Iklan

Dulu Diremehkan karena Mengolah Limbah, Kini Karya Nailis Sa'adah Menembus Pasar Amerika

Inti berita

Tak banyak yang percaya bahwa potongan-potongan kain sisa produksi tenun bisa berubah menjadi produk fesyen yang bernilai. Apalagi jika bahan bakunya berasal…

Dulu Diremehkan karena Mengolah Limbah, Kini Karya Nailis Sa'adah Menembus Pasar Amerika
Foto : Nailis Sa'adah (28), founder Tenun Ikat's Troso Jepara

 

Tak banyak yang percaya bahwa potongan-potongan kain sisa produksi tenun bisa berubah menjadi produk fesyen yang bernilai. Apalagi jika bahan bakunya berasal dari limbah perca yang selama bertahun-tahun hanya dianggap sebagai sisa produksi.

Namun keraguan itu justru menjadi bahan bakar bagi Nailis Sa'adah (28), perempuan asal Desa Troso, Jepara, untuk membuktikan bahwa sebuah ide sederhana dapat melahirkan perubahan besar.

Melalui brand Tenun Ikat's, Nailis berhasil mengangkat kembali perca tenun Troso menjadi berbagai produk kreatif yang kini tak hanya diminati pasar dalam negeri, tetapi juga mulai dilirik pembeli dari Amerika Serikat.

Perjalanan tersebut dimulai pada 2019 ketika Nailis membantu memasarkan kain tenun milik keluarganya melalui platform digital. Berasal dari lingkungan penenun membuat dirinya akrab dengan kekayaan motif tenun Troso sejak kecil. 

Di sisi lain, kecintaannya pada dunia fesyen membuat ia melihat tenun bukan hanya sebagai kain tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup.

"Awalnya keluarga memang sudah menjual kain tenun. Saya kemudian mencoba memasarkannya secara online sejak 2019 karena memang menyukai fashion dan senang memadukan outfit berbahan tenun," kata Nailis.

Di balik aktivitas pemasaran itu, ia menyaksikan persoalan yang hampir tak pernah mendapat perhatian. Setiap proses produksi selalu meninggalkan tumpukan kain perca yang akhirnya menjadi limbah.

Alih-alih menganggapnya sebagai sampah, Nailis melihat peluang.

"Pada 2020 kami merasa prihatin karena banyak sekali kain perca yang tidak terpakai. Akhirnya kami mulai memanfaatkannya menjadi produk yang lebih berguna dan memiliki nilai," ujarnya.

Langkah tersebut ternyata tidak mudah. Konsep mengolah limbah tekstil menjadi produk premium sempat dipandang sebelah mata.

"Saat kami mulai menggunakan kain perca sebagai bahan produksi, banyak yang menganggap remeh. Orang belum melihat bahwa limbah bisa menjadi produk yang menarik. Tapi kami tetap konsisten karena percaya pada proses," tuturnya.

Bukan hanya itu, tantangan lain datang dari cara pandang masyarakat terhadap tenun.

"Yang paling sulit di awal adalah membuat orang percaya bahwa tenun bisa dipakai sehari-hari. Banyak yang masih menganggap tenun hanya cocok untuk acara resmi atau orang yang lebih tua. Padahal kami ingin menunjukkan bahwa tenun bisa tampil modern dan digunakan siapa saja," katanya.

Berbekal konsistensi, Tenun Ikat's kemudian menghadirkan berbagai produk seperti tote bag, pouch, dompet, clutch, vest, hampers hingga merchandise perusahaan. 

Seluruh produk menggunakan tenun asli Troso yang dipadukan dengan material modern seperti kulit sintetis, katun, dan jeans sehingga tampil lebih segar tanpa kehilangan identitas budaya.

Konsep keberlanjutan menjadi nilai utama yang terus dijaga. Tagline "Dari Perca Jadi Karya" bukan sekadar slogan, melainkan filosofi yang diwujudkan dalam setiap produk.

Tak berhenti pada aspek lingkungan, Nailis juga menjadikan usahanya sebagai ruang pemberdayaan masyarakat. Tenun Ikat's memiliki workshop pemberdayaan perempuan yang melibatkan pengrajin lokal dalam proses produksi.

"Selain memiliki produk, kami juga mempunyai workshop pemberdayaan perempuan. Kami ingin keberadaan brand ini memberi manfaat bagi lebih banyak orang," ungkapnya.

Usaha yang semula diragukan kini justru memperoleh berbagai pengakuan. Tenun Ikat's menjadi binaan Rumah BUMN PLN Jepara dan Telkom Indonesia. Pada 2025, brand tersebut juga masuk sebagai Top Finalis Inovasi Eco Product dalam ajang Bumi Berseru Fest yang diselenggarakan Telkom Sustainability.

Pasarnya pun terus berkembang. Produk-produk Tenun Ikat's awalnya banyak diminati Generasi Z, terutama tote bag, pouch, dan pakaian. Namun kini pelanggan datang dari kalangan milenial hingga berbagai instansi dan perusahaan yang memesan merchandise maupun corporate gift.

"Salah satu target market kami memang Gen Z. Tetapi seiring berkembangnya usaha, target utama kami juga kalangan milenial serta instansi dan perusahaan," jelas Nailis.

Kini, langkah kecil yang lahir dari Desa Troso mulai menembus pasar global.

"Saat ini kami sedang belajar bertumbuh dengan mengikuti beberapa kurasi kelas ekspor. Alhamdulillah bulan ini kami mulai mengerjakan beberapa proyek dari buyer Amerika meskipun masih dalam skala kecil. Bagi kami ini menjadi langkah awal untuk mimpi yang lebih besar," katanya.

Meski mulai menatap pasar internasional, Nailis tetap ingin menjaga akar yang menjadi identitas usahanya.

"Kami berharap semakin banyak anak muda bangga memakai tenun dalam aktivitas sehari-hari. Kami ingin mengubah cara pandang bahwa tenun bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari gaya hidup masa kini."

Ia juga berharap perkembangan Tenun Ikat's membawa manfaat bagi lebih banyak orang.

"Semakin berkembang Tenun Ikat's, kami berharap semakin banyak penenun, penjahit, dan pelaku UMKM yang ikut bertumbuh bersama. Karena bagi kami, keberhasilan sebuah brand bukan hanya diukur dari jumlah produk yang terjual, tetapi juga dari seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat."

Kisah Nailis Sa'adah menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru. Terkadang, inovasi justru berawal dari keberanian melihat nilai pada sesuatu yang selama ini diabaikan. 

Dari serpihan kain yang hampir menjadi sampah, ia berhasil menenun harapan, membuka lapangan pemberdayaan, sekaligus membawa nama tenun Troso melangkah menuju panggung dunia.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu