Uji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jepara memasuki hari keempat, Kamis (8/10) kemarin. Selama empat hari itu, skema baru ini mendapat respons positif dari siswa, namun tidak bagi pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dilansir Radar Pati (Jawa Pos Group), Kepala SPPG Jepara Kauman 02 Arsenius Rikardus Aman Werang mengatakan, pihaknya masih menyesuaikan alur pelayanan dengan pola prasmanan. Dibandingkan sistem sebelumnya, penyajian prasmanan membutuhkan persiapan dan pendampingan lebih banyak.

“Lebih keteteran. Waktunya kurang efektif, meskipun antusias siswa lebih besar,” ungkapnya Kamis kemarin, dikutip Sabtu (10/10).
Setiap hari, SPPG Jepara Kauman 02 menyiapkan sekitar 1.575 porsi MBG untuk sembilan sekolah dan satu titik penerima manfaat Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui (3B).
Uji coba prasmanan
Untuk uji coba prasmanan, sementara ini baru diterapkan di SD Swasta Kanisius Jepara. Sasaran awalnya siswa kelas IV dan V dengan total 25 penerima manfaat. Namun, dalam pelaksanaannya siswa kelas VI juga meminta mendapatkan layanan serupa.
SPPG kemudian menyiapkan sedikitnya 20 takaran porsi menu tambahan. Dalam sistem tersebut, makanan tidak lagi dibagikan dalam porsi yang sudah ditentukan. Siswa mengambil makanan sendiri sesuai kebutuhan masing-masing dan ketersediaan menu.
“Teman-temannya (murid, red) sendiri yang melayani,” jelasnya.
Siswa juga diperbolehkan menambah makanan selama persediaan masih tersedia. Menurut Arsenius, pola tersebut memberikan keuntungan karena mengurangi potensi makanan terbuang.
“Food waste (makanan terbuang, red) cenderung lebih sedikit, dibandingkan sistem penyajian dalam porsi yang sudah ditentukan,” sebutnya.
Untuk mendukung pelaksanaan uji coba, mitra telah menyiapkan sejumlah peralatan tambahan. Tiga petugas pemorsian juga diterjunkan untuk mendampingi proses pelayanan di sekolah.
Meski masih menghadapi kendala dari sisi waktu dan alur pelayanan, antusiasme siswa menjadi catatan positif. Siswa terlihat lebih leluasa menentukan jumlah makanan yang akan dikonsumsi.
SPPG selanjutnya masih akan mengevaluasi pola pelayanan tersebut. Evaluasi diperlukan agar sistem prasmanan dapat berjalan lebih efektif apabila nantinya akan diterapkan di sekolah lain.
Wakil Bupati Jepara M. Ibnu Hajar berharap pola distribusi MBG secara prasmanan dapat diperluas. Menurutnya, penerapan sistem tersebut setidaknya bisa mewakili setiap kecamatan di Kabupaten Jepara.
“Setidaknya ada representasi di setiap kecamatan,” ujarnya.