Arsip Tag: Jagung

Luas Lahan Bisa Ditingkatkan Jadi 100.000 Hektare, Kabupaten Blora Incar Posisi Raja Jagung Jateng

Lingkar.co – Bupati Blora, Arief Rohman menargetkan kabupaten yang ia pimpin bisa menjadi penghasil jagung terbesar di Jawa Tengah.

Ia bilang, saat ini Blora merupakan produsen jagung terbesar kedua di Jawa Tengah dengan luas lahan mencapai hampir 83.000 hektare.

Sebagai ikhtiar mencapai target tersebut, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen, termasuk Perkumpulan Semut Ireng dan Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk bersinergi meningkatkan produktivitas jagung demi kesejahteraan bersama.

“Kita tentunya mendukung apa yang menjadi program dari Bapak Presiden terkait dengan ketahanan pangan, bahwa Blora ini penghasil jagung terbesar kedua, kita luasan lahanya hampir 83.000 hektare,” terangnya Rabu (8/4/2026).

Arief Rohman menyampaikan hal itu saat menghadiri acara Halalbihalal yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendamping Perhutanan Sosial Perkumpulan Rejo Semut Ireng Kabupaten Blora di Pendopo Kabupaten.

Bahkan, Bupati Arief berharap dengan tekad bersama dan dengan dukungan Pemkab Blora, nantinya luas lahan pertanian jagung juga bisa ditingkatkan.

“Tidak hanya 83.000, tapi bisa meningkat sampai 100.000 hektare kalau bisa dan kita ingin nanti ada pendampingan juga dari hulu sampai hilir, bagaimana soal bibitnya, soal pupuknya, dan sampai nanti setelah pasca panen ini hilirisasinya seperti apa,” ujarnya.

Terlebih dengan adanya wacana dari Kementerian Pertanian terkait kemungkinan produksi bioethanol yang ada di Kabupaten Blora. Pihaknya ingin agar dinas-dinas terkait bekerja sama dengan Kementerian terkait untuk melakukan pemetaan kaitannya dengan Perhutani, dengan perhutanan sosial dan KTH.

“Muaranya adalah untuk para petani, terutama yang ada di KTH. Nanti dipetakan, dibuat semacam pokja untuk memetakan ini. Jadi biar antara satu dengan yang lain, antara Perhutani ini dengan perhutanan sosial ini, tidak ada dikotomi. Satu dan yang lain Saling bisa berjalan. Tentunya patokannya adalah aturan yang ada,kita harmonisasi,” jelasnya.

Tentunya nanti dari kepolisian dan TNI juga sudah punya program untuk ketahanan pangan, nanti kita bisa seiring sejalan. Lahan-lahan yang kira-kira tidak termanfaatkan, lahan-lahan yang marjinal ini, kalau bisa kita manfaatkan.

“Jadi saya ingin pemetaannya, termasuk kendala-kendala apa yang dihadapi untuk teman-teman yang perhutanan sosial, kita ingin bersinergi, kita ingin bekerjasama dengan baik. Ini kami harap nanti keberadaan teman-teman ini nanti bisa rukun, bisa akur, bisa bersinergi semuanya,” sambungnya.

Usai Halalbihalal, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan dengan menghadirkan narasumber dari Direktur Pengendalian Perhutanan Sosial Dr. Marcus Oktavianus Susatyo, S.Hut, M.P, dari Balai PSKL Yogyakarta Wahyudi Ardhyanto, S.Si.St.MT, Kodim 0721 Blora.

Dari sarasehan itu diharapkan memunculkan rekomendasi kepada para pemangku kepentingan termasuk kepada Pemerintah Kabupaten Blora.

“Kira-kira rumusannya dan seperti apa rekomendasi kepada pemerintah yang harus kami dukung. Termasuk nanti akan kami tindaklanjuti hingga tingkat kecamatan atau desa-desa yang di situ ada lokasi perhutanan sosialnya,” kata dia.

“Kalau selama ini mungkin ada masih ada miskomunikasi antara teman-teman KTH dengan Kepala Desa dan sebagainya, kami tolong diberikan gambarannya dan petanya,” pungkasnya. (*)

Kapolri dan Mentan Panen Raya Jagung di Bekasi

Lingkar.co – Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman panen raya jagung di kabupaten Bekasi, Kamis (8/1/2026)

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memilih di Kampung Tembong Gunung, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menjadi lokasi pelaksanaan Panen Raya Jagung Serentak kuartal IV Tahun 2025

Pada kesempatan itu, Kapolri mengatakan, Polri terus mendorong percepatan swasembada jagung melalui pemanfaatan lahan pertanian di berbagai daerah.

“Selama satu tahun terakhir Polri memaksimalkan peran dalam mendukung swasembada jagung. Dari sekitar 1,3 juta hektare lahan yang kami identifikasi, 586 ribu hektare telah ditanami sepanjang tahun 2025,” ujar Kapolri.

Ia menambahkan, kontribusi Polri dalam program swasembada jagung telah mencapai sekitar 3,4 hingga 3,5 juta ton dan ditargetkan terus meningkat pada tahun 2026.

Sementara, Menteri Pertanian mengatakan, dukungan lintas sektor membuat target swasembada pangan yang semula ditetapkan empat tahun dapat dicapai dalam waktu sekitar satu tahun.

“Peningkatan produksi jagung berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani, mengurangi kemiskinan, dan pengangguran,” ujarnya.

Menurut Amran, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta lembaga negara menjadi kunci keberhasilan pencapaian swasembada pangan nasional, termasuk di daerah yang dikenal sebagai kawasan industri seperti Kabupaten Bekasi.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto mengapresiasi capaian produksi jagung nasional tahun 2025 yang mencapai 16,11 juta ton dengan tingkat konsumsi sebesar 15,60 juta ton.

“Dengan produksi tersebut, Indonesia mengalami surplus hampir setengah juta ton. Sekitar 20 persen atau 3,5 juta ton di antaranya berasal dari kontribusi Kepolisian Republik Indonesia,” kata Titiek.

Ia berharap capaian tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan, serta diperluas ke komoditas strategis lainnya seperti kedelai, gula, garam, dan bawang putih.

Panen raya jagung serentak ini merupakan bagian dari rangkaian panen nasional di lahan seluas 47.830 hektare dengan estimasi produksi mencapai 743.522 ton jagung di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Plt Bupati Bekasi Dr. Asep Surya Atmaja menyampaikan bahwa Kabupaten Bekasi tetap berkontribusi dalam panen raya jagung nasional meskipun dikenal sebagai kawasan industri.

“Alhamdulillah, hari ini Kabupaten Bekasi melaksanakan panen raya jagung di lahan seluas 25 hektare dengan hasil sekitar 150 ton. Produktivitasnya mencapai 6 hingga 10 ton per hektare,” ujar Asep.

Asep Surya Atmaja menambahkan, lahan jagung di Kampung Tembong Gunung akan dikembangkan menjadi 50 hektare sebagai upaya berkelanjutan mendukung ketahanan pangan daerah. (*)

Jagung SPHP Mulai Disalurkan, Anggota Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Sambut Gembira

Lingkar.co – Anggota Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) menyambut gembira atas terealisasinya program Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) melalui Stabilisasi pasukan harga pangan (SPHP) yang dapat membantu menyeimbangkan biaya produksi peternak yang sebelumnya tidak seimbang dengan pendapatan mereka.

Ketua KPUS, H Suwardi yang saat ini juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Kendal menyebutkan, harga jagung saat ini diatas harga HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sehingga hal ini membuat para peternak menjadi kelimpungan lantaran biaya produksi juga menjadi naik.

