Gunung Sinabung yang berada di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, masih menunjukkan aktivitas vulkanik pascaerupsi pada Senin, 31 Agustus 2026. Tim Tanggap Darurat PVMBG Sinabung dan Ratusan tim Satgas Gabungan lainnya disiagakan untuk melakukan evakuasi 2 desa dan 3 posko pengamanan, Kristianto mengungkap saat ini belum terpantau aktivitas guguran vulkanis.

Data sementara, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi mengatakan, aktivitas Gunung Api Sinabung masih didominasi oleh tremor yang terus-menerus. Selain itu, juga terjadi embusan erupsi yang membawa material abu vulkanik. Saat ini, Gunung Api Sinabung masih berstatus Siaga Level Tiga yang berarti darurat atau bahaya. Warga diimbau agar menjaga jarak aman dari area gunung.
"Kalau erupsi masih, salah satunya bentuk erupsi embusan asap berwarna kelabu tersebut. Namun kalau guguran belum, guguran material vulkanik belum terpantau," jelas Kristianto, Rabu, 2 September 2026.
Ia menjelaskan bahwa hembusan asap berwarna kelabu itu terpantau masih terus menerus keluar dan terus dipantau melalui empat unit kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar kawasan gunung. Sementara itu, sebaran abu vulkanik yang berhembus sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin di lokasi.
Baca jugaKebakaran di Gambir Sebabkan Ratusan Korban
"Kalau kita pantau dari pos pengamatan Gunung Sinabung di Simpang Empat, ini arahnya berubah-ubah. Tadi pagi lebih banyak mengarah ke timur dan utara, dan kemungkinan ini beralih ke barat," ungkap dia.
Terkait dampaknya sendiri bisa berpotensi bahaya karena biasanya aktivitas vulkanik Gunung Sinabung terjadi lama dan sangat besar seperti sebelum-sebelumnya.
"Potensi dari sejarah erupsi yang terjadi dari 2010 maupun 2013 dan terus maraton sampai 2014 dan selanjutnya, ini perlu kita lihat. Sinabung ini memang aktivitasnya cukup lama ya, dan potensi yang paling besar adalah awan panas guguran yang jarak luncurnya bisa cukup lama. Dan ini juga kita tuangkan di dalam rekomendasi kita," tegas Kristianto.
Untuk Aktivitas Vulkanik Gunung Sinabung ini sering terjadi sejak tahun 2010 dan masyarakat diimbau agar tetap waspada di karenakan status Siaga Level Tiga. Masyarakat juga diimbau hanya mengikuti arahan dari instasi setempat agar menghindari isu-isu negatif.
"Kepada masyarakat sampai saat ini agar tetap tenang, tidak mendengarkan isu-isu yang berbau hoaks, dan tetap mengikuti arahan dari instansi terkait yang memang menangani aktivitas Gunung Sinabung ini, serta tetap mengikuti arahan agar tidak masuk ke dalam radius rekomendasi tersebut, yaitu 3 kilometer dan 6 kilometer ke arah timur-selatan," jelas Kristianto.
Perihal dampak daripada abu vulkanik ini sempat memicu gangguan penerbangan hingga penutupan operasional di Bandara Internasional Kualanamu. Kristianto menjelaskan bahwa jangkauan abu vulkanik memang terpantau cukup luas berdasarkan citra satelit. Sehingga pihak Bandara mengambil langkah keselamatan untuk awak kapalnya selama aktivitas vulkanik masih aktif.