Arsip Tag: Fatayat NU Kabupaten Kendal

Luncurkan Program Shodaqoh Sampah, Bupati Kendal Puji Kepedulian Lingkungan Fatayat NU Kendal

Lingkar.co – Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengapresiasi peran strategis Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) dalam merawat nilai keislaman dan kebangsaan di Kabupaten Kendal, terutama nilai-nilai agama terkait kepedulian terhadap lingkungan.

Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan pada pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Kendal masa khidmah 2025–2030 di Pondok Pesantren Darul Amanah, Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah Ahad (18/1/2026).

Bupati Tika menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran pengurus yang baru dilantik. Ia menilai Fatayat NU selama ini telah menunjukkan pengabdian luar biasa di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga sosial kemasyarakatan.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kendal, kami mengucapkan selamat kepada pengurus PC Fatayat NU masa khidmah 2025–2030. Kehadiran Fatayat NU sangat besar perannya dalam merawat nilai-nilai keislaman dan kebangsaan,” ujarnya.

Pada momen tersebut juga dilakukan peluncuran program Shodaqah Sampah Fatayat (SHOSFA). Tika menilai program tersebut sejalan dengan semangat pelayanan dan penguatan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, Fatayat NU memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai kebangsaan dan kebhinekaan yang menjadi ciri khas Indonesia. Dengan jumlah anggota yang besar dan terorganisir, Fatayat NU diharapkan mampu menjadi lokomotif penggerak kemajuan Nahdlatul Ulama, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kendal.

“Mari kita jaga semangat kebersamaan dan silaturahmi. Jadikan Kabupaten Kendal sebagai rumah besar yang rukun, damai, dan penuh nilai kebaikan,” pesannya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah Sukorejo, KH Mas’ud Abdul Qodir, menegaskan bahwa Fatayat NU memiliki posisi penting sebagai kader perempuan NU yang berperan dalam dakwah, pengabdian sosial, dan keteladanan di masyarakat.

“Fatayat NU harus terus menjadi teladan dalam akhlak, keilmuan, dan pengabdian. Dari pesantren inilah diharapkan lahir kader-kader perempuan NU yang istiqamah berkhidmat untuk agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Ia juga mendoakan agar seluruh pengurus dan kader Fatayat NU senantiasa diberi kekuatan, kesehatan, serta keberkahan dalam menjalankan amanah organisasi. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Lantik Fatayat NU Kabupaten Kendal, Margareth Ajak Teguhkan Lima Pilar Organisasi Digdaya

Lingkar.co – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah mengajak pada kadernya untuk meneguhkan visi Fatayat NU. Yakni; menguat bersama, maju bersama untuk perempuan Indonesia dan peradaban dunia menuju organisasi digdaya.

Ia juga mengingatkan agar seluruh kader Fatayat NU harus menjadikan visi organisasi sebagai landasan utama dalam berkhidmah.

“Visi ini bukan sekadar dibaca atau dihafalkan, tetapi harus menjadi pijakan dalam setiap langkah kita berorganisasi untuk penguatan dan kemajuan Fatayat NU,” ujar katanya dalam pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kendal masa khidmah 2025–2030 di Ponpes Darul Amanah, Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Ahad (18/1/2026).

Ia lantas menegaskan bahwa Fatayat NU tidak boleh hanya besar secara nama, tetapi harus kuat secara substansi. Organisasi perempuan muda NU ini, menurutnya, harus mampu membuktikan kebesarannya melalui lima pilar indikator organisasi digdaya.

Dijelaskannya, pilar pertama adalah penguatan struktur organisasi. Margaret menjelaskan bahwa struktur Fatayat NU harus benar-benar hidup dan aktif hingga tingkat paling bawah, mulai dari pimpinan cabang, pimpinan anak cabang, pimpinan ranting, hingga pimpinan anak ranting.

Oleh karena itu ia mengingatkan agar Fatayat NU tidak hanya berdiri di tingkat kabupaten, tetapi juga hadir dan berdaya di kecamatan, desa, bahkan lingkungan RT/RW, majelis taklim, dan pondok pesantren.

“Penguatan struktur tidak hanya soal jumlah kepengurusan, tetapi juga kualitas pengurusnya. Mereka harus memahami visi, misi, serta regulasi organisasi agar mampu menjalankan peran secara optimal,” tegasnya.

Pilar kedua adalah kaderisasi. Menurut Margaret, kaderisasi merupakan jantung organisasi yang harus dilakukan secara berkelanjutan agar Fatayat NU terus melahirkan kader-kader perempuan muda yang tangguh, berdaya, dan berwawasan keorganisasian.

Pilar ketiga adalah penguatan program kerja. Margaret menekankan bahwa seluruh isu tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan ranah gerak Fatayat NU, baik dari perspektif sosial, hukum, ekonomi, kesehatan, maupun keagamaan. Namun demikian, penyusunan program harus berbasis pada persoalan nyata yang dihadapi perempuan dan anak di masing-masing daerah.

“Masalah perempuan dan anak di Kendal tentu berbeda dengan di Semarang atau Kudus. Maka Fatayat NU harus mampu membaca potensi dan persoalan lokal agar program yang dijalankan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pilar keempat adalah penguatan layanan. Dalam konteks ini, Margaret menegaskan pentingnya keberadaan Lembaga Konsultasi Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (LKP3A) Fatayat NU di setiap cabang. Ia menyebut LKP3A sebagai wujud nyata kehadiran Fatayat NU dalam mendampingi perempuan dan anak korban kekerasan.

“Ketika ada perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan, Fatayat NU harus hadir, punya empati, dan mampu mendampingi mereka untuk mendapatkan keadilan,” kata Margaret yang juga menjabat Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Margaret menambahkan, pembentukan LKP3A bersifat wajib meski masih perlu penguatan secara bertahap, termasuk melalui pelatihan paralegal dan konselor bersertifikasi.

Pilar kelima adalah optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi. Ia mendorong kader Fatayat NU untuk aktif memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah dan syiar nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

“Kalau belum bisa masuk televisi, jangan putus asa. Ramaikan media sosial dengan dakwah, pandangan keislaman, serta kegiatan dan program Fatayat NU,” tandasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Pimpin Fatayat NU Kendal, Muarofah Ditantang Wujudkan Kader Melek Digital dan Kreatif

Lingkar.co – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Kendal resmi memiliki ketua baru setelah Muarofah S.pd.I terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Cabang (Konfercab) yang digelar di ruang Paripurna DPRD Kendal, Minggu (14/9/2025). Ia bakal menjadi nahkoda para ibu muda NU di seluruh Kendal hingga 2029.

Konfercab yang diikuti perwakilan Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Ranting se-Kabupaten Kendal.mengusung tema :Perkuat Karakter dan Dedikasi, Menuju Perempuan yang Berdaya dan Mandiri’

Suasana sidang berlangsung cukup cair, tanpa mekanisme fit and proper test.
Calon yang maju adalah kader yang selama lima tahun terakhir aktif membersamai organisasi.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, yang hadir dalam forum itu menekankan pentingnya peran Fatayat NU di masyarakat.

“Fatayat bukan hanya organisasi kaderisasi, tapi juga punya andil dalam merawat nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan pembangunan daerah,” ujarnya.

Ketua PC Fatayat sebelumnya, Siti Ni’mallatif, menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan hanya soal kaderisasi, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan zaman.

“Ketua baru harus kreatif, mampu melahirkan kegiatan yang diminati masyarakat, sekaligus tidak tertinggal dalam hal digitalisasi. Media sosial harus jadi ruang untuk branding organisasi sekaligus sumber income,” jelasnya.

Pesan serupa juga disampaikan oleh Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah, Hj. Tazkiyatul Mutmainnah yang menegaskan, ketua baru harus berpikir visioner.

“Fatayat Kendal sudah maju, tapi harus bisa lebih bermanfaat lagi untuk umat. Caranya dengan out of the box dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman,” kata Iin sapaan akrabnya.

Menanggapi amanah yang diberikan, Muarofah menyatakan siap bersinergi dengan seluruh kader dan stakeholder di Kendal.

“Kami ingin menjadikan Fatayat sebagai organisasi yang benar-benar berdaya dan mandiri. Bersama-sama, kita akan melanjutkan pengabdian ini dengan semangat baru,” ucapnya. (*)

Penulis: Yoedhi W

Konferancab Fatayat NU Patean, MWCNU Pesan 3 Hal

Lingkar.co – Ketua Tanfidziyah Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Patean, Shodiqin berpesan tiga hal penting yang harus dimiliki seorang kader NU. yaitu ilmu, sosial, dan sifat religius.

“Sebagai kader Fatayat, dan kader NU pada umumnya, harus memiliki ilmu karena mencari ilmu wajib bagi umat Islam,” ucapnya dalam pembukaan Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Fatayat NU di Gedung BP AULA Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (31/5/2025).

Selain itu, ia melanjutkan, kegiatan sosial juga sangat penting mengingat agama juga mengajarkan ukhuwah basyariah atau persaudaraan sesama manusia. Bahkan, kesalahan manusia dengan sesamanya harus diselesaikan terlebih dahulu. Artinya hablum minallah juga bergantung pada hablum minannas (Ikatan dengan Allah juga bergantung pada ikatan dengan sesama manusia). Sifat religius juga tidak bisa lepas dari interaksi sosial. Semakin naik agama seseorang maka akan semakin baik interaksi sosial.

“Tiga hal ini dianggap krusial dalam membentuk kader Fatayat NU yang mumpuni dan berintegritas.,” tandasnya.

Sementara Ketua PAC Fatayat NU Patean, Dina Syafaatul Alifiyati mengatakan, konferancab bukan sebatas aktivitas politik untuk menentukan ketua, namun lebih dari itu juga momentum penting untuk mengevaluasi kinerja, merumuskan program kerja ke depan, dan memperkuat peran perempuan NU di tingkat kecamatan.

Konferensi tingkat kecamatan ini juga menjadi lebih menarik karena adanya logo khusus konferancab. “Ini adalah kali pertama Konferancab Fatayat NU Patean memiliki logo khusus yang penuh filosofi. Makna logo ini adalah perempuan berdaya dan berkarya untuk Indonesia jaya,” ujarnya.

Sementara, Afidatun Nikmah selaku perwakilan dari Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Kendal juga menyampaikan hal penting terkait hasil kongres Fatayat NU. Ia berharap agar hasil kongres tersebut dapat diterapkan di akar rumput, sehingga kader Fatayat Nahdlatul Ulama dapat menjadi Wanita berpribadi luhur, setia, terampil, dan jujur. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat