Sumur minyak rakyat yang dikelola Koperasi BME membukukan transaksi sekitar Rp2,8 miliar selama sebulan terakhir. Nilai tersebut berasal dari produksi sekitar 380 ribu liter minyak dari Desa Plantungan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.
Ketua Koperasi BME, Sutrisno, mengatakan produksi minyak di Desa Plantungan saat ini rata-rata mencapai 15 ribu liter per hari. Hingga kini, seluruh transaksi yang terealisasi masih berasal dari desa tersebut.
"Dalam satu bulan nilai transaksinya sekitar Rp2,8 miliar dengan total produksi kurang lebih 380 ribu liter," katanya.
Menurut Sutrisno, dalam setengah bulan terakhir produksi di Plantungan juga mencapai sekitar 175 ribu liter dengan nilai transaksi sekitar Rp1,4 miliar. Koperasi BME saat ini telah mengajukan pencairan pembayaran tahap kedua.
Ia menjelaskan, sejumlah wilayah lain sebenarnya memiliki potensi produksi yang cukup besar, tetapi belum bisa memasok minyak karena masih terkendala aspek teknis.
Di Desa Ngiyono, Kecamatan Japah, kadar air dalam minyak masih tinggi sehingga belum memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.
"Potensinya cukup besar, tetapi kadar airnya masih belum sesuai standar," ujarnya.
Sementara itu, produksi di Desa Botoreco, Kecamatan Kunduran, sudah menghasilkan minyak dengan kualitas yang baik. Namun, volumenya baru sekitar 4.000 liter, masih di bawah batas minimal pengiriman sebanyak 5.000 liter.
"Produksinya belum memenuhi syarat minimal pengiriman," jelasnya.
Adapun di Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen, produktivitas sumur mulai meningkat setelah dilakukan perbaikan. Salah satu sumur mampu menghasilkan sekitar dua bul minyak dalam lima hari.
Sutrisno menambahkan, kerja sama dengan Pertamina berjalan lancar. Selain mengajukan pencairan tahap kedua, harga beli minyak untuk periode Juli ditetapkan sebesar Rp7.498 per liter.