Arsip Tag: SPPG

Buntut Dugaan Keracunan MBG di Pilangwetan, BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG

Lingkar.co – Badan Gizi Nasional (BGN) untuk sementara waktu menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Khidmatul Ummah Madani di Desa Pilangwetan, Kebonagung, Demak, Jawa Tengah.

Penghentian itu menyusul insiden santri dan warga di Kecamatan Kebonagung yang diduga mengalami keracunan seusai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Minggu (19/4/2026).Peristiwa itu terjadi sehari setelah dapur mendistribusikan makanan kepada para penerima manfaat.

Pelaksana Harian (Plh) Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Kuntoro, mengungkapkan, Kepolisian telah mengambil langkah cepat menyusul adanya laporan dari masyarakat mengenai gangguan kesehatan yang di derita pasca mengonsumsi makanan dari dapur SPPG.

“Kami dari Kepolisian langsung turun ke lokasi sebagai bentuk respons cepat atas aduan masyarakat terkait adanya sejumlah warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari dapur SPPG di Desa Pilangwetan,” kata Kuntoro saat konferensi pers di ruang gelar perkara Satreskrim Polres Demak, Selasa (21/4/2026).

“Kami juga telah mengambil langkah awal dengan menjaga status quo guna memudahkan proses penyelidikan yang sedang kami lakukan,” sambungnya.

Lebih jauh ia menerangkan, pihaknya telah mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak termasuk dari penerima manfaat.Dari hasil keterangan sementara, kata dia, proses pengolahan makanan dinilai telah sesuai prosedur. Selain itu, tidak ditemukan indikasi mencurigakan dari segi aroma maupun kondisi makanan saat dikonsumsi.

Hal tersebut juga diterangkan oleh penerima manfaat, dalam hal ini pihak sekolah. Meski demikian, Kuntoro menyebut pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian tersebut.

“Pihak kepolisian masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Sementara, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Demak, Ali Muzani, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut.

“Kami sangat prihatin atas kejadian ini dan menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kebonagung. Kami akan berupaya maksimal menangani ini secara transparan dan tuntas,” katanya.

Ia melanjutkan, hingga kini pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian lantaran semua dari hasil uji coba atau pencicipan makanan, menunjukkan kondisi layak konsumsi, sebelum didistribusikan kepada seluruh penerima manfaat.

Ali Muzani menyebut, Badan BGN telah menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani sejak Senin, 20 April 2026. Ia bilang, operasional akan dibuka kembali setelah dilakukan evaluasi menyeluruh dan dinyatakan memenuhi persyaratan.

BGN, lanjutnya, juga bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan korban, baik di rumah sakit, puskesmas, maupun perawatan mandiri.Selain itu, BGN memberikan pendampingan trauma healing kepada para korban agar tidak mengalami ketakutan dalam mengonsumsi makanan dari program MBG. Dari sisi teknis, proses pengolahan makanan disebut telah mengikuti standar operasional prosedur.

Bahan baku diterima pada Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, kemudian disortir sebelum masuk tahap penyiapan.Proses memasak dilakukan pada dini hari, sekitar pukul 01.00 hingga 05.00 WIB, dengan menu nasi goreng, susu, telur, acar, dan jeruk. Setelah itu, pendistribusian makanan kepada para penerima manfaat mulai dilakukan pukul 06.00 WIB.

“Kami mengimbau seluruh penyelenggara SPPG agar lebih berhati-hati dan meningkatkan pengawasan dalam setiap tahapan pengolahan makanan, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya. (*)

Kasus Dugaan Keracunan MBG di Pesantren Demak Jadi Perhatian Serius Pemprov Jateng

Lingkar.co – Dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Demak menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menilai persoalan utama bukan semata pada menu, melainkan ketepatan distribusi dan waktu konsumsi makanan.

Ia mengaku prihatin atas insiden yang menimpa ratusan penerima manfaat tersebut. Menurutnya, indikasi keracunan sering kali berkaitan dengan pengelolaan waktu distribusi yang kurang tepat.

“Biasanya yang keracunan itu karena pengaturan jadwalnya kurang tepat. Makanan ini ada masa konsumsinya, jadi harus diantarkan tepat waktu dan langsung dikonsumsi,” ujar Taj Yasin yang juga sebagai Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan Pelaksanaan Program MBG Jateng, Selasa (21/4/2026).

Ia menekankan pentingnya edukasi kepada para penerima manfaat. Khususnya anak-anak dan santri, agar tidak menunda konsumsi makanan. Menurutnya makanan yang seharusnya dikonsumsi dalam rentang waktu tertentu berisiko jika disimpan terlalu lama.

Selain itu, pihak sekolah maupun pesantren diminta turut berperan aktif dalam membimbing siswa atau santri agar langsung mengonsumsi makanan yang telah disediakan negara.

“Jangan sampai makanan disimpan dulu, lalu dimakan di kemudian hari,” tegasnya.

Lebih jauh, Taj Yasin memastikan pemerintah tidak akan ragu memberikan sanksi terhadap penyedia layanan MBG yang lalai. Sanksi tersebut berjenjang, mulai dari pembinaan hingga pencabutan izin operasional dapur.

“Sudah ada kasus penutupan dapur di Jawa Tengah. Ini menjadi peringatan keras. Dari pemerintah pusat juga sudah memberikan warning, ada tahapan sanksi bahkan sampai pencabutan izin,” ungkapnya.

Sebelumnya, ratusan santri dari empat pesantren di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan pada Sabtu (18/4/2026) kemarin. Gejala mulai muncul pada Minggu pagi, dengan keluhan sakit perut, pusing, mual, hingga muntah.

Tak hanya santri, kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3) juga terdampak. Total korban diperkirakan mencapai 187 orang.

Hingga Senin, sebanyak 68 orang menjalani perawatan inap, sementara 66 lainnya menjalani rawat jalan dengan pemantauan intensif. Di antara korban terdapat dua balita, tiga ibu bersama anaknya, serta satu ibu menyusui.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Khidmatul Ummah Madani telah dihentikan sementara operasionalnya dan dipasang garis polisi.

Dinas Kesehatan Kabupaten Demak juga tengah melakukan uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti, sekaligus mengevaluasi menyeluruh sarana produksi pangan, termasuk aspek higiene, lingkungan, hingga kapasitas sumber daya manusia.

“Sampel yang kami kirimkan ke laboratorium tidak hanya makanan yang disajikan oleh SPPG, termasuk muntahan siswa yang diduga keracunan juga kami uji di laboratorium,” kata Kepala Dinas Kesehatan Daerah Demak Ali Maimun di Demak.

Ia memperkirakan hasil uji laboratorium keluar dalam tempo tiga hingga empat hari mendatang, setelah sampel tersebut dikirim pada Minggu (19/4/2026), setelah muncul keluhan yang diduga akibat keracunan makanan, seperti mual dan muntah.

Pemerintah berharap evaluasi ini menjadi momentum perbaikan sistem distribusi MBG agar kejadian serupa tidak terulang.(*)

Tiga SPPG di Kota Semarang Siap Jadi Percontohan Praktik Baik MBG Nasional

Lingkar.co – Kota Semarang bersiap menjadi pusat diskusi nasional melalui acara “Dialog Nasional Praktik Baik Makan Bergizi Gratis (MBG)” pada 28-30 April 2026 mendatang. Acara yang bertempat di Hotel Gumaya ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program strategis nasional penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat.

Kota Semarang merasa terhormat menjadi tuan rumah bagi delegasi dari berbagai kota di Indonesia untuk mendiskusikan penguatan gizi nasional. Kami telah menyiapkan forum ini sebagai wadah pertukaran pengalaman atau best practise dalam mengelola program pangan secara efektif,” ujar Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Rabu (8/4/2026).

Dialog nasional ini akan mempertemukan perwakilan dari 20 kota/kabupaten penandatangan Pakta Milan di Indonesia, termasuk Kota Surabaya sebagai calon anggota. Selain itu, sejumlah kepala daerah dari Jawa Tengah seperti Magelang, Salatiga, Tegal, dan Pekalongan juga direncanakan hadir dalam pertemuan ini.

“Kehadiran puluhan kota ini menunjukkan komitmen kuat antar-pemerintah daerah untuk bersinergi demi kesehatan generasi mendatang. Kami ingin memastikan setiap daerah bisa saling belajar dalam mengimplementasikan kebijakan pemenuhan gizi ini,” jelas Agustina.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, para peserta dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke tiga titik Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) di Kota Semarang. Lokasi yang akan dikunjungi meliputi SPPG Aspol Polda Jateng Rejosari, SPPG Kedung Mundu 2, dan SPPG Pedalangan.

