Fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung wilayah Sumatra memicu aksi saling tuding antar pemerintah daerah. Kepala daerah dari tiga provinsi, yakni Riau, Jambi dan Sumatera Selatan (Sumsel), saling menyampaikan klaim terkait asal-usul asap pekat yang mengganggu wilayah masing-masing.
Gubernur Jambi, Al-Haris, secara terbuka menuding bahwa kepekatan asap yang mengepung wilayahnya merupakan kiriman akibat kebakaran hebat yang terjadi di wilayah Sumatera Selatan.
"Asap kita hari ini yang luar biasa ini kebetulan terbakar parah itu Taman Nasional 9 di wilayah Sumatera Selatan," ungkap Al Haris.

Pernyataan itu menyusul setelah Gubernur Riau, Abdul Wahid, menyebut kabut asap yang mengepung wilayah Riau berasal dari Provinsi Jambi.
"Angin itu dari arah Jambi ke arah Barat Laut yang artinya asap-asap itu juga berasal dari Jambi. Yang berarti asap di Riau ini kiriman dari daerah tetangga," kata Abdul Wahid.
Pernyataan dari Gubernur Jambi itu lantas mendapat respons dari Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru. Respons menggelitik Herman Deru tersebut juga ia tuliskan kembali lewat akun Instagram pribadinya @hermanderu67 saat mengomentari unggahan media sosial @cakapcuap.newsroom.
"Plat nomer asap dan anginnya BM, BH, apa BG, tolong cek dulu bos," tulis Deru dalam komentarnya pada Sabtu (19/9/2026).
Aksi saling tuding antar Pemprov ini pun menuai beragam reaksi dari netizen. Saat ditemui di Kantor Gubernur Sumsel, Deru mengaku bingung dan mempertanyakan dasar analisis para kepala daerah tetangga yang menyimpulkan bahwa asap pekat tersebut berasal dari wilayahnya.
"Saya pikir, susah saya menanggapinya. Kawan-kawan saya yang ngomong. Bagaimana menuduhnya asap dari Sumsel? Ada BG-nya (pelat kendaraan) apa, BG sekian asapnya," seloroh Deru.
Partisipasi aktif masyarakat
Di luar itu, Deru menegaskan bahwa Pemprov Sumsel bersama tim gabungan TNI, Polri, dan Pemda terus berupaya memadamkan karhutla, bekerjasama dengan lainnya termasuk masyarakat. Dirinya menuturkan penanganan akan terus dimaksimalkan hingga memasuki awal musim hujan pada November mendatang.
"Kita juga minta partisipasi aktif masyarakat, paling tidak untuk mencegah hal-hal kecil yang kadang tidak disangka. Sebab, terjadi satu, dibawa angin, kemudian timbul lagi karhutla. Pemda, TNI, Polri, sudah terus berupaya keras, namun peran serta masyarakat juga penting sambil kita menunggu hujan," katanya.
Guna memperkuat upaya pemadaman, Deru juga mengajak partisipasi aktif masyarakat untuk bergabung menjadi relawan pemadam karhutla yang pendaftarannya dibuka melalui BPBD kabupaten/kota dengan diadakan uang semangat juga untuk gotong royong partisipasi aktif.
"Ada yang bertanya, jadi relawan bagaimana sih jadi relawan? Daftar saja ke BPBD masing-masing kabupaten/kota. Ada tenaganya, ada pekerjaannya, dia akan diberikan uang semangat Rp150 ribu, penghargaan kepada relawan," pungkasnya.