Arsip Tag: Padi Organik

Sertifikat Beras Organik Produksi Dua Klomtan di Blora Sudah Terbit

Lingkar.co – Beras organik milik dua klomtan di wilayah Kecamatan Kedungtuban, Blora, masing-masing Klomtan Jemari Agung, Desa Sidorejo, Kedungtuban, dan Klomtan Bina Alamsri Mandiri, Desa Bajo, kantongi sertifikat.

Bupati Blora, H. Arief Rohman mengapresiasi dan menyambut baik dengan telah terbitnya sertifikat beras organik milik dua Klomtan di Kedungtuban itu. Ditandaskan, pihaknya melalui DP4 akan terus kawal dam dorong semua desa di Blora untuk llllllllla pertanian organik secara masif.

Sertifikat yang dikantongi oleh “Jemari Agung” dan Bina Alamsri Mandiri itu, dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman. Dalam sertifikat tertanggal 6 November 2023 itu, disebutkan bahwa beras organik produksi dua Klomtan tersebut, dinyatakan secara konsisten telah memenuhi persyaratan SNI 6729 : 2016, Sistem Pertanian Organik melalui Internal Control System ( ICS).

Bupati Arief lanjut mengatakan, pihaknya terus mendorong sejumlah Klomtan yang ada di Blora yang telah bertani organik dan mempunyai produksi, segera diurus sertifikatnya.

‘’Permintaan pasar sudah terus mengalir, dan ini harus disambut dengan positif oleh para petani di Blora,’’ tandasnya.

Sertifikat Beras Organik Produksi Dua Klomtan di Blora Sudah Terbit. Foto: dokumentasi

Dikemukakan, hasil promosi yang ia dilakukan ke beberapa tempat, termasuk diaspora yang ada di Jakarta dan di sejumlah kota lainnya, ternyata minat untuk membeli beras organik produksi petani Blora terus mengalir dan meningkat.

‘’Sering saya ditelpon agar dipesankan beras organik dalam jumlah puluhan Kilogram. Ada yang pesan 50 Kg, 25 Kg dari banyak Diaspora. Ini artinya pasar sudah menyambut positif, dan ini harus diimbangi para petani untuk konsisten memproduksi beras organik itu. Karena permintaan pasar terus meningkat,’’ tandas Bupati Blora yang akrab dipanggil Mas Arief itu.

Ke depan, lanjut Mas Arief, pihaknya akan mewajibkan para Kepala Desa se Blora punya demplot pertanian organik. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan mimpi Blora sebagai Kabupaten Organik segera terwujud.

Apalagi, demikian Bupati, selama ini ternyata ploting Dana Desa (DD) untuk Ketahanan Pangan adalah 20 persen. Selama ini kebanyakan dana ketahanan pangan itu digunakan untuk membangun talud, dengan alasan supaya dana yang ada cepat terserap.

‘’Kedepan, saya akan arahkan agar dana ketahanan pangan dari DD itu bisa digunakan pembuatan demplot pertanian organik, juga untuk mensukseskan gerakan Gerakan Sejuta Kotak Umat (Gerakan masif Menjadikan Kotoran Ternak Bermutu dan Kaya Manfaat). Manfaatnya tentu akan dirasakan oleh masyarakat,’’ pungkas Bupati Arief Rohman. (Adv)

Potensi Melimpah, Bupati Arief Optimistis Mimpi Blora Sebagai Kabupaten Organik Terwujud

Lingkar.co – Bupati Blora, H. Arief Rohman optimistis bahwa mimpi Blora jadi Kabupaten Organik bakal terwujud. Menurutnya, potensi Blora melimpah (populasi sapi terbesar di Jawa Tengah), tinggal bagaimana petani mempunyai tekat untuk bertani organik.

Bupati menyampaikan hal itu usai panen raya padi organik di lahan milik Klomtan Sido Makmur, Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, Jumat (10/11/23), sore.

‘’Kami akan mendorong terus petani di Blora untuk bertani organik,’’ tandasnya.

Dikemukakan, saat panen raya di lahan milik Pak Nur, Klomtan Sido Makmur, Gondel, hasil ubinannya 8,7 Ton. Setelah diproses menjadi beras sekitar 4 Ton lebih. Jika dihitung, dengan harga Rp 17.000/Kg, maka per Hektarnya bisa menghasilkan hampir Rp 70 juta.

‘’Ini secara manajemen, hasilnya sudah kelihatan. Dihitung saja, hasil panen dikurangi berapa biaya produksinya sudah kelihatan hasilnya,’’ ungkap Bupati kepada sejumlah anggota Klomtan Sido Makmur.

Terpenting, demikian Bupati yang akrab dipanggil Mas Aref itu, para petani diminta konsisten, dan menyadari bahwa untuk beralih ke pertanian organik butuh proses. Mungkin di tahun pertama, kedua, hingga tahun ketiga hasilnya belum maksimal.

Cerita keberhasilan pertanian organik, juga pernah dikemukakan oleh Mas Arief, yakni saat hadir di acara panen padi organik di wilayah Kedungtuban baru-baru ini, ternyata hasil panen pertanian organik tersebut memuaskan.

Seperti saat panen padi organik yang di Desa Bajo, Ngraho, Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban. Rata-rata harga beras organik dari panenan itu bisa Rp 17.000/Kg.

Saat panen padi organik di beberapa desa di Kedungtuban itu, ternyata menghasilkan 8,4 Ton/Ha gabah kering panen dan setelah diproses menjadi beras sekitar 4,1 Ton lebih. Jika dihitung, dengan harga Rp 17.000/Kg, maka per Hektarnya bisa menghasilkan sekitar Rp 70 juta lebih.

Potensi Melimpah

Disampaikan Bupati Arief, banyaknya jumlah ternak sapi di Kabupaten Blora menjadi salah satu peluang emas untuk pengembangan pertanian organik. Disisi lain pertanian organik bisa menjadi solusi bagi para petani untuk tetap produktif, di tengah keterbatasan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat.

Menurut Bupati, setelah disurvei, beberapa persoalan yang disampaikan masyarakat Blora, urutan pertama adalah soal pupuk, kedua infrastruktur jalan, dan ketiga air. Persoalan pupuk jadi hal yang mendominasi dari apa yang dikeluhkan, karena memang sebagian besar masyarakat bekerja di bidang pertanian.

Bupati Blora, Arief Rohman saat mengikuti panen padi organik bersama petani. Foto: dokumentasi

‘’Solusinya, pertama petani membeli pupuk non subsidi, kedua bagaimana kita punya potensi bahan baku pupuk organik yang melimpah harus dimanfaatkan. Bagaimana persoalan pupuk ketika petani butuh ini bisa dicukupi, kita buat terobosan agar tidak tergantung pupuk bersubsidi. Pertanian memanfaatkan pupuk organik dari kotoran sapi, di Blora ini sudah menerapkan tapi belum masif,” Jelasnya Bupati Arief

Terkait program Pemkab Blora, Gerakan Sejuta Kotak Umat (Gerakan masif Menjadikan Kotoran Ternak Bermutu dan Kaya Manfaat), juga sudah dilakukan oleh anggota Klomtan Sido Makmur di Desa Gondel. Yakni suatu gerakan masif pembuatan kotak fermentasi untuk mengolah kotoran ternak agar menjadi pupuk yang bermutu dan kaya manfaat untuk tanah dan tanaman pertanian.

Terpisah, salah satu petani organik di Desa Gondel, Dwi Putranto, mengungkapkan, apa yang menjadi program Bupati Blora untuk menjadikan Blora sebagai Kabupaten Organik perlu didukung penuh.

‘’Gerakan ini harus dimassifkan. Perlu proses memang, hanya melihat kondisi tanah yang sudah tidak subur akibat penggunaan pupuk kimia, ketersediaan pupuk bersubsidi yang minim, tentu yang harus dipahami oleh para petani,’’ tandasnya.

Dwi mengemukakan, dirinya saat ini juga sudah menanam padi organik, dan hasilnya cukup bagus. ‘’Semua butuh proses, di tahun pertama hasilnya mungkin belum maksimal. Dimungkinkan menginjak tahun ke empat hasilnya akan maksimal,’’ ungkap Dwi Putranto. (Adv)

Bupati Arief Apresiasi Pertamina EP 4 Cepu, Gerak Sinergi Wujudkan Blora Kabupaten Organik

Lingkar.co – Bupati Blora, H. Arief Rohman mengapresiasi dan mendukung upaya Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Zona 11, yang telah bersinergi dalam mewujudkan Blora menuju Kabupaten Organik.

Orang nomor satu di Blora ini bahkan ikut dalam pesta panen padi organik bersama petani di areal persawahan milik Supardi, Warga Desa Sidorejo, yang merupakan salah satu demplot pertanian organik di Kecamatan Kedungtuban, Kamis (26/10/2023), sore.

Panen tersebut merupakan hasil binaan program CSR Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Zona 11. Bupati yang akrab dipanggil Mas Arief itu mengaku senang dengan hasil bumi yang bebas dari bahan kimia.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh upaya pengembangan pertanian organik ini,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati pun meminta para kades agar memberikan contoh kepada warganya untuk mengembangkan pertanian organik.

“Saya juga minta para kades bisa memberikan contoh pada warganya untuk mengembangkan pertanian organik. Nanti akan kita dukung pengembangannya ke seluruh Kecamatan,” tandas Bupati.

Bahkan ia mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan seluruh penyuluh pertanian dari dinas untuk ikut fokus melakukan pendampingan pertanian organik secara masif.

“Saya harap Kedungtuban bisa menjadi contoh, dan luasnya tanam bisa ditambah,” harapnya.

Sebab, ia menilai, hasil pertanian organik lebih bagus, menyehatkan, dan rasanya lebih enak. Dari segi harga jual juga lebih tinggi daripada hasil pertanian konvensional yang memiliki ketergantungan pada pupuk kimia.

Kabupaten Organik

Bupati Blora Arief Rohman saat mengikuti panen padi organik binaan CSR Pertamina di Desa Sidorejo Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora. Foto: dokumentasi

Pada kesempatan itu, Bupati Arief menandaskan impiannya, yakni Blora menjadi Kabupaten Organik. Untuk itu dinas terkait diminta untuk terus melakukan inovasi-inovasi agar bisa terlaksana.

“Dengan pertanian organik, kita tidak akan tergantung pada pupuk kimia yang sering langka. Karena petani bisa membuat pupuk sendiri dengan bahan alami yang ada di sekitar,” ujarnya.

Terpisah, General Manager Pertamina EP Asset 4 Field Zona 11, Muzwir Wiratama mengatakan, panen padi organik bersama petani di Desa Sidorejo merupakan bagian dari CSR yang ia kembangkan.

”Ini adalah salah satu contoh yang berhasil dan tentunya luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya bisa kolaborasi dengan para petani secara baik dan lancar. Hal itu juga tidak lepas dari dukungan penuh Pemkab yang sangat luar biasa.

“Terlebih kita semua bisa melihat padi organik ini memberikan dampak yang lebih besar sehingga kita harapkan ekonomi masyarakat yang lebih baik,” ucapnya.

Sejalan dengan hal itu, Muzwir menegaskan, Pertamina akan sangat mendukung program-program pengembangan masyarakat untuk lebih baik.

“Terkait penjualan akan kami serahkan ke Dinas terkait. Tentunya pertamina juga akan sangat mendukung dengan aturan yang berlaku,” imbuhnya.

Kepala Desa Sidorejo, Agung Heri Susanto mengatakan, saat pandemi banyak petani yang gagal panen, bahkan hampir 2 tahun.

“Saat itu kami mendapat CSR dari Pertamina, dan kami buat kampus pertanian. Alhamdulilah semua ikut belajar disini dan gratis, ” jelasnya.

Menurut Agung, dari belajar bersama itu saat ini para petani bisa membuat kompos, pestisida organik, kemudian bercocok tanam sendiri, pengolahan hasil sampai membuat obat obatan herbal yang ditanam secara organik.

“Saya harap virus ini bisa disebarluaskan di Blora, terlebih pak Bupati juga sangat mensupport sekali sehingga nanti diharapkan Blora go organik di tingkat nasional,” harapnya.

Agung menghitung, sampai saat ini sudah ada 15,6 Hektare petani menanam padi organik.

“Petani sudah pada semangat, dan kami berupaya mengedukasi petani lain sehingga nanti bisa menghasilkan pangan sehat yang untuk Blora,” pungkas Agung Heri. (Adv)