Konflik Timur Tengah tidak cukup dipahami sebagai pertarungan kepentingan agama. Kompleksitas geopolitik, perebutan kekuasaan, faktor etnis, kepentingan wilayah, hingga dinamika internal negara menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai konflik di kawasan tersebut.
Perspektif itu mengemuka dalam International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs yang digelar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang di Ruang Teater Gedung Kiai Saleh Darat, Senin (10/8/2026).
Seminar tersebut menghadirkan Prof. Dr. Robert W. Hefner, Prof. Sumanto Al Qurtuby, dan Prof. Dr. Muhyar Fanani untuk membedah posisi Islam Indonesia di tengah perubahan global.
Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., mengatakan forum tersebut menjadi momentum bagi sivitas akademika untuk memperluas perspektif dalam membaca berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam di tingkat global.
“Ini merupakan kesempatan besar yang bisa kita manfaatkan untuk berdiskusi tentang permasalahan global yang muncul dan kita hadapi sebagai umat Muslim di Indonesia,” ujar Musahadi.
Masyarakat Indonesia Diminta Tak Mudah Terseret Konflik
Prof. Sumanto Al Qurtuby menjadi salah satu pembicara yang menyoroti cara masyarakat Indonesia membaca konflik Timur Tengah.
Menurutnya, konflik di kawasan tersebut selama ini kerap disederhanakan sebagai konflik agama. Padahal, terdapat banyak kepentingan dan persoalan yang saling berkelindan.
Ia menyebut konflik agama, proxy war, serta intervensi Amerika Serikat sebagai beberapa persepsi yang berkembang. Namun, persoalan internal di masing-masing negara juga menjadi faktor penting.
“Konflik yang kompleks ini muncul karena adanya dinamika internal bagi masing-masing negara,” jelas Sumanto.
Selain geopolitik, konflik juga dipengaruhi perebutan wilayah dan klaim kesejahteraan, kompetisi kekuasaan berbasis etnis atau suku, hingga perseteruan antarkelompok.
Karena itu, Sumanto mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak terburu-buru menarik konflik internasional ke dalam konteks domestik.
Ia juga menekankan pentingnya membedakan perspektif negara, pemerintah, maupun individu ketika merespons sebuah konflik.
“Harus dibedakan antara perspektif negara, personal, atau pemerintah,” katanya.
Pengalaman Indonesia Jadi Pelajaran Dunia
Di tengah kompleksitas persoalan global, Prof. Dr. Robert W. Hefner justru melihat pengalaman Islam Indonesia sebagai sesuatu yang memiliki nilai penting untuk dipelajari.
Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mempertemukan ajaran Islam dengan keragaman budaya dan tradisi masyarakat.
Menurut Hefner, kemajemukan Islam dan urf menjadi salah satu karakter khas Indonesia. Kondisi tersebut diperkuat kemampuan pemimpin Muslim mengikuti perkembangan modernisasi serta keberadaan organisasi kemasyarakatan Islam yang besar.
Organisasi Islam di Indonesia juga dinilai tidak hanya berperan dalam urusan keagamaan, tetapi telah bergerak dalam berbagai bidang sosial.
“Umat Islam Indonesia itu besar, aktif, dan demokratis,” ujar Hefner.
Karakter tersebut menjadi kekuatan yang dapat memperlihatkan bahwa kehidupan Islam, demokrasi, dan kemajemukan dapat berjalan beriringan.
Islam Indonesia Bisa Menjadi Instrumen Diplomasi
Sementara itu, Prof. Dr. Muhyar Fanani membawa pembahasan ke level yang lebih strategis. Ia melihat pengalaman Islam Indonesia dapat dikembangkan sebagai bagian dari kekuatan soft power Indonesia di dunia internasional.
Islam Indonesia, menurut Muhyar, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai identitas keagamaan. Nilai sosial, pengalaman demokrasi, serta kemampuan mengelola keberagaman dapat menjadi modal untuk memperkuat posisi Indonesia dalam hubungan internasional.
Namun, potensi tersebut membutuhkan arah kebijakan yang jelas. Muhyar mendorong penyusunan blueprint yang konsisten dan komprehensif untuk mengembangkan soft power Indonesia dengan Islam Indonesia sebagai salah satu fondasinya.
Dengan demikian, pengalaman Islam Indonesia tidak berhenti sebagai kekayaan sosial di dalam negeri, tetapi dapat ditransformasikan menjadi kekuatan diplomasi yang memiliki daya pengaruh di tingkat global.
Seminar tersebut sekaligus menunjukkan bahwa membicarakan Islam Indonesia hari ini tidak lagi cukup hanya dari perspektif keagamaan. Islam Indonesia juga dapat ditempatkan dalam diskursus geopolitik, demokrasi, perdamaian, hingga strategi diplomasi Indonesia menghadapi perubahan dunia.