Lingkar.co, Pengurus Daerah Perempuan Penghayat Kepercayaan atau Puan Hayati Jawa Tengah menggelar kegiatan “Penguatan Kapasitas Perempuan Penghayat: Merawat Tradisi, Menjaga Bumi” di Semarang.
Acara ini merupakan kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah dan menjadi ruang konsolidasi bagi perempuan penghayat untuk memperkuat identitas spiritual sekaligus kapasitas ekonomi.
Kegiatan ini dirancang secara holistik dengan memadukan tiga pilar utama: penguatan spiritualitas Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pelestarian kebudayaan, serta penguatan usaha melalui materi kelompok usaha dan strategi pemasaran produk.
Ketua Puan Hayati Jawa Tengah, Dwi Utami, menegaskan bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci agar komunitas penghayat dapat bertahan dan berkembang di tengah dinamika zaman. Namun kemandirian itu tidak boleh melepaskan akar nilai.
“Kita mendorong Puan Hayati mandiri secara ekonomi, punya kelompok usaha yang jalan, pemasaran yang kuat. Tapi yang paling penting, kita tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran luhur Penghayat Kepercayaan. Ekonomi kuat, spiritual kuat, tradisi kita rawat,” ujar Dwi Utami, Minggu (21/6/2026).
Untuk menguatkan pilar budaya dan spiritual, panitia menghadirkan narasumber Samsul Maarif yang akrab disapa Ancu dan Asep dari Center for Religious and Cross-cultural Studies UGM, serta Godham dari Universitas Negeri Semarang. Moderator acara adalah Ceprudin.
Dalam pemaparannya, Samsul Maarif atau Ancu menjelaskan bahwa budaya dan spiritualitas bukan dua hal yang terpisah dalam kehidupan orang Jawa. Keduanya menjadi landasan etika dan cara berlaku sehari-hari.
“Budaya dan spiritualitas itu fondasi. Orang Jawa bergerak, bekerja, berdagang, bertani, semuanya berangkat dari laku spiritual dan budi luhur. Kalau fondasi ini kuat, maka apapun usaha yang kita jalankan akan punya arah dan berkah,” jelas Ancu.
Sesi materi kelompok usaha dan pemasaran diharapkan menjadi bekal praktis bagi Puan Hayati di berbagai daerah agar produk-produk UMKM mereka bisa naik kelas dan menembus pasar lebih luas.
Melalui kegiatan ini, Puan Hayati Jateng ingin memastikan ekosistem penghayat kepercayaan tumbuh sehat: tradisi tetap hidup dan diwariskan, bumi dijaga melalui laku bijak, serta perempuan penghayat memiliki kemandirian ekonomi yang beretika dan berkarakter.