Jauh sebelum kata Indonesia Merdeka bergema, KH Sholeh Darat telah menanamkan benih-benih kecintaan terhadap tanah air melalui dakwah dan pendidikan. Dari sebuah pesantren sederhana di Kampung Darat, Semarang, ulama kharismatik itu membangun kesadaran masyarakat untuk menolak dominasi penjajah dan mempertahankan jati diri bangsa.
Kini, lebih dari seabad setelah perjuangannya, negara tengah menelusuri kembali jejak pengabdian Mbah Sholeh Darat. Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementerian Sosial RI melakukan verifikasi lapangan di Kota Semarang sebagai bagian dari proses pengusulan KH Sholeh Darat menjadi Pahlawan Nasional.
Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dr. KH Anasom, mengatakan tahapan ini menjadi momentum penting karena seluruh bukti sejarah yang telah disusun dalam naskah akademik kini diuji langsung di lokasi-lokasi yang berkaitan dengan kehidupan dan perjuangan KH Sholeh Darat.
"Setelah naskah akademik dikaji di Jakarta, sekarang tim dari Kementerian Sosial datang langsung ke Semarang untuk melakukan verifikasi. Mereka ingin memastikan semua data yang kami sampaikan sesuai dengan fakta sejarah di lapangan," kata Anasom.
Verifikasi diawali dengan penerimaan oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke sejumlah situs bersejarah. Tim mendatangi makam KH Sholeh Darat di Bergota, kawasan Kampung Darat yang dahulu menjadi lokasi pesantren dan masjid yang beliau dirikan, hingga Walisongo Center UIN Walisongo Semarang yang menyimpan manuskrip karya-karyanya.
Menurut Anasom, seluruh lokasi tersebut menjadi bagian penting dalam membuktikan jejak perjuangan seorang ulama yang pengaruhnya melampaui batas Kota Semarang.
"Tim ingin melihat langsung situs-situs sejarah, manuskrip, serta berbagai peninggalan yang menjadi bukti perjalanan hidup KH Sholeh Darat. Semua itu menjadi bagian dari proses verifikasi," ujarnya.
Bagi NU Kota Semarang, pengusulan gelar Pahlawan Nasional bukan hanya tentang menghormati seorang ulama besar, tetapi juga mengembalikan posisi KH Sholeh Darat sebagai salah satu peletak dasar kesadaran kebangsaan di Indonesia.
Anasom menjelaskan, pemikiran KH Sholeh Darat telah membangun semangat anti-kolonial melalui pendekatan keagamaan. Dalam Kitab Majmu'at al-Syari'ah al-Kafiyah lil 'Awam, misalnya, beliau mengingatkan masyarakat agar tidak meniru budaya penjajah.
"Beliau melarang masyarakat meniru pakaian orang-orang kolonial, seperti memakai jas, dasi, maupun pakaian ala Belanda. Itu bukan sekadar membahas cara berpakaian, tetapi merupakan simbol perlawanan agar masyarakat tidak kehilangan identitas dan tidak tunduk kepada penjajah," jelasnya.
Menurut Anasom, gagasan tersebut merupakan bentuk nasionalisme yang lahir sebelum Indonesia memiliki konsep negara bangsa seperti sekarang.
"Beliau sedang membangun kesadaran bahwa penjajahan harus dilawan. Semangat itu kemudian tumbuh di tengah masyarakat dan menjadi fondasi perjuangan kebangsaan. Karena itu kami memandang KH Sholeh Darat sebagai salah satu pelopor nasionalisme Indonesia," tegasnya.
Warisan pemikiran KH Sholeh Darat kemudian diteruskan oleh para muridnya yang kelak menjadi tokoh besar bangsa, di antaranya KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, serta KH Asnawi Kudus.
"Pengaruh beliau sangat luas. Murid-muridnya menjadi tokoh yang memimpin umat sekaligus mengobarkan semangat melawan penjajahan. Ini menunjukkan bahwa pemikiran KH Sholeh Darat tidak berhenti di Semarang, tetapi menyebar ke seluruh Indonesia," kata Anasom.
Meski demikian, proses pengusulan masih memerlukan sejumlah penguatan. TP2GP meminta bukti tambahan mengenai pengaruh pemikiran KH Sholeh Darat dalam skala nasional, termasuk karya-karyanya yang dikutip oleh para cendekiawan dan tokoh Islam Indonesia.
"Ada beberapa catatan yang perlu dilengkapi, terutama terkait pengaruh beliau di tingkat nasional. Misalnya karya-karyanya yang menjadi rujukan Nurcholish Madjid maupun pengaruhnya terhadap KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. Itu sedang kami telusuri lebih jauh," ungkapnya.
Selain itu, tim pengusul juga masih mencari dokumentasi sejarah lain, termasuk foto autentik KH Sholeh Darat yang hingga kini masih sangat terbatas.
Anasom berharap masyarakat yang memiliki manuskrip, dokumen, maupun informasi sejarah mengenai KH Sholeh Darat dapat ikut berpartisipasi melengkapi proses tersebut.
"Kami terus berikhtiar dan berdoa agar seluruh persyaratan dapat terpenuhi. Semoga perjuangan KH Sholeh Darat mendapatkan pengakuan yang layak dari negara sebagai Pahlawan Nasional," pungkasnya.
Bila gelar itu nantinya resmi disematkan, penghormatan tersebut bukan sekadar diberikan kepada seorang ulama besar Semarang, melainkan kepada sosok yang telah menanamkan keberanian, menjaga identitas bangsa, dan menyalakan semangat kemerdekaan melalui pena, kitab, dan pendidikan di pesantren. Warisan itulah yang hingga kini terus hidup dalam perjalanan bangsa Indonesia.