Sebanyak 107 bangunan rusak usai gempa bumi dengan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/10/2026) pagi.
Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, mengatakan, ratusan bangunan yang rusak itu tersebar di tujuh kecamatan termasuk rumah warga dan fasilitas umum.
"Ada 91 rumah warga dan 16 fasilitas umum yang rusak akibat gempa bumi tadi pagi, sehingga data hingga malam ini ada 107 bangunan yang rusak," kata Ratu, saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam.

Ratu memerinci, puluhan rumah warga yang rusak terdiri atas satu unit rusak berat, 12 rusak sedang dan 78 rusak ringan. Sedangkan 16 fasilitas umum yang rusak itu, terdiri atas satu unit rusak sedang dan 15 rusak ringan.
Fasilitas umum yang rusak itu, meliputi gereja, sekolah Pustu, Puskesmas, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pratama Reda Mbolo, Balai KB dan Kantor Jaga PLN Kodi.
"Ada juga satu warga Desa Bondo Kodi, Kecamatan Kodi bernama Odoridus J Kaka (26) mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan," ungkap Ratu.
Ada warga yang luka dan saat ini sedang rawat jalan. Untuk keadaan selanjutnya akan di konfirmasi lagi dengan mengutamakan keselamatan warga sekitar.
"Nanti akan kita sampaikan perkembangan selanjutnya," ujar dia.
Kedalaman Gempa
Sebelumnya diberitakan, gempa bumi bermagnitudo 5,9 mengguncang wilayah pantai barat daya Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/10/2026) pagi. Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan gempa terjadi pada pukul 06.55 Wita dengan kedalaman 30 meter.
"Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,9 dan kedalaman 30 kilometer," ujar Arief dalam keterangannya, Minggu.
Episenter gempa berada pada koordinat 9,84 derajat Lintang Selatan dan 118,90 derajat Bujur Timur. Lokasi tersebut berada di laut, sekitar 29 kilometer barat daya Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Arief mengatakan, berdasarkan hasil pemodelan BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami karena di perhatikan lokasi dan kedalaman episenternya yang dangkal.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," ujarnya.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.