Arsip Tag: budaya

13 Bilah Demung Hilang di Unnes, Alarm Keamanan dan Ancaman bagi Pembelajaran Budaya

Lingkar.co — Kehilangan 13 bilah demung di lingkungan kampus bukan sekadar kasus pencurian biasa. Di Universitas Negeri Semarang, peristiwa ini justru membuka persoalan yang lebih luas, keamanan aset budaya sekaligus keberlangsungan pembelajaran seni tradisional.

Instrumen gamelan yang hilang merupakan bagian dari perangkat praktik mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni. Kehilangan ini baru disadari saat aktivitas perkuliahan kembali berjalan normal.

Wakil Dekan II Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, M. Burhanuddin, menjelaskan dugaan waktu kejadian mengacu pada rekaman kamera pengawas.

Ia menyebut pelaku diduga masuk pada Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 12.20 WIB dan keluar sekitar 20 menit kemudian.

“Pelaku masuk seperti mahasiswa biasa, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ditemukan tanda pembobolan, yang mengindikasikan akses dilakukan secara wajar di tengah aktivitas kampus.

Bilah demung yang diambil merupakan bagian dari alat musik gamelan yang digunakan dalam mata kuliah karawitan Jawa. Sebanyak 13 bilah hilang dari satu set yang aktif digunakan mahasiswa dalam praktik sehari-hari.

“Yang diambil adalah bagian yang dipakai untuk kegiatan kuliah,” jelas Burhanuddin.

Ia menegaskan, dampak utama bukan pada nilai materi, tetapi pada terganggunya proses belajar mahasiswa.

Secara nominal, kerugian diperkirakan berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta. Namun bagi kampus, kehilangan ini berdampak langsung pada mahasiswa yang sedang mempelajari dan melestarikan budaya Jawa. Tanpa instrumen yang lengkap, proses praktik menjadi terhambat.

“Mahasiswa jadi terkendala karena alatnya tidak utuh,” katanya.

Menariknya, kasus ini disebut memiliki kemiripan dengan sejumlah kehilangan gamelan di tempat lain.

Beberapa di antaranya terjadi di kelompok kesenian Ngesti Pandawa, serta kampus seni seperti ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Meski begitu, keterkaitan antar kejadian tersebut masih dalam tahap penelusuran dan belum dapat dipastikan.

Kepala Humas Unnes, Surahmat, membenarkan kejadian tersebut dan menyebut pihak kampus tengah mengumpulkan bukti.

“Rekaman CCTV sedang dikumpulkan untuk dilaporkan kepada pihak berwajib,” ujarnya.

Koordinasi juga telah dilakukan dengan aparat kepolisian setempat untuk menindaklanjuti kasus ini. Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang-ruang pendidikan budaya tidak luput dari risiko keamanan.

Ketika alat musik tradisional hilang, yang terdampak bukan hanya institusi, tetapi juga proses pewarisan budaya itu sendiri. Dan jika pola ini terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar kehilangan, melainkan hilangnya ruang belajar bagi generasi berikutnya. ***

Rawat Tradisi dan Kukuhkan Generasi Panatacara, Sanggar Reksa Budaya Gelar Wisuda Purna Wiyata Bregada V

Lingkar.co – Sanggar Seni Reksa Budaya Jawa menggelar Wisuda Purna Wiyata Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Bregada V di kompleks Sanggar Reksa Budaya Jawa, Desa Karangawen, Kabupaten Demak, Ahad (23/11/2025).

Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Karangawen Purhadi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada sanggar dan para pengampunya yang telah melestarikan tradisi Jawa.

“Kami berterima kasih kepada Bopo Sudarmo Kusumo Diharjo yang telah konsisten menguri-uri budaya Jawa. Semoga ilmu yang diberikan bermanfaat luas dan membawa dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Pengampu sanggar, Bopo Sudarmo Kusumo Diharjo menyatakan bahwa dirinya berkomitmen untuk terus menjaga keberlangsungan tradisi Jawa melalui pendidikan seni dan bahasa.

“Kami akan terus membuka kelas-kelas berikutnya. Pelestarian budaya tidak boleh berhenti, dan generasi muda harus diberi ruang untuk belajar sekaligus mencintai warisan leluhurnya,” tuturnya.

Sudarmo secara resmi mewisuda 19 siswa yang telah menyelesaikan pendidikan panatacara angkatan ke-V. Mereka dinyatakan lulus sebagai generasi baru panatacara atau pembawa acara adat Jawa yang dituntut tidak hanya fasih berbahasa Jawa, tetapi juga memahami filosofi serta etika budaya.

Hadir dalam acara tersebut; Kepala Desa Karangawen Purhadi, Sekretaris Kecamatan Karangawen Ani Fahriyati, para pengampu sanggar seni dari wilayah Demak, serta masyarakat sekitar yang turut memberi dukungan pada pelestarian budaya Jawa di daerah tersebut.

Kegiatan juga dimeriahkan dengan penampilan sejumlah tarian tradisional, seperti Gambyong, Tari Payung, Tari Merak, dan Tari Lilin. (*)

Begini Upaya PSHT Mijen Jaga Soliditas Lewat Aksi Simpatik

Lingkar.co – Para pegiat perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kecamatan Mijen berupaya menjaga soliditas kader dengan berbagai aksi simpatik. Kegiatan yang bernuansa sosial itu dilakukan dalam bentuk membantu pemerintah maupun membantu warga. Salah satunya dengan ikut nimbrung dalam tradisi gotong royong.

“Ikut nimbrung dalam gotong royong ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita dalam menjaga kesolidan dan kebersamaan dalam organisasi pencak silat serta wujud dari upaya memberikan kemanfaatan ditengah-tengah masyarakat,” kata Ketua PSHT Kecamatan Mijen, Triyo Mardiantoro pada Lingkar.co Rabu (13/11/2024).

Kata dia, gotong royong ketika ada warga yang membutuhkan bantuan tenaga seperti bongkar rumah, keamanan acara keagamaan memang masih menjadi tradisi di wilayah Kecamatan Mijen seperti hajat Nasoka, warga RT 03, RW 02 Kelurahan Wonoplumbon, Mijen yang pada akhir pekan lalu tengah memperbaiki rumah.

“Tradisi gotong royong ini harus dilestarikan, apalagi bongkar rumah di musim hujan seperti ini. Alhamdulillah ada 40 orang anggota PSHT dari berbagai kelurahan bisa ikut membantu agar cepat selesai,” ungkapnya.

Menurutnya, hal itu sangat sejalan dengan ajaran PSHT yang menjaga keindahan dunia dengan perilaku hidup yang secara filosofis disebut masyarakat Jawa dengan istilah Memayu Hayuning Bawono. Selain itu, gotong royong juga menjadi bentuk lain dari pengabdian para pendekar silat kepada masyarakat.

Aksi simpatik tersebut, kata dia, berjalan sebagaimana arahan dan dukungan dari para sesepuh PSHT Mijen yang juga ikut hadir dalam gotong royong. Kusnadi, salah satunya. Senior PSHT Mijen yang mendorong agar anggota pencak silat PSHT selalu hadir untuk kebaikan masyarakat.

“Belajar silat bukan hanya melestarikan tradisi seni beladiri atau mencari prestasi dalam turnamen, tapi mengasah hati agar lebih peka terhadap fenomena sosial. Semoga dengan ikut gotong royong ini PSHT mampu memberi warna yang baik dan menjadi solusi untuk kemaslahatan masyarakat,” tuturnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Kesenian Asal Rembang Pukau Pengunjung TMII

Lingkar.co – Pagelaran seni budaya Kabupaten Rembang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (10/11/2024), memukau penonton yang memadati lokasi acara. Tidak hanya warga asli Rembang yang tinggal di ibu kota, namun juga pengunjung dari luar Jawa Tengah yang sengaja berkunjung ke TMII turut hadir.

Berlokasi di pendapa anjungan Jawa Tengah, pagelaran dimulai dengan penampilan grup campursari dari Pantai Balongan, Desa Balong Mulyo, Kecamatan Kragan, di bawah pimpinan Ali Nasikin. Widya Veronica dan Rosya Zelvia bergantian melantunkan lagu-lagu campursari sebagai ucapan selamat datang kepada penonton yang berasal dari berbagai kota.

Selanjutnya, dua siswi MAN 2 Rembang, Virmania Priandini dan Fauzatul Ulya, menampilkan Tari Bondan Kendi. Para penonton terlihat terpukau dan banyak yang mengabadikan momen tersebut.

Sebagai penutup, Sanggar Seni Barong Condro Mowo dari Kecamatan Pamotan menampilkan pertunjukan kolosal yang terdiri dari tari cemeti, rampak barongan, bujangganong, jaranan, serta drama tari “Wangsit Satrio Jati.”

Chinsan, warga Jakarta Barat yang menonton pagelaran ini bersama kedua orang tuanya, mengaku tertarik dengan kesenian dan budaya. Ia sering mendokumentasikan penampilan seni melalui kameranya untuk dibagikan di media sosial.

“Its oke (pagelaran seni budaya Rembang yang ditampilkan bagus, Red). Belum tau sama sekali (belum tahu tentang kesenian dari Rembang sebelumnya- red), kalau ada yang menarik terutama tentang budaya Dayak, Bali ataupun Jawa seperti ini, its oke (jika ada kesempatan datang- red),” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang, Muttaqin, menyatakan apresiasinya terhadap antusiasme penonton, terutama warga Rembang yang tinggal di Jakarta. Ia berharap tahun depan Rembang bisa tampil lebih baik lagi, menghibur masyarakat di Jakarta sekaligus mempromosikan potensi wisata, seni budaya, dan produk UMKM.

“Ada juga penonton dari luar negeri yang tertarik dengan kearifan lokal seni budaya kita, termasuk koreografi membakar dupa. Beliau ingin berkomunikasi lebih lanjut dengan kami, sehingga tadi memberikan kartu nama,” ungkapnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Pathol Sarang dan Laesan Akan Diajukan Jadi Warisan Budaya Takbenda Tahun Depan

Lingkar.co – Dua tradisi asal Kecamatan Sarang dan Lasem, Kabupaten Rembang, akan diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2025. Setelah Batik Lasem dan tradisi Penjamasan Bendhe Becak Sunan Bonang ditetapkan sebagai WBTbI, kini giliran Pathol Sarang dan Laesan yang menjadi fokus.

Pathol Sarang, menyerupai olahraga gulat atau sumo dari Jepang. Tradisi ini biasanya diikuti oleh nelayan setempat dan digelar setiap tahun saat sedekah laut untuk melestarikannya.

Sementara itu, Laesan, yang berasal dari Kecamatan Lasem, adalah kesenian perpaduan antara tarian dan musik tetabuhan khas, diiringi tembang tradisional. Penari utama Laesan, yang disebut Lais, serta pengrawit, penembang, cantrik, dan pawangnya, semuanya adalah laki-laki. Seni ini terus menjadi hiburan rakyat hingga sekarang.

Sub Koordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Retna Diah Radityawati, mengungkapkan bahwa kedua seni budaya tersebut telah memiliki kajian yang kuat untuk didaftarkan sebagai WBTbI.

“Tahun depan kami mengajukan untuk seni Pathol sama Laesan, ini yang sudah punya kajiannya,” ujarnya, Rabu (4/8/2024).

Ke depan, pihak Dinbudpar akan berkoordinasi dengan para pelaku budaya untuk pendataan dan pencatatan dalam Data Pokok Kebudayaan (Dapobud), karena pelaku budaya adalah elemen penting dalam proses penetapan WBTbI.

“Pelaku budaya itu juga tidak sembarangan, maksudnya kita memasukkannya juga orang-orang yang berkecimpung disitu. Bahkan ada KTP juga yang harus kita masukan,” tambahnya.

Sebelumnya, Batik Lasem dan tradisi Penjamasan Bendhe Becak Pusaka Sunan Bonang dari Rembang berhasil ditetapkan sebagai WBTbI oleh Kemendikbudristek pada sidang di Jakarta, 21 Agustus lalu. Keduanya termasuk dalam 272 budaya takbenda lainnya yang diakui dari seluruh Indonesia. (*)

Gambaran Kekokohan, Empat Unsur Budaya Meriahkan Semarang Night Carnival 2024

Lingkar.co – Empat unsur budaya khas Ibu Kota Jawa Tengah mendominasi perayaaan Semarang Night Carnival 2024 (SNC) 2024 yang digelar pada Sabtu (4/5/2024) malam. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) nampak mengenakan busana yang menggambarkan ciri khas Kota Semarang. Tema yang diangkat dalam Puncak Perayaan Hari Jadi Kota Semarang ke-477 yakni “Niscala” yang memiliki arti kekokohan dan kekuatan.

Niscala menggambarkan kekompakan dan kebersamaan warga yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk membangun Kota Semarang terus menjadi lebih hebat.

Sementara empat unsur budaya Kota Semarang yang ditampilkan yakni pertama ada Warak Ngendhog yang menjadi ikon Ibu Kota Jawa Tengah. Warak Ngendhog sudah menjadi warisan budaya tak benda oleh Kemendikbudristek.

Kedua Elang Jawa yang saat ini habitatnya masih ada dan selalu dijaga. Elang Jawa sengaja diangkat agar semua pihak bisa terus menjaga dan melestarikan.

Ketiga budaya akulturasi Kota Semarang yakni Barongsai. Barongsai dibawa oleh etnis Tionghoa ke Indonesia dan kini sudah menjadi salah satu bagian dari budaya Kota Semarang dalam mempererat toleransi.

Kemudian yang terakhir Rewanda yang mengingatkan perjuangan Sunan Kalijaga mencari kayu jati di Goa Kreo untuk membangun Masjid Demak. Sunan Kalijaga dibantu oleh empat ekor monyet untuk menjaga kayu jati.

Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, keempat budaya ini diangkat juga dalam rangka keberagaman dan upaya mempromosikan pariwisata Kota Semarang.

Acara ini semakin meriah lantaran ada peserta dari daerah lain seperti Tabalong Kalimantan Selatan, Salatiga, dan Grobogan. Ditambah ada tamu undangan dari luar negeri, salah satunya Korea Selatan.

“Tentu menjadi harapan juga meningkatkan kunjungan wisata Kota Semarang. Kita tahu destinasi wisata Kota Semarang terbatas, seperti destinasi gak punya gunung yang bagus. Tetapi bagaimana kita mengemas dan kolaborasi agar pariwisata dan ekonomi kreatif bisa berjalan,” ujarnya.

Mbak Ita berharap tema yang diusung ini bisa meningkatkan kekompakan antara stakeholder dan masyarakat untuk membangun Kota Semarang yang lebih baik.

Parade SNC tahun ini, dimulai dari Jalan Pemuda dengan flag off dari Balai Kota Semarang. Ini menjadi satu rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Semarang ke-477.

“Tentu hari ini satu dari salah satu puncak peringatan HUT Kota Semarang, yang tentu bisa memberikan kegembiraan dan menggeliatkan ekonomi karena ini (kostum-red) karya para pelaku ekonomi kreatif. Sehingga bisa memberikan dampak luar biasa dan bisa menjadi contoh daerah lain,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, R Wing Wiyarso menjelaskan, ada yang berbeda dalam penyelenggaraan Semarang Night Carnival tahun ini.

Perbedaannya tahun lalu dimulai dari Kota Lama tepatnya di titik 0 kilometer. Kini sesuai keinginan masyarakat dan arahan Wali Kota Semarang, rute mulai dari Balai Kota agar lebih nyaman.

“SNC kali ini selain bersinergi dengan peringatan Hari Jadi Kota Semarang, juga masuk dalam penyelenggaraan Semarang Introducing Market yang berpusat di Simpanglima. Sehingga seluruh warga dan wisatawan bisa berkumpul di sana,” paparnya.

Lebih lanjut, para peserta SNC maupun masyarakat dengan kostum unik bisa mendapatkan hadiah. Hal ini karena terdapat dewan juri dan akan dipilih 10 kostum terbaik untuk mendapatkan hadiah dari Wali Kota Semarang. Pihaknya menyiapkan tim independen yang nanti akan menilai para peserta.

“Kita sudah siapkan tim untuk penilaian, karena kita hunting agar masyarakat tidak tahu ada tim penilai yang berkeliaran,” imbuhnya.(*)

Penulis: Ani Friska

Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Pemkab Kudus Ajukan Tradisi Guyang Cekathak Ditetapkan WBTB

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) mengajukan Tradisi Guyang Cekathak ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah menjelaskan Guyang Cekathak merupakan tradisi rutin membasuh pelana kuda peninggalan Sunan Muria yang digelar setahun sekali di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Tradisi turun temurun ini, biasanya digelar saat puncak musim kemarau atau pada Jumat Wage sebagai bentuk rasa syukur dan ikhtiar agar diturunkan hujan.

Ia mengatakan pengajuan WBTB ini merupakan salah satu implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan PP Nomor 87 Tahun 2021.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar bisa diajukan menjadi WBTB. Di antaranya yakni tradisi atau budaya itu sudah berusia minimal 50 tahun atau dua generasi. Kemudian tradisi dan budaya tersebut juga harus berjalan rutin setiap tahunnya.

Selain itu, berjalannya tradisi atau budaya yang diajukan WBTB ini juga harus dinaungi oleh lembaga, organisasi, ataupun komunitas.

“Pengajuan Guyang Cekathak untuk jadi WBTB tahun 2024 sudah mulai kami ajukan di akhir tahun atau bulan Desember kemarin. Deskripsi, dokumentasi foto, video, hingga data narasumber di tradisi Guyang Cekathak sudah kami ajukan,” katanya, Rabu (24/1/2024).

Pengajuan Guyang Cekathak sebagai WBTB ini, katanya, merupakan salah satu upaya Pemkab Kudus agar masyarakat semakin semangat dalam melestarikan tradisi.

“Ketika tradisi dilestarikan dan dijaga dengan baik, tentu akan membuat kesejahteraan meningkat lewat semakin banyaknya ketertarikan wisatawan untuk berkunjung,” ujarnya.

Diketahui, saat ini sudah ada enam tradisi dan budaya di Kudus yang sudah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Di antaranya, Joglo Pencu, Upacara Adat Dandangan Kudus, Jamasan Pusaka Keris Cintoko, Barongan Kudus, Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus, dan Jenang Kudus. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Terancam Punah, Dua Komunitas Dokumentasikan Tradisi Kalang Obong

Jateng, Lingkar.co – Tradisi Kalang ObongTradisi Kalang Obong di era ini terancam punah. Padahal, tradisi ini sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional (WBTBN).

Komunitas Kendal Heritage dan Pelataran Sastra Kaliwungu berupaya mendokumentasikan tradisi Kalang Obong agar generasi di masa depan masih bisa mengetahui.

Salah satu pegiat tradisi Kendal, Yusril Mirza mengatakan, Kalang Obong menjadi tradisi yang sudah dijalankan masyarakat Kalang di Kendal sejak ratusan tahun lalu. Tradisi itu berisi daur hidup pasca kematian.

Tradisi Kalang diyakini sebagai cara melancarkan orang yang telah meninggal dunia menghadap Tuhan. Praktiknya, semua harta yang dimiliki dibakar setelah 7 hati kematian dengan maksud sebagai bekal menuju ke surga.

“Segala prosesi tradisi ini harus dilakukan oleh Dukun Kalang. Dan sekarang keberadannya sulit ditemukan,” kata Yusril di Rumah Sastra, Desa Plantaran Kaliwungu Selatan, Jumat (1/12/2023).

Yusril lantas menerangkan, Dukun Kalang ialah perempuan yang berasal dari keturunan pemuka ritual sebelumnya. Ia bertugas melestarikan tradisi Kalang secara turun temurun di wilayah tersebut.

Karenanya, Founder Kendal Heritage ini menyayangkan jika tradisi ini harus punah. Lantaran memiliki berbagai nilai penting termasuk mantra yang digunakan.

“Karenanya kami berupaya mendokumentasikan tradisi ini. Sebagai wujud pelestarian warisan budaya di Kendal untuk generasi muda,” ujarnya.

Proses pengambilan dokumentasi mantra yang digunakan dalam tradisi Kalang Obong di Kendal. Foto: Wahyudi/Lingkar.co

Hal senada diungkapkan pegiat Komunitas Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), Bahrul Ulum. Menurutnya,, mantra pada prosesi Kalang Obong menjadi tradisi sastra lisan yang harus dilestarikan. Oleh karena itu pihaknya juga turut berupaya menyelamatkan warisan budaya Kalang Obong

“Mantra di tradisi ini memperkuat narasi nilai penting Kalang Obong yang berstatus WBTBN,” ujarnya.

Bahrul berharap, dokumentasi mantra tradisi ini bisa secara khusus menjadi WBTBN tersendiri. Selain itu, ia juga ingin tradisi di Kendal bisa dikenal masyarakat lebih luas.

“Semoga upaya kami membuat tradisi ini tetap lestari. Dan rencananya dokumenter yang kami lakukan akan disiarkan pada 9 Desember nanti,” pungkasnya. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Hanya di Kendal, Dinas Pendidikan Gelar Lomba Kenal Wayang Tingkat Sekolah Dasar Untuk Lestarikan Budaya

Lingkar.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal menggelar lomba kenal wayang tingkat Sekolah Dasar (SD) di Pendopo Tumenggung Bahurekso Kendal, Selasa (7/11/2023).

Lomba diikuti 20 regu yang terdiri dari 60 siswa Sekolah Dasar se-Kabupaten Kendal.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Nurul Farida, lomba tersebut sengaja digelar untuk memperkenalkan anak pada wayang. Sebab, menurut dia, saat ini banyak anak yang sudah tidak mengenal nama-nama wayang.

Padahal, lanjutnya, wayang adalah budaya asli jawa. Bahkan semua perbuatan manusia telah digambarkan dalam pewayangan.

“Lomba ini kita adakan tiap tahun, dengan tujuan untuk memupuk budaya Jawa, khususnya tokoh pewayangan, sebab saat ini banyak anak yang tidak tahu nama nama tokoh wayang kulit,” katanya.

“Karena perkembangan zaman, jangan sampai anak-anak kita ini tidak mengenal tokoh pewayangan. Sebab dalam kurikulum mulok (muatan lokal) juga ada Bahasa Jawa, didalamnya ada nama tokoh pewayangan,” imbuhnya.

Ia lantas menyinggung tokoh animasi super hero yang lebih dikenal anak zaman sekarang ketimbang tokoh pewayangan.

“Lebih mengenal Superman atau Batman, bahkan tokoh games di hand phone lebih hafal, daripada nama pewayangan seperti Janoko, Gareng, Petruk atau Gatotkaca maupun Srikandi,” keluhnya.

Ia lanjut menerangkan, lunturnya budaya asli Jawa ini dikarenakan perkembangan teknologi dan pengaruh budaya asing yang tak terbendung karena gadget menyajikan semua itu.

Dengan lomba kenal wayang, ia berharap anak-anak mulai mau mencintai budaya jawa, budaya asli Indonesia.

“Ini salah satu tugas pendidik melalui Dinas kebudayaan, supaya anak-anak mencintai budaya kita, khususnya wayang,” tuturnya.

Lomba mengenal wayang ini se Jawa Tengah
Kendati demikian, lomba kenal wayang hanya diagendakan di Kabupaten Kendal. Artinya belum semua dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang mengadakan pelestarian budaya melalui even ini.

Dijelaskannya, peserta terdiri dari siswa Sekolah Dasar yang sudah lolos seleksi di tingkat Kecamatan. Dalam satu Kecamatan mengirim satu regu yang terdiri dari tiga anak. Nantinya akan di ambil juara satu, dua, dan tiga.

Salah satu siswi dari SDN Margosari Kecamatan Limbangan Kendal Farehfah Agustina yang meraih juara satu semi final, mengatakan, persiapan belajar selama satu bulan.

Meski dalam waktu relatif singkat, ia mengaku senang dengan cerita dan tokoh pewayangan.

“Persiapannya sejak bulan lalu, kalau saya seneng dengan tokoh pewayangan sejak kelas 3 SD. Jadi tidak kaget sudah mengenal beberapa nama tokoh pewayangan,” katanya. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Dari Sinden Idol Sampai Gandeng ISI Surakarta, Simak Komitmen Bupati Blora Lestarikan Seni dan Budaya

Lingkar.co – Bupati Blora, Arief Rohman menunjukkan komitmen untuk melestarikan seni dan budaya melalui berbagai cara. Dari ajang pencarian bakat sampai menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten bersama Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Blora menggelar ajang pencarian bakat Sinden Idol dengan kategori pelajar SD/MI dan SMP/MTs.

Satu per satu dari 10 peserta pilihan tampil saat pementasan wayang kulit milenial di Pendopo Kabupaten Blora, Jumat (27/10/2023) malam. Mereka bahkan turut serta membawa pendukung yang otomatis memeriahkan acara.

Nampak pula, Bupati tidak canggung berada diantara supporter, ikut memberikan dukungan dan motivasi kepada peserta sinden idol Blora 2023.

“Bakat anak-anak kita ini luar biasa. Saya sampaikan apresiasi dan terima kasih untuk Kominfo, panitia, dan bea cukai yang telah mendukung kegiatan ini. Malam hari ini kita tampilkan 10 peserta Sinden Idol ya,” ucapnya.

Ia sempat terkejut dengan bakat nyinden para pelajar Blora. Karena itu orang nomor satu di Blora ini berharap bisa bertemu dan tampil bersama sinden muda yang tengah kondang, yakni Niken Salindri pada bulan terakhir tahun 2023.

“Ini ternyata anak-anak Blora banyak bakat-bakat terpendam. Saya senang sekali dengan adanya kegiatan ini. Nanti kita jumpa lagi di tanggal 7 Desember yang ada Niken Salindri,” kata Bupati.

Selain menggelar ajang pencarian bakat sinden, bahkan Bupati juga ingin ada kontestasi dalang cilik. ia berharap melalui even-even tersebut bisa mewadahi dan melatih bakat anak-anak Blora khususnya di bidang seni dan budaya.

Tidak hanya itu, ia bahkan menyebut Pemkab Blora saat ini telah menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk melestarikan budaya dalam jenjang pendidikan formal.

“Insya Allah ISI Solo akan buka cabang di Blora. Hal itu sebagai bentuk komitmen kita, bahwa Blora ini kaya akan kebudayaan dan kesenian. Biar anak-anak Blora kuliah di ISI tidak perlu jauh-jauh ke Solo,” harapnya.

Sementara, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Blora, H. Soekarno mengapresiasi banyaknya talenta muda yang ikut ikut menyukseskan wayang kulit milenial. Ia tidak bisa menutupi kegembiraan melihat sinden cilik, sinden muda hingga para nayaga (penabuh gamelan) yang rata-rata diisi oleh kalangan muda.

Dia menyampaikan apresiasinya kepada Pemkab Blora yang telah memberikan wadah bagi potensi-potensi sinden muda dari Blora. “Matur nuwun sampun diparingi wadah ingkang sae kados mekaten (Terima kasih sudah diberikan sarana yang sedemikian baik ini -red),” tuturnya.

Oleh karena itu, Soekarno ingin agar nantinya semakin banyak sinden muda bertalenta di Blora seperti halnya sinden muda Niken Salindri.

“Mugi-mugi 5 tahun ke depan kalau para dalang mencari sinden tidak kesulitan lagi. Alhamdulillah semoga muncul Niken Salindry – Niken Salindry lain dari Blora,” doanya.

Seleksi Sinden Idol

Bupati Blora Arief Rohman saat bersama para pendukung Sinden Idol Blora 2023 dalam pementasan wayang kulit milenial di Pendopo Kabupaten. Foto: dokumentasi

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Blora Pratikto Nugroho memerinci, terdapat 94 peserta dari kalangan pelajar yang telah mendaftar Sinden Idol ini. Dari jumlah tersebut kemudian dilakukan seleksi.

“Ini menjadi potensi dari Blora. Sehingga terpilihlah dari 94 peserta menjadi 32 peserta, dan pada pagelaran hari ini sudah tampil anak-anak dari SD dan SMP sebanyak 10 orang,” terang Pratikto.

Nantinya 32 peserta tersebut akan dibagi menjadi 3 pementasan. Hingga puncaknya pada tanggal 7 Desember 2023 akan ada pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah.

Selain itu, pihaknya juga ingin kesenian wayang bisa dicintai dan digemari oleh generasi muda. Salah satunya dengan adanya pementasan wayang dan Sinden Idol dari para pelajar SD dan SMP ini.

“Bagaimana ada tantangan dari Pak Karno (Ketua Pepadi) supaya wayang bisa ditonton tidak hanya orang sepuh saja, tapi juga dari kalangan muda.”

Tak hanya itu, dirinya mengatakan pementasan wayang kali ini memiliki keunikan tersendiri dengan mengusung konsep ‘Wayang Gaul’.

“Konsep kami karena ini memang kami kemas karena wayang agar dicintai anak muda. Kalau pagelaran wayang malam ini wayang gaul, karena kelirnya juga diganti videowall, panjak-panjak (pemain gamelan)nya juga anak muda,”ujarnya.

Menurut Praktikto, masyarakat sangat antusias terhadap Sinden Idol. Ia menilai hal tersebut tampak dari partisipasi masyarakat yang sudah memberikan dukungan kepada peserta idola melalui vote.

“Ini datanya, yang sudah nge-vote sinden idolanya sudah 10 ribu orang lebih,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat