Tantangan Pemkot Bandung; Tak Punya Kawasan Pertanian, Jumlah Wisatawan Meningkat Tajam

Inti berita

Lingkar.co - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui tantangan Pemerintah Kota Bandung hingga saat ini tak memiliki kawasan pertanian yang luas, sementara…

Tantangan Pemkot Bandung; Tak Punya Kawasan Pertanian, Jumlah Wisatawan Meningkat Tajam
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Foto: dokumentasi
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui tantangan Pemerintah Kota Bandung hingga saat ini tak memiliki kawasan pertanian yang luas, sementara kunjungan wisatawan meningkat tajam. Dengan demikian, hampir seluruh kebutuhan pangan dipasok dari berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, keberadaan jaringan distribusi menjadi faktor paling penting dalam menjaga stabilitas pasokan maupun harga bahan pokok.

"Kota Bandung memang belum punya lumbung pangan. Kita sangat mengandalkan dua pasar induk, yaitu Gedebage dan Caringin, ditambah Bulog serta pasar-pasar besar lainnya," kata Farhan di Balai Kota Bandung, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, dua pasar induk tersebut menjadi pintu utama masuknya komoditas pangan dari sedikitnya 16 provinsi di Indonesia. 

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Berbagai kebutuhan pokok mulai dari beras, sayuran, buah-buahan, daging hingga bahan pangan lainnya didistribusikan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 2,5 juta penduduk Kota Bandung, ditambah jutaan wisatawan yang datang setiap tahunnya.

BACA JUGA: Hidupkan Kembali Pasar Johar

Selain dua pasar induk tersebut, distribusi pangan juga diperkuat oleh sejumlah pasar besar yang memiliki spesialisasi komoditas. Pasar Ciroyom menjadi pusat distribusi daging segar dan ikan, sedangkan Pasar Andir, Kosambi, Sederhana hingga Pasar Baru berfungsi sebagai pasar sekunder yang memasok kebutuhan sayuran dan komoditas lainnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Sedangkan Bulog, lanjutnya, memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pangan Kota Bandung. Sekitar 30 persen kebutuhan beras, minyak goreng, gula pasir, dan terigu dipenuhi melalui distribusi Bulog. Sisanya dipenuhi melalui mekanisme pasar yang selama ini berjalan cukup baik.

BACA JUGA: Pemkot Tetapkan Pengelola Baru Bandung Zoo

"Selama distribusi berlangsung lancar, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan pangan. Meski demikian, Pemerintah Kota Bandung mulai memikirkan langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan daerah," ujarnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Salah satu opsi yang sedang dikaji ialah membangun skema kerja sama dengan daerah penghasil pangan melalui penyewaan lahan produksi, sebagaimana telah diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Farhan menjelaskan, Jakarta memiliki kontrak jangka panjang dengan sejumlah daerah penghasil komoditas tertentu. Beras dipasok dari Kabupaten Subang, sedangkan kebutuhan daging sapi dipenuhi melalui kerja sama dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Namun, menurutnya, konsep tersebut belum tentu dapat langsung diterapkan di Kota Bandung tanpa kajian yang matang. Ia tidak ingin sudah mengontrak lahan dengan biaya besar, ternyata kebutuhan itu masih bisa dipenuhi oleh mekanisme pasar.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

BACA JUGA: Menteri Pertanian Pastikan Indonesia Tidak Impor Beras

Pemkot Bandung butuh analisis terhadap jenis komoditas, volume kebutuhan masyarakat, efektivitas distribusi, hingga efisiensi anggaran apabila kerja sama tersebut benar-benar direalisasikan.

Pengendalian Inflasi 

Selain memperkuat pasokan, pemerintah juga terus melakukan pengendalian inflasi melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, Bank Indonesia, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Menurutnya, pengendalian inflasi di Kota Bandung pada dasarnya bukan hanya berkaitan dengan harga barang, tetapi lebih kepada memastikan distribusi pangan tetap berjalan lancar.

"Kalau Bandung, kuncinya itu suplai dan distribusi. Selama distribusi lancar, kebutuhan masyarakat tetap bisa dipenuhi," paparnya.

Ia mengakui laju inflasi Kota Bandung sempat menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Barat. Namun kondisi tersebut bukan disebabkan menurunnya produksi pangan, melainkan meningkatnya permintaan secara signifikan.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

BACA JUGA: Pemkab Cilacap Antisipasi Dampak Inflasi

Ia menyebut sejak akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Bandung meningkat tajam. Kondisi itu berdampak langsung terhadap kebutuhan pangan, terutama untuk memenuhi permintaan sektor kuliner, hotel, restoran, dan industri pariwisata.

"Ketika wisatawan meningkat, otomatis kebutuhan bahan pangan juga meningkat. Harga di pasar tidak bisa dibedakan antara yang dibeli masyarakat dengan yang dibeli restoran. Akibatnya harga ikut naik," jelasnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Ia menilai tantangan terbesar Kota Bandung ke depan bukan lagi sekadar menjaga stok pangan, tetapi meningkatkan suplai agar mampu mengimbangi pertumbuhan sektor pariwisata yang terus berkembang.

Selain faktor permintaan, ia juga menyoroti ancaman perubahan iklim yang mulai dirasakan terhadap pasokan dan harga sejumlah komoditas, terutama sayuran jika musim kemarau berkepanjangan dapat mengurangi produksi sayuran dari daerah pemasok. Sementara stok beras relatif aman karena Bulog memiliki cadangan yang cukup melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

BACA JUGA: Harga BBM Melambung

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Ia menjelaskan terdapat tiga kategori beras yang beredar di pasaran, yakni beras SPHP, beras premium, dan beras khusus. Permasalahan selama ini lebih banyak terjadi pada beras premium karena permintaannya paling tinggi.

"Ketersediaan beras sebenarnya ada. Yang sering menjadi masalah adalah beras premium karena permintaannya tinggi. Ini yang kadang dimanfaatkan spekulan dengan cara menimbun barang untuk dijual kembali saat harga naik," katanya.

Karena itu, Farhan menilai, pengawasan terhadap praktik penimbunan menjadi salah satu fokus pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Ia berharap sinergi antara pemerintah, Bulog, pelaku usaha, distributor, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga ketahanan pangan Kota Bandung tetap terjaga meski menghadapi tantangan perubahan iklim, pertumbuhan jumlah penduduk, serta meningkatnya aktivitas pariwisata. (*)

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu