Menteri ESDM Sebut Indonesia Memegang Posisi Strategis dalam Transisi Energi Dunia

Inti berita

Lingkar.co - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung percepatan transisi energi global…

Menteri ESDM Sebut Indonesia Memegang Posisi Strategis dalam Transisi Energi Dunia
Foto : Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin/istimewa/lingkar.co
ADVERTISEMENT
Top Article Ad 728x90

Lingkar.co - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung percepatan transisi energi global berkat kekayaan cadangan mineral kritis yang dimiliki.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, mengatakan pengembangan industri hilir harus dilakukan secara berkelanjutan agar pemanfaatan sumber daya mineral dapat memberikan manfaat jangka panjang.

"Kita harus memastikan bahwa pengembangan industri hilir berjalan seiring dengan keberlanjutan sumber daya mineral," kata Cecep di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Menurut Cecep, Indonesia saat ini merupakan salah satu produsen utama berbagai mineral kritis yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi energi bersih, seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, dan besi.

Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh teknologi energi modern bergantung pada ketersediaan mineral kritis, mulai dari panel surya, turbin angin, jaringan kelistrikan, sistem penyimpanan energi, kendaraan listrik, hingga pengembangan hidrogen.

Selain itu, tembaga memiliki peran penting dalam mendukung proses elektrifikasi, sementara nikel, kobalt, dan lithium menjadi komponen utama dalam industri baterai yang terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Untuk itu, Cecep menilai Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung keberhasilan transisi energi dunia dari energi berbasis fosil menuju energi baru dan terbarukan.

"Posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama berbagai mineral menjadikan Indonesia memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan transisi energi global," ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menghadapi perubahan tersebut. Salah satunya adalah cadangan nikel terbesar di dunia yang diperkirakan mampu menopang produksi hingga 31 tahun ke depan dengan asumsi produksi mencapai 190 juta ton per tahun.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

Selain nikel, Indonesia juga memiliki cadangan timah yang diperkirakan cukup untuk sekitar 22 tahun produksi dengan tingkat produksi mencapai 65 ribu ton per tahun. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemilik cadangan timah terbesar kedua di dunia.

Meski memiliki sumber daya melimpah, Cecep menegaskan bahwa pengembangan sektor mineral tidak boleh berhenti pada tahap penambangan atau pengolahan awal semata. Hilirisasi harus terus diperluas agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Menurutnya, pengembangan industri hilir perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari pengolahan bijih menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), kemudian menjadi nikel matte, prekursor, katoda, hingga menghasilkan produk akhir seperti kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.

ADVERTISEMENT
In Paragraph Ad 336x280

"Sebab semakin panjang rantai nilai yang dibangun di dalam negeri, semakin besar nilai tambah ekonomi yang dapat dinikmati oleh Indonesia dan masyarakat Indonesia secara nasional," katanya.

Pemerintah menilai penguatan hilirisasi mineral kritis menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus memaksimalkan manfaat ekonomi dari tren transisi energi yang tengah berlangsung di berbagai negara.

ADVERTISEMENT
In Article Ad 336x280

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu