Lingkar.co, Upaya memperkuat peran perempuan penghayat kepercayaan di Jawa Tengah kini tidak hanya berfokus pada pelestarian nilai spiritual dan budaya, tetapi juga diarahkan pada penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Melalui kegiatan bertema Merawat Tradisi, Menjaga Bumi, para perempuan penghayat didorong untuk menjadikan warisan budaya dan ajaran leluhur sebagai modal sosial dalam membangun usaha mandiri yang berkelanjutan.
Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan antara pelaku komunitas, akademisi, dan pemerhati budaya, guna merumuskan langkah konkret dalam membangun kemandirian ekonomi tanpa kehilangan identitas.
Dalam kegiatan itu, isu pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu sorotan utama. Penguatan kelompok usaha dan strategi pemasaran dinilai menjadi langkah penting agar produk-produk yang lahir dari komunitas penghayat mampu bersaing di tengah pasar yang semakin kompetitif.
Ketua organisasi perempuan penghayat di Jawa Tengah menilai bahwa kekuatan ekonomi bukan hanya soal peningkatan pendapatan, tetapi juga cara mempertahankan eksistensi komunitas di tengah perubahan sosial.
Menurutnya, komunitas penghayat perlu memiliki daya tahan ekonomi agar tidak mudah tergerus zaman, namun tetap menjaga prinsip hidup yang diwariskan secara turun-temurun.
Di sisi lain, para narasumber menekankan bahwa tradisi dan spiritualitas memiliki posisi penting dalam membangun karakter usaha. Nilai-nilai seperti keselarasan, tanggung jawab terhadap alam, dan etika dalam bekerja disebut sebagai pembeda yang dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi pelaku usaha dari komunitas penghayat.
Salah satu pemateri menegaskan bahwa dalam kultur Jawa, aktivitas ekonomi sejatinya tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkaitan dengan laku hidup dan kesadaran spiritual.
Perspektif ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan usaha tidak semata diukur dari keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang diberikan bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan budaya.
Melalui pendekatan tersebut, perempuan penghayat di Jawa Tengah kini mulai memosisikan diri bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi berbasis nilai. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan tradisi tetap hidup, lingkungan tetap terjaga, dan kesejahteraan komunitas terus tumbuh di masa depan.