Cuaca di Bandung menurut pantauan BMKG
Di pagi hari lahan persawahan di kawasan Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung masih diselimuti embun. Embun mulai menghilang saat matahari terbit dan menyinari kawasan tersebut. Suasana pagi yang sebelumnya dingin berubah hangat saat sinar mentari terbit menyinari kawasan tersebut.
Pada musim kemarau, udara di Bandung cukup dingin, terutama saat tengah malam hingga menjelang subuh. Hal tersebut dikatakan oleh Nadia (34 tahun), warga Solokanjeruk.
"Betul, dingin banget, di pengukuran suhu yang ada di HP sampai 17 derajat celsius. Ini pagi, apalagi tadi subuh," kata Nadia kepada detikJabar, Selasa (15/9/2026).

Nadia menyebutkan, sebelum tengah malam udara sekitar terasa gerah dan kering. Namun, pada dini hari udara terasa sangat dingin hingga menggigil.
"Dingin banget sampai mau wudhu juga menggigil, kaki injak lantai juga dingin banget," ujarnya.
Sementara itu, menurut Prakirawan BMKG Bandung Edy Wibowo mengatakan hal tersebut merupakan fenomena biasa di musim kemarau seperti sebelumnya.
"Suhu minimum pada tanggal 15 September 2026 tercatat 17,4 derajat celsius. Ini fenomena normal yang terjadi saat musim kemarau," kata Edy dikonfirmasi detikJabar.
Berdasarkan catatan BMKG, Edy menyebutkan bahwa suhu minimum pada bulan September tidak ada yang di bawah 17,4 derajat celsius.
"Suhu absolute minimum," tambah-nya.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan, secara umum curah hujan di Jawa Barat masih cenderung rendah, namun potensi hujan dengan intensitas ringan masih diperkirakan terjadi secara lokal di sebagian wilayah di Jawa Barat. Potensi hujan dengan intensitas sedang disertai kilat atau petir dan angin kencang pada skala lokal dan durasi singkat.
Sementara itu, untuk prospek cuaca sepekan ke depan dari Tanggal 14-20 September 2026, indeks NINO 3.4 masih berkisar pada indeks +2.54 mengindikasikan tidak terdapat pengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
BMKG juga masih mengimbau ada potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, seperti penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, serta potensi peningkatan titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," kata Suaidi.
Suaidi juga mengingatkan warga agar memanfaatkan air bersih dengan bijak dan menghindari aktivitas pembakaran sampah secara sembarangan di cuaca panas ekstrem ini.
"Masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan air bersih, menghindari aktivitas pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, serta menjaga kesehatan tubuh dari paparan debu dan suhu panas ekstrem," pungkasnya.