Ramai Isu Krisis, Ekonom Pastikan Kondisi Indonesia Tak Seperti 1998

Inti berita

Lingkar.co - Kondisi perekonomian Indonesia saat ini dinilai masih berada dalam posisi yang relatif kuat di tengah berbagai tekanan global. Pelemahan nilai…

Ekonom Sebut Kondisi Indonesia Saat Ini Jauh Berbeda dari Krisis 1998
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede. Foto: Istimewa.
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co - Kondisi perekonomian Indonesia saat ini dinilai masih berada dalam posisi yang relatif kuat di tengah berbagai tekanan global. Pelemahan nilai tukar rupiah dan fluktuasi pasar keuangan yang terjadi belakangan disebut lebih dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan masalah fundamental ekonomi domestik.

Dengan kondisi tersebut, sejumlah ekonom menilai situasi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998. Struktur ekonomi nasional dinilai telah mengalami penguatan sehingga memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan masa krisis Asia.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa krisis 1998 ditandai dengan kolapsnya sektor perbankan, lonjakan inflasi yang sangat tinggi, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang ekstrem hingga memicu kontraksi ekonomi nasional.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Saat itu, nilai tukar rupiah anjlok dari kisaran Rp4.000 per dolar Amerika Serikat menjadi lebih dari Rp16.000 per dolar Amerika Serikat dalam waktu singkat.

"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelas Joshua dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Josua, kondisi ekonomi saat ini masih tercermin positif melalui berbagai indikator makroekonomi. Meski demikian, ia mengakui sebagian masyarakat masih merasakan tekanan terhadap kondisi keuangan mereka.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Namun, kondisi tersebut dinilai lebih menggambarkan perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan penurunan daya beli secara menyeluruh. Kenaikan harga sejumlah komoditas membuat masyarakat menjadi lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.

Secara umum, konsumsi domestik masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah juga terus memperkuat program perlindungan sosial untuk membantu kelompok masyarakat rentan menghadapi tekanan ekonomi.

Terkait sejumlah program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Josua menilai keberhasilannya tidak dapat diukur hanya dalam jangka pendek.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Menurutnya, program-program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di tingkat daerah.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik sebagai salah satu faktor utama dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Keyakinan masyarakat, pelaku usaha, dan investor dinilai memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas ekonomi.

"Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, kapasitas kebijakan yang memadai, dan peluang yang besar untuk terus tumbuh. Karena itu, optimisme yang didasarkan pada data dan pemahaman yang baik menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan," pungkasnya.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280
ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu