu pada talkshow bertajuk Kartini Menginspirasi: Berjiwa Independen, Teguh Berintegritas, yang digelar di Pendapa Museum RA Kartini, Senin (20/4/2026).

Lebih lanjut ia mengungkapkan, keberagaman budaya dan latar belakang sosial masyarakat Rembang justru menjadi kekuatan, yang memperkuat nilai gotong royong dan toleransi.

Dia berharap, dapat lahir inspirasi bagi perempuan, khususnya generasi muda, untuk terus mengembangkan potensi diri dan memperkuat integritas.

“Tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga dibutuhkan perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat dan berdaya saing,” imbuhnya. (*)

Dari Posyandu ke Dunia, Perempuan Semarang Jadi Sorotan Internasional

Lingkar.co — Peran perempuan di Kota Semarang tak lagi berhenti pada lingkup domestik atau lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi mereka justru mulai dilirik hingga ke tingkat global.

Hal itu mengemuka dalam peringatan Hari Kartini ke-147 yang digelar Pemerintah Kota Semarang melalui upacara di Balai Kota, Selasa (21/4/2026).

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyampaikan bahwa praktik pemberdayaan perempuan di kota ini telah menarik perhatian internasional, terutama yang berbasis komunitas.

Agustina menjelaskan, salah satu contoh nyata terlihat dari peran sekitar 16.000 kader Posyandu yang selama ini bekerja secara sukarela menjaga kesehatan masyarakat. Ia mengungkapkan, praktik tersebut bahkan mendapat apresiasi saat dirinya berkunjung ke California State University, Amerika Serikat.

“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Menurutnya, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat, khususnya perempuan, dapat menjadi contoh global dalam penguatan sistem kesehatan berbasis komunitas.

Tak hanya di sektor kesehatan, kontribusi perempuan juga terlihat dalam gerakan lingkungan. Melalui program Semarang Wegah Nyampah, perempuan yang tergabung dalam kader PKK dan komunitas aktif mengelola bank sampah. Dari gerakan ini, tercatat perputaran ekonomi masyarakat mencapai Rp2,2 miliar.

Agustina menilai, keterlibatan perempuan dalam isu lingkungan bukan sekadar partisipasi, tetapi telah menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat akar rumput.

Pemerintah Kota Semarang, lanjut dia, juga memperkuat peran perempuan melalui kebijakan berbasis wilayah. Sebanyak 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak telah dibentuk sebagai ruang perlindungan sekaligus pemberdayaan.

Agustina menegaskan, perempuan kini tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan. Ia menyebut perempuan justru menjadi aktor utama dalam mendorong perubahan sosial.

“Perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek utama perubahan. Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh,” tegasnya.

Momentum Hari Kartini, menurut Agustina, tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga refleksi atas peran perempuan yang terus berkembang
.
Ia berharap perempuan di Kota Semarang terus berani mengambil peran, memperluas kontribusi, dan meningkatkan kapasitas diri di berbagai bidang.

Dalam konteks yang lebih luas, apa yang terjadi di Semarang memperlihatkan satu hal: kerja-kerja komunitas yang selama ini dianggap sederhana, justru bisa menjadi inspirasi hingga tingkat global. ***

Refleksi Hari Kartini, Puan Dorong Perempuan Aktif Tentukan Masa Depan Indonesia

Lingkar.co – Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam menentukan arah perjalanan bangsa pada peringatan Hari Kartini 2026. Menurutnya, kontribusi perempuan saat ini tidak lagi perlu diragukan.

“Perempuan Indonesia sudah tidak perlu membuktikan bahwa mereka mampu. Pertanyaan hari ini bukan lagi ‘apakah’, melainkan ‘seberapa jauh’ dan ‘dengan sistem seperti apa’. Di sinilah momentum Hari Kartini menjadi relevan,” kata Puan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/4/2026).

Dalam momentum peringatan setiap 21 April tersebut, Puan mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali perjuangan tokoh-tokoh perempuan bangsa yang telah berkontribusi sejak masa lalu.

“Dengan perayaan Hari Kartini, kita mengenang perjuangan para perempuan-perempuan hebat dalam sejarah bangsa Indonesia, yang sejak dulu mereka sudah yakin bahwa perempuan adalah bagian tidak terpisahkan dalam usaha untuk memajukan bangsa,” tuturnya.

“Di Hari Kartini, kita menegaskan kembali bahwa perempuan bukanlah objek, tapi subjek aktif yang ikut menentukan cerita perjalanan Republik Indonesia,” imbuh Puan.

Mantan Menteri Koordinator PMK itu juga mengajak seluruh pihak untuk kembali menegaskan peran perempuan dalam pembangunan nasional. Ia menilai keterlibatan perempuan bukan sekadar kebijakan afirmatif, melainkan bentuk penghargaan terhadap martabat manusia sekaligus penguatan bagi bangsa.

“Menyertakan perempuan merupakan kesadaran atas penghargaan harkat dan martabat manusia dan pilihan yang benar untuk menguatkan daya dari bangsa Indonesia itu sendiri,” tambahnya.

Lebih lanjut, Puan menyoroti bahwa perempuan memiliki pengalaman hidup yang berbeda dari laki-laki, yang kerap diasosiasikan dengan peran merawat kehidupan. Namun, ia mengingatkan agar makna tersebut tidak disempitkan hanya pada ranah domestik.

“Pengalaman hidup unik dari perempuan telah menempatkan kita seperti sinonim dengan istilah ‘Merawat Kehidupan’. Namun kita jangan sampai me-reduksi makna dari kata ‘merawat’ menjadi persoalan domestik semata yang seperti tidak memiliki hubungan dengan kemajuan bangsa,” papar Puan.

Menurutnya, kontribusi dan kepemimpinan perempuan di berbagai bidang telah terbukti nyata. Oleh karena itu, perspektif perempuan harus terus dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan strategis.

“Apa yang kita perlu lakukan sekarang adalah kita harus bersama-sama memastikan bahwa keunikan pengalaman hidup perempuan akan terus dihadirkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan yang akan menentukan perubahan-perubahan positif dalam perjalanan kemajuan bangsa ini,” terangnya.

Puan juga menekankan bahwa perempuan tidak hanya perlu hadir dalam ruang pengambilan keputusan, tetapi juga turut merancangnya.

“Perempuan harus ikut merancang ruangan-ruangan pengambilan keputusan untuk memastikan bahwa di dalam pembangunan Indonesia, perspektif perempuan yang jumlahnya sekitar setengah dari jumlah penduduk Indonesia harus dipertimbangkan,” jelas Puan.

Ia kemudian menyinggung perjuangan Raden Ajeng Kartini yang dinilai telah membuka jalan bagi perempuan masa kini.

“Kartini tidak menunggu sistemnya sempurna untuk mulai menulis. Ia menulis, dan sistemnya berubah. Perempuan-perempuan Indonesia hari ini tidak sedang menunggu. Mereka sudah memimpin, sudah merawat, sudah mengubah,” ungkapnya.

Puan menegaskan pentingnya kebersamaan dalam pembangunan agar tidak ada pihak yang tertinggal.

“Bahwa ketika kita maju maka kita maju bersama-sama. Bahwa ketika kita terbang maka kita terbang bersama-sama,” sebut Puan.

Ia menambahkan, bangsa yang ingin melesat tinggi membutuhkan peran perempuan dan laki-laki secara seimbang.

“Karena bangsa yang ingin terbang tinggi membutuhkan kedua sayapnya yaitu perempuan dan laki-laki untuk dapat bekerja penuh,” lanjut cucu Bung Karno itu.

Menurutnya, selama salah satu “sayap” belum diberi ruang untuk berkembang sepenuhnya, potensi bangsa tidak akan maksimal.

“Ketika perempuan memimpin dengan penuh ilmu dan kepekaan, maka perubahan menjadi tidak ter-elakkan dan Indonesia akan terbang setinggi-tingginya,” ujar Puan.

Menutup pernyataannya, Puan menyampaikan ucapan peringatan Hari Kartini kepada seluruh perempuan Indonesia.

“Selamat memperingati Hari Kartini tahun 2026 untuk seluruh perempuan hebat Indonesia. Mari terbang tinggi untuk membawa Indonesia semakin lebih maju,” tutupnya.

Penulis: Putri Septina

Inilah 4 Kartini Masa Kini yang Menginspirasi Perempuan Indonesia

Lingkar.co – Di balik semangat Hari Kartini yang terus hidup, hadir sosok-sosok perempuan Indonesia masa kini yang membuktikan bahwa perjuangan Raden Ajeng Kartini belum selesai. Mereka bergerak di berbagai bidang—dari diplomasi hingga pendidikan di pelosok—dengan satu tujuan yang sama: memberi makna lebih bagi peran perempuan.

  1. Retno Marsudi — Diplomat Perempuan Pertama Indonesia

Perempuan kelahiran Semarang ini mencatat sejarah sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama Republik Indonesia pada periode 2014–2019, dan kembali dipercaya untuk masa jabatan 2019–2024.

Salah satu kiprah pentingnya terlihat saat konflik Israel–Palestina memanas pada 2023. Ia bergerak cepat memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang berada di wilayah konflik. Tak hanya itu, Retno juga dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan kesetaraan gender di tingkat global, hingga meraih berbagai penghargaan internasional bergengsi.

  1. Najwa Shihab — Jurnalis yang Berani Bicara

Nama Najwa Shihab dikenal luas sebagai jurnalis yang kritis, lugas, dan berani menyuarakan kebenaran. Melalui program Mata Najwa, ia menghadirkan diskusi tajam yang dekat dengan isu publik.

Pada 2023, ia masuk dalam daftar Asia’s Most Influential versi Tatler. Lebih dari itu, Najwa konsisten menyuarakan bahwa perempuan tidak harus memilih antara karier dan keluarga—sebuah pesan yang relevan bagi banyak perempuan Indonesia saat ini.

  1. Maudy Ayunda — Perpaduan Prestasi Akademik dan Seni

Maudy Ayunda menjadi bukti bahwa perempuan bisa unggul di berbagai bidang sekaligus. Ia menyelesaikan pendidikan di University of Oxford dengan predikat cum laude, lalu melanjutkan studi ke Stanford University setelah diterima juga di Harvard.

Di dunia hiburan, ia tetap aktif berkarya melalui musik dan film. Sosok Maudy mencerminkan perempuan modern yang cerdas, berdaya, dan mampu menyeimbangkan berbagai peran.

  1. Zentri Hartanti — Pahlawan Pendidikan dari Pelosok

Tak semua perjuangan terlihat di panggung besar. Zentri Hartanti, seorang guru honorer di pelosok Kabupaten Bogor, adalah contoh nyata dedikasi tanpa pamrih. Ia meraih penghargaan dalam ajang RA Kartini Awards 2025 berkat pengabdiannya di dunia pendidikan.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan kuatnya budaya pernikahan dini, Zentri tetap mengajar dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci perubahan. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga memperjuangkan masa depan anak-anak perempuan agar memiliki pilihan hidup yang lebih luas.


Keempat perempuan ini datang dari latar yang berbeda, namun memiliki benang merah yang sama: keberanian melampaui batas. Dari forum internasional hingga ruang kelas sederhana, semangat Kartini terus hidup dalam bentuk yang baru.

Mereka bukan hanya inspirasi, tetapi juga bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari siapa saja—asal ada tekad yang tak pernah padam.

Penulis: Putri Septina

Jelang Hari Kartini, Kunjungan Museum di Rembang Naik Signifikan

Lingkar.co – Kunjungan wisatawan ke Museum RA Kartini mengalami lonjakan signifikan menjelang peringatan Hari Kartini 2026. Hingga 18 April, jumlah pengunjung tercatat meningkat sekitar 30 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Retna Dyah Radityawati, menyampaikan bahwa peningkatan ini didominasi oleh kalangan pelajar.

“Data kunjungan di Museum RA Kartini Rembang, jelang April kenaikan pengunjung sampai dengan 18 April dari bulan lalu sebanyak 30 persen,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Perempuan yang akrab disapa Nana itu menjelaskan, mayoritas pengunjung berasal dari anak-anak sekolah, mulai dari kelompok bermain hingga sekolah dasar. Momentum Hari Kartini dimanfaatkan sebagai sarana edukasi sejarah sejak dini.

“Yang banyak pengunjung anak-anak sekolah. Mayoritas terutama kelompok bermain, TK dan SD,” jelasnya.

Museum yang menyimpan jejak kehidupan Raden Ajeng Kartini ini memiliki ratusan koleksi bersejarah. Tercatat sebanyak 224 koleksi menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.Beberapa koleksi ikonik yang dipamerkan antara lain kebaya asli Kartini, tulisan tangan, bothekan, kotak hias, tafsir Alquran, hingga buku Door Duisternis tot Licht yang menjadi karya terkenalnya.

Tak hanya koleksi, nilai historis bangunan museum juga menjadi magnet tersendiri. Bangunan tersebut dulunya merupakan rumah dinas suami Kartini, Raden Adipati Joyodiningrat, yang ditempati selama masa hidup Kartini di Rembang.

“Bangunan museum ini dulu rumah dinas suami RA Kartini, yang didiami beliau selama 10 bulan di Rembang,” pungkasnya. (*)

Peringati Hari Kartini, Ratusan Siswi di Rembang Dibekali Kewirausahaan

Lingkar.co – Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Dindagkop UMKM) Kabupaten Rembang menggelar seminar motivasi kewirausahaan untuk ratusan siswi SMA sederajat, Selasa (22/4/2025). Kegiatan yang berlangsung di Pendapa Museum RA Kartini ini dalam rangka memperingati Hari Kartini ke-146.

Kabid UMKM Dindagkop UMKM, Prio Waskito mengatakan, seminar ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan pelajar perempuan. Hal ini sejalan dengan semangat Kartini dalam memperjuangkan kemandirian perempuan.

“Adik-adik ini, selain fokus belajar, juga bisa berkreasi dan menghasilkan pendapatan sendiri. Ini adalah bentuk nyata emansipasi ekonomi. Kita beri ruang gerak agar mereka bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung usaha. Menurutnya, generasi Z memiliki keunggulan karena telah terbiasa dengan dunia daring.

“Menjadi produsen itu tidak selalu berarti harus membuat barang sendiri. Mereka bisa menjadi fasilitator pemasaran. Yang penting, mereka menguasai pangsa pasar,” jelasnya.

Data dari Dindagkop UMKM menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pelaku UMKM di Kabupaten Rembang. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah UMKM tercatat sekitar 52 ribu. Kini, angkanya telah menembus lebih dari 90 ribu.

Antusiasme peserta terlihat jelas, salah satunya dari Niswah, siswi SMA yang bercita-cita membuka usaha kuliner dan kerajinan dari kain perca.

“Sejak SD saya sudah punya keinginan jualan, tapi bingung modalnya. Setelah ikut seminar ini, saya jadi lebih semangat karena ternyata peluangnya besar. Meski kecil-kecilan, kalau tekun bisa berkembang,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, semangat Kartini dihidupkan kembali sebagai dorongan konkret untuk menciptakan perempuan yang mandiri dan berdaya, terutama di era digital.  (*)

Penulis: Miftah

Pendidikan di Jateng Masih Rendah, Gus Yasin Sebut 7.903 Kasus Perkawinan Anak

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen saat menghadiri pengukuhan sang istri, Nawal Arafah Yasin sebagai Bunda Literasi mengungkapkan pendidikan di Jateng masih rendah. Hal itu mengakibatkan banyak kasus perkawinan anak.

Ia pun menyoroti pentingnya perlindungan terhadap anak dan perempuan, terutama dalam menekan angka perkawinan usia anak yang masih cukup tinggi.

Gus Yasin, sapaan akrabnya, bahkan menyebut 7.903 kasus perkawinan anak, dengan rincian 1.281 laki-laki dan 6.622 perempuan. Stunting, juga sudah mengalami penurunan 3,6 persen menjadi 17,1 persen dari 20,7 persen.

Demikian pula dengan pendidikan, rerata sekolah masih belum beranjak pada angka 7-8 tahun, yang berarti rerata pendidikan masyarakat Jawa Tengah belum mencapai SMA. Bahkan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih cukup tinggi.

“Masih ada 7.903 kasus perkawinan anak. Sebanyak 1.821 di antaranya anak laki-laki, sisanya perempuan. Kalau menikahnya di usia anak, bagaimana perempuan ini nantinya bisa menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya?” ucapnya di gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, (21/4/2025).

Maka ia menegaskan perlunya langkah konkret untuk mendampingi para remaja di Jateng agar tetap bisa mengakses pendidikan, meskipun mereka telah menikah di usia muda.

Baca juga: Dana Oprasional RT di Semarang Bakal Segera Cair, Ini yang Harus Disiapkan

“Perlu terobosan. 7.903 ini harus kita kawal, jangan sampai mereka tidak mendapat pendidikan yang baik.”

Selain itu, ia bilang gerakan relawan paralegal yang dikukuhkan baru-baru ini juga akan diperkuat.

“Paralegal juga kita gerakkan lebih masif lagi. Bukan hanya di 35 kabupaten/kota, tapi juga didistribusikan ke kecamatan dan desa masing-masing,” tambahnya.

Menurut Gus Yasin, perempuan dan anak adalah masa depan bangsa. Dan pendidikan dimulai dari rumah, dari sosok ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak.

Bunda Literasi dan Semangat Kartini

Terkait pengukuhan Ning Nawal sebagai Bunda Literasi, menurutnya, sosok Nawal memiliki latar belakang kuat dalam membumikan budaya membaca dan sangat tepat mengemban amanah ini.

“Saya kenal betul dengan Nawal Arafah. Sebelum menikah, saya diajak beliau ‘ayo kita baca Al-Qur’an sehari khatam’. Jadi beliau membangun rumah tangga dengan mengedepankan pendidikan dan membaca,” ungkapnya.