Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 diproyeksikan menjadi momentum besar bagi pelaku usaha, khususnya UMKM di Jawa Tengah, untuk naik kelas dan memperluas jangkauan pasar hingga mancanegara. Melalui ajang ini, pemerintah membuka peluang lebih luas agar produk-produk lokal dapat menembus pasar ekspor dan memperkuat posisi Indonesia di perdagangan global.
Komitmen itu ditegaskan Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) saat menggelar sosialisasi TEI 2026 bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Selasa (30/6/2026).
TEI ke-41 yang akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, disebut bukan sekadar pameran dagang, tetapi ruang strategis untuk mempertemukan pelaku usaha nasional dengan pembeli dan investor internasional.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, July Emmylia, menilai ajang ini menjadi kesempatan penting bagi pelaku usaha daerah untuk menunjukkan kualitas produknya ke pasar global.
Menurutnya, Jawa Tengah memiliki banyak komoditas unggulan yang potensial, mulai dari furnitur, fesyen, makanan olahan, hingga produk kreatif lainnya. Potensi itu terus diperkuat melalui berbagai program pembinaan ekspor.
“Pendampingan ekspor, business matching, hingga fasilitasi Surat Keterangan Asal terus kami lakukan agar pelaku usaha semakin siap bersaing di pasar internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak 2011 Disperindag Jawa Tengah telah membina 56 mitra usaha melalui berbagai program dengan dukungan APBN maupun non-APBN sebagai upaya membangun kapasitas eksportir baru.
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Ari Satria, mengungkapkan Jawa Tengah saat ini masuk dalam jajaran sepuluh besar daerah pengekspor di Indonesia. Capaian itu menunjukkan kekuatan daerah ini dalam menopang perdagangan nasional.
Pada TEI sebelumnya, potensi transaksi dari Jawa Tengah mencapai USD 18,4 miliar. Sektor furnitur menjadi penyumbang terbesar dengan nilai lebih dari USD 700 juta, disusul sektor fesyen yang menyentuh USD 56 juta.
“Tahun ini kami menargetkan sekitar 8.000 buyer dari berbagai negara hadir di TEI 2026. Ini peluang emas bagi pelaku usaha untuk membuka akses pasar yang lebih luas,” kata Ari.
Untuk mendukung target tersebut, Kemendag menggandeng Atase Perdagangan, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Kementerian Luar Negeri, hingga perwakilan RI di luar negeri guna memperluas jangkauan promosi.
Sementara itu, PT Debindo Multi Adhiswasti selaku penyelenggara menegaskan TEI juga memiliki daya tarik besar di sektor investasi. Pada penyelenggaraan sebelumnya, investasi berkontribusi sekitar 19 persen dari total potensi transaksi dengan nilai mencapai USD 43,7 juta.
Pada TEI 2026 mendatang, produk-produk unggulan Indonesia akan dibagi dalam zona tematik seperti Food and Beverage Products dan Manufacturing, sehingga memudahkan buyer internasional menemukan potensi bisnis yang sesuai.
Melalui TEI 2026, pemerintah berharap semakin banyak UMKM Jawa Tengah berani melangkah ke pasar ekspor, membangun kemitraan global, dan membawa produk lokal menjadi kebanggaan di panggung dunia.