“Tiga lokasi SPPG ini dipilih karena telah memenuhi persyaratan standar operasional yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Fasilitas di Rejosari, Kedung Mundu, dan Pedalangan sangat representatif untuk dijadikan contoh pembelajaran bagi peserta nasional,” terang wali kota.

Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk memperlihatkan secara langsung tata kelola distribusi makanan yang telah berjalan sesuai prosedur kesehatan. Para peserta akan melihat teknis penyelenggaraan makanan yang telah mendapatkan sertifikasi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Ketiga SPPG tersebut memiliki keunggulan pada alur pelayanan yang tertata dan fasilitas yang memadai sesuai standar baku. Kami ingin menunjukkan bahwa standarisasi kualitas makanan dan kebersihan adalah kunci utama dalam operasional SPPG,” lanjut Agustina.

Pemerintah Kota Semarang berharap hasil dari dialog nasional ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan program Makan Bergizi Gratis di seluruh wilayah Indonesia. Replikasi praktik baik dari Semarang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan di kabupaten dan kota lainnya.

“Kami berharap praktik baik yang ada di Kota Semarang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk segera melakukan replikasi. Dengan standarisasi yang seragam, kualitas penyelenggaraan program gizi di seluruh Indonesia akan semakin meningkat,” pungkasnya. ***

Ratusan Juta Belum Dibayar, Sejumlah Suplyer Geruduk SPPG Protomulyo

Lingkar.co– Sejumlah suplyer yang memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendatangi SPPG di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Senin (6/4/2026). Kedatangan mereka untuk menagih pembayaran yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

Salah satu suplyer, Faqihudin, mengaku memiliki tagihan sebesar Rp141 juta yang belum dibayarkan sejak akhir Desember 2025. Tagihan tersebut berasal dari suplai susu yang rutin dikirim setiap pekan dalam jumlah puluhan karton.

“Totalnya Rp141 juta, belum dibayar sejak akhir tahun lalu,” ujarnya.

Menurutnya, nilai tagihan terus membengkak karena akumulasi pengiriman yang belum dilunasi. Ia juga menyebut telah beberapa kali melakukan penagihan, baik secara langsung maupun melalui pesan WhatsApp, namun belum mendapatkan kejelasan pembayaran.

“Setiap ditagih alasannya selalu berubah, dan responsnya lambat,” katanya.

Faqihudin menambahkan, tidak hanya dirinya yang mengalami hal serupa. Beberapa suplyer lain juga disebut memiliki tagihan yang belum dibayarkan, meski nilainya lebih kecil.

“Ada juga suplyer lain yang tagihannya puluhan juta. Bahkan sebelumnya ada suplyer lama yang masih punya tanggungan tapi ditinggalkan,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak SPPG Protomulyo I melalui bagian akunting, Galuh, menyatakan bahwa pembayaran telah dilakukan secara rutin setiap ada barang yang masuk.

“Dari kami rutin membayar dan semua sudah kami bayarkan,” jelasnya.

Ia menerangkan, mekanisme pembayaran dilakukan melalui Koperasi Merakyat. Pihak SPPG mengaku menyalurkan pembayaran ke koperasi, yang kemudian bertugas meneruskan kepada para suplyer.

“Kami bayarnya ke koperasi, nanti koperasi yang membayarkan ke suplyer,” tandasnya.

Di sisi lain, Ahmad Munfarid selaku PIC Koperasi Merakyat mengatakan dirinya tidak mengetahui secara rinci terkait pengelolaan keuangan di koperasi tersebut.

“Tugas saya hanya mencarikan bahan baku atau belanjaan untuk kebutuhan MBG,” ujarnya. (*)

Penulis: Yoedhi W

Kota Malang Uji Coba Pertama Program MBG Sistem Prasmanan di MIN 2

Lingkar.co – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan untuk pertama kalinya dilaksanakan di Kota Malang, tepatnya dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) 2 Kota Malang, Jawa Timur.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, berkesempatan meninjau langsung uji coba MBG prasmanan tersebut.

Selain meninjau, ia juga ikut membaur makan bersama para siswa serta berdialog langsung, khususnya dengan para siswa kelas VI.

Berdasarkan hasil pengamatan dan dialog dengan para siswa, Wahyu menilai bahwa metode prasmanan seperti ini lebih disukai oleh para siswa dibandingkan dengan sistem sebelumnya.

Para siswa pun tampak antusias dalam mengambil makanan dan makan bersama.

“Anak-anak lebih suka metode prasmanan ini karena makanan disajikan dalam kondisi lebih hangat, porsi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” ungkapnya, Senin (6/4/2026)

Dari sisi kualitas makanan, Wahyu menilai MBG prasmanan sudah memenuhi standar gizi yang baik. Menu yang disajikan mencakup protein, karbohidrat, vitamin melalui buah-buahan, hingga minuman, sehingga dinilai cukup lengkap.

Selain itu, sistem prasmanan juga dinilai lebih baik dalam menjaga kualitas, termasuk suhu, makanan tetap hangat dibandingkan metode distribusi menggunakan ompreng yang dikemas dari dapur SPPG.

Meski demikian, Wahyu menyoroti tantangan dalam hal efektivitas waktu. Sistem antre dalam prasmanan dinilai berpotensi menyita waktu belajar siswa.

“Antre butuh waktu, makan juga ada waktu, berarti ada jam pelajaran yang tersita. Ini yang harus diatur kembali,” jelasnya

Lebih lanjut, Wahyu menuturkan bahwa hasil uji coba ini akan dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk dievaluasi lebih lanjut. Pemerintah Kota Malang akan berkoordinasi dengan pihak terkait guna menentukan kebijakan lanjutan, termasuk kemungkinan penerapan lebih luas.

Terkait kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang lebih besar dalam sistem prasmanan, disebutkannya hal tersebut masih dalam tahap evaluasi.

“Ini masih uji coba, nanti kami koordinasikan dengan BGN untuk melihat kelebihan dan kekurangannya,” imbuhnya.

Menanggapi isu yang sempat muncul terkait pelaksanaan MBG saat Bulan Ramadan, Wahyu memastikan bahwa kondisi di Kota Malang tetap aman.

Ia pun menyebut pihaknya telah melakukan supervisi dan evaluasi secara berkala, termasuk berkoordinasi dengan Direktur Pemantauan dan Pengawasan BGN.

“Secara umum di Kota Malang aman. Saat Ramadan kemarin memang makanan kering yang dibawa ke rumah. Tentu ada hal-hal yang dipertimbangkan dan sekarang sudah normal kembali dan dievaluasi, alhamdulillah Kota Malang relatif aman,” pungkasnya. (*)

Terbukti Langgar Aturan, Dapur MBG di Kendal Dapat SP1

Lingkar.co – Satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Karangayu, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah mendapat surat peringatan pertama (SP1) dari koordinator wilayah MBG. Peringatan ini diberikan setelah dapur tersebut terbukti melanggar aturan dalam pelaksanaan program.

Koordinator Wilayah MBG Kabupaten Kendal, Mohammad Faris Maulana, mengatakan pemberian SP1 merupakan langkah tegas untuk memastikan seluruh dapur MBG menjalankan program sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

Menurut Faris, surat peringatan pertama telah disampaikan kepada kepala SPPG yang bersangkutan sebagai bentuk pembinaan sekaligus peringatan agar tidak mengulangi pelanggaran serupa.

“SP1 sudah kami keluarkan kepada kepala SPPG yang melanggar aturan. Ini menjadi peringatan agar seluruh dapur MBG benar-benar menjalankan program sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Faris.

Ia menegaskan, jika peringatan tersebut tidak diindahkan atau masih ditemukan pelanggaran, maka pihaknya tidak segan untuk memberikan sanksi lanjutan hingga penutupan dapur MBG tersebut.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI, Muhammad Haris, menilai langkah tegas koordinator wilayah sangat diperlukan untuk menjaga kualitas program MBG.

Menurutnya, dapur MBG yang tidak menjalankan program sesuai standar harus segera ditertibkan agar kualitas makanan bergizi yang diberikan kepada anak-anak tetap sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.

“Korwil harus berani menertibkan dapur MBG yang tidak sesuai aturan. Tujuannya agar makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar memenuhi standar gizi yang telah ditentukan,” kata Haris.

Ia juga mengingatkan bahwa anggaran program MBG yang bersumber dari APBN cukup besar, sehingga masyarakat diharapkan turut mengawasi pelaksanaan program tersebut agar berjalan transparan dan sesuai aturan.

Dengan adanya pengawasan dan penegakan aturan tersebut, diharapkan seluruh dapur MBG dapat menjalankan program dengan baik serta membelanjakan anggaran sesuai ketentuan pemerintah. (*)

Penulis: Yoedhi W

Awasi Ketat Program MBG, Suyono Ancam SPPG yang Tidak Disiplin

Lingkar.co – Wakil Bupati Batang Suyono sebagai Ketua Pengawas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan pengawasan ketat pelaksanaan program Presiden Prabowo Subianto tersebut,

Dirinya tak menampik bahwa pihaknya kerap menerima ‘curhatan’ hingga kritik pedas dari masyarakat, terutama orang tua siswa yang mengunggah potret menu makanan yang dianggap tidak sesuai harapan.

Bagi Suyono, unggahan-unggahan di media sosial tersebut bukanlah sekadar angin lalu. Dalam pertemuan terbaru bersama para mitra penyedia, ia secara blak-blakan menampilkan potret menu yang dikeluhkan tersebut sebagai bahan evaluasi.

Suyono menekankan bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah harga mati. Ia mengingatkan para mitra agar tidak main-main dengan nilai gizi yang sudah ditetapkan.

“Sudah ada keuntungan, jangan mengurangi nilai. Yang Rp8 ribu ya Rp8 ribu. Jika SOP tidak dijalankan dengan disiplin, niat mulia pemerintah bisa tercoreng di mata publik,” katanya saat Rakor Yayasan dan Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).

Ia ingin agar pemberian makanan bergizi ini menjadi budaya kerja yang jujur, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

“Kadang-kadang memenuhi, kadang-kadang enggak. Maka saya tekankan tadi itu harus sesuai SOP menjadi budaya, sehingga tidak merugikan penerima manfaat, bahkan tidak menjadi kritikan. Karena kalau kritik terus-menerus, kebijakan ini seakan-akan menjadi kebijakan yang tidak mulia,” tegasnya.

Ancaman Penutupan SPPG

Pengawasan ini tidak hanya berhenti pada teguran lisan. Suyono menyatakan pihaknya memiliki wewenang untuk mengambil tindakan tegas jika ada penyedia atau SPPG yang membandel.

Menurutnya, kualitas makanan sangat menentukan masa depan generasi penerus di Batang. Jika diingatkan berkali-kali namun tetap melanggar, ia tidak segan untuk menghentikan kerjasama.

“Jika tidak sesuai dan terus-menerus diingatkan tidak mau, MBG itu bisa kita tutup, kita rekomendasikan untuk ditutup,” jelasnya.

Sanksi yang disiapkan mulai dari teguran lisan, tertulis, hingga yang paling berat adalah pemberhentian operasional SPPG tersebut.

Meski semangat program ini sangat besar, Suyono mengakui distribusi MBG di Batang belum sepenuhnya merata. Saat ini baru tersedia sekitar 61 unit dari total 110 kebutuhan yang ada di seluruh kabupaten.

“Daerah-daerah yang masuk kategori Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T) atau wilayah terpencil masih menjadi tantangan utama yang belum tersentuh sepenuhnya. Di antaranya daerah 3T yang terpencil itu belum. Kalau daerah Kecamatan Bawang kan ya sudah ada, tapi belum semua, belum rata istilahnya,” ujar dia.

Di akhir pesannya, ia kembali mengingatkan bahwa belanja bahan baku harus mengutamakan produk lokal (kecuali susu) guna menggerakkan ekonomi warga sekitar.

Ia berharap, para mitra sadar bahwa di setiap piring makanan yang mereka sajikan, terdapat harapan besar bagi kualitas SDM Indonesia di masa depan. (*)

ICW Desak KPK Awasi 1.179 SPPG yang Dikelola Polri

Lingkar.co – Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pengawasan terhadap 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Staf Divisi Advokasi ICW Yassar Aulia mengatakan permintaan tersebut telah disampaikan secara resmi melalui surat kepada Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK, Aminudin. ICW meminta agar KPK memberikan perhatian khusus terhadap tata kelola dan mekanisme pengelolaan SPPG yang saat ini berada di bawah institusi Polri.

“Kami memberikan surat yang meminta Deputi untuk memberikan atensi lebih kepada mekanisme pengelolaan SPPG yang sekarang dimiliki Polri,” ujar Yassar di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Yassar menjelaskan, secara regulasi KPK memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti permintaan tersebut. Ia merujuk Pasal 6 dan 7 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, serta Pasal 45 dan 49 Peraturan KPK Nomor 7 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja KPK.

“Jadi, kalau kita lihat di Undang-Undang KPK maupun di peraturan turunannya, pemberantasan korupsi itu kan dimandatkan kepada KPK bukan hanya dalam konteks penindakan, melainkan juga pencegahan, dan itu kewenangan yang dimiliki oleh Deputi Pencegahan dan Monitoring,” katanya.

Menurut dia, pengawasan diperlukan karena terdapat potensi ketimpangan dalam pengelolaan SPPG melalui Yayasan Kemala Bhayangkari. Ia menilai adanya perbedaan perlakuan dibandingkan pengelola lain sebagaimana diatur dalam petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kalau kita berkaca pada petunjuk teknis BGN (Badan Gizi Nasional), yang baru keluar pada Desember kemarin, itu kan diberikan sejumlah privilese begitu ya bagi kepolisian dalam mengelola SPPG. Salah satunya, mereka tidak dibatasi dalam mengelola SPPG,” ujarnya.

Ia melanjutkan, “Jadi, setiap yayasan pada umumnya dibatasi hanya 10 SPPG, tetapi kepolisian tidak dibatasi sama sekali. Jadi, itu berpotensi untuk memberikan ketimpangan begitu ya dalam pengelolaan proyek ini.”

Selain itu, ICW juga menyoroti adanya insentif harian sebesar Rp6 juta per SPPG selama enam hari dalam sepekan, yang berlaku selama dua tahun sejak unit tersebut beroperasi. Skema pendanaan itu dinilai perlu diawasi secara ketat untuk mencegah potensi penyimpangan.

Yassar menghitung, jika mengacu pada tahun operasional 2026 dengan asumsi 313 hari operasional, maka potensi dana yang dikelola bisa mencapai sekitar Rp2,2 triliun per tahun operasi untuk keseluruhan SPPG tersebut.

“Itu di luar dari dana operasional dan dana yang awal diberikan oleh BGN sekitar Rp500 juta,” katanya.

Karena itu, ICW menilai KPK perlu memantau potensi konflik kepentingan, baik dari sisi finansial maupun relasi kekeluargaan dalam pengelolaan yayasan yang melibatkan pasangan personel kepolisian.

“Jadi, ini punya urgensi besar untuk menjadi perhatian KPK karena memang belakangan, apalagi kita melihat bagaimana institusi Polri mendapatkan atensi dari publik begitu dari berbagai macam kontroversi secara umum maupun ketika pengumuman kemarin oleh Presiden dan Kapolri bahwa mereka mengelola 1.179 SPPG,” ujarnya.

Sebelumnya, pada 13 Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto menghadiri peresmian dan peletakan batu pertama 1.179 SPPG serta 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri.

Dalam kesempatan itu, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa dari total 1.179 SPPG, sebanyak 411 unit telah beroperasi, 162 dalam tahap persiapan operasional, 499 masih dalam proses pembangunan dan ditargetkan selesai pada Maret 2026, serta 107 lainnya baru memasuki tahap peletakan batu pertama.

Penulis: Putri Septina

Siap Beroperasi, SPPG Gowong Bakal Layani 3.000 Penerima Manfaat Area Pegunungan

Lingkar.co – Upaya memperkuat layanan pemenuhan gizi di wilayah pegunungan terus dilakukan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah resmi beroperasi dan siap melayani ribuan penerima manfaat, Minggu (4/1/2026).

Berlokasi di Dusun Gondangsari, Desa Gowong, dapur SPPG diresmikan melalui pemotongan pita oleh Danramil Bruno, Kapten Inf Setyo Herdianto. Peresmian ini sekaligus menandai dimulainya operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan dengan akses geografis menantang.

Ketua Yayasan Bina Generasi Anak Desa, Muchsinun, mengatakan SPPG Gowong hadir untuk menjawab kebutuhan pemenuhan gizi anak-anak sekolah di wilayah pegunungan. Sedikitnya 3.000 penerima manfaat dari 26 sekolah akan dilayani oleh dapur ini.

“SPPG Gowong kami desain agar menyatu dengan masyarakat. Tenaga kerja mayoritas warga lokal, kualitas makanan dijaga sesuai standar gizi, dan distribusi disesuaikan dengan kondisi wilayah,” ujarnya.

Sebanyak 50 warga sekitar direkrut sebagai tenaga dapur, ditambah dua petugas dari yayasan. Untuk menjangkau sekolah-sekolah dengan akses sulit, khususnya di wilayah Plipliran atas, distribusi makanan disiapkan menggunakan sepeda motor dengan gerobak khusus.

Tak hanya dari sisi layanan, SPPG Gowong juga menjadi perhatian karena aspek legalitas dan standarnya. Dapur ini tercatat sebagai satu-satunya SPPG di Purworejo yang tengah mengurus dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) secara lengkap dan dijadikan pilot project dapur MBG.

“Sertifikat halal sudah ada, koki bersertifikat standar, lahan milik pribadi seluas 1.500 meter persegi, dengan bangunan dapur 20×20 meter sesuai layout ketentuan,” jelas Muchsinun.

Yayasan Bina Generasi Anak Desa juga mengantisipasi risiko kebencanaan mengingat Bruno merupakan wilayah rawan longsor. Koordinasi dengan BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup telah dilakukan, termasuk rekomendasi pembangunan bronjong pengaman.

SPPG Gowong dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada 8 Januari 2026. Ke depan, yayasan menargetkan pengembangan SPPG di Loano dan Butuh, dengan total penerima manfaat di wilayah Bruno diperkirakan mencapai 9.500 orang.

“Ini bagian dari ikhtiar mencetak generasi anak desa yang sehat dan berkualitas, sekaligus mendukung program nasional,” pungkasnya.(*)

Penulis: Lukman Khakim

Bupati Blitar Resmikan SPPG dan Peletakan Batu Pertama Muhammadiyah Center

Lingkar.co – Bupati Blitar Rijanto meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Muhammadiyah dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Muhammadiyah Center di Masjid Nurul Iman Kanigoro, Kelurahan Bence Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Sabtu (27/12/2025). Kegiatan tersebut juga bertepatan dengan hari lahir atau Milad ke-113 Muhammadiyah.

Pada kesempatan itu, Rijanto mengapresiasi Muhammadiyah yang telah berkontribusi dalam pembangunan fasilitas SPPG. “Terima kasih kepada SPPG Muhammadiyah bertepatan dengan milad ke – 113, harapan kami, ke depan program MBG ini bisa dinikmati oleh anak-anak,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rijanto menekankan pentingnya ketelitian dan kehati-hatian dalam pengelolaan dapur SPPG. Menurutnya, program ini sangat mulia karena mempersiapkan generasi masa depan agar cerdas dan kuat.

“MBG diharapkan dapat menutrisi anak-anak sehingga mereka tumbuh optimal. Saya titip kepada kepala dapur untuk memperhatikan seluruh proses dengan benar. Dengan pengalaman yang ada, mohon setiap tahap diperhatikan secara teliti,” pesannya.

Di lain sisi, Rijanto mengajak masyarakat untuk ikut serta mengawasi, menjaga dan mendukung keberlangsungan SPPG. “Mari kita pastikan keberadaanya sehingga memberikan manfaat dan dikelola dengan amanah, transparan dan berkelanjutan,” jelasnya

Bupati mengakui, kontribusi Muhammadiyah terhadap negara sangat nyata. Ia menyebut berbagai amal usaha, mulai dari lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial Muhammadiyah sangat membantu pemerintah dalam memperhatikan masyarakat.

“Semua yang dilakukan sejalan dan mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berkeadilan, berkarakter dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia berharap usia 113 tahun menjadikan Muhammadiyah semakin solid, adaptif, dan inovatif serta terus menjadi pelopor gerakan pencerahan.

Ia juga menegaskan, Pemkab Blitar siap untuk terus berjalan bersama, bersinergi dan berkolaborasi dalam menghadirkan pembangunan yang inklunsif dan membawa manfaat bagi masyarakat.

“Kehadiran Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi keagamaan tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak,” pungkasnya. (*)