Iklan

Derasnya Arus Informasi Menyebabkan Percepatan Perubahan Sosial dan Peningkatan Paham radikal, Keluarga Jadi Benteng Moderasi

Inti berita

Lingkar.co, Di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan sosial yang cepat, keluarga dan tokoh agama tetap menjadi pilar utama dalam menjaga…

Derasnya Arus Informasi Menyebabkan Percepatan Perubahan Sosial dan Peningkatan Paham radikal, Keluarga Jadi Benteng Moderasi
Foto : Suasana deseminasi zoom Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025 yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah.

Di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan sosial yang cepat, keluarga dan tokoh agama tetap menjadi pilar utama dalam menjaga masyarakat dari pengaruh paham radikal. Temuan ini mengemuka dalam Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025 yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah.

Hasil survei menunjukkan bahwa 65,5 persen masyarakat masih menjadikan tokoh agama sebagai sumber utama dalam memperoleh pemahaman keagamaan. Sementara itu, 33,8 persen lainnya menempatkan keluarga, terutama orang tua, sebagai rujukan penting dalam membentuk nilai dan cara pandang hidup.

Data ini menjadi penegas bahwa di tengah modernisasi dan digitalisasi, kekuatan relasi sosial paling mendasar masih memegang peran penting dalam membangun ketahanan masyarakat.

Ketua FKPT Jawa Tengah, Dr. Hamidulloh Ibda, menyebut keluarga adalah sekolah pertama dalam membentuk karakter moderat, sementara tokoh agama menjadi penuntun moral yang menentukan arah pemahaman masyarakat.

“Kalau keluarga kuat dan tokoh agama memberikan panduan yang sejuk, maka masyarakat akan lebih tahan terhadap infiltrasi paham yang menyimpang,” katanya.

Survei IPR 2025 sendiri mencatat penurunan indeks dari 11,4 pada 2024 menjadi 10,9 tahun ini. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa ikhtiar kolektif dalam pencegahan radikalisme mulai membuahkan hasil.

Namun, menurut Ibda, tantangan masih tetap ada. Dimensi tindakan memang sangat rendah, hanya 0,4, tetapi dimensi pemahaman masih berada di angka 11,3, dan dimensi sikap mencapai 20,9.

Artinya, masyarakat Jawa Tengah relatif aman dari tindakan radikal secara langsung, tetapi pekerjaan besar masih tersisa dalam membangun cara berpikir yang inklusif dan sikap yang menghargai perbedaan.

Dalam konteks ini, keluarga memiliki posisi strategis sebagai filter pertama terhadap informasi yang diterima anak-anak, terutama di era digital. Begitu pula tokoh agama, yang kini dituntut lebih aktif menghadirkan dakwah yang menenangkan dan mencerahkan.

Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen TNI Dr. Sigit Karyadi, menegaskan bahwa pencegahan radikalisme harus dimulai dari unit terkecil masyarakat. Menurutnya, ketahanan keluarga menjadi pondasi utama bagi ketahanan bangsa.

“Pencegahan yang paling efektif adalah yang dimulai dari rumah, lalu diperkuat oleh lingkungan sosial dan pendidikan,” ujarnya.

FKPT Jawa Tengah pun berkomitmen memperluas sinergi dengan organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, lembaga pendidikan, serta komunitas masyarakat untuk memperkuat ekosistem moderasi beragama berbasis keluarga dan komunitas.

Di tengah perubahan zaman, Jawa Tengah ingin menegaskan satu hal: melawan radikalisme tidak selalu dimulai dengan kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari meja makan keluarga, ruang belajar anak, dan mimbar-mimbar keagamaan yang mengajarkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan persaudaraan.

Sebab ketika keluarga dan tokoh agama berdiri kokoh, akar toleransi akan tumbuh semakin kuat.

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu