Stok Beras Jateng Surplus 1,5 Juta Ton, Harga di Pasar Justru Mulai Naik

Inti berita

Persediaan beras di Jawa Tengah hingga Agustus 2026 tercatat masih dalam kondisi aman. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, stok beras mencapai…

Ilustrasi toko beras di sebuah pasar tradisional

Persediaan beras di Jawa Tengah hingga Agustus 2026 tercatat masih dalam kondisi aman. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, stok beras mencapai 4.348.101 ton, sedangkan kebutuhan masyarakat berada di angka 2.809.248 ton. Dengan demikian, Jateng mengalami surplus sekitar 1.538.853 ton.

Meski stok melimpah, harga beras di sejumlah pasar justru mengalami kenaikan. Kondisi tersebut menjadi perhatian Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang meminta jajaran terkait memastikan distribusi beras berjalan lancar hingga ke tingkat konsumen.

Berdasarkan pemantauan harga yang dilakukan pada 2–6 September 2026, kenaikan terjadi pada sejumlah jenis beras di tingkat pengecer.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Luthfi meminta Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jawa Tengah bersama Bulog meningkatkan langkah intervensi pasar, termasuk memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM).

"Stok kita masih ada. Untuk antisipasi kenaikan harga beras, siapkan Satgas dan lakukan dengan cara yang sebelumnya seperti gerakan pangan murah, penyaluran bantuan pangan, penyaluran beras SPHP, dan memperbanyak kios pangan murah," ujar Luthfi saat menerima audiensi Pimpinan Bulog Jawa Tengah dan Kepala Dishanpan Jawa Tengah di Semarang, Selasa (8/9/2026).

Pemprov Jateng sebelumnya telah melakukan pemantauan di sejumlah pasar, antara lain Pasar Johar Semarang, Pasar Raya Kota Salatiga, Pasar Bandarjo Ungaran, Pasar Projo Ambarawa, Pasar Kendal, serta Pasar Jungke Karanganyar.

Dari hasil pemantauan tersebut, harga beras secara rata-rata tercatat mengalami kenaikan sekitar 2,5 persen.

Kenaikan paling terlihat pada beras medium non-SPHP. Harganya berada sekitar 0,74 persen hingga 11,11 persen di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), dengan kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

Sementara itu, beras premium mengalami kenaikan sekitar 0,67 persen hingga 14,09 persen di atas HET. Harga di tingkat pengecer berada pada kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram.

Adapun harga beras SPHP relatif masih terkendali, yakni sekitar Rp60.000 hingga Rp62.000 untuk kemasan 5 kilogram.

Kenaikan harga tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya harga gabah di tingkat petani. Harga Gabah Kering Panen (GKP) rata-rata mencapai Rp7.300 per kilogram, sedangkan Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat penggilingan berada di kisaran Rp8.666 per kilogram.

Kondisi itu diduga membuat sejumlah pelaku distribusi, mulai dari distributor, sub-distributor, grosir, agen hingga pengecer menahan penjualan. Mereka disebut menghindari potensi kerugian karena harga GKP meningkat, sementara harga jual harus menyesuaikan dengan HET yang ditetapkan pemerintah.

Luthfi menegaskan, kenaikan harga beras tidak boleh sampai membebani masyarakat maupun berdampak terhadap laju inflasi di Jawa Tengah.

"Jangan sampai kenaikan harga beras menyulitkan masyarakat dan memicu inflasi. Segera lakukan intervensi, koordinasi dengan Bulog," tegasnya.

Kepala Dishanpan Jawa Tengah Widi Hartanto mengatakan pemantauan harga terus dilakukan bersama organisasi perangkat daerah terkait. Selain itu, operasi pasar juga digencarkan untuk menjaga kelancaran distribusi dan stabilitas harga beras.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui penyaluran bantuan pangan dan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah.

"GPM saat ini sudah 1.083 kali dengan omzet Rp24,9 miliar," kata Widi.

Sementara itu, Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Jawa Tengah Gandi Prarista memastikan penyaluran beras SPHP di wilayah Jateng telah mencapai 100 persen. Penyerapan beras oleh Bulog juga disebut telah memenuhi target.

Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak El Nino, Bulog Jawa Tengah juga mendapat tambahan target dari pemerintah pusat untuk menyalurkan sekitar 90 ribu bantuan pangan selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September 2026.

Gandi memastikan ketersediaan beras di Jawa Tengah masih mencukupi. Stok beras Bulog Jateng saat ini berada di kisaran 300 ribu ton. Setelah dikurangi kebutuhan penyaluran bantuan pangan, stok hingga akhir tahun diperkirakan masih sekitar 200 ribu ton untuk beras medium.

"Secara umum ketersediaan beras masih cukup. Stok Bulog Jateng ada sekitar 300 ribu ton, dikurangi bantuan pangan itu maka akhir tahun masih ada 200 ribu ton, ini untuk beras medium. Masih ada untuk beras premium," jelas Gandi.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu