Lingkar.co – Tingginya temuan kasus HIV di Kota Semarang mendapat perhatian dari DPRD Kota Semarang. Pemerintah Kota diminta memperkuat langkah pencegahan, khususnya melalui pembinaan remaja dan edukasi terkait pergaulan berisiko.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Siti Roika, mengatakan peningkatan kasus HIV perlu menjadi perhatian bersama karena tidak hanya melibatkan warga lokal, tetapi juga pendatang yang beraktivitas di Kota Semarang.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, sebagian kasus HIV yang ditemukan berasal dari warga luar daerah yang tinggal atau beraktivitas di ibu kota Jawa Tengah.
“Saya mendapat penjelasan dari Dinkes bahwa sekitar 40 persen berasal dari pendatang dan 60 persen merupakan warga Kota Semarang,” ujar Roika, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, kelompok pendatang yang berstatus mahasiswa maupun pekerja perlu mendapatkan perhatian dalam program pencegahan HIV. Ia menilai edukasi dan pembinaan kepada remaja harus diperkuat untuk menekan perilaku berisiko yang dapat memicu penularan penyakit tersebut.
Roika menilai upaya preventif perlu melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
“Pembinaan remaja harus diperkuat karena pencegahan tidak bisa hanya dilakukan oleh satu instansi,” katanya.
Selain itu, Roika mengaku menerima laporan warga terkait dugaan adanya rumah indekos di kawasan Peleburan yang ditempati komunitas laki-laki seks dengan laki-laki (LSL). Namun demikian, informasi tersebut masih akan dikonfirmasi kepada pihak terkait.
“Saya mendapat laporan dari warga terkait hal itu. Tentu perlu dilakukan pengecekan dan konfirmasi lebih lanjut oleh pihak yang berwenang,” ujarnya.
Data Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan kelompok risiko dengan proporsi temuan HIV tertinggi berasal dari LSL sebesar 44 persen. Selanjutnya pasien tuberkulosis (TBC) 12 persen, pasangan risiko tinggi 11 persen, populasi umum 11 persen, pasien infeksi menular seksual (IMS) 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, dan wanita pekerja seks 2 persen.
Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat 240 kasus HIV baru hasil kegiatan skrining dan deteksi dini yang dilakukan di fasilitas kesehatan maupun kelompok masyarakat berisiko.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, sebelumnya menjelaskan peningkatan temuan kasus terjadi karena cakupan pemeriksaan yang semakin luas melalui layanan tes HIV yang digencarkan pemerintah.
“Kenaikan kasus ini terjadi karena Dinkes semakin gencar melakukan skrining dan deteksi dini melalui layanan tes HIV di fasilitas kesehatan maupun kelompok masyarakat yang memiliki risiko,” jelasnya. ***