Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Sebanyak 19 penerbangan rute Batam-Jakarta dan sebaliknya dibatalkan akibat terdampak abu vulkanik anak Krakatau.
Annang Setia Budhi, Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam (BIB), mengatakan berdasarkan data update operasional penerbangan Bandara Hang Nadim pada Senin (7/9/2026) pukul 11.30 WIB, terdapat 19 rencana penerbangan dengan total 2.462 penumpang dibatalkan.

"Yang terdampak dari abu vulkanik ini ada 19 flight, yaitu rute Jakarta dengan estimasi 2.462 penumpang. Rinciannya sembilan kedatangan dan 10 keberangkatan tidak dilakukan penerbangan," kata Annang, Senin (7/9/2025).
Berdasarkan data Bandara Hang Nadim, 19 penerbangan rute Jakarta yang terdampak berasal dari empat maskapai, yaitu Super Air Jet tercatat memiliki enam penerbangan dengan 1.067 penumpang, Kemudian Citilink sebanyak delapan penerbangan dengan 696 penumpang.
Sementara itu, sebanyak 38 penerbangan lainnya masih masuk dalam rencana operasional untuk rute selain Jakarta. Dari jumlah tersebut, 18 penerbangan telah terealisasi dengan 2.915 penumpang.
Ada sejumlah rute lain yang masih beroperasi yaitu Kuala Lumpur, Kualanamu, Pekanbaru, Pontianak, Padang, Palembang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, serta sejumlah rute lainnya yang dijadikan alternatif oleh penumpang.
"Untuk rute yang masih normal untuk operasi itu ada sekitar 38 penerbangan, kemudian sekitar 5.485 pax," jelas Annang.
Terganggunya penerbangan menuju Jakarta membuat sebagian penumpang mulai mencari jalur alternatif tersebut menuju Pulau Jawa. Sejumlah penumpang memilih terbang menuju kota lain seperti Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Dari kota-kota tersebut, mereka kemudian dapat melanjutkan perjalanan menuju Jakarta menggunakan transportasi darat. Annang mengatakan lonjakan penumpang pada sejumlah penerbangan alternatif tersebut. Bahkan, ada penerbangan yang tingkat keterisiannya mencapai penuh.
"Yang bisa kami pantau adalah pasti terjadi lonjakan. Satu pesawat itu bisa dikatakan full. Itu memang karena penumpang pun sudah mulai mencari alternatif untuk mereka pergi ke Jakarta melalui alternatif bandara seperti Semarang, Jogja, Surabaya," katanya.
Menurut Annang, masalah ini perlu di evaluasi dan dilakukan kembali menjelang batas waktu tersebut. Pemantauan perlu dilakukan untuk melihat apakah masih terdapat erupsi abu vulkanik yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.
"Kita masih menunggu. Biasanya satu jam atau dua jam sebelum jam 18.00 itu biasanya sudah dilakukan tes kembali untuk nanti di-update apakah masih ada positif vulkanik yang terdeteksi atau tidak," katanya.
"Kondisi penerbangan masih sangat dinamis. Jika penutupan diperpanjang atau penerbangan kembali dibuka, informasi akan segera diperbarui," ujarnya.