Sebanyak 60 warga Kabupaten Pati disiapkan untuk bekerja ke luar negeri melalui Program SMK Go Global Tahun 2026. Puluhan calon pekerja migran Indonesia (PMI) tersebut dipersiapkan untuk bekerja sebagai caretaker atau tenaga perawat lansia di Malaysia dan Taiwan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pati, Bambang Agus Yunianto, mengatakan seluruh peserta merupakan warga Pati yang telah mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas selama 26 hari.
"Ini pelatihan bagi warga Pati calon pekerja migran Indonesia di bidang caretaker. Negara tujuannya Taiwan dan Malaysia. Jumlahnya 60 orang," kata Agus saat ditemui, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, 60 peserta tersebut mengikuti pelatihan dalam tiga kelompok dengan masing-masing kelompok berjumlah 20 orang. Program tersebut merupakan program baru yang pembiayaannya berasal dari APBN melalui BP3MI Jawa Tengah.
Agus menjelaskan, para peserta belum bisa langsung diberangkatkan. Mereka terlebih dahulu harus menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan dan mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
"Setelah lulus uji kompetensi yang dilaksanakan oleh BNSP. Jadi selama 26 hari ini dilihat kompeten atau tidak," jelasnya.
Siap Bekerja sebagai Caretaker Lansia
Kebutuhan tenaga kerja untuk program tersebut, lanjut Agus, sudah tersedia. Job order berasal dari BP3MI, sedangkan Disnaker bersama lembaga pelatihan kerja (LPK) menyiapkan calon PMI sesuai kebutuhan pekerjaan.
"Kalau job-nya dari BP3MI. Kita sudah punya job, ini kita harus siapkan calon PMI-nya. Kita kerja sama dengan LPK," ujarnya.
Para calon PMI akan bekerja sebagai caretaker yang bertugas merawat lansia. Karena itu, selain keterampilan teknis seperti memandikan dan membantu mobilitas lansia, peserta juga dibekali kemampuan yang berkaitan dengan sikap dan karakter.
Agus menilai tanggung jawab, kejujuran, dan empati menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki calon pekerja.
"Yang terpenting dia tanggung jawab, jujur, dan punya empati. Karena merawat orang tua itu membutuhkan itu," katanya.
Para peserta merupakan perempuan usia produktif, sekitar 30 hingga 50 tahun. Mereka juga dipersyaratkan dalam kondisi sehat serta memiliki dasar kemampuan bahasa sebagai bekal bekerja di negara tujuan.
Agus berharap seluruh peserta yang telah mengikuti pelatihan dan dinyatakan kompeten nantinya dapat terserap bekerja di Malaysia maupun Taiwan.
"Semoga saja ini nanti semuanya bisa terserap ke luar negeri," harapnya.
Ia menyebut masa kontrak pekerjaan berkisar tiga hingga empat tahun. Sementara untuk penghasilan, berdasarkan informasi yang diterimanya, berada di kisaran Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan.
"Gajinya tadi saya tanyakan antara Rp25 juta sampai Rp30 juta per bulan. Itu bersih, karena merawat orang tua otomatis tinggal di rumah yang dirawat," ungkap Agus.
Menurutnya, program SMK Go Global diharapkan tidak hanya membuka akses kerja ke luar negeri, tetapi juga meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan keluarga para peserta.
"Tujuannya calon PMI ini bisa meningkatkan keterampilannya, punya rasa tanggung jawab dan skill-nya bertambah. Mereka memang dari awal punya niat mau ke luar negeri untuk meningkatkan penghasilan keluarga," pungkasnya.