Lingkar.co - Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, menilai penurunan harga minyak dunia pasca tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi peluang penting bagi pemerintah memperbaiki kondisi fiskal nasional.
Menurut Sarmuji, situasi tersebut harus dimanfaatkan secara optimal agar dampak positifnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kebijakan ekonomi yang tepat sasaran.
"Ini momentum yang tidak boleh disia-siakan. Pemerintah harus bergerak cepat dan terukur untuk mengonversi perdamaian ini menjadi manfaat nyata bagi rakyat Indonesia," kata Sarmuji dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan pasar telah merespons positif kabar perdamaian tersebut. Harga minyak mentah Brent tercatat turun hampir 4 persen menjadi sekitar 83,92 dolar AS per barel pada perdagangan Senin pagi, setelah sebelumnya ditutup di kisaran 87,33 dolar AS per barel pada Jumat.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar itu mengusulkan sejumlah langkah strategis yang dapat ditempuh pemerintah. Salah satunya adalah melakukan penyesuaian kebijakan subsidi energi secara bertahap seiring normalisasi harga minyak global.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka kembali ruang fiskal yang selama ini tertekan akibat tingginya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM).
"Anggaran yang sebelumnya terpaksa dialokasikan untuk menutup pembengkakan subsidi dapat dialihkan dan difokuskan pada sektor-sektor strategis dan prioritas, seperti infrastruktur, pendidikan, dan perlindungan sosial yang manfaatnya lebih langsung dirasakan rakyat," ujarnya.
Selain itu, Sarmuji menilai meredanya ketegangan geopolitik akan membuat biaya impor minyak dan gas menjadi lebih efisien. Kondisi tersebut diyakini dapat menurunkan biaya produksi dalam negeri sekaligus membantu meredam tekanan inflasi.
Ia juga menyoroti pentingnya pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh untuk memperlancar arus perdagangan internasional yang sebelumnya terganggu akibat konflik. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan biaya logistik yang selama ini menjadi beban dunia usaha.
Di sektor perdagangan, pemerintah didorong untuk meningkatkan ekspor nonmigas ke kawasan Timur Tengah dan negara-negara yang terdampak konflik. Sarmuji juga mengusulkan agar Indonesia kembali menjajaki kerja sama dagang dengan Iran, terutama pada sektor pertanian dan manufaktur.
Sarmuji menyambut positif kesepakatan damai yang dicapai Amerika Serikat dan Iran melalui proses mediasi yang melibatkan sejumlah negara.
"Ini adalah kabar yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat dunia yang mendambakan perdamaian. Fraksi Partai Golkar DPR RI menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas tercapainya kesepakatan ini," ujar Sarmuji.
Ia menilai kesepakatan tersebut bukan hanya menjadi kemenangan bagi kedua negara yang terlibat konflik, tetapi juga menunjukkan efektivitas diplomasi internasional dalam menyelesaikan sengketa.
"Ini membuktikan bahwa jalur diplomasi, sekalipun sulit dan berliku, selalu lebih bermartabat daripada perang," tegasnya.
Lebih lanjut, Sarmuji berharap perdamaian tersebut segera memberikan dampak nyata terhadap pemulihan ekonomi global, termasuk bagi Indonesia yang turut merasakan dampak gejolak harga energi dan gangguan rantai pasok selama konflik berlangsung.
"Kami berharap kesepakatan damai ini segera berdampak pada penurunan harga minyak dunia yang selama ini terdampak oleh eskalasi konflik dan penutupan Selat Hormuz. Harga minyak yang tinggi membebani APBN kita melalui subsidi BBM yang membengkak, menekan daya beli masyarakat, dan menambah tekanan inflasi. Normalisasi harga energi dunia adalah kepentingan langsung rakyat Indonesia," tutur Sarmuji.
Menurut dia, dampak konflik tidak hanya terlihat pada kenaikan harga minyak, tetapi juga pada lonjakan biaya logistik internasional akibat terganggunya jalur perdagangan global.
Meski demikian, Sarmuji mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan pelajaran penting dari krisis tersebut. Ketergantungan terhadap jalur distribusi dan pemasok energi tertentu dinilai masih menjadi titik lemah yang harus segera dibenahi.
"Perdamaian ini tidak menghapus kerentanan itu. Justru sekarang, dalam situasi lebih tenang, adalah waktu yang tepat untuk membangun ketahanan yang sesungguhnya. Kita harus mendiversifikasi sumber energi dan tidak boleh terlalu bergantung pada satu atau dua negara pemasok saja. Pemerintah perlu menjajaki alternatif sumber energi baru dari berbagai kawasan dan berbagai mitra agar kejadian seperti ini tidak terulang dan tidak membuat kita tak berdaya," ujar Sarmuji.
Ia pun mendorong pemerintah memperluas kerja sama dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran, guna memperkuat kemitraan jangka panjang di bidang energi maupun perdagangan nonmigas.
"Golkar berharap kesepakatan ini menjadi titik awal rekonstruksi kawasan yang lebih stabil, adil, dan damai, bukan hanya gencatan senjata di atas kertas," tuturnya.