Didukung Dana Indonesiana dan LPDP, Senandung Tiga Arah Suarakan Toleransi dari Semarang

Inti berita

Lingkar.co – Kekayaan akulturasi budaya yang tumbuh di Kota Semarang menjadi inspirasi lahirnya pertunjukan drama musikal berjudul “Senandung Tiga Arah” yang…

Didukung Dana Indonesiana dan LPDP, Senandung Tiga Arah Suarakan Toleransi dari Semarang
Drama musikal Senandung Tiga Arah karya Dionisius Wahyu Anggara Aji dipentaskan di TBRS Semarang. (dok Istimewa)
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co – Kekayaan akulturasi budaya yang tumbuh di Kota Semarang menjadi inspirasi lahirnya pertunjukan drama musikal berjudul “Senandung Tiga Arah” yang dipentaskan di Gedung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kamis (18/6/2026).

Karya yang digagas Dionisius Wahyu Anggara Aji, penerima bantuan Dana Indonesiana atau Dana Indonesia Raya yang didukung LPDP dan Kementerian Kebudayaan RI tersebut mengangkat tema pemajuan kebudayaan yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan.

Sutradara sekaligus penggagas pertunjukan, Dionisius Wahyu Anggara Aji, mengatakan karya tersebut lahir dari realitas Kota Semarang yang selama berabad-abad menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, mulai Jawa, Tionghoa, hingga Arab.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Menurutnya, keberagaman tersebut tidak hanya tercermin dalam bangunan bersejarah atau tradisi masyarakat, tetapi juga membentuk identitas kota yang hidup hingga saat ini.

“Semarang memiliki sejarah akulturasi yang sangat kuat. Melalui pertunjukan ini kami ingin mengajak masyarakat, terutama generasi muda, melihat bahwa perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, melainkan kekuatan yang dapat melahirkan harmoni,” ujarnya.

Drama musikal “Senandung Tiga Arah” memadukan unsur teater, tari, musik, serta visual panggung dalam satu pertunjukan yang mengisahkan perjalanan sejumlah pemuda dari latar budaya berbeda. Mereka digambarkan belajar membuka ruang dialog, mengikis prasangka, dan membangun persahabatan melalui proses saling memahami.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Dionisius menjelaskan, karya tersebut menjadi media untuk menyampaikan pesan toleransi dengan pendekatan yang lebih dekat kepada masyarakat.

“Keberagaman bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk didengarkan. Ketika ada ruang saling mendengar dan memahami, di situlah harmoni dapat tumbuh,” katanya.

Selain menjadi ruang ekspresi kreatif bagi pelaku seni, pertunjukan ini juga diharapkan mampu memperkuat kebanggaan terhadap identitas budaya lokal, khususnya di kalangan generasi muda.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Melalui kolaborasi berbagai komunitas seni dan pelaku budaya di Semarang, “Senandung Tiga Arah” menghadirkan perpaduan seni pertunjukan yang merefleksikan wajah multikultural Kota Semarang.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Semarang sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman budaya sekaligus memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis kebudayaan.

Dionisius berharap pesan yang dibawa dalam pertunjukan tersebut tidak berhenti di atas panggung, tetapi dapat menjadi refleksi bagi masyarakat untuk terus merawat toleransi dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

“Budaya tidak hanya diwariskan, tetapi harus terus dirawat dan dihidupkan. Semoga karya ini menjadi salah satu ruang untuk memperkuat semangat itu,” pungkasnya. ***

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Rekomendasi untuk kamu