Ekonom Nilai Penurunan Harga BBM Nonsubsidi Dapat Ringankan Beban Masyarakat

Inti berita

Lingkar.co - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai rencana penurunan harga bahan bakar minyak (BBM)…

Ekonom Nilai Penurunan Harga BBM Nonsubsidi Dapat Ringankan Beban Masyarakat
Ilustrasi Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan. (dok Putri Septina)

Lingkar.co - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai rencana penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi akan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat, terutama kelompok kelas menengah.

Menurut Faisal, tren penurunan harga minyak mentah dunia seharusnya diikuti dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

"Jadi semestinya kalau harga minyak mentah dunia sekarang sekitar 70-an dolar AS per barel, bahkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) itu sudah 68 dolar per barel, mestinya (harga BBM non-subsidi) turun, dan ini juga akan membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat konsumen di Indonesia terutama kaitannya dengan penurunan kelas menengah misalnya," ujar Faisal saat dihubungi  di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan harga BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti pergerakan harga minyak mentah internasional atau bersifat floating. Berbeda dengan BBM bersubsidi yang penetapan harganya bergantung pada kebijakan pemerintah karena mendapat dukungan subsidi.

Menurut Faisal, apabila harga minyak dunia tetap stabil di kisaran 70 dolar AS per barel, penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebaiknya segera dilakukan.

"Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat (harga BBM non-subsidi) itu sudah bisa diturunkan semestinya, karena pada dasarnya dia floating, jadi harus diturunkan, apalagi kalau kemudian nanti stabil artinya stabil terus di kisaran 70 dolar AS per barel maka sudah waktunya untuk diturunkan," kata Faisal.

Sebelumnya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, mendorong jajaran direksi untuk menyiapkan langkah penurunan harga BBM nonsubsidi secara bertahap mulai awal Juli 2026. Langkah tersebut dipertimbangkan seiring tren pelemahan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan terakhir tercatat berada di level 71,533 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah Brent diperdagangkan pada kisaran 74,835 dolar AS per barel.

Iriawan mengatakan pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk membahas kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Saat ini, harga BBM nonsubsidi di SPBU per 10 Juni 2026 tercatat Pertamax (RON 92) sebesar Rp16.250 per liter, Pertamax Green 95 (RON 95) Rp17.000 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) Rp24.800 per liter.

Meski demikian, Iriawan menegaskan penyesuaian harga BBM tidak dapat dilakukan secara instan karena harus melalui mekanisme evaluasi yang telah ditetapkan. Menurutnya, skema evaluasi berkala tersebut diterapkan untuk melindungi konsumen dari fluktuasi harga minyak dunia yang berubah secara ekstrem. ***

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu