Lingkar.co - Muhammad Rinaldo, seorang pemuda yang berprofesi sebagai seorang barista sangat senang dan bersyukur mendapatkan kesempatan menjadi tamu Allah untuk melaksanakan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M.
Mengabadikan momen tersebut, ia pun menyempatkan selfie di sejumlah tempat sebagai ungkapan rasa syukur dan bangga. Dari Madinah, ia mengabarkan bahwa dirinya telah melengkapi rukun Islam yang kelima.
Rinaldo, menjadi salah satu pemuda yang menginspirasi pada kebaikan. Latar belakangnya biasa saja, tak memiliki darah keluarga ulama, bukan bangsawan dan tidak pula dari kalangan orang yang berlimpah harta.
Namun Allah SWT, Sang Pencipta Semesta berkehendak dan memilih hamba-Nya yang sederhana, gemar bekerja keras, dan memiliki ketulusan hati sebagai salah satu dari ribuan jamaah haji Indonesia tahun ini.
Tekat untuk menjadi hamba Allah yang saleh menuntun dirinya bekerja keras untuk memperbaiki diri dan mulai menyisihkan sebagian uang demi bisa berhaji. Pada 2 dan 3 Mei 2026 kemarin ia mengikuti kegiatan manasik haji.
Dengan penuh kesungguhan, ia mempelajari setiap tahapan ibadah. Mulai dari belajar mengenakan kain ihram, memahami tata cara thawaf mengelilingi Ka'bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, hingga seluruh rangkaian ibadah haji.
Ia menuturkan, selama proses manasik haji berlangsung, dirinya tak malu dan tak segan bertanya jika menemui sesuatu yang tidak ia pahami. Semangat belajar dan rasa ingin tahunya yang tinggi membuatnya mendapat perhatian dari pembimbing ibadah hingga ia mendapat sebuah mushaf Al-Qur'an di akhir kegiatan manasik dari sang ustaz yang membimbing.
"Untuk Pak Rinaldo, karena begitu semangat dan antusias sejak hari pertama," kenangnya mengingat saat pembimbing menyerahkan sebuah mushaf Al-Qur’an, Rabu (10/6/2026).
Ia mengaku haru saat menerima pemberian itu. Ia lantas menerima dan mendekap Al-Qur’an tersebut. Baginya, kitab suci umat Islam itu bukan sekadar hadiah, tetapi menjadi teman perjalanan dan penguat hati hingga selama menjalani haji Makkah dan Madinah.
Selanjutnya, pada 20 Mei 2026 pukul 00.30 WIB, Rinaldo berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan jemaah haji. Suara doa, talbiyah, dan lambaian keluarga mengiringi langkahnya yang mantap memasuki pesawat Emirates Airlines.
Perjalanan udara yang panjang menjadi ujian pertama. Dia menyadari postur tubuhnya tinggi dan besar hingga ruas kursi pesawat terasa terbatas. Ia pun merasa sulit untuk beristirahat. Namun Rinaldo memilih bersabar. Di tengah rasa lelah, ia membuka kitab Al-Qur’an pemberian pembimbingnya dan membaca ayat demi ayat untuk menenangkan hati.
Setelah penerbangan sekitar delapan jam, perjalanan memasuki fase berikutnya. Saat transit di Doha, Rinaldo bersiap mengambil miqat, menentukan waktu dan tempat memulai rangkaian ibadah haji.
Ia pun mengganti pakaian yang ia kenakan dengan dua lembar kain ihram putih tanpa jahitan. Miqat dengan berihram merupakan rukun pertama dalam ibadah haji sebagai simbol kesetaraan seluruh manusia di hadapan Allah SWT.
Dengan hati bergetar ia melafalkan: "Labbaik Allahumma labbaik. Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah," kenangnya.
Dari Doha, Qatar, ia bersama kelompok terbang (Kloter) melanjutkan perjalanan menuju Jeddah. Dua jam penerbangan terasa berbeda karena hati dan pikirannya sudah tertuju kepada Baitullah.
"Alhamdulillah, rasa lelah tergantikan oleh rasa syukur karena Allah mengizinkan hambanya ini untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima," kata dia kala tiba di bandara.
Ia bersyukur, selama di Tanah Suci mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji, baik rukun, wajib, maupun sunnah haji. Mulai dari umrah dalam rangka haji tamattu’, perjalanan menuju Mina, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, hingga menyempurnakan thawaf ifadhah dan sa’i.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia mendapatkan kesempatan menjadi muazin di Makkah. Suara azan yang biasanya ia dengar sebagai panggilan ibadah, kini Allah izinkan keluar dari lisannya sendiri di Tanah Suci.
Dalam perjalanan haji ini, Rinaldo mendapatkan bimbingan langsung dari pembimbing ibadah haji Ustaz Hasan Gaido serta pimpinan rombongan Ustaz Acung Wahyu yang mendampingi jemaah agar dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan syari'at Islam.
Kisah Muhammad Rinaldo menjadi inspirasi bahwa profesi apa pun bukan penghalang untuk datang memenuhi panggilan Allah. Seorang barista muda dengan kerja keras, doa, dan keyakinan dapat berdiri di antara jutaan manusia mengucapkan talbiyah yang sama.
Semoga Muhammad Rinaldo dan seluruh jemaah mendapatkan haji mabrur, dan haji mabrur tersebut terkoneksi dengan semakin banyak kebaikan untuk keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat. (*)