Iklan

Skate Park Jateng Valley Rp2 Triliun Mangkrak dan Kini Dipenuhi Semak Belukar

Inti berita

Lingkar.co - Arena skate park di kawasan Jateng Valley, Hutan Wisata Penggaron, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah masih terbengkalai…

Skate Park Jateng Valley Rp2 Triliun Mangkrak dan Kini Dipenuhi Semak Belukar
Foto : Pintu masuk kawasan Jateng Valley di Hutan Wisata Penggaron, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Kamis (2/7/2026)/istimewa/lingkar.co

Arena skate park di kawasan Jateng Valley, Hutan Wisata Penggaron, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah masih terbengkalai. Kondisi itu sejalan dengan mangkraknya proyek wisata senilai sekitar Rp2 triliun.

Pantauan di lokasi menunjukkan pintu depan Jateng Valley ditutup. Jalan menuju sejumlah objek wisata seperti lapangan golf dan skate park dipenuhi rumput liar serta semak belukar. Tidak terlihat aktivitas pembangunan maupun pekerja di kawasan yang beberapa tahun lalu dipromosikan sebagai skate park berstandar internasional.

Kawasan wisata seluas sekitar 371 hektare itu dirancang dengan konsep Ecological Sanctuary, Sustainable Leisure, dan Futuristic Space. Nilai investasi proyek ditaksir Rp2 triliun dengan target menjadi salah satu destinasi wisata terbesar di Asia Tenggara.

Groundbreaking proyek dilakukan pada (15/8/2020) bertepatan dengan Hari Jadi ke-70 Provinsi Jawa Tengah. Namun enam tahun berlalu, proyek tersebut belum juga rampung.

Salah satu fasilitas paling mencolok adalah skate park yang disebut sudah mencapai progres sekitar 95 persen. Sayangnya, fasilitas itu belum pernah difungsikan dan mulai rusak karena terbengkalai. Bagi komunitas skateboard, ini bukan sekadar proyek mangkrak, melainkan hilangnya harapan punya fasilitas latihan layak di Jawa Tengah.

*Harapan Komunitas Skateboard Semarang*

Pemain skateboard asal Ungaran sekaligus perwakilan komunitas, Naufal Mustofa, menyebut Kota Semarang sebagai ibu kota Jawa Tengah belum memiliki skate park yang representatif dan mudah dijangkau. 
"Saya cuma menyayangkan, sekelas ibu kota Jawa Tengah masa tidak punya skate park yang proper. Sekalinya ada yang proper, posisinya di tengah hutan dengan akses masuk yang sulit," ujar Naufal, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, skateboard sebenarnya bisa dimainkan di berbagai tempat selama spotnya memungkinkan. Namun keterbatasan fasilitas membuat mereka sering memakai ruang publik, yang akhirnya menimbulkan stigma negatif. 
"Skate itu sebenarnya bisa dimainkan di mana saja selama spot itu bisa digunakan. Tapi balik lagi, kalau fasilitas umum rusak gara-gara dipakai main skateboard, ujung-ujungnya kami juga yang disalahkan," katanya.

Ia menjelaskan, keberadaan skate park layak penting bagi regenerasi dan pemula. 
"Kalau untuk regenerasi atau orang yang baru ingin bermain skate, skate park yang proper sangat berpengaruh untuk belajar," ucapnya.

Naufal menilai komunitas skateboard di Semarang sebenarnya terus berkembang. Hanya saja, para pemain masih berlatih terpisah karena belum ada satu titik pusat aktivitas. 
"Yang saya lihat, skater di Semarang itu sebenarnya banyak, cuma mainnya terpisah-pisah. Kalau ada skate park yang proper dan tempatnya strategis, nanti bisa jadi meeting point anak-anak skate. Mungkin juga bisa banyak mencetak regenerasi," katanya lagi.

Ia pun menyayangkan mangkraknya skate park Jateng Valley karena desain lintasan sudah sesuai kebutuhan pemain. 
"Sebenarnya saya dan anak-anak juga menyayangkan. Skate park Jateng Valley itu proper, tapi ya karena mangkrak itu tadi akhirnya tidak bisa dimanfaatkan," kata dia.

*Pemprov Janjikan Revitalisasi*

Sorotan terhadap Jateng Valley kembali menguat setelah foto dan video kawasan itu beredar di media sosial. Bangunan yang sempat dibangun tampak terbengkalai, termasuk arena skate park yang kini dipenuhi rumput liar.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan akan melakukan evaluasi sekaligus revitalisasi.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut pemerintah tidak akan membiarkan aset strategis itu terbengkalai tanpa kejelasan. Tahap awal yang akan dilakukan adalah asesmen untuk memetakan potensi kawasan sebelum menentukan arah pengembangan. 
"Kita lakukan asistensi dan revitalisasi terkait potensi ini, jadi berkembangnya wilayah kita lihat, dan ini dari aset kita akan berjalan ke sana untuk melakukan revitalisasi," kata Luthfi, Rabu (1/7/2026).

Luthfi menambahkan, konsep revitalisasi akan disesuaikan dengan karakteristik tiap daerah agar memberi dampak pada ekonomi dan pariwisata.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Tengah mengatakan pemerintah masih melakukan asesmen terhadap proyek tersebut, termasuk mengkaji penyebab terhentinya pembangunan sejak 2020. Salah satu kendala yang diidentifikasi adalah keterlambatan realisasi investasi dari pihak investor.

Pemprov Jawa Tengah berharap hasil asesmen menjadi dasar penentuan model pengembangan Jateng Valley ke depan. Dengan begitu, aset yang sudah terlanjur dibangun dapat dimanfaatkan kembali dan berkontribusi bagi sektor pariwisata serta perekonomian daerah.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu