Arsip Tag: mbah

Senangnya Mbah Samidah, Dapat Bantuan Kursi Roda Dari Bupati Blora

Lingkar.co – Senangnya Mbah Samidah (64) warga RT 03/ RW 08 Kelurahan Cepu, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Bagaimana tidak, nenek yang menderita pengapuran kaki ini dapat bantuan kursi roda dari Bupati Blora, H. Arief Rohman, Selasa (24/10/2023).

Mbah Samidah menderita pengapuran pada kedua kakinya sehingga hanya bisa duduk dan tiduran saja. Di hadapan Bupati, ketua Baznas, Lurah Cepu dan RT setempat, ia mengaku senang dan mengucapkan terima kasih.

“Saya sangat senang sekali, sudah lama mengimpikan kursi roda agar dapat beraktivitas dan tidak hanya duduk di dalam rumah,” ucapnya.

Dia lantas menceritakan, sudah 2 tahun lebih dirinya tidak bisa berjalan. Setiap hari hanya bisa duduk dan tiduran saja.

“Terima kasih pak Bupati. Semoga panjenengan diberikan kesehatan dan kelancaran dalam memimpin Blora ini,” doa Mbah Samidah.

Saat menyerahkan bantuan kursi roda tersebut, Bupati yang biasa merakyat ini pun tak segan ikut membantu mengangkat Samidah duduk di kursi roda dari tempat duduknya.

Tidak hanya itu, Bupati mengajak Mbah Samidah keluar rumah dengan mendorong kursi roda yang baru saja diberikan itu.

Mas Arief, sapaan akrab Bupati, mengatakan, penyerahan kursi roda itu sebagai bentuk kepedulian pemimpin kepada masyarakat yang mesti diayomi.

Ia juga menegaskan, selama ini Pemkab akan terus berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Diceritakan Mas Arief, beberapa waktu lalu ketika dirinya berkunjung di wilayah kelurahan Cepu, ia menerima laporan bahwa ada warga yang butuh kursi roda.

‘’Dan ini kita tindaklanjuti, dalam hal ini Baznas kami minta untuk membantu dan akhirnya hari ini bisa kita serahkan bantuan ini. semoga bantuan kursi roda ini bermanfaat,” jelasnya.

Sebelum mendapat bantuan kursi roda, Mbah Samidah ketika hendak keluar hanya menggunakan kursi yang diberi roda dan tentu kurang layak.

“Setelah kita cek ternyata memang benar kurang layak,” ujar Mas Arief.

“Alhamdulillah hari ini kita serahkan semoga bantuan ini bermanfaat,dan dapat memudahkan para penerima manfaat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari,” pungkas Bupati. (Adv)

Dua Periode Jadi Gubernur, Ganjar Ungkap Berkah Mbah Munif Girikusumo

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengungkapkan peran ulama kharismatik pengasuh PP Girikusumo, KH Ahmad Munif Zuhri atau akrab disapa Mbah Munif. Menurut Ganjar, Mbah Munif merupakan sosok yang memberikan keberkahan tersendiri hingga dirinya bisa menjadi gubernur 2 periode di Jawa Tengah.

Usai pertemuan di kediaman Mbah Munif, Ganjar mengatakan kedatangannya tak lain untuk silaturahmi dan berpamitan dengan Mbah Munif. Sebab, sejak kali pertama bertemu pada 2013, Mbah Munif senantiasa mendampinginya dan berdiskusi banyak hal.

“Setelah itu saya sering sowan, diskusi, setelah itu saya jadi gubernur sampai dua periode. Bahkan beliau menginisiasi pertemuan-pertemuan kebangsaan membahas banyak hal, ada halaqoh-halaqoh yang dibikin berkeliling,” katanya.

Bakal Capres PDIP ini mengatakan, tak hanya berpamitan karena telah purnatugas sebagai gubernur saja. Dalam kesempatan itu Ganjar juga meminta doa untuk melanjutkan ke tugas berikutnya.

“Nah saya tadi nyuwun pamit lah sama beliau, sekaligus nyuwun doa setelah tugas saya (Jawa Tengah) saya ingin melanjutkan tugas berikutnya,” ucapnya.

Sebelumnya, Ganjar tiba di komplek Ponpes Girikusumo sekitar pukul 12.30 WIB. Mbah Munif yang tak lain juga Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jateng telah menanti di depan pesantren. Ia langsung menyambut gubernur rambut putih dengan merangkul dan tak melepaskan genggaman tangannya.

“Mbah pripun kabare, sehat-sehat nggih,” ucap Ganjar.

Gubernur Jateng dua periode itu juga menyapa para santri yang berbaris rapi menyambutnya. Ketika masuk di kediaman, Ganjar langsung gembira lantaran kerinduannya terbayar.

“Wah niki mpun tak kangeni Mbah,” ucap Ganjar sambil menunjuk sambal terong.

Setelah santap siang bersama, keduanya berbincang cukup lama. Sesekali Mbah Munif tertawa saat mendengar ucapan politisi PDIP inj.

Pun sebaliknya. Di penghujung pertemuan, Mbah Munif tampak menyentuh lutut Ganjar yang duduk bersila sembari memimpin doa dengan khusyuk. Sesekali, dia tampak menyeka matanya dengan tisu dan surban yang disampirkan di pundaknya.

Sementara itu, Mbah Munif yang tampak masih menyeka mata saat menghantarkan Ganjar menuju mobil tak banyak berkomentar ketika ditanyai awak media soal pesannya untuk Ganjar.

Bahkan hanya memberikan teka-teki, “Ini pesan saya,” ucap Mbah Munif sembari merangkul lengan dan bahu Ganjar Pranowo. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Kirab Budaya Peringatan Haul Mbah Syafi’i Piyoronegoro, Warga Mangkang Harap Pemkot Dukung Wisata Religi

Lingkar.co – Ribuan warga wilayah Mangkang, Kota Semarang, mengikuti kirab budaya memperingati haul Mbah Syafi’i Priyoronegoro, Minggu (7/5/2023) pagi.

Dalam catatan sejarah, Mbah Syafi’i, merupakan pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Luhur Dondong Wonosari pada 1600-an. Ponpes ini termasuk yang tertua di Indonesia.

Selain pendiri ponpes, Mbah Syafi’i, merupakan tokoh agama yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa pada tahun 1600-an.

Menurut seorang tokoh masyarakat Mangkang, Kadar Lusman, haul Mbah Syafi’i menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan masyarakat setempat.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan haul Mbah Syafi’i Priyoronegoro, tahun ini dilaksanakan sejumlah kegiatan, termasuk kirab budaya.

Dia mengatakan, kirab Budaya diikuti 3.600 warga dari Kecamatan Tugu, Ngaliyan dan Mijen.

Ketua DPRD Kota Semarang itu, berharap, tradisi tahunan ini dapat menjadi destinasi wisata religi di Kota Semarang.

“Haul ini merupakan tradisi tahunan yang digelar tanggal 28 April. Sebelumnya hanya dilakukan pengajian,” ucapnya, di kompleks Pondok Pesantren Luhur Dondong, Wonosari, Minggu (7/5/2023).

“Namun tahun ini kita tambah serangkaian acara agar lebih ramai dan menjadi destinasi wisata religi di Kota Semarang,” lanjut Pilus, sapaan akrabnya.

Tidak hanya kirab budaya, ada pula lomba rebana yang diikuti 30 tim dari Sleman, Pati, Rembang, Kendal dan Semarang.

Kegiatan lainnya melaksanakan Bazar UMKM untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Kita buat besar agar generasi penerus ini bisa mengingat leluhurnya. Mbah Syafi’i merupakan tokoh pejuang,” jelas Pilus, sapaan akrabnya.

“Beliau juga menyebarkan Agama Islam di Indonesia, sehingga kita sebagai generasi muda harus meneruskan perjuangan beliau,” sambungnya.

Berharap Dukungan Pemkot

Pilus berharap, Pemkot Semarang, memberikan dukungan terhadap kegiatan di Pondok Luhur Dondong, ini.

Karena ia menilai, ponpes tersebut sangat kental dengan sejarah dan peradaban Islam di wilayah Semarang dan Indonesia.

“Harapan kami bisa mendapatkan support dari Pemkot. Misalnya, memberikan perhatian khusus untuk kegiatan dan mewarnai wisata religi ini untuk masuk ke APBD,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Luhur Dondong, Tubagus Mansor, mengatakan, berusaha menjadikan kawasan makam Mbah Syafi’i sebagai wisata religi.

Ia mencontohkan, haul yang digelar oleh masyarakat sekitar mendapat antusias yang sangat luar biasa.

“Dengan dibuat lebih besar ini harapan saya masyarakat bisa lebih antusias, bukan hanya keagamaan saja. Tapi dari segi inovasi, dan UMKM-nya,” jelasnya.

Kirab Budaya Haul Mbah Syafi’i Priyoronegoro Dibuka Kepala LKPP

Kirab budaya yang berlangsung Minggu (7/5/2023), dibuka oleh Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) RI, Hendrar Prihadi.

Dia mengatakan, berkat jasa Mbah Syafi’i Priyoronegoro, peradaban Islam di Kota Semarang berjalan dengan baik di nusantara dan menghasilkan tokoh-tokoh yang luar biasa.

“Seperti kita tahu, beliau memulai syiar pada tahun 1.600,” ucap Mantan Wali Kota Semarang itu.

“Kita harus meneruskan perjuangan beliau. Tidak hanya syiar saja, tapi demi kesejahteraan masyarakat luas,” lanjutnya.

Dia mengatakan, saat menjabat sebagai Wali Kota Semarang, ia telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp4,8 miliar untuk pemugaran makam Mbah Syafi’i.

“Pemkot sudah membangun makam beliau, harapannya tentu bisa bermanfaat dan mampu mengangkat perekonomian masyarakat sekitar setelah menjadi wisata religi,” pungkas Hendi, sapaan akrabnya.***

Penulis: Alan Henry

Editor: M. Rain Daling