Menjalani masa pidana tak selalu identik dengan kejenuhan. Bagi Rizal (23), warga binaan Lapas Kelas I Semarang, mengikuti pembinaan kepribadian melalui kesenian hadroh dan program pesantren menjadi cara untuk bangkit sekaligus mengisi hari-harinya selama menjalani hukuman.
Pemuda asal Jawa Timur itu mengaku awalnya harus beradaptasi dengan kehidupan di balik jeruji besi. Namun setelah mengikuti berbagai kegiatan pembinaan yang disediakan Lapas Semarang, rasa bosan yang sempat dirasakan perlahan berubah menjadi semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Hadroh Jadi Pelepas Jenuh di Balik Jeruji
Rizal mengatakan dirinya beruntung karena mayoritas penghuni kamar memiliki minat yang sama terhadap musik islami. Kondisi itu membuatnya semakin bersemangat mengikuti latihan hadroh yang digelar setiap hari.
"Karena setiap hari latihan hadroh, jadinya betah jalani pidana di sini. Karena pas latihan pagi waktunya berlanjut sampai malam," kata Rizal.
Menurutnya, aktivitas tersebut mampu menghilangkan kejenuhan sekaligus membuat pikirannya lebih tenang selama menjalani hukuman.
Tak hanya menjadi peserta, Rizal juga beberapa kali dipercaya tampil bersama grup hadroh Lapas Semarang dalam berbagai acara resmi yang digelar di lingkungan lapas.
"Senang juga, apalagi saya juga penghafal Al-Qur'an. Memang dulunya saya dari pesantren. Di sini saya dapat memperdalam ilmu yang belum didapat sekaligus menyalurkan ilmu kepada santri yang lain," ujarnya.
Dipercaya Jadi Pengurus Masjid Lapas
Selain aktif berlatih hadroh, Rizal juga mengikuti pembelajaran ilmu fikih di pesantren Lapas Semarang. Berkat ketekunan dan kedisiplinannya, ia dipercaya menjadi salah satu pengurus Masjid At-Taubah Lapas Semarang.
Baginya, berbagai program pembinaan tersebut menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Rizal berharap sikap disiplin dan perilaku baik yang ditunjukkannya selama menjalani pembinaan dapat menjadi pertimbangan untuk memperoleh pembebasan bersyarat.
"Saya aslinya Jatim, dulunya sempat kerja di Semarang Timur. Pas kerja di barbershop, saya kena kasus penggelapan. Sebetulnya uangnya diambil teman saya yang sudah kabur duluan, cuma saya akhirnya yang dikasuskan. Ini sudah jalan pidana dua tahun, tahun depan semoga bisa bebas bersyarat," pungkasnya.
Program pembinaan yang dijalankan Lapas Kelas I Semarang menjadi salah satu upaya membekali warga binaan dengan keterampilan, pendidikan keagamaan, dan pembentukan karakter agar siap kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya. ***