Lingkar.co – Komisi C DPRD Kota Semarang meminta proses pengembangan kawasan milik Pakuwon Group di wilayah Gombel memperhatikan aspek keselamatan lingkungan dan dampak terhadap masyarakat sekitar.
Hal tersebut mengemuka dalam rapat dengar pendapat Komisi C DPRD Kota Semarang bersama perwakilan Pakuwon Group dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), Rabu (17/6).
Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Rukiyanto, mengatakan pengembangan kawasan di Gombel harus dibarengi dengan kajian teknis yang matang mengingat lokasi tersebut memiliki karakteristik tanah bergerak yang selama ini menjadi perhatian.
“Investasi tentu menjadi peluang bagi Kota Semarang. Tetapi kami juga harus memastikan persoalan teknisnya benar-benar aman karena lokasi yang akan dikembangkan merupakan kawasan yang memiliki karakteristik tanah patahan dan tanah bergerak,” ujarnya.
Menurut Rukiyanto, aspek keselamatan lingkungan dan dampak terhadap warga harus menjadi perhatian sejak awal agar pengembangan kawasan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Kekhawatiran tersebut muncul karena kawasan Gombel Lama selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan pergerakan tanah di Kota Semarang. Selain itu, sejumlah warga juga melaporkan adanya keretakan bangunan yang saat ini masih dalam proses verifikasi.
Menanggapi hal tersebut, Human Resources Pakuwon Group, Iful Novianto, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan awal terhadap bangunan warga di sekitar lokasi proyek.
“Kami sudah melakukan survei awal terhadap bangunan warga sebelum proyek berjalan. Untuk laporan keretakan yang muncul, akan dilakukan verifikasi dan perbaikan sesuai tingkat kerusakannya,” katanya.
Sementara itu, General Manager Project High Rise Pakuwon Group, Paulus Louw, menjelaskan pekerjaan yang berlangsung saat ini masih berupa pematangan lahan dan pemasangan soldier pile atau struktur penahan tanah.
“Soldier pile ini bukan pondasi bangunan. Fungsinya untuk mengamankan lereng dan menahan pergerakan tanah di kawasan pengembangan,” jelasnya.
Menurut Paulus, pemasangan struktur tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas tanah di kawasan yang selama ini dikenal memiliki potensi pergerakan tanah.
Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, mengatakan pemerintah akan terus melakukan pengawasan terhadap proses pematangan lahan yang sedang berlangsung.
Ia berharap teknologi yang diterapkan dalam pengembangan kawasan tersebut dapat membantu mengurangi persoalan pergerakan tanah yang selama ini terjadi di kawasan Gombel.
“Harapannya teknologi yang diterapkan bisa membantu menyelesaikan persoalan yang selama ini terjadi di kawasan tersebut, termasuk dampak terhadap jalan maupun bangunan warga,” ujarnya.
Pihak pengembang menargetkan proses pematangan lahan selesai pada akhir tahun ini. Adapun pengembangan kawasan akan dilakukan secara bertahap sesuai perencanaan yang telah disusun. ***