Pengukuhan M. Azil Maskur sebagai Kepala Satuan Koordinator Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkorwil Banser) Jawa Tengah menjadi momentum untuk memperkuat transformasi khidmah demi memantapkan orientasi pengabdian organisasi.
Di bawah kepemimpinannya, Banser Jateng didorong tidak hanya sigap dalam situasi darurat, tetapi juga semakin aktif mengambil bagian dalam persoalan sosial kemasyarakatan.
Azil menilai tantangan Banser ke depan semakin kompleks. Karena itu, kekuatan organisasi tidak cukup hanya dibangun melalui kedisiplinan dan kesiapsiagaan kader, tetapi juga melalui kemampuan membaca perubahan serta memahami kebutuhan masyarakat.
“Menjadi Kasatkorwil Jawa Tengah bukan semata-mata sebuah jabatan, tetapi amanah untuk memperluas meningkatkan kualitas dan melakukan tranaformasi khidmah. Banser harus mampu hadir menjawab kebutuhan umat dan masyarakat,” ujar Azil, Minggu (23/8/2026).
Menurut dia, Banser memiliki modal sosial yang besar karena memiliki jaringan kader hingga berbagai daerah. Potensi tersebut perlu diarahkan untuk memperkuat kerja-kerja kemanusiaan, sosial, pemberdayaan, serta kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Karena itu, Azil ingin menggeser paradigma pengabdian Banser dari sekadar menunggu persoalan muncul menjadi organisasi yang mampu membaca kebutuhan sejak awal dan mengambil langkah sebelum masalah berkembang.
“Banser Jawa Tengah harus bergerak dari sekadar responsif menjadi lebih proaktif. Kita harus mampu membangun organisasi yang adaptif, profesional, solid, dan bisa membaca perubahan zaman,” tegasnya.
Azil juga menempatkan kualitas kader sebagai salah satu fondasi utama transformasi tersebut. Menurutnya, kader Banser harus memiliki kemampuan organisasi, kedisiplinan, integritas, sekaligus kepekaan terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Dengan pendekatan itu, Banser diharapkan tidak hanya dikenal karena seragam dan kedisiplinannya, tetapi juga karena kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat.
“Semangat kami adalah menjadikan Banser sebagai Khodimul Ummah, pelayan umat yang kehadirannya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, predikat sebagai pelayan umat harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Setiap kader dituntut mampu mengambil peran ketika masyarakat menghadapi persoalan, sekaligus ikut mendorong terciptanya solusi yang berkelanjutan.
Bagi Azil, integritas juga menjadi bagian penting dari kepemimpinan dan pengabdian kader. Amanah organisasi harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, sementara keberanian untuk terjun langsung ke tengah masyarakat harus terus dirawat.
“Setiap kader harus memiliki orientasi pengabdian, integritas dalam menjalankan amanah, serta keberanian untuk menghadirkan solusi atas persoalan sosial di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Dengan perspektif tersebut, kepemimpinan baru Banser Jawa Tengah diarahkan untuk membangun organisasi yang tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga memiliki dampak sosial yang semakin luas. Transformasi khidmah diharapkan menjadikan Banser sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat sekaligus memperkuat peran kader dalam menjaga dan merawat kehidupan sosial.