Arsip Tag: Perempuan

Tanam Pohon Libatkan Perempuan, Jaga Kelestarian Lingkungan Hidup Tanggung Jawab Semua

Lingkar.co – Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua pihak tanpa memandang gender.

Hal itu diucapkan oleh Kepala Kelurahan Langenharjo, Jupriyono dalam gerakan menanam pohon pada peringatan Hari Bumi Tahun 2026, Rabu (22/4/2026).

“Menjaga bumi ini tanggung jawab bersama, seperti menjaga kebersihan lingkungan sungai dari sampah,” ujarnya.

Ia menyebut, kegiatan peringatan Hari Bumi diikuti 120 orang dari berbagai elemen masyarakat.

Lurah Jupriyono mengatakan, keberadaan Taman Langen Nirwana direncanakan menjadi tempat wisata air yang ramah lingkungan. Selain itu, juga sebagai wisata edukasi bagi anak-anak dalam menjaga lingkungan.

“Tempat ini menjadi wisata edukasi anak-anak, para pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Sebagai informasi, Hari Bumi biasa diperingati tiap tanggal 22 April dengan kegiatan tanam pohon, bersih pantai dan sebagainya. Penanaman pohon yang melibatkan perempuan karena perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam UMKM maupun membiasakan anak untuk menjaga lingkungan.

Pelibatan kaum perempuan ini sekaligus memperingati Hari Kartini yang diperingati tiap tanggal 21 April.

Kaum perempuan yang ikut di antaranya dari PKK, Bhayangkari Polres Kendal dan Persit Kodim 0715 Kendal. Ada juga dari pelajar, Bank Sampah Induk Kendal dan relawan dari berbagai komunitas pecinta lingkungan.

Tanam pohon dilakukan di bantaran sungai yang dijadikan ruang terbuka hijau Taman Langen Nirwana, Kelurahan Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Kolaborasi dengan Dunia Usaha

Pemimpin PT Pegadaian Kantor Wilayah XI Jateng dan DIY, M. Aries Aviani mengatakan, butuh kolaborasi yang baik antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Untuk itu pihaknya bersama Kelurahan Langenharjo bergerak bersama menjaga bumi agar bisa dinikmati generasi penerus.

“Alam ini merupakan titipan yang harus dipelihara dengan baik, agar bisa dinikmati generasi penerus,” ujarnya. 
Ia menyebut bibit tanaman yang diberikan berupa 300 bibit tanaman sayuran dan 100 bibit tanaman buah. Dengan begitu, masyarakat bisa ikut merasakan saat tiba waktu dipanen.

Kegiatan peringatan Hari Bumi dibuka oleh Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari yang secara simbolis melakukan penanaman pohon buah. Kemudian diikuti oleh sejumlah ASN, anak-anak sekolah dan masyarakat setempat. (*)

Penulis: Yoedhi W
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Dorong Perempuan Cegah Perkawinan Anak dan Judi Online

Lingkar.co – Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, mengajak seluruh kader PKK untuk berperan aktif sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa PKK adalah kader perempuan penggerak perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satunya dengan mencegah perkawinan anak dan judi online.

“PKK tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan guna mewujudkan keluarga yang kuat, mandiri, dan harmonis,” katanya.

Robby menyampaikan hal tersebut saat menghadiri sosialisasi pencegahan perkawinan anak dan stunting yang digelar TP PKK Kota Salatiga pada Selasa (21/04/2026) di Ruang Kaloka Lantai IV Gedung Setda Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Hadir pula dalam kesempatan itu, keluarga Wage Rudolf (WR) Soepratman dan diikuti oleh perwakilan siswa SMA/SMK/madrasah se-Kota Salatiga, Forum Anak, serta Duta Genre Kota Salatiga.

Sementara, Ketua TP PKK Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya remaja, mengenai pentingnya pencegahan perkawinan anak sebagai bagian dari upaya penanggulangan stunting.

Ia lantas menjelaskan program PKK, yakni; KISAH (Keluarga Indonesia Sejahtera Harmonis) yang merupakan salah satu program unggulan Pokja I.

Program itu, kata dia, diimplementasikan melalui berbagai kegiatan, antara lain CEPAK (Cegah Perkawinan Anak), CATIN (Kursus Calon Pengantin), pemberdayaan lansia, serta JUPITER (Judi Online dan Pinjaman Online Teratasi).

“Melalui program tersebut, diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan perkawinan anak dan stunting demi mewujudkan keluarga yang harmonis,” tuturnya.

Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber, yaitu Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Ony Suciati, M.K.M., yang menyampaikan materi tentang dampak psikologis pernikahan dini terhadap risiko stunting pada anak.

Selain itu, Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Anak Berkebutuhan Khusus, Budhy Lestari, S.Psi., Psikolog, turut memberikan materi Antara Cinta dan Realita: Mengupas Beban Psikologis Nikah Muda.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, TP PKK Kota Salatiga juga menyelenggarakan donor darah serta bazar UMKM.

Acara semakin semarak dengan penampilan Antea Putri Turk, cicit buyut kakak kandung Wage Rudolf (WR) Soepratman, yang membawakan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza, lagu nasional Ibu Kita Kartini, serta lagu Indonesia Tjantik yang merupakan karya pertama W.R. Soepratman.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Yayasan W.R. Soepratman turut menyerahkan surat permohonan kepada Wali Kota Salatiga terkait usulan penamaan jalan atas nama W.R. Soepratman di Kota Salatiga.

Wali Kota Salatiga menyambut baik usulan tersebut dan menyampaikan bahwa Pemerintah Kota akan segera melakukan kajian sebagai tindak lanjut atas rencana penamaan jalan WR. Soepratman. (*)

Borong Penghargaan di Rakernas, IPEMI Jateng Jadi Episentrum Muslimah Preneur

Lingkar.co — Di tengah dorongan penguatan ekonomi berbasis komunitas, Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPMI) Jawa Tengah tampil mencolok. Dalam Rakernas ke-8 yang digelar di Discovery Hotel Ancol pada 20–21 April 2026, wilayah ini memborong sejumlah penghargaan tingkat nasional.

Capaian tersebut bukan sekadar seremoni. Ia menandai pergeseran penting perempuan, khususnya pelaku usaha muslimah, mulai menjadi kekuatan nyata dalam lanskap ekonomi.

Rapat Kerja Nasional IPEMI kali ini tidak hanya menjadi forum internal organisasi. Di dalamnya, terdapat pameran produk unggulan daerah hingga grand final Duta Muslimah Preneur 2026 yang memperlihatkan geliat ekonomi perempuan dari berbagai wilayah.

Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, menilai IPEMI memiliki posisi strategis dalam penguatan ekonomi rakyat.

“IPEMI diharapkan menjadi mitra perjuangan dalam membangun ekonomi yang memberi dampak nyata di masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi yang dimiliki anggota IPEMI perlu diarahkan untuk memperkuat sektor UMKM nasional, termasuk mengisi rantai distribusi produk unggulan di tingkat desa dan kelurahan.

Dalam ajang tersebut, IPEMI Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Lies Iswar Aminuddin meraih predikat Pimpinan Wilayah (PW) Terbaik I Nasional.

Dominasi ini tidak berhenti di tingkat wilayah. Pimpinan Daerah Kota Semarang dan Kota Surakarta juga masuk kategori terbaik nasional.
Bahkan di tingkat cabang, PC Tembalang dan PC Banyumanik turut menyumbang prestasi, memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat pertumbuhan Muslimah Preneur.

Lies Iswar Aminuddin menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh anggota.
Ia menyebut penghargaan ini bukan hanya soal pengakuan, tetapi juga dorongan untuk memperluas dampak ekonomi di masyarakat.

“Kami menyambut arahan ini sebagai penguatan untuk terus bergerak lebih progresif dan memastikan IPEMI hadir sebagai bagian dari solusi ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi perempuan terus tumbuh dan semakin relevan di tengah dinamika ekonomi saat ini.

Perempuan dan Arah Ekonomi Inklusif
Ketua Umum IPEMI Pusat, Ingrid Kansil, menekankan pentingnya adaptasi dan inovasi dalam dunia usaha.

“IPEMI harus tidak hanya menunggu peluang, tetapi menciptakan dan mengeksekusinya,” tegasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perempuan bukan lagi pelengkap dalam ekonomi, tetapi menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem usaha yang inklusif dan berkelanjutan.

Capaian berlapis dari tingkat wilayah hingga cabang memperlihatkan satu hal, Jawa Tengah mulai menjadi episentrum penguatan Muslimah Preneur di Indonesia.

Rakernas ini sekaligus mempertegas bahwa gerakan ekonomi perempuan tidak lagi bersifat sporadis, tetapi mulai terorganisir, terukur, dan berdampak luas. ***

Peringatan Hari Kartini Tak Boleh Hanya Seremonial, Dorong Perempuan Berani Berpikir Maju dan Atasi Masalah Sosial

Lingkar.co – Ketua TP PKK Kabupaten Jepara Laila Saidah Witiarso Utomo, menegaskan, peringatan Hari Kartini tak boleh hanya jadi seremonial tahunan.

Menurutnya, perempuan harus didorong turun tangan mengatasi dalam penanganan persoalan sosial di lingkungan masing-masing, seperti; kemiskinan, stunting, hingga kekerasan terhadap anak di Jepara.

Perempuan Jepara harus hadir menyelesaikan persoalan nyata, seperti kemiskinan, kekerasan, stunting, dan perkawinan anak, serta memastikan tidak ada anak yang putus sekolah,” kata dia saat peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026).

Laila juga mendorong penguatan peran perempuan di ruang public, tidak lagi terbatas pada peran domestik

“Perkuat pula keterwakilan perempuan di ruang publik dan legislatif, untuk pengambilan kebijakan dan menyuarakan aspirasi demi masa depan bangsa,” tuturnya.

Selain itu, dia juga mengajak masyarakat menjadikan Jepara sebagai pusat literasi Kartini.

“Jadikan Jepara pusat literasi Kartini. Ajarkan generasi muda keberanian berpikir dan semangat perubahan,” tuturnya.

Laila menambahkan, perempuan perlu meningkatkan kapasitas diri dalam keluarga.

“Tingkatkan kapasitas diri sebagai ibu sekaligus pendidik utama dalam keluarga melalui penguasaan ilmu pengetahuan,” kata dia.

Pada kesempatan itu, juga diserahkan piagam penghargaan dan trofi kepada pemenang lomba pelayanan KB. Juara pertama diraih Klinik Wahana Sejahtera PKBI Jepara, disusul Klinik Fatma Medika di posisi kedua, serta Puskesmas Donorojo di peringkat ketiga.

Berani Berpikir Maju

Terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Fahrudin menegaskan, semangat Kartini tidak hanya sebatas emansipasi perempuan, tetapi juga tentang keberanian berpikir maju, mandiri, dan menjunjung tinggi integritas.

“Tema ini sangat relevan sebagai pengingat bagi kita semua akan pentingnya membangun karakter perempuan yang mandiri, kuat, dan berlandaskan nilai-nilai kejujuran,” ujarnya.

Sekda menyatakan hal itu pada talkshow bertajuk Kartini Menginspirasi: Berjiwa Independen, Teguh Berintegritas, yang digelar di Pendapa Museum RA Kartini, Senin (20/4/2026).

Lebih lanjut ia mengungkapkan, keberagaman budaya dan latar belakang sosial masyarakat Rembang justru menjadi kekuatan, yang memperkuat nilai gotong royong dan toleransi.

Dia berharap, dapat lahir inspirasi bagi perempuan, khususnya generasi muda, untuk terus mengembangkan potensi diri dan memperkuat integritas.

“Tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga dibutuhkan perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat dan berdaya saing,” imbuhnya. (*)

IPG 78,71, Perempuan Semarang Makin Kuat di Berbagai Sektor

Lingkar.co — Angka Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) Kota Semarang mencapai 78,71 pada 2025. Di balik angka itu, ada perubahan yang semakin terasa: perempuan tak lagi berada di pinggir, tetapi mulai menjadi penggerak di berbagai sektor.

Capaian tersebut disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dalam peringatan Hari Kartini ke-147 yang digelar Pemerintah Kota Semarang di Balai Kota, Selasa (21/4/2026).

Agustina menjelaskan, peningkatan IPG ini mencerminkan keterlibatan perempuan yang semakin luas, mulai dari sektor kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi berbasis masyarakat.

Menurut Agustina, salah satu kekuatan utama terletak pada kerja-kerja komunitas yang selama ini berjalan konsisten di tingkat bawah.

Ia menyoroti peran sekitar 16.000 kader Posyandu yang secara sukarela menjaga kesehatan masyarakat. Peran ini bahkan mendapat perhatian dari kalangan akademisi internasional.

“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Ia menilai, praktik tersebut menjadi contoh bagaimana tanggung jawab sosial dapat tumbuh dari masyarakat, khususnya perempuan, dan relevan secara global.

Selain kesehatan, Agustina menyebut kontribusi perempuan juga terlihat dalam gerakan lingkungan. Melalui program Semarang Wegah Nyampah, perempuan yang tergabung dalam kader PKK dan komunitas aktif mengelola bank sampah. Dari aktivitas ini, perputaran ekonomi masyarakat tercatat mencapai Rp2,2 miliar.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam isu lingkungan tidak hanya berdampak pada kebersihan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Pemerintah Kota Semarang, lanjut dia, juga memperkuat peran perempuan melalui kebijakan berbasis wilayah. Sebanyak 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak dibentuk sebagai ruang perlindungan sekaligus pemberdayaan. Ia menilai, kelurahan menjadi garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak memiliki akses untuk berkembang.

Agustina menegaskan bahwa capaian IPG ini menjadi indikator perubahan posisi perempuan dalam pembangunan.

“Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh, dan Kota Semarang akan semakin hebat,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah akan terus mendorong perempuan untuk meningkatkan kapasitas serta berani mengambil peran lebih luas di berbagai bidang.

IPG sering dipahami sebagai data statistik. Namun di Semarang, angka 78,71 itu mencerminkan realitas yang lebih konkret: perempuan semakin hadir sebagai aktor utama perubahan.

Tantangan berikutnya adalah menjaga tren ini tetap tumbuh tidak hanya di level kebijakan, tetapi juga hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat. ***

Dari Posyandu ke Dunia, Perempuan Semarang Jadi Sorotan Internasional

Lingkar.co — Peran perempuan di Kota Semarang tak lagi berhenti pada lingkup domestik atau lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi mereka justru mulai dilirik hingga ke tingkat global.

Hal itu mengemuka dalam peringatan Hari Kartini ke-147 yang digelar Pemerintah Kota Semarang melalui upacara di Balai Kota, Selasa (21/4/2026).

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyampaikan bahwa praktik pemberdayaan perempuan di kota ini telah menarik perhatian internasional, terutama yang berbasis komunitas.

Agustina menjelaskan, salah satu contoh nyata terlihat dari peran sekitar 16.000 kader Posyandu yang selama ini bekerja secara sukarela menjaga kesehatan masyarakat. Ia mengungkapkan, praktik tersebut bahkan mendapat apresiasi saat dirinya berkunjung ke California State University, Amerika Serikat.

“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Menurutnya, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat, khususnya perempuan, dapat menjadi contoh global dalam penguatan sistem kesehatan berbasis komunitas.

Tak hanya di sektor kesehatan, kontribusi perempuan juga terlihat dalam gerakan lingkungan. Melalui program Semarang Wegah Nyampah, perempuan yang tergabung dalam kader PKK dan komunitas aktif mengelola bank sampah. Dari gerakan ini, tercatat perputaran ekonomi masyarakat mencapai Rp2,2 miliar.

Agustina menilai, keterlibatan perempuan dalam isu lingkungan bukan sekadar partisipasi, tetapi telah menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat akar rumput.

Pemerintah Kota Semarang, lanjut dia, juga memperkuat peran perempuan melalui kebijakan berbasis wilayah. Sebanyak 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak telah dibentuk sebagai ruang perlindungan sekaligus pemberdayaan.

Agustina menegaskan, perempuan kini tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan. Ia menyebut perempuan justru menjadi aktor utama dalam mendorong perubahan sosial.

“Perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek utama perubahan. Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh,” tegasnya.

Momentum Hari Kartini, menurut Agustina, tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga refleksi atas peran perempuan yang terus berkembang
.
Ia berharap perempuan di Kota Semarang terus berani mengambil peran, memperluas kontribusi, dan meningkatkan kapasitas diri di berbagai bidang.

Dalam konteks yang lebih luas, apa yang terjadi di Semarang memperlihatkan satu hal: kerja-kerja komunitas yang selama ini dianggap sederhana, justru bisa menjadi inspirasi hingga tingkat global. ***

Ning Nawal Minta Ipemi Jateng Bina UMKM Perempuan

Lingkar.co – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin,M.S.I, meminta Ikatan Pengusaha Perempuan Muslimah (Ipemi), untuk melakukan pembinaan intensif terhadap pelaku UMKM perempuan.

Istri Wakil Gubernur ini meyakini, pelaku usaha perempuan memiliki andil besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Menjalankan tugas Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), Ning Nawal, panggilan kabarnya membeberkan, pertumbuhan ekonomi Jateng meningkat dari 4,95 persen pada 2024 menjadi 5,37 persen pada 2025.

“Harapannya Ipemi memberikan dampak positif, dan pergerakannya ini banyak berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi di Jawa Tengah ini,” katanya, seusai menghadiri acara Pemilihan Duta Muslimah Preneur Jawa Tengah 2026, di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Rabu (1/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Nawal juga memberikan arahan kepada jajaran Pengurus Daerah (PD) Ipemi dari Kabupaten Pati, Batang, Purworejo, Demak, Pekalongan, dan Kota Pekalongan, yang dikukuhkan secara serentak.

Dia berpesan, agar berbagai jenis usaha yang dimiliki anggota Ipemi terus dikembangkan. Di sisi lain, organisasi juga diharapkan mampu membina pelaku UMKM perempuan yang baru merintis, agar dapat naik kelas.

“Harapan saya bahwa usaha kecil menengah ini yang banyak dimiliki IPEMI ini nanti bisa berkembang. Kemudian yang sudah besar, membina UMKM-UMKM yang kecil, sehingga kita bisa melihat hari ini produknya sudah berkembang bukan hanya makanan,” beber Nawal.

Selain itu, Ipemi juga diminta mampu beradaptasi di tengah tantangan zaman dan situasi global. Langkah strategis dan adaptif perlu dilakukan agar ekonomi lokal tetap kuat, salah satunya melalui penguasaan digital marketing untuk memperluas akses pasar.

“Maka di sini perkembangan usaha apa pun diharapkan bisa mengikuti tren digital marketing, sebagai upaya untuk bisa memasarkan lebih luas,” ungkap Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jateng tersebut.

Nawal menekankan, masih banyak persoalan di Jateng yang perlu direspons oleh Ipemi, salah satunya kemiskinan. Meskipun angka kemiskinan menurun dari 9,48 persen pada Maret 2025 menjadi 9,39 persen pada September 2025, intervensi tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Terlebih, kata dia, Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin terus berupaya menurunkan angka kemiskinan, melalui berbagai program prioritas.

Lebih lanjut, Nawal berkomitmen untuk melibatkan Ipemi dalam berbagai kegiatan pelatihan usaha, bersama TP PKK, Dekranasda, dan BKOW, sebagai upaya pemberdayaan ekonomi perempuan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Jadi terima kasih untuk Ipemi, harapannya selalu berkontribusi untuk perkembangan kesejahteraan masyarakat di Jawa Tengah ini,” pungkas Ketua Tim Penggerak PKK Jateng tersebut.

Sementara itu, Ketua Ipemi Jawa Tengah, Lies Iswar Aminuddin melaporkan, dari 35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah, sebanyak 22 PD Ipemi telah terbentuk, sementara 13 daerah lainnya masih dalam proses pemilihan ketua dan pengurus.

Dia berharap pada tahun ini Ipemi dapat terbentuk di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dan bersinergi secara optimal dalam meningkatkan perekonomian daerah.

“Mari gerak langkah kita mantapkan untuk tetap bersatu hati, bersatu langkah, bersama-sama, saling menopang dan memberikan kekuatan bagi kita untuk berkarya di Ipemi Jawa Tengah,” harap istri Wakil Wali Kota Semarang ini. (*)

Perkuat Kemandirian Ekonomi Keluarga, PKK Simalungun Lakukan Pembinaan Desa Percontohan Peningkatan UP2K

Lingkar.co – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Simalungun melakukan kegiatan pembinaan terhadap Desa Percontohan dalam Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di Nagori Karang Anyar, Kecamatan Gunung Maligas, Provinsi Sumatera Utara, Senin (30/3/2026).

Kegiatan yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan absolut dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat tersebut dipimpin Staf Ahli II PKK, Yulince Mixnon Andreas Simamora mewakili Ketua TP PKK, serta sejumlah pengurus PKK lainnya.

Pada kesempatan tersebut, Pangulu Nagori Karang Anyar, Safii, menyampaikan sambutan hangat kepada seluruh rombongan yang hadir. Ia menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan.

Menurut Safii, pihak nagori terus berupaya menjalin sinergi antara program PKK dengan aktivitas masyarakat agar dapat memberikan manfaat nyata sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam arahannya Staf Ahli PKK, Yulince menjelaskan bahwa UP2K merupakan salah satu dari 10 program pokok PKK yang memiliki peran krusial dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di daerah.

“UP2K bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi merupakan langkah nyata dalam meningkatkan pendapatan warga, menciptakan kemandirian perempuan, serta meningkatkan kualitas produk lokal agar mampu bersaing,” jelas Ny Yulince

Yulince juga memberikan apresiasi kepada kader-kader PKK Nagori Karang Anyar yang menunjukkan konsistensi dalam mengelola berbagai produk kreatif, mulai dari olahan pangan hingga kerajinan tangan.

Menurutnya, tujuan dari pembinaan ini adalah agar kualitas produk UP2K semakin baik, memenuhi standar yang ditetapkan, dan mampu memperluas jaringan pemasaran.

Yulince juga menekankan pentingnya kerja sama yang erat antara TP PKK, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten agar program ini dapat berjalan dengan optimal.

“Semangat kewirausahaan ibu-ibu harus terus tumbuh demi meningkatkan kesejahteraan keluarga. Mari kita melangkah dengan optimis dan penuh kekompakan,”pungkasnya.

Sebagai informasi, materi pembinaan dalam kegiatan ini disampaikan oleh Ny Eva Suryati Ulyarta sebagai Ketua Bidang II dan Ny Lurinim Purba sebagai Ketua Bidang I TP PKK Kabupaten Simalungun.

Selain para pengurus TP PKK kabupaten, kegiatan juga dihadiri oleh perangkat daerah terkait, Camat Gunung Maligas Masra, serta pengurus TP PKK dari berbagai nagori se-Kecamatan Gunung Maligas.(*)

Komitmen Komenhaj, Haji Inklusif bagi Lansia, Disabilitas, dan Perempuan

Lingkar.co – Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan layanan ibadah haji yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh jemaah Indonesia, termasuk lansia, perempuan, serta penyandang disabilitas.

Komitmen tersebut disampaikan oleh Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, saat menghadiri acara “Diseminasi dan Diskusi Publik tentang Hasil Pemantauan Haji Inklusif” yang diselenggarakan oleh Komisi Nasional Disabilitas (KND).

Dalam sambutannya, Puji Raharjo menegaskan bahwa ibadah haji merupakan hak setiap muslim tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik.

“Haji adalah hak dan kewajiban bagi seluruh umat muslim, tidak terkendala suku, bangsa, maupun kondisinya,” ujar Puji Raharjo, Senin (19/3/2026).

Puji melanjutkan bahwa pemerintah terus melakukan perbaikan regulasi serta penguatan kebijakan yang mendorong penyelenggaraan haji yang semakin inklusif.

“Alhamdulillah kita dalam perbaikan regulasi terus digaungkan tentang inklusivitas. Kalau haji bukan hanya urusan laki-laki saja, tetapi juga harus ramah bagi lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan. Semua jemaah haji tanpa memandang kondisinya harus mendapatkan jaminan layanan yang sama,” lanjutnya.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa prinsip utama pelayanan haji Indonesia berlandaskan pada nilai aman, manusiawi, dan aksesibel bagi seluruh jemaah Indonesia, sebagai dasar penguatan layanan haji yang inklusif.

“Kami terus mengedepankan dan memperluas koordinasi serta kolaborasi dengan seluruh organisasi dan lembaga disabilitas, sehingga kita dapat memberikan ruang yang sama dan ke depan pelayanan jemaah haji menjadi semakin inklusif,” kata Puji Raharjo.

Sementara, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Dante Rigmalia mengapresiasi respons cepat Kementerian Haji dalam menindaklanjuti berbagai rekomendasi terkait layanan haji bagi penyandang disabilitas.

“Kementerian Haji ketika kami memberikan solusi langsung dilakukan. Pada penyelenggaraan haji sebelumnya, pelayanan Daker Mekkah 2025 bahkan mendapat apresiasi dari perwakilan Kementerian Haji Arab Saudi,” ujar Dante.

Ia juga menilai beberapa layanan sudah menunjukkan perbaikan, termasuk penyediaan konsumsi bagi jemaah berkebutuhan khusus.

“Makanan untuk lansia dan jemaah disabilitas juga sudah cukup baik. Ini menunjukkan adanya perhatian terhadap kebutuhan khusus jemaah,” lanjutnya.

Namun demikian, Dante menekankan masih terdapat beberapa aspek yang perlu terus diperkuat, terutama terkait pendampingan bagi jemaah disabilitas selama menjalankan ibadah haji.

“Perlu pendampingan khusus untuk jemaah disabilitas. Misalnya jemaah yang membutuhkan kursi roda, jangan sampai terpisah dengan pendampingnya, karena itu sangat penting untuk kenyamanan dan keselamatan mereka,” tegas Dante.

Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua KND Deka Kurniawan, Komisioner KND Jonna AD, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat, serta perwakilan dari Kementerian HAM, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Perkumpulan Orang Tua Anak Disabilitas Indonesia (Portadin), serta berbagai kementerian, lembaga, dan organisasi disabilitas lainnya.

Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta yang hadir secara langsung, sementara peserta lainnya mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting secara daring.

Melalui forum ini, berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat terus memperkuat sinergi dalam mendorong penyelenggaraan haji ramah lansia, disabilitas, dan perempuan, sebagai bagian dari transformasi pelayanan haji Indonesia menuju sistem yang semakin inklusif, adaptif, dan berkeadilan bagi seluruh jemaah. (*)

Lantik Fatayat NU Kabupaten Kendal, Margareth Ajak Teguhkan Lima Pilar Organisasi Digdaya

Lingkar.co – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah mengajak pada kadernya untuk meneguhkan visi Fatayat NU. Yakni; menguat bersama, maju bersama untuk perempuan Indonesia dan peradaban dunia menuju organisasi digdaya.

Ia juga mengingatkan agar seluruh kader Fatayat NU harus menjadikan visi organisasi sebagai landasan utama dalam berkhidmah.

“Visi ini bukan sekadar dibaca atau dihafalkan, tetapi harus menjadi pijakan dalam setiap langkah kita berorganisasi untuk penguatan dan kemajuan Fatayat NU,” ujar katanya dalam pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kendal masa khidmah 2025–2030 di Ponpes Darul Amanah, Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Ahad (18/1/2026).

Ia lantas menegaskan bahwa Fatayat NU tidak boleh hanya besar secara nama, tetapi harus kuat secara substansi. Organisasi perempuan muda NU ini, menurutnya, harus mampu membuktikan kebesarannya melalui lima pilar indikator organisasi digdaya.

Dijelaskannya, pilar pertama adalah penguatan struktur organisasi. Margaret menjelaskan bahwa struktur Fatayat NU harus benar-benar hidup dan aktif hingga tingkat paling bawah, mulai dari pimpinan cabang, pimpinan anak cabang, pimpinan ranting, hingga pimpinan anak ranting.

Oleh karena itu ia mengingatkan agar Fatayat NU tidak hanya berdiri di tingkat kabupaten, tetapi juga hadir dan berdaya di kecamatan, desa, bahkan lingkungan RT/RW, majelis taklim, dan pondok pesantren.

“Penguatan struktur tidak hanya soal jumlah kepengurusan, tetapi juga kualitas pengurusnya. Mereka harus memahami visi, misi, serta regulasi organisasi agar mampu menjalankan peran secara optimal,” tegasnya.

Pilar kedua adalah kaderisasi. Menurut Margaret, kaderisasi merupakan jantung organisasi yang harus dilakukan secara berkelanjutan agar Fatayat NU terus melahirkan kader-kader perempuan muda yang tangguh, berdaya, dan berwawasan keorganisasian.

Pilar ketiga adalah penguatan program kerja. Margaret menekankan bahwa seluruh isu tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan ranah gerak Fatayat NU, baik dari perspektif sosial, hukum, ekonomi, kesehatan, maupun keagamaan. Namun demikian, penyusunan program harus berbasis pada persoalan nyata yang dihadapi perempuan dan anak di masing-masing daerah.

“Masalah perempuan dan anak di Kendal tentu berbeda dengan di Semarang atau Kudus. Maka Fatayat NU harus mampu membaca potensi dan persoalan lokal agar program yang dijalankan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pilar keempat adalah penguatan layanan. Dalam konteks ini, Margaret menegaskan pentingnya keberadaan Lembaga Konsultasi Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (LKP3A) Fatayat NU di setiap cabang. Ia menyebut LKP3A sebagai wujud nyata kehadiran Fatayat NU dalam mendampingi perempuan dan anak korban kekerasan.

“Ketika ada perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan, Fatayat NU harus hadir, punya empati, dan mampu mendampingi mereka untuk mendapatkan keadilan,” kata Margaret yang juga menjabat Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Margaret menambahkan, pembentukan LKP3A bersifat wajib meski masih perlu penguatan secara bertahap, termasuk melalui pelatihan paralegal dan konselor bersertifikasi.

Pilar kelima adalah optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi. Ia mendorong kader Fatayat NU untuk aktif memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah dan syiar nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

“Kalau belum bisa masuk televisi, jangan putus asa. Ramaikan media sosial dengan dakwah, pandangan keislaman, serta kegiatan dan program Fatayat NU,” tandasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat