Iklan

BPS: Beras dan Rokok Jadi Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan di Jateng

Inti berita

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat beras dan rokok kretek filter masih menjadi dua komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap garis…

BPS: Beras dan Rokok Jadi Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan di Jateng
Ilustrasi komoditas penyumbang kontribusi terbesar di Jateng. (dok AI Gemini)

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat beras dan rokok kretek filter masih menjadi dua komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan di provinsi tersebut. Temuan ini didasarkan pada data kondisi kemiskinan Jawa Tengah periode Maret 2026.

Meski demikian, tingkat kemiskinan di Jawa Tengah menunjukkan tren menurun. Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 3,29 juta orang atau 9,21 persen dari total penduduk. Angka tersebut turun dibandingkan September 2025 yang mencapai 9,39 persen maupun Maret 2025 sebesar 9,48 persen.

Beras dan Rokok Dominasi Garis Kemiskinan

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, mengatakan komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

Di wilayah perkotaan, beras menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 20,73 persen, disusul rokok kretek filter sebesar 9,50 persen.

"Beras masih memberikan sumbangan terbesar, yakni sebesar 20,73 persen dan rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua sebesar 9,50 persen," kata Ali Said, Rabu (5/8/2026).

Selain beras dan rokok, komoditas makanan lain yang turut berkontribusi terhadap garis kemiskinan di perkotaan antara lain telur ayam ras, daging ayam ras, roti, kue basah, tempe, mi instan, bawang merah, dan gula pasir.

Sementara itu, komoditas bukan makanan dengan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan di wilayah perkotaan adalah perumahan yang menyumbang 7,48 persen.

Di wilayah perdesaan, pola konsumsi menunjukkan kondisi yang hampir sama. Beras menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan dengan kontribusi 22,39 persen, sedangkan rokok kretek filter menyumbang 8,51 persen.

Ali Said menjelaskan terdapat perbedaan komoditas penyumbang garis kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

"Komoditas penyumbang terbesar antara perkotaan dan perdesaan sebagian besar secara umum sama, kecuali komoditas kue basah dan mi instan yang memberikan sumbangan besar di perkotaan, tetapi tidak di perdesaan," ujarnya.

"Sementara itu, komoditas kopi bubuk dan kopi instan, dan juga tahu, ini juga terlihat memberikan sumbangan yang besar di perdesaan, tetapi tidak di perkotaan," lanjutnya.Baca jugaPresiden Prabowo Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat, Harga Semua Komoditas Strategis Tak Boleh Lagi Ditentukan Bangsa Lain

Persentase Kemiskinan Jawa Tengah Menurun

BPS mencatat persentase penduduk miskin di wilayah perdesaan pada Maret 2026 mencapai 9,96 persen, sedangkan di wilayah perkotaan sebesar 8,59 persen.

Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah berkurang sekitar 59.390 orang dibandingkan September 2025 dan turun 81.250 orang dibandingkan Maret 2025.

Dalam penghitungan tersebut, BPS menggunakan metode basic need approach atau pendekatan kebutuhan dasar, yakni mengukur kemiskinan berdasarkan kemampuan penduduk memenuhi kebutuhan dasar makanan maupun bukan makanan.

Berdasarkan metode tersebut, garis kemiskinan Jawa Tengah pada Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp596.676 per kapita per bulan. Sementara garis kemiskinan rata-rata per rumah tangga miskin tercatat sebesar Rp2.571.674 per bulan. ***

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu