Iklan

Kabar Baik, Jumlah Elang Jawa di Gunung Muria Bertambah

Inti berita

Populasi Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di kawasan Gunung Muria menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Satwa endemik Indonesia yang berstatus langka…

Kabar Baik, Jumlah Elang Jawa di Gunung Muria Bertambah
Elang Jawa. Foto: Istimewa.

Populasi Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di kawasan Gunung Muria menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Satwa endemik Indonesia yang berstatus langka tersebut diperkirakan kini berjumlah sekitar 20 ekor, meningkat dibandingkan hasil pendataan sebelumnya yang mencatat sekitar 14 individu.

Ketua Penggiat Konservasi Alam Muria (Peka), Teguh Budi Wiyono, mengatakan peningkatan jumlah tersebut diketahui dari hasil pemantauan yang dilakukan secara rutin di sejumlah titik kawasan Gunung Muria.

"Awalnya kami mencatat ada sekitar 14 ekor, sekarang ada sekitar 20 ekor. Ada beberapa titik baru yang berhasil kami pantau keberadaannya," kata Teguh, kemarin.

Menurutnya, tim Peka terus melakukan pengamatan untuk memantau aktivitas Elang Jawa, mulai dari jalur terbang, lokasi sarang, hingga waktu-waktu tertentu ketika burung pemangsa itu biasanya terlihat melintas di langit Muria.

Meski berstatus sebagai satwa yang terancam punah, Teguh menilai kondisi populasi Elang Jawa di Muria masih cukup terjaga. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah lokasi baru yang mengindikasikan adanya aktivitas berkembang biak.

Ia juga mengungkapkan bahwa Elang Jawa di Gunung Muria memiliki perilaku yang berbeda dibandingkan populasi di daerah lain. Jika umumnya Elang Jawa lebih banyak beraktivitas di dalam kawasan hutan, di Muria burung ini beberapa kali terlihat mendekati wilayah permukiman warga.

"Beberapa kali terlihat di tepi permukiman, padahal sarangnya berada di dalam hutan," ujarnya.

Selain Elang Jawa, kawasan Gunung Muria juga menjadi habitat bagi sedikitnya delapan jenis burung pemangsa. Di antaranya Elang Hitam, Elang Bido, Elang Brontok, Elang Sikep, Alap-alap Jambul, Alap-alap Sapi, hingga Elang Laut.

Keberadaan Elang Laut di kawasan pegunungan dinilai cukup unik karena satwa tersebut umumnya hidup di wilayah pesisir. Namun, menurut Teguh, kondisi itu kemungkinan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan di kawasan Muria.

"Elang laut seharusnya tinggal di daerah pesisir, tetapi kami pernah menjumpainya. Barangkali karena mangsanya ada sehingga habitatnya di Muria," jelasnya.

Upaya konservasi satwa liar di Gunung Muria terus dilakukan melalui kolaborasi Peka Muria bersama Djarum Foundation dan Burung Indonesia. Dari hasil pendataan, kawasan tersebut kini diketahui menjadi habitat bagi sedikitnya 118 jenis burung.

Program pemantauan juga dilakukan secara bertahap. Pada 2024 fokus pengamatan ditujukan untuk seluruh jenis burung, kemudian pada 2025 diarahkan khusus pada jenis-jenis elang, sedangkan pada 2026 difokuskan pada pemantauan sarang elang. Kegiatan tersebut berlangsung selama musim berkembang biak, yakni mulai Mei hingga Oktober.

Habitat Elang Jawa di Muria tersebar hampir di seluruh kawasan puncak gunung. Burung ini umumnya membangun sarang di pohon-pohon berukuran besar seperti ficus, pranak, maupun jenis pohon hutan lainnya yang memiliki tajuk lebat.

Secara nasional, populasi Elang Jawa diperkirakan hanya tersisa sekitar 300 hingga 500 ekor di Pulau Jawa dan Bali. Dengan jumlah sekitar 20 individu, Gunung Muria menjadi salah satu kawasan penting bagi kelangsungan hidup satwa yang menjadi simbol negara tersebut.

Selain menjadi rumah bagi Elang Jawa, kawasan Gunung Muria juga masih dihuni berbagai satwa liar lainnya, seperti macan tutul jawa, rusa, babi hutan, monyet ekor panjang, pleci Muria, hingga kucing hutan.

Berdasarkan hasil pemantauan Peka, populasi macan tutul jawa di Gunung Muria diperkirakan mencapai 14 ekor, terdiri atas sembilan betina dan lima jantan. Tim konservasi juga mendeteksi keberadaan dua anak macan tutul, meski belum dapat dipastikan apakah keduanya mampu bertahan hingga dewasa.

Sementara itu, keberadaan macan kumbang atau macan tutul berwarna hitam diduga masih ada di kawasan Muria. Namun hingga kini keberadaannya belum berhasil didokumentasikan secara langsung.

"Biasanya indukan macan melepas anaknya setelah tiga bulan. Setelah itu mereka belajar berburu sendiri dan ada kemungkinan juga menjadi mangsa macan lainnya," pungkas Teguh.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu