Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar upacara adat Jumenengan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwana (PB) XIV, Sabtu (5/9). Jumenengan ini merupakan puncak rangkaian acara yang dilakukan sejak Jumat (4/9).

Dimulai dari prosesi ruwatan di sore hari, latihan pamungkas Bedhaya Ketawang, hingga ikrar di Masjid Paromosono di malam hari. Ketiganya menjadi gerbang spiritual sebelum PB XIV Hangabehi resmi bertahta hari ini.
PB XIV Hangabehi keluar dari kedaton melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil Pagelaran Keraton sekitar pukul 08.45 WIB. Putra tertua mendiang PB XIII didampingi para pengiring, kerabat, perangkat upacara, serta ampilan dalem (pusaka) dan perangkat kesenian.
Dirinya kemudian berdiri di depan Meriam Nyai Setomi yang merupakan pusaka peninggalan Sultan Agung. Selanjutnya menuju pagelaran dan menyampaikan ikrar dan membacakan Sabda Dalem di atas Watu Gilang.
"Bismillahirrahmanirrahiim. Kanthi nyebut asmaning Gusti Allah SWT, Ingsun ngundangake ono sak nduwure selo Tridento, yen ingsun wis kajumenengake ing ari tumpak kasih 22 Mulud Be 1960 kanthi jejuluk, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Kaping XIV. Sak banjure ingsun kang mbacutkake pinongko pangreksane hukum adat lan sakabehe kang podo suwitaning ngadep ing Keraton Surakarta pada nindakake gowo gawe. Rahayu, rahayu, rahayu".
Usai bersumpah, Hangabehi kembali menuju Keraton Kasunanan Surakarta. Kemudian ada penampilan yang menjadi persembahan yaitu Tari Bedaya Ketawang saat PB XIV Hangabehi bertahta.
Pengageng Sasana Wilapa yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, Gray Koes Moertiyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng, menjelaskan seluruh rangkaian ini merupakan wujud kepatuhan terhadap tata adat pakem keraton yang menjadi pengikat.
"Jadi intinya beliau bersumpah di atas Watu Gilang untuk meneruskan benang merah itu yang dari Majapahit, terus Demak, ke Pajang, dan ke Mataram. Beliau bersumpah untuk bisa menjadi pengayom dan jadi pengikat semua sentana dan abdi dalem," ungkap Gusti Moeng.
Gusti Moeng menambahkan, persiapan acara ini cukup lama kemudian pada kegiatan tersebut pihaknya memang membatasi peserta dan tamu undangan hanya berkisar 2.500 orang. Pihaknya juga tidak menggelar kirab seperti yang dilakukan PB XIV Purboyo November tahun lalu.
"Ya, saya memang menyampaikan kepada pemerintah dalam hal ini kepada Pak Menteri Kebudayaan supaya matur ke Bapak Presiden, bahwa kami ini menyelesaikan upacara adat yang harus kami penuhi. Dan nanti kirabnya itu setelah selesai revitalisasi, insyaAllah," pungkasnya.