“Untuk mensikapi kondisi ini Koperasi Peternak Unggas Sejahtera sudah meminta kepada pemerintah untuk bisa membantu agar cadangan jagung pemerintah dikeluarkan melalui program jagung SPHP,” terang Suwardi, Selasa( 7/10/25) saat di kantor Bapanas RI.

Gayung bersambut, menurut Suwardi pada 1 September 2025 lalu pemerintah akhirnya menyambut gembira atas penyaluran jagung SPHP tersebut. Bahkan Suwardi juga diminta menyampaikan statmentnya kepada awak media saat hadir langsung dalam launcing di kantor Kepala Badan Pangan Nasional.

Saat itu Suwardi menyampaikan bahwa penyaluran jagung SPHP ini sebagai bukti kehadiran pemerintah untuk membantu menstabilkan kebutuhan para peternak

“Program ini datang tepat waktu dan sangat dinantikan oleh para peternak unggas ditengah pasokan jagung yang saat ini berkurang dan harga cukup tinggi,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Bulog dan Pinwil Bulog Jateng yang langsung menyalurkan jagung yang sudah ada di gudang Bulog wilayah Jawa Tengah

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas program CJP ini, dan kebijakan ini menurut kami juga tetap melindungi petani dan peternak,” ujarnya.

Suwardi juga menjelaskan Koperasi Peternak Unggas Sejahtera membantu pemerintah dalam penyalurannya. Adapun para peternak yang bisa membeli jagung SPHP adalah peternak yang tergabung dalam koperasi berbadan hukum dan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

“Nanti juga diverifikasi berjenjang. Identitas peternak juga harus jelas, mulai dari nama lengkap, nomor identitas KTP, nomor KK, dan nomor HP,” ungkap Suwardi.

Suwardi juga menyampaikan bahwa belum semua peternak masuk dalam SK pembeli jagung SPHP, sehingga dirinya berupaya untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar dapat mengakomodir para peternak yang belum masuk daftar pembeli jagung SPHP tersebut.

“Karena kemarin ada yang terlambat menyampaikan nomor KK juga. Kemudian pemerintah telah memutuskan, untuk pembelian jagung SPHP setiap 1.000 ekor ayam kebutuhan jagungnya adalah 1.800 kilogram. Dan jumlah peternak anggota KPUS yang masuk dalam SK satu tersebut adalah 900 peternak kecil, mikro dan menengah,” beber Suwardi.

Suwardi berharap dengan adanya program jagung SPHP ini kesejahteraan para peternak KPUS di Kabupaten Kendal terus meningkat. Sehingga juga dapat berkontribusi dalam program-program pemerintah.

“KPUS juga berpertisapasi dalam kegiatan HUT TNi dengan bantuan telur sejumlah 1.000 butir yang disalurkan oleh Kodim Kendal. Kemudian juga ikut partisipasi dalam kegiatan Hari Unggas yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Pangan di Desa Sukodadi Singorojo dengan memberikan bantuan telur rebus untuk 300 anak sekolah dan bantuan telur 100 paket mika untuk keluarga kurang mampu,” tandasnya.

Sementara, salah seorang peternak yang memiliki populasi sekitar 2.000 ekor ayam, Andi mengaku senang atas realisasi jagung SPHP yang sudah lama ia tunggu. Karena program ini bertujuan untuk menekan fluktuasi harga jagung pakan dan menyediakan jagung dengan harga terjangkau Rp 5.500 per kilogram bagi peternak pada tanggal 4 Oktober 2025 kemarin.

“Tentunya sangat senang sekali, harganya Rp 5.400 per kilogram sudah sampai kandangnya. Padahal ketetapan pemerintah harganya Rp 5.500,” ungkapnya sambil berterimakasih pada Ketua KPUS yang selalu berjuang untuk anggotanya.

Senada, peternak lainya Sutrisno mengucapkan terima kasih atas program jagung SPHP yang sangat membantu para peternak unggas.

“Terima kasih kepada Bapak Kepala Bapanas, Pak Dirjen PKH, Satgas pangan Mabes Polri, dinas provinsi dan kabupaten atas realisasi program jagung SPHP,” pungkasnya. (*)

Penulis: Yoedhi W

Dispertan Sebut Grobogan Jadi Daerah Penghasil Jagung Terbesar se-Indonesia

Lingkar.co – Kabupaten Grobogan disebut sebagai wilayah penghasil jagung terbesar di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Grobogan Sunanto, Kamis (29/2/2024).

Ia mengungkapkan total luas lahan jagung di Grobogan sekura 150 ribu hektare. Dengan kebutuhan benih yang diperlukan oleh para petani sebanyak 2 ribu ton bibit jagung.

“Kalau kita nominalkan, sekitar di angka Rp 200 miliar untuk benih jagung di Kabupaten Grobogan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan lahan pertanian terutama milik perhutani atau lahan-lahan sekitar hutan mayoritas ditanami jagung.

“Sehingga, penanaman yang pertama atau saat bukaan hutan misalnya, yang harus ditanam adalah jagung, karena hubungannya dengan ketersediaan air,” jelasnya.

Menurutnya, produksi jagung di  Kabupaten Grobogan setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.

“Untuk produksi jagung sendiri setiap tahun ada peningkatan. Untuk saat ini tahun 2023 di kisaran 850 ribu ton,” katanya.

Meskipun lahan yang dimiliki terbatas, pihaknya terus mendorong para petani untuk melakukan inovasi. Termasuk juga dalam peningkatan varietas.

“Sehingga dengan luas lahan yang istilahnya terbatas, peningkatan produksi hanya dengan adanya produk dari varietas baru yang lebih tinggi produktifitasnya,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni melalui Asisten II Heru Dwi Cahyono mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan selalu mendukung sektor pertanian di Kabupaten Grobogan. Supaya dapat menjaga ketahanan pangan, tidak hanya di Grobogan, namun juga secara nasional.

“Di mana Kabupaten Grobogan menjadi salah satu lumbung jagung nasional dan tertinggi di Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Ia mengatakan saat ini harga jagung di pasaran sekira Rp 4.500 sampai 5.200 per kilogram. Harga ini bisa jadi yang tertinggi yang pernah dirasakan oleh petani.

“Semoga harga jagung tetap stabil, agar dapat memberikan banyak kebaikan bagi para petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomiannya,” harapnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Manfaatkan Hutan untuk Pertanian, Ganjar Wanti-wanti Harus Perhatikan Pohon Penahan Air

KAB. SEMARANG, Lingkar.co – Semakin luasnya pemukiman penduduk, berdampak pula pada berkurangnya lahan pertanian. Demikian pula hutan, banyak yang dibuka untuk lahan baru.

Oleh sebab itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mewanti-wanti pemanfaatan kawasan hutan untuk pertanian harus mempertimbangkan adanya pohon penahan air.

Ia mengingatkan hal itu agar tanah pada daerah tinggi dan kemiringan tinggi tidak longsor maupun menyebabkan banjir.

“Umpama daerah dengan kemiringan yang tinggi harus ditahan betul, seperti pohon yang sudah ditebang itu akarnya jangan dicabut karena itu cukup bisa menahan air hingga nanti penanaman dari Perhutani berikutnya,” kata Ganjar.

Ganjar mengingatkan hal itu saat menghadiri penanaman jagung dalam rangka ketahanan pangan di Petak 49 Jragung, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Selasa (24/1/2023).

“Nah di sela-sela itulah silakan ditanami. Maka kita musti juga menjaga alamnya agar kemudian tidak terjadi banjir,” sambungnya.

Ganjar mengingatkan hal itu bukannya tanpa sebab. Melainkan lantaran sebelumnya pemanfaatan kawasan hutan milik Perhutani untuk lahan pertanian di wilayah Kendeng tidak memperhatikan prosentase tegakan atau pohon penahan air. Hampir 90 persen lahan hanya ditanami jagung tanpa ada tumbuhan keras sama sekali.

“Saya ingatkan itu karena sudah terjadi di Pati dan Grobogan (pegunungan Kendeng, -red). Sehingga kemarin waktu hujan terjadi banjir dan longsor,” ungkapnya.

“Untuk petani yang kemarin terdampak bencana, kita sudah punya mekanisme untuk merecover. Pemerintah ada benih yang bisa dibagikan, lalu ada juga asuransi petani untuk kerugian,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mewanti-wanti pemanfaatan kawasan hutan untuk pertanian harus mempertimbangkan adanya pohon penahan air.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat menghadiri penanaman jagung dalam rangka ketahanan pangan di Petak 49 Jragung, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang (Foto: dokumentasi)

Ganjar Apresiasi Polri

Sementara terkait penanaman jagung di Petak 49 Hutan Produksi Jragung, Pringapus itu, Ganjar mengapresiasi Polri selaku penggerak melalui Satgas Pangan Polda Jateng menginisiasi kegiatan bersama Perum Perhutani dan kelompok petani di sekitar Petak 49.

“Bagus ini. Jadi tidak hanya operasinya. Sekarang Polri dengan ekstrakurikulernya kita mendapatkan dukungan,” ujarnya.

“Jadi kalau biasanya kita sambat kepada kepolisian kalau ketika ada operasi satgas pangan, umpama kelangkaan penimbunan, dan sebagainya, tapi hari ini kita dibantu mulai dari penanaman serentak. Luasnya juga cukup signifikan dan ini kita bis memanfaatkan lahan-lahan milik Perhutani,” jelas Ganjar.

Menurutnya, saat ini masih banyak yang belum memanfaatkan lahan tidur. Karenanya, Ganjar menilai langkah dari Satgas Pangan Polda Jateng memanfaatkan hutan produktif dengan tanaman tumpang sari dapat mendorong produktivitas beberapa komoditas. Baik jagung, padi maupun mengembangkan komoditas lain yang sesuai.

“Itu yang menurut saya bisa ngegas beberapa komoditas yang ada. Kalau hari ini jagung, mungkin nanti di tempat lain bisa kita sesuaikan dengan yang lain,” urainya.

“Terima kasih kepada teman-teman kepolisian yang hari ini memberikan tugas tambahan kepada anggota untuk menanam. Kalau musim hujan saat ini masih ada sisa dan kita bisa memanfaatkan tentu ini akan sangat luar biasa dan masyarakat sekitar hutan bisa menikmati hasilnya,” tuturnya.

Terkait kebutuhan pangan, menurut Ganjar, secara umum setiap tahun kebutuhan dapat tercukupi. Namun ada bulan-bulan tertentu, misalnya sebelum panen, terjadi kelangkaan. Jagung termasuk dalam salah satu komoditas tersebut.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat menghadiri penanaman jagung dalam rangka ketahanan pangan di Petak 49 Jragung, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat menghadiri penanaman jagung dalam rangka ketahanan pangan di Petak 49 Jragung, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang (Foto: dokumentasi)

“Makanya kalau hari ini kita bisa menambah dan kemudian tadi dari beberapa perusahaan swasta menjadi offtaker, selanjutnya kita bisa me-manage untuk kebutuhan yang sifatnya lokal biasanya kebutuhan pakan ternak,” ungkapnya.

Sementara, Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan, seluruh jajaran di Polda Jateng melaksanakan secara serentak kegiatan penanaman untuk penguatan pangan.

Ia sebut total ada sekitar 475 hektar di seluruh wilayah Jawa Tengah. Khusus untuk wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang, ada sekitar 15,5 hektare yang ditanami jagung

“Jajaran se-Jateng bersama-sama hari ini 475 hektare. Kegiatan ini untuk memberikan kontribusi penguatan pangan untuk masyarakat kita di wilayah Jawa Tengah. Semoga ini menjadi titik balik untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” jelasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat