Bagi sebagian orang, air mungkin hanya sesuatu yang begitu mudah ditemui. Keran dibuka, air mengalir. Ember diisi, kebutuhan sehari-hari pun terpenuhi.
Namun, bagi warga Dukuh Ngrandu dan Dukuh Ketangar, Desa Rowobungkul, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, air bersih memiliki cerita yang berbeda.
Di tengah kondisi kekeringan, mendapatkan air menjadi perjuangan tersendiri. Kebutuhan untuk minum, memasak, mencuci hingga keperluan keluarga sehari-hari harus berhadapan dengan terbatasnya sumber air.
Senin (21/9/2026) pagi, suasana di tengah warga berubah ketika bantuan air bersih tiba.
Ada harapan yang ikut datang bersama kendaraan pengangkut air tersebut.
Warga yang selama ini menghadapi kesulitan air mendapat bantuan dari NU Blora, GP Ansor Blora dan Banser Blora. Mereka datang bukan hanya membawa air, tetapi juga semangat gotong royong untuk meringankan beban masyarakat.
Perwakilan Banser Tanggap Bencana (Bagana) Blora, Nooryanto, mengatakan penyaluran air bersih tersebut merupakan bagian dari kepedulian terhadap warga yang terdampak kekeringan.
“Kami bersama-sama bergerak untuk membantu warga yang terdampak kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih,” ujar Nooryanto.
Air Bersih yang Dinanti
Pukul 10.00 WIB, kegiatan penyaluran dimulai. Dukuh Ngrandu menjadi salah satu lokasi yang didatangi. Setelah itu, bantuan juga disalurkan ke Dukuh Ketangar yang masih berada di Desa Rowobungkul.
Bagi relawan, kegiatan tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi warga yang menerima, kedatangan air bersih dapat berarti banyak.
Sebab, ketika sumber air mulai sulit diperoleh, pekerjaan sederhana seperti memasak dan mencuci pun membutuhkan tenaga serta waktu lebih besar.
Kekeringan perlahan mengubah cara warga memandang air.
Jika dalam kondisi normal air dianggap sebagai sesuatu yang biasa, saat kemarau panjang setiap liter menjadi berharga.
Di tengah kondisi itu, solidaritas warga dan organisasi sosial menjadi salah satu kekuatan untuk saling membantu.
Ansor dan Banser Blora bersama PCNU Blora memilih untuk datang langsung ke lokasi. Mereka bergotong royong menyalurkan bantuan sekaligus melihat dari dekat kondisi masyarakat yang terdampak.
Nooryanto menyebut gerakan tersebut berangkat dari semangat kemanusiaan.
“Peduli kemanusiaan. Bergerak bersama, hadir untuk kemanusiaan,” tuturnya.
Bukan Sekadar Air
Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar air yang sampai ke tangan warga. Ada rasa bahwa mereka masih diperhatikan.
Di tengah panas dan keringnya lingkungan, kepedulian justru bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kendaraan pembawa air datang, relawan turun, dan warga menyambut bantuan yang sangat dibutuhkan.
Bantuan tersebut mungkin tidak serta-merta mengakhiri persoalan kekeringan. Namun setidaknya, untuk sementara, ada beban yang bisa diringankan.
Ada kebutuhan keluarga yang bisa dipenuhi. Ada aktivitas sehari-hari yang kembali berjalan. Dan yang tak kalah penting, ada pesan bahwa menghadapi kekeringan tidak harus dilakukan sendirian.
Dari Dukuh Ngrandu hingga Dukuh Ketangar, air bersih itu akhirnya menemukan jalannya.
Bukan hanya mengalir kepada warga, tetapi juga membawa sebuah pesan sederhana: ketika air mulai langka, kepedulian jangan sampai ikut mengering.