Arsip Tag: trans semarang

Wacana Aktivasi Halte Semarang Zoo Perlu Kajian, Ini Penjelasan Trans Semarang

Lingkar.co – Wacana mengaktifkan kembali halte di depan Semarang Zoo mendapat respons dari pengelola Trans Semarang. Pihak operator menyebut, kebijakan tersebut membutuhkan kajian ulang karena berbagai pertimbangan teknis dan operasional.

Keinginan wisatawan agar halte di depan Semarang Zoo kembali difungsikan untuk mempermudah akses transportasi belum bisa langsung direalisasikan.

Kepala BLUD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menjelaskan bahwa halte tersebut sebelumnya memang pernah beroperasi. Namun, seiring waktu, layanan dihentikan karena sejumlah pertimbangan.

“Dulunya memang aktif, tapi sekarang tidak karena ada beberapa pertimbangan yang kita lakukan,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, salah satu alasan utama adalah munculnya aktivitas angkutan tidak resmi yang memanfaatkan halte tersebut sebagai titik naik-turun penumpang.

“Dengan adanya halte ini, malah membuat adanya terminal bayangan di depan Semarang Zoo. Orang yang dari Semarang mau ke Kendal, tidak turun di terminal malah turun di terminal bayangan,” jelasnya.

Selain itu, faktor keselamatan dan teknis operasional juga menjadi pertimbangan penting. Haris menyebut perubahan infrastruktur, seperti keberadaan akses tol di wilayah Kaliwungu, turut memengaruhi pola pergerakan armada.

Sebelumnya, bus masih dapat melakukan putar balik di sekitar area barat kebun binatang. Namun kini, opsi tersebut dinilai tidak lagi aman karena berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Kalau diaktifkan, rekomendasinya bus juga harus muter di bawah flyover arteri Kaliwungu, membuat jarak tempuh semakin panjang sehingga mengeluarkan cost yang lebih besar,” katanya.

Sebagai alternatif, pihak Trans Semarang sempat menjajaki kerja sama dengan pengelola Semarang Zoo, termasuk rencana penyediaan layanan penghubung dari Terminal Mangkang hingga lokasi wisata.

Namun, hingga saat ini belum ada kelanjutan dari rencana tersebut.

“Dulu juga ada rencana kerja sama, misal perjalanan 10 kali menggunakan Trans Semarang bisa dapat diskon di Semarang Zoo. Nah ini belum ada pembahasan lagi,” ungkap Haris.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan halte tersebut kembali dioperasikan apabila ada kebutuhan yang kuat dari masyarakat. Namun, keputusan tersebut harus melalui kajian yang matang dan menyesuaikan kondisi terkini.

“Kalau difungsikan nanti ada kajian ulang agar tepat sasaran, karena dinamika sekarang tidak bisa disamakan dengan dulu,” pungkasnya. ***

Setahun Agustina–Iswar, DPRD Soroti Sampah, Transportasi Massal hingga Penanganan Banjir

Lingkar.co– Anggota DPRD Kota Semarang Komisi C dari Fraksi PKS, Dini Inayati, menyoroti sejumlah isu strategis mulai dari pengelolaan sampah, transportasi massal, hingga penanganan banjir dalam evaluasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Agustina Wilujeng dan Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin.

Dini menyampaikan pandangannya berdasarkan fungsi pengawasan DPRD, khususnya Komisi C yang bermitra dengan sektor lingkungan hidup, perhubungan, dan infrastruktur.

Menurut Dini, persoalan mendasar Kota Semarang saat ini masih berada pada pengelolaan sampah. Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Semarang yang mulai membangun kesadaran masyarakat melalui pendekatan sosial, seperti pemberdayaan RT dan PKK dengan kewajiban pemilahan sampah dari sumbernya.

“Menurut saya, Bu Agustina sudah melakukan investasi sosial yang cukup baik, melalui dana yang dikucurkan kepada RT dan PKK, dengan persyaratan adanya kewajiban memilah sampah. Ini benar-benar bisa menggerakkan masyarakat untuk sadar mengelola sampah dari sumbernya, walaupun memang masih tahap awal dan PR-nya masih panjang,” ujar Dini, Senin (2/3/2026).

Meski demikian, ia menilai pekerjaan rumah terbesar ada pada penguatan sistem. DPRD mendorong pembenahan manajemen pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA), termasuk tata kelola di tiap TPS serta penyediaan sarana dan prasarana.

“PR utamanya ada pada sistem pengangkutan sampah, yaitu membenahi pengangkutan dari TPS menuju TPA, manajemen di tiap TPS, serta sarana prasarana yang harus disediakan. Ini tidak bisa diselesaikan satu dua tahun, sehingga komitmen peraturan dan anggaran sangat penting, dan itu yang kami dorong di Komisi C DPRD Kota Semarang,” tegasnya.

Di sektor transportasi, Dini menilai kebijakan tarif gratis Trans Semarang bagi pelajar, mahasiswa, dan lansia sebagai langkah positif untuk mendorong peralihan ke transportasi massal. Ia juga menyoroti rencana peremajaan sekitar 130 armada serta pengoperasian bus listrik di Koridor 1 sebagai upaya peningkatan kualitas layanan.

“Ada bus listrik untuk peningkatan kualitas layanan. Tahun ini mulai beroperasi di Koridor 1. Pemerintah Kota juga memberikan biaya operasional kendaraan yang cukup besar sehingga tahun ini ada 130 armada yang diremajakan di beberapa koridor,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan tantangan berikutnya adalah memperluas aksesibilitas. DPRD mendorong pengembangan sistem feeder agar layanan transportasi massal dapat menjangkau kawasan permukiman warga.

“PR berikutnya adalah bagaimana transportasi massal tidak hanya murah, tetapi juga mudah diakses dan berkualitas. Prinsip idealnya, sekitar 500 meter dari rumah masyarakat sudah bisa mengakses transportasi umum,” lanjut Dini.

Ia juga mengingatkan pentingnya reformasi manajemen sesuai Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perhubungan, yang mengamanatkan pemisahan fungsi operator dan regulator agar sistem lebih profesional dan akuntabel.

Terkait persoalan banjir, Dini menilai penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan. Ia menegaskan tidak seluruh sungai berada di bawah kewenangan Pemerintah Kota Semarang, karena sebagian merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS).

Ia mencontohkan Sungai Plumbon dan Sungai Babon yang kerap meluap dan memicu banjir di sejumlah wilayah.

“Untuk sungai yang menjadi kewenangan Pemkot, kondisinya sebenarnya cukup baik. Namun penyebab banjir terbesar berasal dari sungai kewenangan BWS, seperti Sungai Plumbon di Mangkang dan Sungai Babon di wilayah Tembalang dan Pedurungan,” jelasnya.

Meski demikian, Dini mengingatkan pentingnya pengendalian perizinan pembangunan di kawasan rawan banjir agar risiko genangan tidak semakin besar di masa mendatang.

Sebagai fungsi pengawasan, DPRD Kota Semarang, kata Dini, akan terus mendorong penguatan regulasi, konsistensi anggaran, serta koordinasi lintas sektor agar berbagai persoalan strategis tersebut dapat ditangani secara berkelanjutan. ***

Uji Coba Dua Bus Listrik di Semarang, Dishub Siapkan 27 Armada untuk Koridor 1

Lingkar.co – Pemerintah Kota Semarang mulai menguji coba operasional dua bus listrik di Koridor 1 Trans Semarang, Jumat (13/2/2026). Uji coba ini menjadi bagian dari rencana konversi armada diesel menuju transportasi publik ramah lingkungan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengatakan uji coba dilakukan untuk mencari karakter kendaraan yang paling sesuai dengan kondisi medan Kota Semarang yang naik-turun.

“Semarang ini kan medannya berbeda dengan kota lain. Jadi kita mencari kendaraan yang benar-benar mampu dioperasionalkan dan nyaman digunakan di sini,” ujarnya.

Dua bus besar berukuran 12 meter yang diuji coba tersebut berasal dari dua produsen berbeda, yakni karoseri lokal Laksana dan merek Invi. Dalam beberapa pekan ke depan, Dishub juga akan menguji bus ukuran medium serta bus kecil untuk kebutuhan feeder. Seluruhnya menggunakan tenaga listrik.

Danang menjelaskan, tahun ini Pemkot Semarang merencanakan pengadaan 27 armada bus listrik untuk Koridor 1 (Manggarai–Penggaron). Skema pembiayaan menggunakan APBD dengan sistem pembelian jasa operasional kepada operator, termasuk biaya perawatan (maintenance).

“Konsepnya sama seperti sebelumnya, hanya mengganti dari diesel ke listrik. Target utama kita mereduksi emisi gas buang sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kebersihan layanan,” katanya.

Ia mengakui tantangan utama ada pada konsumsi daya baterai di medan menanjak. Karena itu, uji coba juga menghitung daya tahan baterai, durasi pengisian ulang, serta kebutuhan armada cadangan. Meski demikian, bus dinilai aman termasuk saat melintasi genangan, karena sudah diuji di sejumlah kota lain.

Operasional penuh ditargetkan mulai akhir tahun, setelah seluruh perhitungan biaya operasional kendaraan (BOK) rampung.

Sementara itu, Kepala BLUD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menyebut anggaran operasional bus listrik di Koridor 1 untuk periode 1 Agustus hingga 31 Desember 2026 diproyeksikan sekitar Rp21 miliar.

“Kita prinsipnya belanja jasa. Di dalam BOK sudah termasuk maintenance. Jadi operator yang bertanggung jawab atas operasional dan perawatannya,” jelasnya.

Uji coba dijadwalkan berlangsung selama satu bulan dengan pergantian tipe bus setiap pekan. Saat ini terdapat empat produsen yang mengajukan permohonan uji coba, dan tiga di antaranya sudah direalisasikan.

Pemkot Semarang berharap kehadiran bus listrik dapat menjawab keluhan masyarakat terkait polusi kendaraan umum sekaligus menjadi langkah konkret menuju transportasi publik yang lebih hijau di Ibu Kota Jawa Tengah. ***

Wali kota Semarang Tegaskan Modernisasi Armada untuk Percepat Transformasi Layanan

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan komitmen Pemerintah kota atau Pemkot Semarang mempercepat modernisasi armada dan memperkuat transformasi layanan pada sistem transportasi publik Trans Semarang, seiring evaluasi ketat terhadap seluruh aspek teknis dan operasional.

“Trans Semarang harus memberikan layanan terbaik, aman, dan memenuhi standar kelayakan yang ketat. Tidak boleh ada kompromi soal keselamatan,” ujar Agustina Wilujeng belum lama ini.

BLU UPTD Trans Semarang, sebagai operator teknis, disebut Agustina Wilujeng telah melaksanakan verifikasi kelayakan armada secara lebih ketat.

Pemeriksaan itu dilakukan melalui pengecekan fisik dan dokumen, termasuk pemeriksaan harian sebelum armada dilepas ke jalur pelayanan.

Pemkot Semarang memastikan setiap armada Trans Semarang, baik milik pemerintah maupun konsorsium, benar-benar memenuhi Standar Pelayanan Minimal,” tegasnya.

Pengecekan tersebut merupakan bagian dari proses modernisasi armada yang diharapkan mampu meningkatkan standar keamanan.

Seperti dicontohkan Wali Kota bahwa Petugas BLU wajib melakukan ramp check ringan setiap pagi.

Jika ditemukan gangguan teknis ataupun indikasi trouble, armada langsung diserahkan kepada mekanik operator untuk diperbaiki.

Selain itu, ia meminta sebelum bus kembali ke daftar pelayanan, petugas Trans Semarang melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan seluruh unit laik jalan.

Agustina Wilujeng juga menekankan bahwa mekanisme evaluasi itu bukan formalitas administratif.

“Trans Semarang harus dikelola secara profesional. Bila ada armada yang tidak lolos uji kelayakan, operator wajib mengganti atau memperbaikinya sesuai ketentuan kontrak,” terangnya.

Kebijakan tersebut, menurutnya, penting untuk menjaga konsistensi kualitas dan mendukung transformasi layanan secara menyeluruh.

Selain pemeriksaan armada, Trans Semarang juga wajib terus memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan reguler.

BLU perlu memastikan bahwa pelatihan bagi pengemudi dan kru dilakukan berkala mengikuti standar pelayanan yang ditetapkan.

“Modernisasi armada harus diiringi modernisasi kompetensi SDM. Pengemudi dan kru Trans Semarang harus punya kualitas pelayanan yang baik, paham rute, dan siap dalam kondisi darurat,” kata Agustina Wilujeng.

Di sisi manajemen, Agustina menyampaikan bahwa BLU juga telah melakukan monitoring terhadap beban operasional, termasuk subsidi, BOK, serta evaluasi kontrak operator.

Pemantauan itu, menurut Agustina, menjadi dasar pemerintah dalam memastikan penambahan armada berjalan stabil dan tidak membebani kualitas pelayanan.

“Trans Semarang harus menjaga efisiensi tanpa mengurangi standar layanan. Transformasi layanan tidak boleh berhenti hanya karena tantangan anggaran,” jelas Wali Kota.

Dalam langkah lanjutan dari laporan BLU Trans semarang, Agustina Wilujeng berharap koridor-koridor padat seperti Koridor I, II, III, IV, dan VIII tetap rutin menerapkan strategi pengawasan khusus.

Koridor tersebut menjadi titik penumpang terbesar sehingga membutuhkan kedisiplinan jadwal, kehandalan armada, dan kesiapan kru.

Evaluasi pun harus dilaksanakan berkala untuk memastikan keandalan operasional dan menjaga ritme mobilitas masyarakat yang bergantung pada Trans Semarang.

Secara teknis strategi itu mencakup peningkatan koordinasi antarpool, penyesuaian manajemen headway, dan pendataan kebutuhan modernisasi armada pada koridor yang paling banyak menyerap penumpang.

Semua langkah tersebut, kata Agustina Wilujeng diarahkan untuk mendorong transformasi layanan Trans Semarang agar semakin responsif terhadap kebutuhan publik.

Wali Kota Semarang sekaligus menegaskan kembali bahwa pemerintah kota memberi dukungan penuh terhadap penguatan sistem transportasi publik.

Ia menilai modernisasi armada merupakan fondasi yang tidak dapat ditunda lagi. “Transportasi publik harus terus naik kelas. Trans Semarang harus jadi wajah layanan kota yang aman, layak, dan membanggakan warganya,” ujarnya.

Dengan peningkatan pengawasan teknis, penguatan kompetensi kru, penataan manajemen operasional, dan strategi khusus di koridor padat, Trans Semarang diharapkan mampu mempercepat modernisasi armada sekaligus menyempurnakan transformasi layanan.

Agustina Wilujeng menyatakan bahwa Pemkot Semarang akan terus memastikan bahwa seluruh upaya perbaikan tersebut berjalan konsisten demi menciptakan layanan Trans Semarang yang aman, andal, dan berkelanjutan bagi masyarakat. ***

Pemkot Semarang Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Korban Kecelakaan Armada Trans Semarang Koridor VIII

Lingkar.co — Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang melalui BLU UPTD Trans Semarang menyampaikan keprihatinan mendalam atas kecelakaan tunggal yang menimpa armada Bus Trans Semarang Koridor VIII pada Rabu (26/11) sekitar pukul 16.20 WIB di tanjakan Jalan Abdulrahman Saleh, Manyaran, Kecamatan Semarang Barat.

Dalam kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa. Namun lima penumpang mengalami luka-luka dan seluruhnya telah mendapatkan perawatan medis oleh Tim Ambulans Hebat. Petugas lapangan Trans Semarang bersama mitra operator juga telah hadir di lokasi untuk memastikan penanganan korban berlangsung cepat dan tepat.

Pemerintah Kota Semarang menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut. Pemkot Semarang pun menegaskan komitmennya untuk menanggung penuh biaya pengobatan korban yang mengalami luka-luka. Pendampingan terus dilakukan oleh petugas dan tim SDM Trans Semarang di rumah sakit tempat para korban mendapatkan perawatan, termasuk sopir armada yang saat ini masih dalam pemantauan intensif usai mengalami pingsan saat kejadian.

Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, memastikan bahwa langkah-langkah penanganan lapangan telah berjalan sesuai prosedur. Armada telah dievakuasi untuk mencegah gangguan arus lalu lintas serta menghindari potensi insiden lanjutan. Pemkot Semarang juga telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mendapatkan hasil investigasi resmi terkait penyebab insiden.

“Sebagai wujud tanggung jawab dan komitmen pelayanan publik, Pemkot Semarang akan melakukan evaluasi internal terhadap manajemen operasional Trans Semarang, termasuk memanggil operator armada Koridor VIII untuk monitoring dan audit keselamatan. Jika ditemukan pelanggaran SOP atau kelalaian, tindakan tegas akan diterapkan sesuai aturan yang berlaku demi menjamin keamanan masyarakat,” ujar Haris.

Pemerintah Kota Semarang menyadari bahwa keselamatan pengguna layanan transportasi publik merupakan prioritas utama. Oleh karena itu, perbaikan menyeluruh terhadap kualitas armada, sistem pengecekan teknis, serta pelatihan pramudi akan ditingkatkan secara berkelanjutan. Tidak hanya untuk mencegah kejadian serupa, tetapi juga untuk memastikan layanan Trans Semarang tetap menjadi moda transportasi yang aman, nyaman, dan terpercaya bagi warga masyarakat.

Pemkot Semarang juga berterima kasih atas dukungan masyarakat dan berharap insiden ini menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan standar pelayanan publik yang lebih baik. (Adv)

Uji Coba Bus Listrik Trans Semarang Dimulai, Langkah Nyata Menuju Transportasi Hijau di Ibu Kota Jateng

Lingkar.co – Kota Semarang mulai bergerak menuju era transportasi rendah emisi. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang resmi memulai uji coba operasional bus listrik Trans Semarang pada Rabu (5/11/2025), melayani rute Terminal Mangkang–Simpang Lima pulang pergi. Selama masa uji coba, masyarakat bisa menikmati layanan ini secara gratis.

Sekretaris Dishub Kota Semarang Danang Kurniawan menjelaskan, langkah ini menjadi bagian dari transisi menuju sistem transportasi publik yang ramah lingkungan.

“Trans Semarang mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan melalui konsep koridor hijau. Saat ini baru dua unit yang kami uji satu bus besar dan satu bus sedang,” kata Danang.

Bus besar melayani Koridor 1 dengan lintasan Terminal Mangkang – Pemuda – Simpang Lima – Terminal Penggaron, sementara bus sedang diuji di koridor dengan medan yang lebih menantang untuk mengukur efisiensi baterainya.

Menurut Danang, tahap uji coba ini akan berlangsung antara dua minggu hingga satu bulan untuk menilai performa teknis dan daya tahan bus dalam kondisi lalu lintas nyata. Operasional penuh dijadwalkan mulai tahun depan.

“Kami ingin masyarakat ikut mencoba. Dari situ, kami bisa mengevaluasi karakter bus listrik di lapangan, termasuk konsumsi daya di tanjakan maupun di jalur padat,” tambahnya.

Model pengadaan armada listrik dilakukan dengan sistem lelang beli layanan, bukan pembelian unit bus secara langsung. Skema ini memungkinkan penyedia jasa untuk mengoperasikan armada dengan tanggung jawab penuh terhadap perawatan dan efisiensi energi.

Bus listrik buatan Surabaya tersebut diklaim mampu menempuh lebih dari 250 kilometer per pengisian penuh, dengan kapasitas 72 penumpang untuk bus besar dan 40 penumpang untuk bus sedang.

Dari sisi kenyamanan, desain interior disesuaikan agar lebih ramah bagi penyandang disabilitas, termasuk akses tanpa tangga tinggi dan posisi kursi menghadap ke depan.

Kepala BLU Trans Semarang Haris Setyo Yunanto menyebutkan, uji coba ini menjadi realisasi dari konsep koridor hijau yang telah disiapkan sejak lama.

“Bus listrik ini bukan sekadar moda baru, tapi bagian dari komitmen kota mengurangi emisi gas buang. Tidak ada lagi asap hitam atau mesin mogok di tengah jalan,” ujar Haris.

Dua titik pengisian daya disediakan di Terminal Mangkang dan Terminal Penggaron, dengan sistem fast charging yang mampu mengisi penuh baterai dalam waktu 30 menit untuk melayani hingga delapan kali perjalanan pulang-pergi per hari.

Pemkot Semarang menargetkan uji coba ini menjadi pijakan menuju transformasi sistem transportasi publik yang lebih efisien, bersih, dan berkelanjutan. ***

Trans Semarang Kaji Ulang Rute Ekstrim, Imbas Banyak Armada Alami Insiden

Lingkar.co — Serangkaian insiden armada Trans Semarang yang terbakar di jalur berbukit membuat Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Trans Semarang akan melakukan kajian khusus terhadap rute berkontur ekstrem, terutama yang memiliki tanjakan dan turunan tajam.

Langkah ini diambil setelah sejumlah kejadian kebakaran dan gangguan mesin terjadi pada beberapa koridor. Kasus terbaru menimpa armada Koridor 4 yang terbakar di kawasan tanjakan Silayur, Minggu (2/10) petang. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Kepala BLUD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, mengatakan topografi wilayah memang berpengaruh terhadap kinerja dan ketahanan mesin bus.

“Kalau berbicara topografi, memang sedikit berpengaruh terhadap kinerja mesin. Di satu sisi, usia armada juga menjadi faktor tambahan, termasuk jumlah penumpang,” jelasnya, Senin (3/10/2025).

Menurut Haris, sejumlah koridor dengan medan berat seperti Koridor 2, 4, dan 8 menjadi perhatian utama. Karena itu, pihaknya mengusulkan kajian komprehensif melibatkan akademisi dan pakar transportasi.

Kajian tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan teknis paling tepat untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang maupun pengguna jalan lain.

“Nanti kita lihat hasil rekomendasinya, apakah perlu penambahan armada agar beban berkurang, penggunaan bus berkapasitas lebih kecil, atau bahkan re-routing,” ujarnya.

Terkait insiden kebakaran di Silayur, Haris menuturkan, armada yang terbakar saat itu sedang menjalani trip ketujuh. Penyebab sementara diduga akibat korsleting pada dinamo ampere.

“Tidak ada korban jiwa. Armada sudah dibawa ke garasi, dan kini sedang dalam pemeriksaan lebih detail,” pungkasnya. ***

Gak Perlu Tunai! Trans Semarang Kini Terima QRIS Tap, Ada Promo Menarik!

Lingkar.co – Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang berikan kemudahan bagi pengguna Trans Semarang dalam melakukan pembayaran tiket.

Kepala Perwakilan BI Jateng, Rahmat Dwi Saputra menyampaikan, sebagai langkah awal, pihaknya memberikan promo spesial hanya Rp 80 per tiket bagi penumpang yang melakukan pembayaran dengan QRIS Tap yang berlaku dari 16–18 Agustus 2025, dengan kuota 1.000 transaksi per hari.

Rahmat menjelaskan, QRIS Tap adalah teknologi pembayaran nontunai berbasis NFC yang memungkinkan transaksi lebih cepat tanpa perlu memasukkan PIN.

“Dengan QRIS Tap, cukup menempelkan ponsel di alat pembayaran, saldo langsung terdebet. Ini lebih praktis dibandingkan QRIS biasa,” kata Rahmat usai peluncuran QRIS Tap untuk sistem pembayaran di transportasi umum diluncurkan dalam kampanye Pekan QRIS Nasional, di kantor BI Jateng, Minggu (17/8/2025).

Dengan adanya penerapan QRIS Tap ini bisa menaikan pengguna maupun volume transaksi QRIS. Implementasi QRIS Tap di sektor transportasi ini merupakan kelanjutan dari penggunaan QRIS Tap di sektor pariwisata, seperti di kawasan Borobudur pada Juli lalu.

“Saat ini, QRIS Tap untuk sektor transpotasi baru di Trans Semarang. Ke depan, kami akan merambah penggunaan QRIS Tap di Trans Jateng,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Subbagian Keuangan dan Barang Milik Daerah Dishub Kota Semarang, Moch Ichsan menyebutkan, saat ini baru sekitar 10 persen atau 3.000 penumpang Trans Semarang yang melakukan pembayaran nontunai.

Dengan penerapan QRIS Tap, dia berharap, pengguna Trans Semarang bisa semakin tertarik beralih dari pembayaran tunai ke digital.

“QRIS Tap akan mempermudah penumpang sekaligus memudahkan monitoring pendapatan sehingga lebih transparan,” terangnya.

Kepala BLU Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto menambahkan, respon penumpang terhadap QRIS Tap ini cukup positif. Pada hari pertama peluncuran, tercatat sudah ada 120 transaksi QRIS Tap. Ini melebihi target yang ditetapkan Bank Indonesia.

“Secara teknis cukup mudah, asal ponsel Android sudah mendukung fitur NFC, tinggal ditempelkan di mesin pembaca yang ada di halte maupun di petugas tiket,” jelasnya.

Dengan adanya inovasi ini, BI Jateng bersama Dishub optimistis penetrasi pembayaran digital di sektor transportasi akan meningkat, sekaligus mendukung percepatan digitalisasi transaksi di Kota Semarang. ***

Dishub Semarang Tegaskan Evaluasi dan Sanksi Tegas bagi Operator dan Pramudi Trans Semarang

Lingkar.co – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang Manajemen Keselamatan Transportasi yang diikuti sekitar 400 pramudi dari 12 koridor layanan angkutan umum Trans Semarang.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Kusnandir menjelaskan, kegiatan FGD ini merupakan bentuk perhatian dan komitmen Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti untuk meningkatkan keselamatan transportasi publik di tengah meningkatnya volume kendaraan setiap tahunnya.

“Maksud dan tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada para pramudi atau pengemudi juga para operator,” jelas Kusnandir, Jumat (26/72025).

Ia menyebutkan bahwa keselamatan transportasi menjadi konsen utama Wali Kota Semarang, mengingat pertumbuhan kendaraan di ibu kota Jawa Tengah ini terus meningkat secara signifikan.

“Pertumbuhan kendaraan tiap tahunnya itu mencapai 11 persen, sedangkan pertumbuhan jalan hanya satu persen. Maka dengan pembekalan ini diharapkan para pengemudi di setiap harinya, tetap menjaga keselamatan lalu lintas,” pintanya.

Pihaknya mengimbau para pengemudi untuk tidak ngebut atau ugal-ugalan saat bertugas, karena keselamatan penumpang adalah hal utama yang tidak bisa ditawar.

“Dengan adanya ketertiban lalu lintas, kecelakaan, sampai adanya korban meninggal dunia, ini bisa kita kurangi,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto menambahan, Dishub akan melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sudah ditetapkan sejak lama.

“Nanti ke depan kami akan melakukan monitoring dan evaluasi sesuai SPM sehingga pelaksanaannya lebih terarah, terukur, dan berkala,” ungkapnya.

Terkait pelanggaran, Haris menegaskan tidak akan segan memberikan sanksi, baik kepada operator maupun pramudi yang melanggar aturan. Hal ini telah diatur dalam perjanjian kerja sama antara Dishub dan operator layanan Trans Semarang.

“Pastinya ada tindakan, karena dalam perjanjian kerja kita sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Termasuk soal pemberian sanksi,” lanjutnya.

Ia menyebutkan, hingga Agustus 2025, telah ada puluhan sanksi yang diberikan kepada operator maupun pengemudi, bukan hanya karena kecelakaan kerja, tetapi juga pelanggaran SPM seperti kebersihan kendaraan.

“Contoh kecil saja, tidak menjaga kebersihan itu ada sanksinya, Mas,” tegasnya.

Melalui pendekatan yang lebih tegas dan terukur, Dishub berharap seluruh pihak dapat meningkatkan disiplin dan kesadaran terhadap pentingnya keselamatan dalam transportasi umum di Kota Semarang.

Selain itu, Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Yunaldi juga menekankan bahwa transportasi yang baik adalah cerminan kota cerdas. Oleh karena itu, pelayanan harus ditingkatkan agar masyarakat tertarik menggunakan transportasi publik seperti BRT. Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.

“Utamakan keselamatan dan ketertiban di jalan. Jangan bikin macet, apalagi sampai terjadi kecelakaan. Ini yang kita ingatkan ke semua pengendara,” tegasnya.

Yunaldi juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kendaraan secara rutin oleh pengemudi dan operator, baik dari segi kondisi ban, mesin, hingga aspek keselamatan lainnya.

“Mereka harus semangat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Perilaku di jalan juga harus tertib,” imbuhnya. ***

Jumlah Penumpang Meningkat, Pelajar dan Mahasiswa Semarang Sambut Baik Program BRT Rp0

Lingkar.co – Program tarif Rp0 atau gratis untuk layanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang disambut baik oleh pelajar dan mahasiswa.

Sebelumnya Program tarif Rp0 tersebut telah diluncurkan oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti saat perayaan Hari Ulang Tahun ke-478 Kota Semarang beberapa waktu lalu

Dari data yang ada, sejak diluncurkan, tercatat sebanyak 7.477 pelajar dan mahasiswa telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan fasilitas kartu gratis tersebut.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menyampaikan bahwa jumlah tersebut didominasi oleh pelajar sekolah.

Meski begitu, pihaknya menegaskan bahwa kuota kartu masih tersedia untuk tahap pertama, karena total kartu yang dicetak mencapai 10 ribu.

“Ada 10 ribu kartu yang kita cetak, tapi baru 7.477 yang digunakan. Artinya, masih ada ribuan kartu yang siap dibagikan kepada pelajar dan mahasiswa yang belum sempat mendaftar,” katanya, Rabu (18/6/2025).

Kebijakan tarif gratis ini berlaku setiap hari sekolah dan hari perkuliahan aktif, namun tidak berlaku pada hari Minggu dan hari libur nasional.

Haris menjelaskan bahwa kebijakan ini disesuaikan dengan jam pendidikan agar efektif mendorong pelajar dan mahasiswa menggunakan transportasi publik.

Menurutnya dengan adanya program tersebut, berdampak pada peningkatan jumlah penumpang. Dari data yang ada, rata-rata jumlah penumpang harian BRT Trans Semarang berada di angka 32 ribu, menjadi 34 ribu setelah program ini berjalan.

“Kenaikan jumlah penumpang setelah adanya program ini sekitar 2 ribu penumpang perhari,”paparnya .

Haris mejelaskan, tingginya minat terhadap program ini mencerminkan kebutuhan akan transportasi publik yang terjangkau, aman, dan nyaman bagi pelajar.

Untuk mendukung program ini, BLU Trans Semarang telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota dan Provinsi untuk memastikan jumlah pelajar dan mahasiswa yang bisa dicover.

“Kuotanya masih banyak, kami harap pelajar dan mahasiswa untuk segera mendaftar agar tidak kehabisan kuota,” tambah dia.

Sementara untuk pelajar dan mahasiswa yang tidak berdomisili di Semarang atau bukan pemegang KTP Semarang tetap bisa menggunakan layanan BRT dengan tarif khusus sebesar Rp1.000.

“Untuk masyarakat umum, tarif tetap berlaku yakni Rp 4 ribu untuk pembayaran tunai dan Rp3.500 untuk pembayaran non-tunai,” pungkasnya.

Sebelumnya, Agustina berharap, melalui program tersebut, masyarakat dapat lebih antusias dalam menggunakan transportasi umum dan menekan angka kemacatan serta kecelakaan lalu lintas di Kota Semarang. (Adv)