Nama KH Abdul Ghofar Rozin atau Gus Rozin semakin menarik dalam peta kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 NU.
Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, yang kini menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah, dinilai memiliki modal organisasi dan jaringan pesantren yang cukup kuat untuk menempati posisi strategis di tingkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tokoh Muda NU Jawa Tengah, H. Husein Ali menilai, Gus Rozin merupakan salah satu kader yang memiliki kombinasi pengalaman organisasi, kapasitas kepemimpinan, jaringan pesantren, serta kemampuan menjembatani kepentingan keumatan dengan persoalan kebangsaan.
Penilaian tersebut menjadi penting karena posisi Sekretaris Jenderal PBNU bukan sekadar jabatan administratif.
Bagi Husein, Sekjen merupakan salah satu simpul utama yang menentukan efektivitas kerja organisasi sehari-hari, menerjemahkan keputusan kepemimpinan ke dalam program, sekaligus menjaga komunikasi antara PBNU, PWNU, PCNU hingga badan otonom dan lembaga-lembaga NU.
"Dalam konteks itu, Gus Rozin mempunyai rekam jejak yang relatif panjang. Kombinasi pengalaman organisasi, kapasitas kepemimpinan, jaringan pesantren, serta kemampuan menjembatani kepentingan keumatan dengan persoalan kebangsaan menjadi penting karena posisi Sekretaris Jenderal PBNU bukan sekadar jabatan administratif," ujar Husein, Kamis (10/9/2026).
Gus Rozim tercatat pernah aktif di PP IPNU pada 1998-2001, Departemen Hubungan Luar Negeri PP GP Ansor pada 2000-2004, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU pada 2010-2013, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah pada 2013-2015, Ketua RMI PBNU pada 2015-2021, serta tercatat sebagai Katib Syuriyah PBNU masa khidmah 2022-2027.
Jejak tersebut memperlihatkan bahwa Gus Rozin bukan figur yang baru muncul dalam dinamika PBNU.
"Kaderisasi Gus Rozin aangat lengkap. Beliau telah melewati sejumlah jenjang pengabdian, mulai dari organisasi kader, pendidikan, pesantren, hingga struktur kepengurusan NU di tingkat pusat," tutur Husein.
Modal Besar dari Jawa Tengah
Salah satu kekuatan terbesar Gus Rozin adalah pengalamannya memimpin PWNU Jawa Tengah.
Ia terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah masa khidmah 2024-2029 setelah memperoleh 18 suara dalam pemilihan Konferwil XVI NU. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Gus Rozin memiliki basis kepercayaan organisasi yang cukup kuat di salah satu wilayah dengan populasi pesantren dan warga Nahdliyin terbesar di Indonesia.
Bagi Husein, Jawa Tengah bukan sekadar wilayah administratif bagi NU. Provinsi ini merupakan salah satu episentrum tradisi pesantren, pendidikan Islam, kaderisasi ulama dan jaringan Nahdliyin.
"Data yang disampaikan dalam forum RMI PWNU Jawa Tengah menyebut terdapat sekitar 5.231 pesantren dengan hampir 2 juta santri di Jawa Tengah," jelas Hussein.
Karena itu, bagi Husein, pengalaman Gus Rozin mengelola NU di Jawa Tengah memberikan modal yang berbeda dibanding sekadar pengalaman struktural di PBNU.
"Beliau (Gus Rozin) berhadapan langsung dengan kompleksitas organisasi di tingkat wilayah: pesantren salaf, pesantren modern, madrasah, badan otonom, organisasi kepemudaan, hingga jaringan kiai dan masyarakat akar rumput," beber Hussein.
Oleh sebab itu, Husein yakin modal semacam ini menjadi relevan apabila seseorang diproyeksikan menduduki posisi Sekjen PBNU.
Jaringan Pesantren Menjadi Kekuatan Strategis
Gus Rozin juga mempunyai keuntungan dari garis genealogis pesantren. Ia merupakan putra KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal. Sejak kecil tumbuh dalam lingkungan pesantren Kajen dan kemudian menjadi pengasuh Pesantren Maslakul Huda.
Warisan intelektual dan sosial KH Sahal Mahfudh memberi Gus Rozin akses sekaligus kedekatan dengan tradisi pesantren yang tidak hanya menempatkan NU sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan masyarakat sipil.
Pengalaman Gus Rozin di RMI semakin memperkuat posisi tersebut. Ketika memimpin RMI PBNU, fokusnya tidak berhenti pada pengelolaan kelembagaan pesantren, tetapi juga pada isu pendidikan, kaderisasi, profesionalisasi, serta hubungan pesantren dengan negara.
Husein mengungkapkan, sebagai Ketua Majelis Masyayikh, Gus Rozin terlibat langsung dalam isu strategis terkait posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional.
"Dalam sidang Mahkamah Konstitusi pada 2026, Gus Rozin menyampaikan argumentasi mengenai tanggung jawab negara terhadap pendanaan pesantren," tandasnya.
Ini menunjukkan bahwa spektrum perjuangannya telah bergerak dari persoalan internal pesantren menuju kebijakan publik.
Seberapa Besar Peluang Menjadi Sekjen PBNU?
Jika diukur dari rekam jejak, Gus Rozin memiliki modal yang sangat kuat untuk dipertimbangkan sebagai Sekretaris Jenderal PBNU.
Husein menyebut Gus Rozin punya lima modal utama untuk mengemban amanat sebagai Sekjen PBNU.
Pertama, modal struktural. Ia pernah berada di sejumlah posisi penting dalam struktur NU dari tingkat bawah hingga pusat.
Kedua, modal pesantren. Posisi sebagai pengasuh Maslakul Huda sekaligus mantan Ketua RMI PBNU membuat jejaringnya tidak hanya berada di lingkungan birokrasi organisasi, tetapi juga di kalangan kiai dan pesantren.
Ketiga, modal Jawa Tengah. Memimpin PWNU Jawa Tengah berarti berhadapan dengan salah satu basis massa NU paling besar dan paling berpengaruh.
Keempat, modal intelektual dan kebijakan publik. Pengalaman dalam isu pesantren, pendidikan, organisasi dan kebangsaan memberi Gus Rozin kapasitas untuk berbicara dengan berbagai kelompok.
Kelima, modal jejaring politik-kebangsaan. Latar belakang keluarga dan lingkungan pesantrennya, pengalaman di organisasi kepemudaan, serta keterlibatannya dalam isu-isu kebijakan publik membuat ruang komunikasinya relatif luas.
Namun, jejaring politik di sini perlu dibaca sebagai kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kekuatan kebangsaan, bukan otomatis berarti Gus Rozin merupakan representasi partai politik tertentu.
Justru posisi tersebut dapat menjadi keunggulan apabila NU ke depan ingin memperkuat independensi organisasi sekaligus tetap memiliki kemampuan berkomunikasi dengan negara dan seluruh kekuatan politik.
Dengan kata lain, Gus Rozin mempunyai karakter "cukup dekat untuk berkomunikasi, tetapi mempunyai basis pesantren yang cukup kuat untuk menjaga jarak organisasi."
Sekjen dengan Gaya "Penghubung"
"Jika Gus Rozin benar-benar masuk ke posisi Sekjen PBNU, wajah organisasi kemungkinan akan lebih menonjolkan fungsi konsolidasi," tegas Husein.
Namun Husein memperingatkan, Sekjen bukanlah figur yang bekerja sendirian. Ia harus mampu menghubungkan Rais Aam, Ketua Umum, jajaran Syuriyah-Tanfidziyah, PWNU, PCNU, badan otonom, lembaga, pesantren dan kelompok-kelompok strategis lainnya.
"Dalam konteks tersebut, pengalaman Gus Rozin di berbagai ruang organisasi menjadi modal penting," tegas Husein lagi.
Husein memberi garis besar bahwa Gus Rozin memahami bahasa pesantren, tetapi juga terbiasa memasuki ruang birokrasi dan kebijakan publik. Selain itu, Gus Rozin memahami kultur organisasi kader, tetapi juga memiliki pengalaman memimpin struktur NU. Kemudian mempunyai basis Jawa Tengah, tetapi pernah bekerja dalam struktur nasional.
"Kombinasi inilah yang membuat kemungkinan Gus Rozin menjadi Sekjen PBNU menarik untuk dibaca," tutur Husein.
Bagaimana Wajah NU Jika Gus Rozin Menjadi Sekjen?
Jika skenario tersebut terjadi, NU berpotensi menghadapi perubahan orientasi kerja yang lebih konsolidatif, institusional dan berbasis pesantren.
Husein membeberkan, akan ada 4 perubahan besar jika Gus Rozin jadi Sekjen PBNU.
Pertama, hubungan PBNU dengan pesantren kemungkinan semakin diperkuat.
Pengalaman Gus Rozin di RMI dan Majelis Masyayikh dapat mendorong pesantren ditempatkan bukan hanya sebagai objek program NU, tetapi sebagai salah satu pusat kekuatan strategis organisasi.
Kedua, isu pendidikan pesantren berpotensi semakin menonjol.
Perhatian terhadap kualitas pendidikan, tata kelola, kaderisasi ulama, profesionalisasi pesantren dan hubungan pesantren dengan negara dapat menjadi agenda besar.
Ketiga, PBNU berpotensi semakin aktif memasuki ruang kebijakan publik.
Gus Rozin menunjukkan kecenderungan membawa persoalan pesantren ke ruang kebijakan dan hukum. Perannya dalam isu UU Pesantren dan pengujian di Mahkamah Konstitusi menjadi salah satu contoh.
Keempat, konsolidasi organisasi kemungkinan menjadi pekerjaan utama.
"NU memiliki struktur yang sangat besar. Tantangannya bukan sekadar membuat program, tetapi memastikan program PBNU benar-benar turun sampai PWNU dan PCNU," tuturnya.
"Di sinilah posisi Sekjen menjadi sangat menentukan," tegasnya.
Tantangan Besar
Potensi besar bukan berarti tanpa risiko. Posisi Sekjen PBNU membutuhkan kemampuan mengelola banyak kepentingan sekaligus. Semakin besar jaringan seorang kader, semakin besar pula ekspektasi dari berbagai kelompok terhadap dirinya.
"Gus Rozin juga akan menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara kepentingan pesantren, struktur organisasi, badan otonom, kelompok profesional, generasi muda NU dan relasi dengan negara," imbuh Husein.
Selain itu, figur Sekjen harus mampu bekerja sebagai orkestrator, bukan sekadar tokoh yang mempunyai gagasan.
Keberhasilan Gus Rozin di tingkat nasional nantinya akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengubah jejaring dan gagasan tersebut menjadi sistem organisasi yang bekerja.
Dengan demikian, jika Gus Rozin menjadi Sekjen, pertanyaan terbesarnya bukan apakah ia mempunyai jaringan. Ia jelas mempunyai jaringan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah jaringan tersebut dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan organisasi yang produktif.
Bukan Sekadar Pergantian Jabatan
Hussein Ali melihat peluang Gus Rozin menuju posisi strategis PBNU tidak semestinya dibaca semata sebagai pergantian figur.
Ada pertaruhan lebih besar di dalamnya, yakni bagaimana NU menghadapi lima tahun ke depan.
"NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus membaca perubahan zaman. Pesantren tetap menjadi akar, tetapi organisasi juga dituntut profesional dalam menghadapi persoalan ekonomi, pendidikan, teknologi, politik kebangsaan dan perubahan sosial," ungkap Husein.
Dalam konteks tersebut, Gus Rozin memiliki profil yang menarik karena berada di persimpangan antara pesantren, organisasi, pendidikan dan kebijakan publik.
Jika kelak dipercaya menjadi Sekjen PBNU, tantangan sekaligus peluangnya adalah membawa pengalaman tersebut ke tingkat nasional.
"NU bisa saja tampil dengan wajah yang lebih terkonsolidasi, lebih kuat menjadikan pesantren sebagai basis pengembangan sumber daya manusia, sekaligus lebih aktif memperjuangkan kepentingan Nahdliyin melalui kebijakan publik," beber Husein.
Pada akhirnya, posisi Sekjen PBNU bukan tentang siapa yang paling populer.
Jabatan itu membutuhkan orang yang mampu membuat organisasi besar bergerak dalam satu irama.
Dan dari rekam jejak yang ada, Gus Rozin setidaknya memiliki satu modal penting untuk itu: ia telah berjalan cukup lama di berbagai ruang NU, dari pesantren, kaderisasi, wilayah hingga struktur nasional.
Karena itu, jika pertanyaan yang diajukan adalah seberapa besar potensinya, Gus Rozin layak ditempatkan sebagai salah satu figur yang sangat diperhitungkan, meski keputusan akhir tetap bergantung pada konfigurasi kepemimpinan PBNU dan hasil Muktamar ke-35 NU.
Bursa Sekjen pada akhirnya bukan hanya pertarungan nama, tetapi pertarungan gagasan tentang NU seperti apa yang hendak dibangun untuk lima tahun mendatang.
CAPTION : 1. Calon Sekjen PBNH, KH Ghafar Rozin atau Gus Rozin
2. Tokoh muda NU Jateng, H. Husein Ahmadi