Arsip Tag: Semarang Zoo

Tiket Khusus Semarang Zoo Sambut Hari Jadi Kota ke-479 dan May Day 2026

Lingkar.co – Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo memberikan harga tiket khusus untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) atau Hari Jadi Kota Semarang ke-479 dan Hari Buruh atau May Day 2026.

Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo mengatakan, pihaknya ikut merasa bangga atas perkembangan kota Semarang.

“Ini bentuk rasa syukur dan bangga atas perkembangan kota Semarang. Jadi dalam rangka HUT ko Kota Semarang 479 kita berikan harga tiket Rp15.000,” kata Bimo dalam siaran persnya, Minggu (12/5/2026).

Selanjutnya, harga tiket khusus Rp10.000 pada perayaan hari buruh atau May day yang biasa dilakukan setiap 1 Mei, “Untuk apresiasi terhadap kerja keras para buruh kita berikan harga tiket khusus Rp10.000 nanti pada tanggal 1 Mei, cukup menunjukkan kartu identitas sebagai karyawan,” ujarnya.

Saat ini sudah ada perbaikan kandang Kapibara dari Djarum Foundation, kandang Bintutong dari R-Zoo, toilet yang ada di depan Aves Garden dari BTN, serta paving depan loket dan area parkir dari PT Sango.

Pertukaran Satwa

Bimo juga menyampaikan kabar gembira terkait tugas konservasi. Yakni Sitatunga yang didatangkan dari Kebun Binatang Ragunan hasil tukar harimau benggala sat ini sudah beranak 1 ekor.

Pengunjung Semarang Zoo saat memberi makan Sitatunga. Foto: Rifqi/Lingkar.co
Pengunjung Semarang Zoo saat memberi makan Sitatunga.
Foto: Rifqi/Lingkar.co

Adapun program ini adalah satu kesatuan program tukar menukar satwa dengan Ragunan berupa; Pelikan, Orangutan betina, Kapibara dan Sitatunga sepasang harimau benggala dan orangutan jantan pada tahun lalu.

Pelikan dan orangutan, kata dia belum selesai proses administrasinya di Kemenhut,

“Semoga segera selesai dengan harapan orang utan jantan kita mendapatkan pasangan, pelikan menambah daya tarik wisata dan menjalankan fungsi konservasi urainya.

“Untuk Kapibara dan Sitatunga tidak termasuk satwa dilindungi di Indonesia. Jadi proses mendatangkannya lebih mudah,” sambungnya. (*)

Didatangkan dari Ragunan, Sitatunga Lahirkan Anak di Semarang Zoo

Lingkar.co – Kabar gembira bagi anak-anak yang senang melihat satwa di Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang, sepasang Sitatunga yang didatangkan dari Kebun Binatang Ragunan hasil tukar harimau benggala saat ini sudah beranak 1 ekor.

Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengatakan, sepasang Sitatunga yang berhasil beranak itu merupakan bagian dari paket pertukaran satwa dengan Kebun Binatang Ragunan.

“Pelikan, Orangutan betina, Kapibara dan Sitatunga sepasang harimau benggala dan orangutan jantan pada tahun lalu. Pelikan dan orangutan ini belum selesai proses administrasinya di BKSDA,” urainya saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, seekor orangutan jantan dan sepasang harimau benggala (Panthera Tigris Tigris atau Panthera Tigris Bengalensis) ditukar dengan sepasang Sitatunga, seekor Kapibara jantan dan dua ekor Kapibara betina, dan seekor orangutan betina.

“Itu paket pertukaran satwa. Kapibara dan Sitatunga tidak termasuk dilindungi di Indonesia. Jadi proses mendatangkannya lebih mudah,” sambungnya.

Pertukaran satwa itu, lanjutnya, merupakan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap lembaga konservasi, termasuk Semarang Zoo.

“Nanti kalau orangutan betina datang kan pejantan disini jadi dapat jodoh dan mudah-mudahan bisa berkembang biak. Tugas kita sebagai lembaga konservasi kan mengembangbiakkan dan kemudian dilepasliarkan,” jelasnya.

Restu, pengunjung asal Gubug, Kabupaten Grobogan mengaku senang bisa berinteraksi dengan satwa di Semarang Zoo. Ia datang bersama istri, ibu dan dua anaknya untuk berkeliling melihat-lihat koleksi satwa.

“Sudah beberapa kali kesini, ada perbaikan, ini jalurnya juga sudah baru, sudah tertata,” katanya.

“Pengen lihat singa, harimau tadi sudah di situ buaya juga sudah tadi di depan,” ujarnya.

Ia berharap Semarang Zoo bisa terus melakukan perbaikan dan menambah koleksi satwa. Terutama satwa yang dilindungi.

Pengennya lebih tertata lagi dan hewan-hewannya juga ditambah, pengen lihat singa, jerapah juga,” katanya. (*)

Wacana Aktivasi Halte Semarang Zoo Perlu Kajian, Ini Penjelasan Trans Semarang

Lingkar.co – Wacana mengaktifkan kembali halte di depan Semarang Zoo mendapat respons dari pengelola Trans Semarang. Pihak operator menyebut, kebijakan tersebut membutuhkan kajian ulang karena berbagai pertimbangan teknis dan operasional.

Keinginan wisatawan agar halte di depan Semarang Zoo kembali difungsikan untuk mempermudah akses transportasi belum bisa langsung direalisasikan.

Kepala BLUD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menjelaskan bahwa halte tersebut sebelumnya memang pernah beroperasi. Namun, seiring waktu, layanan dihentikan karena sejumlah pertimbangan.

“Dulunya memang aktif, tapi sekarang tidak karena ada beberapa pertimbangan yang kita lakukan,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, salah satu alasan utama adalah munculnya aktivitas angkutan tidak resmi yang memanfaatkan halte tersebut sebagai titik naik-turun penumpang.

“Dengan adanya halte ini, malah membuat adanya terminal bayangan di depan Semarang Zoo. Orang yang dari Semarang mau ke Kendal, tidak turun di terminal malah turun di terminal bayangan,” jelasnya.

Selain itu, faktor keselamatan dan teknis operasional juga menjadi pertimbangan penting. Haris menyebut perubahan infrastruktur, seperti keberadaan akses tol di wilayah Kaliwungu, turut memengaruhi pola pergerakan armada.

Sebelumnya, bus masih dapat melakukan putar balik di sekitar area barat kebun binatang. Namun kini, opsi tersebut dinilai tidak lagi aman karena berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Kalau diaktifkan, rekomendasinya bus juga harus muter di bawah flyover arteri Kaliwungu, membuat jarak tempuh semakin panjang sehingga mengeluarkan cost yang lebih besar,” katanya.

Sebagai alternatif, pihak Trans Semarang sempat menjajaki kerja sama dengan pengelola Semarang Zoo, termasuk rencana penyediaan layanan penghubung dari Terminal Mangkang hingga lokasi wisata.

Namun, hingga saat ini belum ada kelanjutan dari rencana tersebut.

“Dulu juga ada rencana kerja sama, misal perjalanan 10 kali menggunakan Trans Semarang bisa dapat diskon di Semarang Zoo. Nah ini belum ada pembahasan lagi,” ungkap Haris.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan halte tersebut kembali dioperasikan apabila ada kebutuhan yang kuat dari masyarakat. Namun, keputusan tersebut harus melalui kajian yang matang dan menyesuaikan kondisi terkini.

“Kalau difungsikan nanti ada kajian ulang agar tepat sasaran, karena dinamika sekarang tidak bisa disamakan dengan dulu,” pungkasnya. ***

Pengunjung Ingin Halte BRT Depan Semarang Zoo Kembali Berfungsi

Lingkar.co – Warga Kecamatan Pedurungan, Mega yang berkunjung ke Kebun Binatang Kota Semarang atau Semarang Zoo ingin halte Bus Rapid Transit (BRT Trans Semarang) kembar berfungsi.

“Kondisi kadang panas, kadang hujan. Kalau naik motor itu kan mudah. Kalau yang naik bis BRT itu agak susah,” katanya saat berkunjung ke Semarang Zoo, Minggu (5/4/2026).

Ia mengeluhkan BRT Trans Semarang yang membuat perjalanan ke Semarang Zoo tidak nyaman. Yakni terasa panas dan kehujanan ketika menyeberang jalan raya.

“Harus turun di terminal (Terminal Mangkang), gak ada yang turun langsung ke Semarang Zoo sini lho. Harusnya kan ada ya,” sambungnya

Ia berharap rute Semarang Zoo bisa sedikit bertambah untuk mempermudah bagi warga yang ingin berwisata di Semarang Zoo.

Harapannya ya titik berhenti BRT itu ada yang di depan Semarang Zoo sini. Jadi kan ,kita gak kepanasan kalau hujan juga gak kehujanan, lebih cepat,” ungkapnya.

Suasana Teduh dan Nyaman

Lainnya, Farida mengaku pernah berkunjung sekali ke Semarang Zoo sebelum ada sejumlah perbaikan, sebelum pandemi Covid-19.

Ia memilih untuk berkunjung ke taman satwa setelah masa liburan hari raya karena merasa tidak terlalu ramai. “Kalau pas liburan kemarin takutnya terlalu rame,” ucapnya.

Farida mengaku menikmati suasana bersama keluarga seperti di alam bebas, teduh, sejuk, damai dan tidak berisik, hanya sesekali terdengar suara aneka macam satwa.

“Baru kedua ini (setelah ada perbaikan). Lebih bagus dan asri, sejuk tempatnya,” kata IIk, sapaan akrabnya.

Pengunjung asli kota Semarang berharap Semarang Zoo terus berbenah dan berkembang pesat seperti kebun binatang di kota lain yang sudah populer.

“Ada perbaikan terus. Ya harapannya bisa seperti yang di kota-kota lain. Kan enak kalau di dalam kota sendiri, tidak usah jauh-jauh, lokasinya juga di pinggir jalan raya (Nasional dan dekat pintu tol Kalikangkung),” ujarnya.

Sambut Libur Lebaran 2026, Semarang Zoo Targetkan 60.000 Pengunjung

Lingkar.co – Semarang Zoo menargetkan sekitar 60.000 pengunjung selama libur Lebaran 1447 Hijrah/ 2026 dengan perkiraan puncak kunjungan terjadi pada 20 hingga 29 Maret 2026.

Direktur PT Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut lonjakan wisatawan selama musim liburan tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan program baru berupa Animal Show dengan konsep yang diperbarui.

Menurutnya, pertunjukan satwa tersebut akan memiliki durasi lebih lama dengan penambahan jenis satwa yang terlibat dalam atraksi. Program ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pengunjung yang datang ke kebun binatang tersebut.

“Animal Show ini nanti kita harapkan menjadi daya tarik wisata baru. Programnya juga baru, durasinya kita perlama, dan satwanya kita perbanyak,” ujarnya kepada BahteraJateng, Senin (16/3/2026).

Selain itu, pengelola juga menghadirkan area petting zoo yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan sejumlah satwa jinak. Area tersebut berada berdekatan dengan taman satwa utama sehingga memudahkan pengunjung untuk menjangkau keduanya.

Semarang Zoo juga tetap mengoperasikan sejumlah wahana yang telah ada sebelumnya, seperti kolam renang dan area pemandian anak. Untuk menambah pilihan wisata, pengelola menyediakan sistem tiket terusan dengan Taman Lalu Lintas Semarang yang lokasinya berdekatan.

Harga tiket masuk ke Semarang Zoo sebesar Rp30.000, sedangkan tiket masuk Taman Lalu Lintas Rp10.000. Pengunjung dapat membeli tiket secara terpisah maupun menggunakan tiket terusan.

Selain menyiapkan wahana baru, pengelola juga menghadirkan sejumlah promo selama libur Lebaran, di antaranya minuman gratis bagi pembeli tiket masuk serta berbagai hadiah bagi pengunjung yang menggunakan beberapa fasilitas di area wisata tersebut. (*)

Selama Bulan Ramadan, Semarang Zoo Beri Harga Tiket Khusus Pemancing Rp10 Ribu

Lingkar.co – Selama bulan Ramadan 1447 Hijriah/2026, PT Taman Satwa Semarang menghadirkan event mancing di danau Semarang Zoo dengan tiket khusus Rp10 ribu per orang. Dengan harga tersebut, pengunjung bebas membawa pulang ikan hasil tangkapan tanpa ditimbang.

Direktur PT Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan event ini menjadi salah satu agenda spesial Ramadan. Waktu memancing dibuka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

“Dengan harga tiket Rp10 ribu per orang, pengunjung bisa membawa ikan berbagai jenis yang ada di danau seperti ikan lele, bawal, mujair, nila, patin, dan gabus yang ukurannya cukup besar,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (22/2/2026).

Ia menyebut, pihaknya juga menambah stok ikan selama event berlangsung. Bahkan, beberapa ikan yang ada di danau di antaranya berukuran besar atau kerap disebut ikan monster.

“Jadi Rp10 ribu itu untuk event memancing aja, dengan pengunjung menunjukkan alat pancingnya. Untuk pengunjung umum yang bisa menikmati semua fasilitas tetap di harga normal Rp 25 ribu,” imbuhnya.

Adapun ketentuan memancing, pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan jala maupun alat setrum. Pemancing bebas membawa joran lebih dari satu serta menggunakan jenis umpan apa pun.

Menurut Bimo, akhir pekan menjadi waktu favorit dengan jumlah pemancing paling banyak. Sementara pada hari biasa, pengunjung berkisar puluhan orang.

“Selama Ramadan, manajemen Semarang Zoo menargetkan seribu pemancing,” katanya.

Salah satu pemancing, Zaenal, warga Rowosari Ngaliyan, mengaku rutin memancing di Semarang Zoo setiap Ramadan. Ia penasaran ingin kembali merasakan tarikan patin besar.

“Tahun lalu saya dapat patin sampai 9 kilogram lebih. Siapa tahu bisa dapat lagi,” katanya.

Meski hanya membawa pulang dua nila besar dan satu gabus, ia tetap menikmati suasana ngabuburit yang sejuk dan nyaman. (*)

Patuhi Surat Edaran Dirjen KSDAE No. 6 Tahun 2025, Tidak Ada Layanan Naik Gajah di Semarang Zoo

Lingkar.co – Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo tidak lagi memberikan layanan naik gajah bagi pengunjung. Hal ini merujuk pada Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi.

“Semarang Zoo dengan bangga mengumumkan bahwa lembaga konservasi kami telah melaksanakan sosialisasi serta mematuhi sepenuhnya,” kata Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2026).

Dijelaskan, keputusan tersebut ditetapkan dan ditandatangani pada 18 Desember 2025 oleh Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Surat edaran tersebut merupakan kebijakan nasional yang mengatur penghentian segala bentuk aktivitas tunggang gajah di lingkungan lembaga konservasi satwa, baik untuk tujuan komersial maupun non-komersial.

“Kebijakan ini bertujuan memperkuat prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) dan etika pengelolaan satwa liar di fasilitas konservasi di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Larangan ini, lanjutnya, telah menjadi pedoman penting bagi semua lembaga konservasi yang mengelola gajah, khususnya dalam upaya menjunjung tinggi standar perlindungan satwa dilindungi yang kondisinya rentan dan perlu perhatian ekstra.

Bimo menegaskan, Semarang Zoo mendukung implementasi kebijakan tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa.

“Kami secara formal telah menghentikan seluruh aktivitas tunggang gajah mulai tanggal 1 Januari 2026. Langkah ini menunjukkan dukungan penuh Semarang Zoo terhadap upaya pemerintah dan instansi konservasi dalam menciptakan lingkungan konservasi yang etis, bertanggung jawab, dan berfokus pada kesejahteraan satwa,” urainya.

Ia melanjutkan, keputusan tersebut juga sejalan dengan contoh implementasi kebijakan serupa yang dilakukan lembaga konservasi lain di Indonesia, yang telah menghentikan atraksi tunggang gajah demi prioritas kesejahteraan satwa serta pengembangan pengalaman edukatif bagi pengunjung.

Dengan tidak mengurangi pengalaman interaksi satwa dengan pengunjung, Semarang Zoo menerapkan beberapa kegiatan non-tunggang yang dinilai lebih edukatif, seperti Feeding Elephant (memberi makan Gajah) foto, animal education meliputi daily activity, daily treatment serta animal encounter.

Sebagai lembaga konservasi yang bertanggung jawab, Semarang Zoo terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan dan peraturan dilaksanakan secara konsisten dan transparan.

“Kami juga berkomitmen untuk mengembangkan kegiatan konservasi yang inovatif, ramah satwa, dan informatif bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (*)

Kembali ke Semarang Zoo, Bimo Ungkap Strategi Konservasi

Lingkar.co – Direktur PT Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengungkapkan, harimau benggala (Panthera Tigris Tigris) yang tersisa merupakan salah satu strategi konservasi.

Ia menjelaskan, semua harimau Semarang Zoo merupakan hasil pembiakan yang telah lama. Dengan demikian, butuh indukan atau pejantan baru agar anakan harimau tidak cacat dan berisiko mati sebelum dewasa.

“Jadi memang sengaja kita kosongkan kandangnya, kita tukar dengan beberapa satwa baru seperti kapibara, sitatunga dan sebagainya,” kata Bimo saat ditemui di kantornya, Rabu (28/1/2026).

Ia bilang, warna bulu harimau yang agak pucat atau putih merupakan faktor inbreeding sehingga bermasalah secara genetik. Selain itu, inbreeding atau perkawinan sedarah juga berpotensi pada cacat seperti jantung susah berkembang, tidak mau makan dan sebagainya.

Selain itu, lanjutnya, dirinya ingin Semarang Zoo juga memiliki spesies Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae). “Jadi memang sengaja kita kosongkan kandangnya. Nanti kita cari Harimau Sumatra untuk menambah koleksi satwa Semarang Zoo,” jelasnya.

Ia menilai, konservasi merupakan sebuah kewajiban dari semua lembaga konservasi. Oleh karena itu, pihaknya akan terus berupaya menyediakan kandang untuk mendatangkan satwa baru.

“Karena setiap lembaga konservasi punya kewajiban untuk mengembangbiakkan, jadi kita bisa minta dengan cara hibah atau tukar menukar satwa,” urainya.

Selain harimau, ia juga menyoroti nasib tiga ekor orangutan Kalimantan yang belum bisa dikembangbiakkan karena tidak ada betina di Semarang Zoo, “Nah, masih ada juga tiga orangutan jantan di sini, ini harus kita pikirkan jodohnya, kalau bisa yang dua ditukar dengan betina,” ungkapnya.

Terkait beredarnya kabar tak sedap di media sosial. Ia mengaku tidak mau mengambil pusing hal itu karena sebuah pekerjaan memiliki disiplin ilmu yang berbeda, “Kita kan bekerja pake ilmu. Jadi tidak perlu pusing memikirkan isu,” tegasnya. (*)

Bimo Kembali Jadi Direktur Semarang Zoo, Agustina Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan dalam Pengangkatan Direksi BUMD

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa seluruh proses pengangkatan direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kota Semarang dilakukan tanpa praktik jual beli jabatan.

Penegasan tersebut ia sampaikan saat pelantikan Direktur PT Taman Satwa Semarang (Perseroda), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso periode 2025–2029 di Balaikota Semarang, Senin (26/1/2026).

Agustina mengingatkan, jabatan Direktur PT Taman Satwa Semarang merupakan posisi strategis karena Semarang Zoo memiliki peran penting sebagai ruang rekreasi, edukasi, sekaligus kawasan konservasi satwa. Oleh karena itu, proses pengisiannya dilakukan secara hati-hati dan profesional.

“Proses pengisian jabatan ini dilaksanakan dengan sangat tertib, transparan, sesuai dengan ketentuan undang-undang. Saking hati-hatinya jadi lama,” ujarnya.

Agustina secara terbuka menanggapi isu terkait dugaan adanya transaksi dalam pengangkatan jabatan. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak dibenarkan dalam kepemimpinannya.

“Di Kota Semarang ini penting untuk disampaikan tidak boleh, tidak ada, dan bahkan dipikirkan pun tidak,” tegas Agustina.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa dalam kepemimpinannya, seluruh pengisian jabatan dilakukan dengan orientasi kerja bersama untuk kepentingan Kota Semarang, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan sumber daya manusia di lingkungan Pemerintah Kota Semarang.

Menurutnya, untuk menjaga integritas pengambilan keputusan strategis, Pemerintah Kota Semarang menerapkan pendekatan kehati-hatian. “Kita akan mencoba secret action and silence untuk semua hal yang bersifat strategis dan memiliki potensi untuk dimainkan oleh orang-orang yang tidak pernah berjalan,” katanya.

Agustina juga menjelaskan bahwa rangkaian seleksi melibatkan panitia dari luar serta lembaga independen yang memiliki integritas dan kepakaran, hingga akhirnya menetapkan direktur terpilih. Keputusan tersebut, kata dia, merupakan hasil kesepakatan bersama dan dilakukan secara transparan.

Wali kota juga berpesan agar pengelolaan Semarang Zoo difokuskan sebagai ruang edukasi, konservasi, dan rekreasi yang profesional dan berkelanjutan, dengan peningkatan kualitas pelayanan, kesejahteraan satwa, serta inovasi wahana ramah anak dan keluarga. Ia juga mendorong pengembangan kawasan yang lebih alamiah melalui penataan sederhana namun edukatif untuk memperkuat pengalaman belajar, rekreasi, dan fungsi konservasi.

Sementara itu, Direktur PT Taman Satwa Semarang (Perseroda) Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pengelolaan Semarang Zoo. “Taman satwa ini harus naik kelas, karena sekarang ini kan hasil audit dari kementerian kehutanan nilai kita kan C, nah nanti akan bertahap menjadi B kemudian menjadi A,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan fungsi konservasi, edukasi, dan rekreasi akan menjadi fokusb utama, termasuk persiapan menghadapi libur Lebaran serta penguatan program kesejahteraan satwa di Semarang Zoo. (*)

Semarang Zoo Tak Targetkan Jumlah Pengunjung Libur Nataru 2025-2026

Lingkar.co – PT Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo tidak menargetkan penjualan tiket atau jumlah pengunjung, melainkan total pendapatan dari tiket, wahana permainan hingga penjualan produk kerja sama.

“Target bukan jumlah tiket tapi pendapatan rupiah, yaitu Rp600 juta,” kata Manajer Pemasaran sekaligus Plt Direktur Semarang Zoo, Swandito Widyotomo saat dikonfirmasi wartawan, Senin (29/12/2025).

Angka tersebut, kata dia, sebagaimana evaluasi bersama semasa direktur masih dijabat oleh Bimo Wahyu Widodo, “Jadi posisi saya hanya melanjutkan yang sudah berjalan sekaligus mengawal sampai sudah ada direktur yang baru,” jelasnya.

Ia menjelaskan, target jumlah pengunjung hanya berkaitan dengan penjualan tiket, sementara target nominal pendapatan berkaitan dengan total penjualan, dari tiket, water boom, kereta mini, dan beberapa produk minuman dan makanan ringan yang telah menjalin kemitraan.

Di lain sisi, manajemen Semarang Zoo juga memperhatikan cuaca ekstrem dan posisi Semarang Zoo yang ada di batas kota Semarang dengan kabupaten Kendal. Hal itu tentu berbeda dengan jika berada di tengah-tengah kota Semarang.

“Jadi target ini lebih realistis daripada tiket karena faktor cuaca dan lokasi tidak di tengah kota,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, Semarang Zoo sebagai wisata berbasis konservasi juga lebih menekankan edukasi tentang satwa, baik satwa peliharaan maupun satwa liar, “Semarang Zoo penekanan wisatanya ya wisata edukasi, dari program interaksi satwa di sini, pengunjung bisa belajar sehingga tahu dengan benar bagaimana cara merawat satwa yang mereka miliki di rumah,” urainya.

Sementara, Koordinator Marketing, drh. Nico Setiawan mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung pada momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 mengalami peningkatan sekitar 3 persen dari pengunjung saat libur natal tahun 2024.

Para pengunjung saat memasuki Semarang Zoo. Foto: Rifqi/Lingkar.co
Para pengunjung saat memasuki Semarang Zoo. Foto: Rifqi/Lingkar.co

“Ada peningkatan sekitar 2 atau 3 persen. Jadi kecuali hari Jum’at kemarin, rata-rata setiap hari bisa sampai 1.000 pengunjung, kalau natal tahun kemarin naik turun dari 800an sampai 1.000an pengunjung setiap hari,” jelasnya.

Rangkaian Kegiatan

Niko lantas menguraikan, Taman Satwa Semarang telah menyiapkan rangkaian kegiatan padat selama masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Pertama, pada Kamis (25/12) pukul 10.00–15.00 WIB, Semarang Zoo menampilkan Kaoka Band dan Balarama di Panggung Plaza. Kemudian berlanjut pada Jum’at (26/12), dengan jadwal berlapis mulai pukul 10.00 hingga 15.30 WIB, menghadirkan Kyoday, Fugato Band, dan Synfive.

Selanjutnya pada Sabtu, (27/12), pengunjung kembali dimanjakan dengan pertunjukan Gasada Band dan Sudden Band di Panggung Plaza, disusul pada hari Minggu (28/12), pengunjung disuguhi penampilan seni budaya seperti Kagama Beksan Semarang, Kids Project, dan Manahati Tari, yang menonjolkan nilai edukasi, kreativitas anak, serta pelestarian seni tradisi.