Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berharap investasi perusahaan asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga menjadi penggerak industri energi terbarukan dan kendaraan listrik di dalam negeri.
Hal itu disampaikan Luthfi saat menerima audiensi jajaran PBT di Semarang, Senin (3/8/2026). Perusahaan tersebut berkomitmen menanamkan investasi sekitar US$350 juta untuk membangun pabrik precursor cathode active material (PCAM), salah satu bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
"Kalau bisa, energi terbarukan seperti solar panel pemanfaatannya tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga digunakan di dalam negeri, khususnya di Provinsi Jawa Tengah," ujar Luthfi.
Menurutnya, Jawa Tengah memiliki pasar yang sangat potensial bagi pengembangan energi hijau. Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 38 juta jiwa di 35 kabupaten/kota, kebutuhan terhadap kendaraan listrik maupun energi bersih diperkirakan akan terus meningkat.
Karena itu, Pemprov Jawa Tengah terus memperluas penggunaan energi terbarukan melalui pemasangan panel surya di gedung pemerintahan serta mengkaji pemanfaatannya di kawasan waduk dan danau. Selain itu, transportasi umum di masa mendatang juga diarahkan beralih menggunakan kendaraan listrik.
"Kalau bisa, kebutuhan itu tidak hanya ditarik keluar, tetapi industri-industri kita juga mendapatkan pasokannya dari sana sehingga dapat menggerakkan industri di dalam negeri," katanya.
Sementara itu, Chairman PBT Stephen Wilmot menyatakan pembangunan pabrik di Batang menjadi investasi terbesar yang pernah dilakukan perusahaan. Saat ini proses proyek masih berada pada tahap rekayasa (engineering), sedangkan konstruksi ditargetkan dimulai pada 2027.
Selama masa pembangunan, proyek tersebut diperkirakan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja, sedangkan setelah beroperasi akan mempekerjakan sekitar 200 pekerja tetap di luar tenaga kerja sektor pendukung.
Wilmot menegaskan perusahaan akan mengutamakan tenaga kerja lokal. PBT juga akan memberikan pelatihan agar masyarakat sekitar memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri baterai.
Selain memanfaatkan nikel dari Indonesia sebagai bahan baku utama, perusahaan juga berencana membangun rantai industri baterai yang terintegrasi, termasuk pengembangan sistem daur ulang baterai untuk mendukung industri kendaraan listrik yang berkelanjutan.
Menurut Wilmot, meski memiliki opsi membangun pabrik lebih dekat dengan kawasan tambang nikel, PBT akhirnya menjatuhkan pilihan pada Jawa Tengah karena dinilai memiliki lokasi strategis, sumber daya manusia yang besar, serta prospek jangka panjang sebagai pusat industri manufaktur di Indonesia.